
Dan demikian pula dengan Yan Qiu yang juga membenarkan selimutnya dan mereka kembali merebahkan diri kemudian terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya setelah memasak dan membersihkan diri, mereka bertiga segera sarapan bersama.
"Setelah kami pergi, kamu hati - hati ya Lier. Jangan mudah percaya pada orang yang tidak kamu kenal!" seru Yan Qiu yang telah menyelesaikan sarapannya.
"Iya, Li'er akan ingat hal itu." jawab Qiao Li yang juga menyelesaikan sarapannya.
Setelah selesai, mereka keluar dari gubuk dan melangkahkan kaki meninggalkan gubuk tersebut
"Kita berpisah disini, sampaikan salam ku pada kedua orang tuaku. Bilang pada mereka kalau saya baik - baik saja." ucap Qiao Li sembari melambaikan tangan kanannya.
"Baik Dan kalau kamu bertemu para Patriak aliran putih, beritahukan pada mereka untuk berkumpul di penginapan pintu naga!" pesan Hua Tian pada Qiao Li sembari melambaikan tangan kanannya dan demikian pula dengan Yan Qiu yang juga melambaikan tangan kananya untuk membalas lambaian tangan Qiao Li.
"Iya nanti akan saya sampaikan" ucap Qiao Li sembari mengulas senyumnya.
Di hutan belantara itu, mereka berpisah. Yan Qiu dan Hua Tian melangkahkan kakinya ke arah timur, yang mengarah ke penginapan pintu naga.
Sementara Qiao Li melangkahkan kakinya menuju ke barat, dimana sesuai arah petunjuk dari ibunya.
Langkah kaki Qiao Li terus berjalan menyusuri jalan setapak, dan tiba - tiba pandangannya tertuju pada beberapa kereta kuda yang terdapat bendera yang bergambar kepala Serigala yang berwarna hitam uang melewatinya.
"Apakah itu kelompok sekte Serigala Hitam?" gumam dalam hati Qiao Li yang langkahnya terus mengikuti jejak roda pada kereta kuda yang melewatinya.
"Tolong...! tolong..!"
Terdengar suara minta tolong yang bersumber pada kereta - kereta kuda yang telah melewati Qiao Li.
Gadis itu semakin penasaran di buatnya, dan dia terus berlari mengikuti arah jejak roda kereta kuda itu.
Langkah Qiao Li terhenti saat melihat jejak roda itu masuk ke sebuah perguruan.
Qiao Li bersembunyi di semak - semak rerumputan dan mengawasi perguruan tersebut yang pintu gerbangnya terukir motif Serigala yang berwarna hitam.
"Apakah ini perguruan serigala hitam? kalau benar, berarti sekte serigala hitam juga berkembang disini" gumam dalam hati Qiao Li.
Tiba - tiba saja ada yang membekap mulutnya dari belakang.
"Hulp..e...e...!" suara Qiao Li yang mulutnya terbungkam, dan tubuhnya dibawa ke sebuah tempat yang lebih tersembunyi.
Entah kenapa, Li'er dibebaskan begitu saja. Dan gadis itu membalikkan badannya dan hendak memberi pelajaran pada orang yang membekapnya.
__ADS_1
Namun dia mengurungkan niatnya itu, karena Qiao Li mengenal siapa saja yang membekapnya tadi.
"Patriak An, Patriak Lung!" panggil Qiao Li pada saat melihat kedua orang tersebut.
"Li'er, apa kabar?" tanya Patriak An pada Qiao Li dengan mengulas senyumnya.
"Saya baik - baik saja, seperti yang anda lihat Patriak!" jawab Qiao Li sembari mengulas senyumnya.
"Kenapa kamu sampai disini Li'er, bukannya kamu bersama Patriak Feng?" tanya Patriak Lung yang penasaran.
"Saya mendapat tugas dari ibu saya untuk menemukan saudara saya yang bernama Ju long" jawab Qiao Li seraya menatap ke arah kedua Patriak itu satu persatu.
"Ju long? seperti pernah mendengar nama itu, tapi kapan ma'af saya lupa Li'er" ucap Patriak An yang mencoba mengingat - ingat nama Ju long itu.
"Itu sebaiknya kita pikirkan nanti saja, sekarang bagaimana cara kita membebaskan saudari Jingmi dan para perempuan - perempuan lainnya!" seru Patriak Lung dengan menatap Qiao Li dan juga Patriak An secara bergantian.
"Apa Patriak Mi ketangkap?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Iya, dia tertangkap saat menyelidiki sekte serigala Hitam itu." jawab Patriak An.
"Kalau begitu, kita bebaskan Patriak Mi!" seru Qiao Li dengan semangat.
"Rencana kami juga begitu, tapi kita harus tahu kelemahan mereka. Agar kita tidak sia - sia saat membebaskan saudari Jingmi!" seru Patriak Lung yang menatap Patriak An dan Qiao Li secara bergantian.
"Iya, saya setuju. Kalau begitu, kita istirahat terlebih dahulu" ucap Qiao Li dan mereka mencari posisi duduk masing - masing untuk bersemedi.
Siang berganti petang, dan ketiga orang tersebut bersiap untuk rencana mereka. Setelah mereka bertiga cukup makan dan minum, ketiganya kembali mengawasi keadaan di sekitar perguruan serigala hitam itu.
Hari pun beranjak menuju malam, dan mereka mulai mengendap - endap mendekati perguruan itu.
"Kita lewat pintu belakang!" bisik Qiao Li dan mereka menyetujuinya.
Ketiganya menuju ke pintu belakang yang penjagaan yang tidak terlalu ketat.
Mereka sempat bersembunyi ketiga penjaga pintu gerbang sedang berpatroli.
"Bagaimana kita masuknya? pintunya terkunci dari dalam?" bisik Patriakung yang meraba - raba daun pintu belakang tersebut.
Tiba - tiba ada suara dari dalam, Qiao Li memberi kode pada Patriak An dan juga Patriak Lung untuk bersembunyi.
Dan kedua Patriak beserta Qiao Li bersembunyi dan mereka melihat satu orang yang keluar dari pintu tersebut dengan tergopoh - gopoh.
__ADS_1
Orang tersebut adalah salah satu anggota sekte serigala hitam yang bertugas sebagai penjaga pintu belakang.
Nampaknya penjaga itu hendak mengeluarkan hasratnya untuk buang air kecil.
Melihat adanya kesempatan untuk masuk, Qiao Li dan juga kedua Patriak itu berusaha masuk ke perguruan lewat inti belakang tersebut dengan mengendap - endap.
Dan mereka berhasil masuk tanpa di ketahui oleh penjaga yang sedang buang air kecil, dan penjaga lainnya yang ternyata sedang tertidur.
Ketiganya bekerja sama mencari ruang tahanan dengan cara masih mengendap - endap.
Sesekali mereka menghindari para anggota sekte yang sedang patroli dan berkumpul sambil makan dan minum.
Tibalah mereka di tempat yang mencurigakan bagi mereka. Dan benar saja tempat itu adalah ruang tahanan bawah tanah yang dijaga ketat oleh beberapa penjaga.
"Bagaimana cara kita melewati para penjaga itu?" gumam Patriak Lung seraya berpikir.
Qiao Li dan juga Patriak An juga ikut memikirkan hal itu.
"Kerikil? iya dengan kerikil!" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian melihat ke sekitarnya.
"Ah itu disana ada kerikil - kerikilnya!" seru dalam hati qiao Li saat melihat ada kerikil di bawah tanaman di sekitar tempat itu.
Qiao Li melangkahkan kakinya untuk mengambil kerikil - kerikil itu. Dan akhirnya Qiao Li mendapatkan apa yang dia inginkan.
Kerikil - kerikil itu sudah masuk ke kantong kainnya, dan kemudian Qiao Li menghampiri kedua Patriak yang memandangnya dengan rasa penasaran.
"Apa yang kamu rencanakan Li'er?" tanya Patriak An yang memandang Qiao Li dari mengambil kerikil sampai
menghampiri mereka.
"Patriak lihat saja nanti!'' seru Qiao Li yang sudah menyusun kerikil - kerikil di tiap ruas jarinya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...