
Kemudian pemuda yang membopong Xin Xin itu melangkahkan kaki menuju ke sebuah goa yang terletak di lereng gunung itu.
Dibaringkanlah Xin Xin diatas sebuah batu besar yang panjangnya seukuran tubuh manusia.
Pemuda itu membuat perapian di dalam goa tersebut, dan suasana goa yang semula dingin dan mencekam mendadak menjadi hangat dan terang benderang.
Pemuda itu kemudian mengambil selimut yang terbuat dari kulit binatang buas dan kemudian menyelimutkannya pada Xin Xin.
"Hm, cantik juga wanita ini. Aku sepertinya menyukainya!" kata dalam hati pemuda itu.
Setelah menyelimuti Xin Xin dengan selimut itu, pemuda itu kemudian membakar hasil buruannya.
Tak berapa lama masakannya itu sudah matang dan dia segera memakannya.
Pemuda itu sebenarnya adalah Ragadewa yang terlempar jatuh ke kawah dingin gunung berapi itu.
Seperti halnya Feng Chen ayahnya yang mengalami amnesia, demikian juga Ragadewa yang lupa siapa jati dirinya, siapa keluarganya dan dari mana dia berasal.
Hal itu dikarenakan dirinya tidak pernah berinteraksi dengan manusia.
Dan Raga dewa di dalam goa itu menemukan kitab jurus pengendali Api yang sangat termasyur itu.
Ragadewa mempelajari dan menempa dirinya hingga menjadi pendekar Api. Tanpa mengenal lelah Raga dewa dalam berlatih, karena hal itu untuk mengisi kekosongannya.
Dua hari dua malam lamanya Xin Xin yang tak sadarkan diri dan akhirnya dia membuka kedua matanya
Rasa lapar dan haus yang melanda Xin Xin.
"A...aku dimana?" racau Xin xin seraya melihat ke sekitarnya. Dia saat ini berada di sebuah goa yang tidur beralaskan batu.
"A,..agh, badan aku? badan aku sakit semua, serasa remuk tulang ini" ucap Xin Xin saat melihat ke arah tubuhnya.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada seorang pemuda yang sedang makan di depan perapian.
"Siapa pemuda itu? gagah dan tampan sekali?" ucap Xin Xin yang terpesona dengan ketampanan dan gagahnya seseorang pemuda yang bersamanya saat ini.
"Kak Saga? kenapa aku melihat kak Saga pada pemuda itu. Agh...! Apa karena aku sangat merindukannya, jadinya berhalusinasi berharap yang didepanku ini adalah suamiku!" ucap Xin Xin dalam hati,
Tiba-tiba saja pemuda itu menoleh ke arah Xin xin, dan ternyata dia menghampiri Xin Xin.
Pemuda itu tak bersuara namun dia hanya mengulas senyumnya yang manis
__ADS_1
Dia memang sengaja tak bersuara. karena bingung dalam berkomunikasi.
Dan pemuda itu menatap Xin Xin dan memberi isyarat dengan tangannya yang ke mulutnya. Yang menandakan apakah anda mau makan nona? begitulah kira-kira.
Xin xin mengerti apa yang maksudkan oleh pemuda itu, dia menganggukkan kepalanya yang memberi kode bahwa iya mau makan.
Kemudian pemuda itu melangkahkan kakinya meninggalkan Xin Xin.
"Jadi pemuda itu bisu, atau dia memang sengaja tak mau berbicara? apa mungkin dia bingung cara berkomunikasi?" tanya dalam hati Xin Xin yang penasaran.
"Ah yang jelas dia sudah punya maksud menolong aku, berarti sebenarnya dia adalah orang yang baik hati. Jadi aku tak perlu khawatirkan dia karena tak mungkin dia punya maksud yang lainnya." gumam dalam hati Xin Xin yang terus mengawasi apa yang dilakukan oleh pemuda itu.
Pemuda itu sedang memasak sayur sop dengan kuali dari tanah yang sepertinya buatan sendiri dan dia membawa mangkok yang juga dari tanah liat, sedangkan pengaduk sayurnya terbuat dari bambu yang sudah dirancang sendiri oleh pemiliknya.
Jadi di dalam goa itu semua serba alami.
Setelah mengambilan sayur itu, pemuda itu melangkahkan kakinya menuju kearah Xin Xin.
Kemudian dia duduk di tepi samping batu dimana Xin Xin sudah memposisikan dirinya duduk bersandar di dinding goa itu.
Pemuda itu memberi isyarat pada Xin Xin untuk menyuapinya dan Xin Xin menganggukkan kepalanya menandakan setuju dengan apa yang dia inginkan.
Xin Xin membuka mulutnya, dia menerima suapan dari pemuda itu.
"Hm..! masakannya walaupun hambar, tapi lumayanlah. Mungkin disini tak ada garam, jadinya jadi hambar. Tapi rempah-rempahnya lumayanlah" kata dalam hati Xin Xin.
Suapan demi suapan telah Xin Xin terima dan akhirnya habis juga satu mangkok sop itu.
Setelah selesai menyuapi Xin xin, pemuda itu melangkahkan kakinya kembali ke tempat dia mengambil sop tadi dan dia mengambil sebuah gelas dari bambu dan menuangkan sesuatu dari kuali yang lebih kecil dari kuali sop tadi.
Kemudian dia menuangkan sesuatu dari bambu yang lebih besar, lalu dia mengaduk-aduknya.
Pemuda itu kemudian membawa gelas dari bambu itu ke hadapan Xin Xin dan memberikannya pada perempuan yang di tolongnya itu.
Xin Xin menerima dan melihat minuman apa yang diberikan padanya.
"Hm, wangi baunya. Coba aku meminumnya" ucap Xin Xin dalam hati saat dia menghirup aroma dari minuman tersebut.
Xin Xin kemudian meminumnya dan merasakan minuman apa yang diberikan pemuda itu.
"Rasanya seperti teh bunga Rosela, dan manisnya ini adalah madu, jadi bambu yang dituangkan tadi adalah madu? Hm, perpaduan wanginya teh bunga Rosela dan madu murni. Wangi dan manis." kata dalam hati Xin Xin.
__ADS_1
"Terima kasih, makanan sama tehnya enak dan sedap, apa kamu di sini sendirian?" tanya Xin Xin sambil menggunakan bahasa isyarat.
Pemuda itu pun menganggukkan kepalanya seakan mengerti maksud dari Xin Xin.
Karena merasakan badan dan tubuhnya sudah lebih baik dari sebelumnya, Xin Xin bangkit dari posisi berbaringnya.
Namun Pemuda itu melarangnya dengan bahasa isyarat telapak tangan dalam posisi stop.
"Tapi aku ingin jalan-jalan!' ucap Xin Xin.
Pemuda itu hanya dia dan memperhatikan apa yang Xin Xin katakan. Dia belajar cara bahasa dan cara bicara Xin Xin.
"Aku bosan disini, boleh ya aku jalan-jalan?" bujuk Xin Xin.
Akhirnya pemuda itu memperbolehkan Xin Xin jalan-jalan asal bersama dirinya. Semua itu dia katakan dengan bahasa isyarat.
Dan Xin Xin mengerti, akhirnya dia bangkit lagi dari duduknya dan melangkahkan kaki mengelilingi goa dan pemuda itu mengikutinya dengan mensejajarkan setiap langkahnya.
Xin Xin mengulas senyumnya dan pemuda itu terpesona setiap melihat senyum dan wajah Xin Xin dan hal itu belum Xin Xin sadari.
Setelah puas berkeliling di dalam goa, Xin Xin mengajak pemuda itu keluar goa.
Keduanya berjalan menyusuri bukit-bukit berbatuan dan merasakan hembusan angin yang menerpa wajah mereka.
"Udaranya sejuk sekali, aku suka sekali dengan suasana disini. Mengingatkanku dengan perguruan Darma Putih di lereng Gunung" ucap Xin Xin yang merasakan tiap hembusan angin perbukitan itu sambil memejamkan matanya.
Tak terasa air matanya berlinang, karena Xin Xin begitu merindukan suasana di lereng gunung tempat di mana dirinya dibesarkan oleh Kakeknya.
Pemuda itu memandang wajah Xin Xin yang rambutnya tersapu oleh angin, sehingga wajah putih dan berseri perempuan di sampingnya itu tetap saja kelihatan muda dan cantik, walaupun yang sebenarnya usia Xin Xin dua puluh tahun di atas pemuda itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan pars Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1