Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Persiapan Meninggalkan Gubuk


__ADS_3

"Wah, hebat sekali! Paman berburu siluman. Pasti silumannya seram-seram ya?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"He..he..!" Chang Yi hanya terkekeh mendengar apa yang di ucapkan keponakan angkat nya itu.


"Kakak Yi" terdengar suara yang memanggil Chang Yi.


"Ada apa saudari Xin?" tanya Chang Yi yang penasaran.


"Bagaimana ya cara membuka segel pedang Azuya?" Xin Xin yang balik bertanya.


"Ibu, apa kita bisa buat permintaan pada saat Batu impian terkumpul?" tanya Qiao Li yang turut serta karena juga mendengarnya.


"Batu Impian? Ah ibu ingat, ibu sudah menyimpan dua batu impian di dalam cincin ibu" kata Xin Xin yang kemudian memperlihatkan cincin yang sama dengan cincin Qiao Li bermata biru yang di sematkan di jari manis sebelah kiri.


Xin Xin kemudian mengeluarkan dua buah batu impian di Cincinnya itu.


"Li'er juga punya Bu!' seru Qiao yang kemudian mengeluarkan dua buah batu impian yang warnanya sama dengan batu impian Xin Xin.


"Jadi sudah ada empat, tinggal kita cari tiga buah batu impian lagi!" ucap Chang Yi dengan semangat.


"Bagaimana kalau kita mencari batu Impian seraya mencari Ayah kamu, Qiao Li?" usul Xin xin.


"Li'er setuju! hmm...bagaimana dengan paman Yi?" tanya Qiao Li seraya menatap Chang Yi.


"Iya, aku setuju saja!" ucap Chang Yi yang juga merasa ada harapan untuk mendapatkan Batu Impian itu.


"Li'er, kamu masukkan lagi batu impian kamu. Dan Ibu akan masukkan lagi batu impian Ibu. Besok kita akan mencari dimana keberadaan Ayah kamu!" ucap Xin Xin seraya memasukkan kembali Batu Impiannya kedalam cincin bermata biru yang tersemat di jari manisnya.


"Baik ibu!" ucap Qiao Li dan gadis itu memasukkan batu impiannya ke dalam cincin bermata biru di jari tangannya.


"Li'er dan Saudari Xin, sebaiknya kalian istirahat. Malam sudah semakin larut" ucap Chang Yi yang kemudian bangkit dari duduknya.


Demikian pula dengan Xin Xin dan Qiao Li yang bangkit dari duduk mereka.


"Qiao Li, kamu tidur bersama ibu ya!" ucap Xin Xin yang kemudian menggandeng tangan putrinya dan melangkahkan kaki menuju ke kamarnya. Sementara itu Chang Yi memperhatikan sejenak kedua perempuan yang beda usia itu.


"Apakah aku ada rasa dengan gadis kecil itu? Ah, Mungkin aku terlalu lama sendirian." ucap dalam hati Chang Yi yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.


Setelah masuk ke dalam kamar, Chang Yi segera merebahkan dirinya diatas ranjang dan berusaha memejamkan kedua matanya.


Sementara Qiao Li dan Xin Xin juga berusaha memejamkan kedua mata mereka. Xin Xin sudah terlelap dalam tidurnya, sedangkan Qiao Li masih belum bisa tidur.


"Kenapa aku selalu terbayang cerita paman Yi ya? Aku merasa kasihan dengan asmara percintaan dia" Qiao Li yang membatin.


"Apakah boleh jika aku menyukai laki-laki yang usianya jauh dari usiaku?" tanya dalam hati Qiao Li yang mungkin akan terjawab di lain hari.

__ADS_1


Tak berapa lama, Qiao Li pun tertidur dengan pulasnya.


Dan mereka bertiga pergi ke dunia mimpi mereka masing-masing.


...****...


Matahari muncul dari ufuk timur dengan cahaya yang masih malu-malu dengan diiringi nyanyian burung pemakan biji-bijian, menambah semaraknya suasana pagi dengan embun yang perlahan - lahan mulai menipis.


Setelah bangun dari tidurnya, Qiao Li membantu Xin Xin membuat sarapan untuk mereka bertiga.


"Pasti ibu akan merindukan rumah ini!" ucap Xin Xin yang selesai memasak dan membawa nampan yang diatasnya terdapat makanan yang baru saja di masaknya.


"Iya Bu, di sini adem suasananya" ucap Qiao Li yang membawa minuman untuk mereka.


"Panggil Paman Yi, bilang kalau sarapannya sudah siap." ucap Xin Xin pada putrinya.


"Baik Bu!' balas Qiao Li yang kemudian melangkah menuju ke kamar Chiang Yi .


"Tokk..tokk..tokk..!"


"Paman, paman Yi..!" panggil Qiao Li saat berada di depan kamar Chiang Yi.


Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka, dan Qiao Li mencoba mengintip ke dalam kamar.


Gadis itu tak menemukan sosok yang dia cari.


Setelah Yakin tak mendapati orang yang dicarinya, Qiao Li bergegas keluar kamar dan menghampiri ibunya.


"Bu, Paman Yi tidak ada di kamarnya. Biasanya paman kemana ya?" tanya Qiao Li saat menghampiri ibunya, Xin Xin.


"Kakak Yi? oh, coba kamu cari di danau. Biasanya Paman Yi suka mandi di danau!" jawab Xin Xin seraya meletakkan piring diatas meja.


"Danau, baik Bu saya akan ke sana mencari Paman Yi" ucap Qiao Li yang bergegas melangkahkan kakinya menuju ke pintu keluar gubuk.


Qiao Li menyusuri jalan setapak menuju ke danau.


Dari kejauhan, sayup-sayup terdengar seperti benda berat yang jatuh ke danau.


"Byuuurr..!"


"Apa itu suara paman Yi yang ada di danau?" Qiao Li yang membatin.


Gadis itu segera mempercepat langkahnya menuju ke arah danau.


Dan ketika sampai di danau, dia melihat seorang laki-laki yang bertelanjang dada menyembul dari dalam danau.

__ADS_1


Laki-laki itu mengibaskan rambutnya, dan tombullah percikan air di setiap gerakan kepala Chiang Yi.


"Paman, Paman Yi!' panggil Qiao Li yang membuat Laki-laki yang merasa namanya di panggil ltu mencari sumber suara.


"Li'er, kau kah itu?' tanya Chiang Yi setelah yakin kalau suara itu benar-benar Qiao Li.


"Iya paman ini Li'er, sarapannya sudah siap, paman." ucap Qiao LI yang tak mau berlama-lama meski sebetulnya dia sangat menikmati pemandangan yang baru saja di lihatnya itu.


"Baiklah paman akan ke gubuk, dan kamu kembalilah" ucap Chiang Yi.


"Iya paman" balas Qiao Li yang kemudian melangkahkan kakinya kembali menuju ke gubuk.


Sementara itu Chiang Yi bergegas mendekati pakaian atasanny yang diletakkan di sebuah batu besar yang ada di depannya saat ini.


Setelah menepi, Chiang Yi segera meraih baju atasannya dan segera memakainya.


Saat selesai memakai pakaiannya, Chiang Yi bergegas melangkahkan kaki menuju ke gubuk dimana selama ini dia tinggal.


Tak berapa lama, .Chiang Yi sudah, berada di depan gubuknya dan dia melangkah masuk ke gubuknya.


"Sudah siap ya sarapannya?" tanya Chiang Yi saat masuk dan menghampiri Qiao Li dan Xin Xin.


"Iya sudah siap dari tadi!" jawab Xin Xin.


"Aku mau ganti pakaian dulu ya!" seru Chiang Yi yang merasa pakaiannya saat ini dalam keadaan basah.


"Iya paman! " balas Qiao Li yang duduk di samping ibunya.


Chiang Yi kemudian melangkahkan kakinya menuju kekamarnya dan segera mengganti pakaiannya.


Setelah beberapa menit kemudian, Chiang Yi keluar dari kamarnya dan menghampiri bangku meja makan.


Qiao Li kembali terpesona melihat wajah tampan Chiang Yi yang memakai pakaian Hanfu.


"Ayo kita sarapan dan setelah sarapan, kita mulai perjalanan kita! " seru Xin Xin seraya mengambil lauk pauk yang ada di depannya.


Demikian pula dengan Chiang Yi dan Qiao Li dan mereka pun mengambil makanan dan minuman untuk sarapan mereka bersama-sama.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2