
"Oh tentu saja! mari masuk saudari Li!" seru penjaga lainnya. Yang kemudian Qiao Li dan Siluman macan putih melangkahkan kaki masuk ke dalam halaman penginapan pintu naga itu.
Sesampainya di depan penginapan pintu naga, Qiao Li menyampaikan sesuatu pada penjaga penginapan.
"Ma'af, bisakah kamu sampaikan pada Patriak An dan patriak Feng untuk menemuiku di halaman belakang penginapan?"
"Oh, baik saudari Li!" seru penjaga penginapan yang sedang bertugas. Dan salah satu penjaga itu melaksanakan pesan Qiao Li, segera masuk ke dalam penginapan dan mencari keberadaan kedua Patriak yang di maksudkan Qiao Li
Sementara itu Qiao Li dan siluman macan putih, melangkahkan kakinya menuju ke halaman belakang.
Tak berapa lama kedua Patriak itu menemui Qiao Li di halaman belakang.
Mereka sedikit terkejut mana kala melihat Qiao Li bersama seekor macan putih, dan Qiao Li mengenalkan siapa siluman macan putih pada kedua Patriak itu.
Dan Qiao Li menceritakan awal pertemuannya dengan siluman macan putih.
"Oh, jadi dia siluman yang baik. Tapi untunglah kita ketemuan di halaman belakang, jadinya tidak menakuti tamu penginapan ini.
"Nah karena itulah aku minta sama penjaga untuk memanggilkan Patriak An dan Patriak Feng kemari." ucap Qiao Li seraya mengulas senyumnya dan memeluk Patriak Feng, dan demikian pula Patriak Feng yang membalas dengan memeluk Qiao Li.
Kerinduan anak angkat dan ibu angkat itu, menjadikan suasana menjadi haru biru.
"Li'er, apakah tugas kamu sudah selesai?" tanya Patriak An yang penasaran.
"Belum Patriak, saya kesini karena membawa pesan dari kakak Kun dan kakak Mei." jawab Qiao Li yang melepaskan pelukannya dengan patriak Feng.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Patriak Feng yang penasaran.
"Kemarin desa dan perguruan Bambu kuning sempat di kuasai oleh sekte Sanca kembang, dan mereka berdua sempat di tahan oleh sekte Sanca kembang.
"Oh, astaga! kasihan para anggota serta para warga disana!" seru Patriak An yang menatap Qiao li, siluman macan putih dan Patriak Feng secara bergantian.
"Kalau menurut saya, sebaiknya patriak An dan Patriak Feng menjaga kembali perguruan Bambu kuning. Sedangkan kakak Kun dan kakak Mei biarkan disini menjaga dan mengelola penginapan bersama kakak Tian dan juga kakak Qiu." jelas Qiao Li yang menatap kedua Patriak itu satu persatu.
"Bagaimana menurut kamu Patriak An?" tanya Patriak Feng pada Patriak Feng.
"Menurutku itu bagus, karena biarkan penginapan pintu naga ini dikelola oleh yang muda. Kita sudah tua memang seharusnya di rumah dan menjaga penduduk serta para anggota sekte bambu kuning." jelas Patriak An.
"Kalau begitu, kita berangkat besok pagi saja. Sekarang sebaiknya kita berkemas-kemas dan beristirahat sebentar sebelum meninggalkan penginapan pintu naga ini." ucap Patriak An seraya menatap Qiao Li.
__ADS_1
"Baiklah, pesan sudah saya sampaikan. Saya harus melanjutkan perjalanan dan menyelesaikan misi kembali." ucap Qiao Li yang menatap kedua Patriak itu sambil mengulas senyumya.
"Kenapa buru-buru sekali?" tanya Patriak Feng yang penasaran.
"Iya kan urusan kami belum selesai." ucap Qiao Li seraya mengulas senyumnya.
"Baiklah, percepat urusan kamu ya!" ucap Patriak An yang juga mengulas senyum untuk Qiao Li dan siluman macan putih.
"Terima kasih, sampaikan salam saya pada kakak Tian dan juga kakak Qiu." ucap pamit Qiao Li sembari menangkupkan kedua tangannya, tanda memberi salam.
Setelah itu Qiao Li naik ke atas punggung siluman macan putih. Dan Qiao Li mengajak siluman macan putih menuju ke balik bukit piramida.
Sesampainya di balik bukit piramida, Qiao Li dan siluman macan putih memakan perbekalan yang dibawakan oleh Ming Mei tadi waktu masih di perguruan bambu kuning.
"Apakah anda akan mengutarakan permintaan pada batu impian disini pendekar Li?" tanya siluman macan putih yang penasaran.
"Iya, aku akan membuat permintaannya di sini!" seru Qiao Li sembari mengulas senyumnya.
Selesai makan, mereka kemudian bersiap untuk memunculkan naga putih dari perwujudan batu impian.
Qiao Li mengeluarkan ke tujuh batu impian yang ada di dalam cincin permata birunya, kemudian gadis itu merapalkan keinginan yang lain seperti halnya Chiang Yi dan Hai Jun seta keluarganya beberapa waktu yang silam.
Qiao Li mengulanginya sampai tiga kali. Dan muncullah seekor naga putih yang bertanduk diantara kepulan awan yang mengelilingi nya yang membuat siluman macan putih semakin takjub.
"Hai kalian para manusia, aku sudah mendengar keinginan kalian. Maka akan saya kabulkan keinginan kalian sebagai hadiah perjuangan kalian mengumpulkan tujuh batu impian!' ucap sang naga putih itu.
"Terima kasih naga putih!" ucap Qiao Li dengan menunduk hormat.
Siluman macan putih masih saja terkesima melihat apa yang ada dihadapannya.
Tiba-tiba saja pedang Azuya keluar dengan sendirinya dari dalam tubuh Qiao Li.
Pedang Azuya mengeluarkan sinar hijaunya, dan terlihatlah siluet laki-laki berparas tampan yang keluar dari dalam pedang Azuya.
Laki-laki itu mengulas senyum manisnya pada Qiao Li. Dan seketika itu juga naga putih itu menghilang dan pedang Azuya sudah berada di tangan Qiao Li.
"Aku sudah membuka segel pedang Azuya! pergunakanlah pedang itu di jalan kebenaran!" pesan dari naga putih yang menggelegar.
__ADS_1
"Baik naga putih, saya akan selalu mengingatnya!" seru Qiao Li yang menatap ke langit dimana sebelumnya naga putih itu berada.
Tiba-tiba sesosok laki-laki tampan yang mengulas senyumnya, berada dihadapan Qiao Li.
"Ah, siapa kamu!" seru Qiao Li yang tentunya sangatlah terkejut.
"Aku roh yang ada di dalam pedang Azuya!" jawab sosok laki-laki itu.
"Apa? roh yang ada di dalam pedang Azuya?" tanya Qiao Li yang menatap wajah laki-laki itu dan menyempatkan menatap ke arah siluman macan putih.
"Beliaulah pangeran You, pendekar Li!" seru siluman macan putih pada Qiao Li.
"Pa....pangeran You!" panggil Qiao Li yang terkejut, dan kali ini menatap roh yang tampan dan rupawan itu tanpa berkedip.
"Terima kasih saya ucapkan padamu nona Li, kamu telah membebaskan saya dari segel yang menahan saya di dalam pedang Azuya." ucap pangeran You yang masih mengulas senyumnya.
"I...iya sama-sama." balas Qiao Li yang ada hasratnya menyentuh tubuh laki-laki yang membuatnya takjub itu.
Namun apa yang terjadi, tangannya seolah meraba ruang hampa.
"Eh, kenapa begini?" tanya Qiao Li yang merasa heran, dan berkali-kali dia mengibaskan tangannya di tubuh roh pangeran tampan itu.
Tapi berkali-kali pula dia meraba ruang hampa.
"Nona, saya ini memang roh! jadi tak bisa Anda sentuh. Jika anda ingin menyentuh saya, bawa saya ke pegunungan es. Tubuh saya ada disana, dan bantulah saya sekali lagi untuk menyatukan roh dengan tubuhku yang sekarang ini membeku di balok es yang ada didalam goa gunung es itu!" jelas pangeran You yang menatap Qiao Li dengan tatapan yang lembut.
Hal itu membuat wajah Qiao Li, tiba-tiba memerah merona.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1