
Dan saat ini tinggalah satu orang pemanah, yang sudah ketakutan melihat ke empat temannya yang sudah tak berdaya,
"Takk...!" bunyi kerikil yang di sentilkan Qiao Li tepat mengenai dahi satu orang pemanah itu.
"Aaaghh..!" suara kesakitan dari pemanah itu yang akhirnya dia jatuh terkapar diantara teman - temannya yang sudah mendahuluinya.
Setelah mengetahui lawan - lawannya terkapar, Qiao Li dan Chen Kun memapah Patriak Jingmi dan Patriak An memapah Patriak Lung.
Dengan tertatih - tatih mereka keluar dari perguruan serigala hitam itu. Dan mereka masuk ke hutan.
Setelah dirasa sudah jauh meninggalkan perguruan itu, mereka beristirahat di dekat sungai.
"Bertahanlah Saudari Mi, saudara Lung!" seru Patriak An yang penuh kekhawatiran.
"Patriak An, coba anda usahakan menghentikan jalan kerja racun ini. Saya akan mencari tanaman - tanaman yang bisa mencegah menjalarnya racun itu!" seru Chen Kun yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Patriak An dan yang lainnya, setelah mendapat ijin dari Patriak An.
Sementara itu Qiao Li menangkap ikan di sungai dekat mereka istirahat, sedangkan Patriak An dengan tenaga dalamnya berusaha untuk menekan laju jalan bekerjanya racun itu.
Berkali - kali Patriak Jingmi dan juga Patriak Lung muntah darah hitam, dan berkali - kali mereka pindah tempat ke tempat yang lebih bersih.
Tak berapa lama Chen Kun datang dan membawa sejumlah daun - daunan herbal.
"Aku tidak semahir Qiu'er dalam meramu dan mengobati orang, tapi paling tidak aku pernah melihat Qiu'er dalam mengobati pasiennya." ucap Chen Kun yang kemudian mulai meramu tanaman yang baru saja dia cari.
"Patriak An, sepertinya saya harus kembali ke perguruan serigala hitam. Siapa tahu ada penawar racun yang bisa Li'er dapatkan dari sana." usul Qiao Li yang sudah mendapatkan beberapa ikan dari sungai di dekat mereka, sembari menatap Patriak An dan juga menatap Chen Kun uang masih meramu tanaman herbalnya.
"Jangan, aku tidak mengijinkannya! sangat berbahaya jika kamu sendirian Li'er!" seru Patriak Jingmi dengan sisa - sisa kekuatannya.
"Tapi Patriak!" seru Qiao li yang masih bertekad untuk pergi ke perguruan tersebut.
"Sudahlah, sebaiknya kita istirahat disini dulu. Habis itu kita cari kereta kuda, untuk memperlancar perjalanan kita ke penginapan pintu Naga." ucap Chen Kun sembari mengobati luka - luka kedua Patriak itu.
Sementara Patriak An membuat perapian dan Qiao Li membersihkan ikan - ikan yang dia tangkap.
"Patriak, sebenarnya apa keseharian dari para anggota sekte serigala hitam itu?" tanya Qiao Li yang telah selesai membersihkan ikan - ikan tersebut dan menusuknya untuk siap dimasak.
__ADS_1
"Mereka selain memburu para wanita, mereka juga mencari bola telur naga. Yang konon katanya bisa mengabulkan apapun perminyaan dari si pengumpulnya " jelas Patriak Jingmi lirih.
"Bola telur naga?" tanya Qiao Li yang seperti ingat dengan kata bola telur naga itu.
"Iya, dan mereka mempunyai satu bola telur naga itu" jawab Patriak Jingmi dengan terbata - bata.
"Mereka punya bola impian itu! aku harus kesana malam ini juga!'" seru dalam hati Qiao Li yang sudah bertekad untuk mendaoatkan batu impian itu.
Setelah makan, mereka mencari tempat yang nyaman untuk mereka tinggali di hutan tersebut.
Diam - diam Qiao Li melangkahkan ak
kakinya meninggalkan tempat mereka beristirahat.
"Aku harus segera sampai ke tempat perguruan serigala merah malam ini juga!" seru Qiao Li yang terus berlari di gelapnya malam itu.
Hanya dengan mengandalkan pencahayaan sinar bulan, Qiao Li terus berlari tanpa mengenal lelah.
Dan akhirnya dia telah sampai di depan perguruan serigala hitam itu.
Tiba - tiba ada yang memanggilnya, dan dia dari arah depan Qiao Li.
"Hai kamu, kemarilah!" seru orang itu seraya menatap ke arah Qiao Li.
Qiao Li melihat ke arah orang yang tadi memanggilnya dan dia kembali menunjukkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah dirinya sendiri.
"Saya?" tanya Qiao Li yang sekali lagi memastikan pendengaran dan penglihatannya.
"Iya benar kamu, lantas siapa lagi?" jawab orang yang memanggil Qiao Li yang tadi dari depan Qiao li, dan melangkahkan kakinya menghampiri Qiao Li.
"Siapa kamu?" tanya orang itu sekali lagi menanyai Qiao li.
"Saya adalah Xiao Chen" jawab Qiao Li yang memakai nama samarannya.
Gadis itu menundukkan kepalanya sebentar dan kemudian mereka mengulas saling mengulas senyum.
__ADS_1
"Cepat masuk barisan, kita sedang mengecek anggota sekte serigala hitam" ucap orang yang tadi memanggi Qiao Li yang saat ini berada disamping Qiao Li seraya menepuk pundak Qiao Li.
Dan Qiao Li sempat merasa risih, jika didekati para anggota sekte serigala hitam itu. Namun ini adalah konsekuensinya dia yang sedang menyamar sebagai seorang laki - laki.
"Iya, ayo kita masuk!" jawab Qiao Li dan kemudian laki - laki anggota sekte serigala hitam tadi,
menarik tangan kiri Qiao Li untuk masuk ke barisan para anggota sekte serigala hitam.
Dan saat ini dia dan Qiao Li sudah masuk ke barisan itu, dan siap di data untuk jaminan anggota sekte serigala hitam.
"Apakah sudah berkumpul semuanya?" tanya seseorang dengan suara lantang dihadapan semua anggota sekte serigala hitam yang sedang berbaris itu.
"Sudah!" jawab semua anggota sekte serigala hitam itu serempak dengan suara yang tinggi.
"Karena kita baru saja mengalami musibah, saya harapkan pada kalian semuanya untuk bahu - membahu membangun perguruan ini." ucap seorang laki -laki yang bertubuh tegap yang memang layak jadi pemimpin karena tubuhnya lebih kekar dari yang lainnya, dengan membawa sebuah buntalan kain di tangan kanannya.
"Setelah kita bersihkan perguruan kita ini, kita harus tetap fokus pada tiga misi kita. Merekrut anggota sebanyak mungkin, mencari para gadis yang akan menjadi ladang harta kita, dan satu lagi kita cari dan rebut jika ada orang yang membawa telur naga seperti ini. Apa kalian mengerti!" seru laki - laki itu seraya menunjukkan buntalan kain yang dia bawa sedari tadi di tangannya itu.
Nampaklah sebuah bola yang bersinar dan terdapat bintang di dalamnya.
"Ah, itu benar bola impian! aku harus mendapatkannya!" seru Qiao Li dalam hati yang bersiap untuk mengambil bola impian yang ada di tangan laki - laki yang ada dihadapannya itu.
"Hopp hiaat..!" Qiao Li berlari dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya keluar dari barisan dan dengan cepat mendekati laki - laki yang membawa bola impian itu.
Dengan cepat Qiao Li mengambil bola itu dan langsung memasukkannya dalam cincin penyimpanan bermata biru miliknya, yang selalu dia pakai di jari manis sebelah kiri Qiao Li.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...