
"Paman Yi, paman sedang apa?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Hey, aku aku menemukan ini!' jawab Chiang Yi sumringah.
Chiang Yi kemudian menunjukkan sesuatu yang ditemukannya pada ibu dan anak itu.
"Batu impian!" seru Qiao Li dan Xin Xin bersamaan.
"Akhirnya bertambah lagi batu impian kita!" ucap Chiang Yi dengan mengulas senyumnya.
"Jadi batu impiannya sudah terkumpul lima buah, tinggal dua lagi maka kita bisa kembali ke masa depan." ucap Xin Xin seraya memeluk Qiao Li dengan erat.
"Tapi kita harus cari ayah dulu Bu!" kata Qiao li yang mengingatkan.
"Iya, ibu ingat sayang. Paling tidak tinggal dua lagi batu impiannya."kata Xin Xin yang mengambil batu impian dari tangan Chiang Yi.
"Simpanlah batu impian ini, dan kita lakukan perjalanan dengan kereta kuda ini saja. Dan lumayan juga kita dapat satu peti uang emas beserta satu batu impian."kata Chiang yi seraya menunjukkan peti yang berisi banyak uang emas itu.
"Baik kakak Yi!" ucap Xin Xin yang kemudian memasukkan batu impian dalam cincin bermata Biru di jari manisnya.
"Ayo, kalian naiklah, biar aku kemudikan kereta ini!" seru Chiang Yi yang sudah bersiap dengan tali yang digunakan untuk menarik kuda untuk kereta kuda itu.
Qiao Li dan Xin Xin kemudian naik dan masuk ke dalam kereta kuda itu.
Dan Chiang Yi mengengendalikan kereta kuda itu.
"Apa yang ibu lakukan?" tanya Qiao Li saat melihat ibunya memindahkan uang emas itu kedalam kantung-kantung kain kecil yang selalu Xin xin bawa.
"Aku akan melakukan misi kemanusiaan, dengan membagikan uang emas ini untuk penduduk di sekitar tempat ini!" jawab Xin Xin yang terus melakukan kegiatannya. dan Qiao Li pun membantunya.
"Nanti Li'er boleh ikut membagikannya ya Bu!" pinta Qiao Li.
Xin Xin mengangguk seraya mengulas senyum.
Setelah selesai Xin Xin memberitahukan pada Chiang Yi untuk berhenti.
"Kakak Yi berhenti dulu kami mau membagikan uang emas ini pada penduduk!" seru Xin Xin.
"Baiklah!" ucap Chiang Yi yang kemudian memberhentikan kereta kudanya.
"Li'er, pakai cadar ini!' seru Chiang Yi seraya memberikan kain tipis berwarna putih pada Qiao Li.
Qiao Li pun memakainya dan kedua perempuan beda usia itu turun dari kereta kuda dengan membawa kantong-kantong kain yang berisi uang emas itu.
Keduanya membaginya ke tiap-tiap rumah dengan mengetuk-ngetuk pintu rumah dan kemudian meninggalkan kantong kain yang berisi uang emas itu di depan pintu rumah tiap penduduk.
"Kenapa tiba-tiba aku teringat seseorang ya?" ucap dalam hati Qiao Li yang telah selesai membagikan kantong kain kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kereta kuda yang di ternyata ibunya sudah berada di atas kereta kuda itu.
__ADS_1
Qiao Li pun masuk dan naik ke atas kereta kuda itu.
Setelah Qiao Li masuk ke dalam Kereta kuda, Chiang Yi kembali menarik kuda, agar mau berjalan meninggalkan perkampungan itu.
"Kamu kenapa Li'er? wajah kamu seperti memikirkan sesuatu?" tanya Xin Xin yang penasaran.
"Aku hanya teringat seseorang saja" ucap Qiao Li yang tak terasa meneteskan butiran kristal bening di kedua pipinya.
"Hei, kamu ini sama waktu ibu seusiakamu!" ucap Xin Xin yang kemudian mengusap air mata Qiao Li seraya mengulas air matanya.
"Ma'af Bu! Li'er hanya teringat waktu bertemu pendekar bercadar!" jawab Qiao Li sembari mengulas senyumnya.
"Terus?" tanya Xin Xin yang penasaran.
"Li'er di tolong seorang nenek, namanya nenek Shu Wan" ucap Qiao Li yang kemudian menceritakan apa yang dia alami pada ibundanya.
📆Flasback On.
Qiao Li melihat seorang nenek yang sedang kerepotan membawa hasil panennya.
"Nek, biar saya bantu" ucap Qiao Li yang mengangkat keranjang yang berisikan sayuran itu.
"Terima kasih cu, ayo ikutin nenek. Rumah nenek berada di sana!" ucap si Nenek seraya menunjuk ke arah sebuah gubuk yang berada tak jauh dari pedesaan.
Mereka berdua kemudian menuju ke gubuk yang di tunjuk itu.
"Cucu ini mau kemana?" tanya nenek itu pada Qiao Li.
"Nama nenek Shu wan, panggil saja nenek Wan, kalau nama kamu siapa Cu?" kata nenek Wan yang memperkenalkan diri sekaligus bertanya dan meletakkan hasil panennya di teras gubuk itu.
"Saya Qiao Li nek. Sudah sampai nek, saya akan melanjutkan perjalanan Nek" ucap Qiao Li yang hendak pamit.
"Hari sudah menjelang malam, tak baik anak gadis berjalan sendirian di luaran sana. Sebaiknya kamu istirahat saja dulu, besok pagi di lanjutkan!" pinta nenek Wan sembari membuka pintu rumahnya.
Qiao Li berpikir sejenak, dan dia kemudian memutuskannya.
"Baiklah nek, Qiao Li akan menginap di sini sampai pagi hari. Lagipula belum tentu Qiao Li dapat penginapan nanti kalau kemalaman" ucap Qiao Li sembari tersenyum.
"Anak pintar, ayo bantu bawa masuk semua hasil panennya!" perintah nenek Wan.
"Baik Nek!" jawab Qiao Li yang kemudian membantu si Nenek dalam memindahkan keranjang sayurannya.
"Nah taruh di dapur ya Li'er!" ucap nenek Wan.
"Baik Nek!" balas Qiao Li.
"Oiya nek, kenapa hasil panennya tidak nenek jual saja?" tanya Qiao Li sembari meletakkan hasil panen nenek Wan.
__ADS_1
"Nenek tidak mau ribut sama para tengkulak-tengkulak itu. Nenek biasanya barter sama warga yang mau diajak barter." jelas nenek Wan.
"Jadi begitu ya nek?" tanya Qiao Li yang sudah mengerti maksud si nenek.
"Iya, kamu sebaiknya mandi di belakang sana! disana ada air pancuran dari sumber mata air pegunungan!" ucap nenek Wan seraya menunjuk ke arah pintu belakang rumahnya.
"Iya Nek!" balas Qiao Li yang kemudian pergi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Nenek Wan sedan memasak sebagian sayur hasil panennya.
Setelah membersihkan diri, Qiao Li membantu si Nenek memasak dan nenek Wan yang bergantian untuk membersihkan diri.
Hari sudah menjelang malam, mereka kemudian makan malam bersama.
"Nek, Li'er boleh bertanya?" tanya Qiao lie saat selesai acara makan malam mereka berdua.
"Tanya saja, kalau nenek bisa menjawab maka akan nenek jawab!" ucap Nenek Wan yang kemudian menghabiskan minuman yang ada di hadapannya.
"Apakah nenek tahu tentang sepasang pendekar bercadar?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Sepasang pendekar bercadar ya?" tanya nenek Wan yang memperjelas pendengarannya.
"Iya, apa nenek tahu tentang sepasang pendekar bercadar itu?" lagi-lagi Qiao Li bertanya.
"Mereka adalah pahlawan kami. Karena mereka selalu membantu dan membela kami yang selalu ditindas oleh para pejabat-pejabat yang menyalahgunakan jabatan mereka." kata nenek Wan.
"Biasanya aksi mereka apa saja ya Nek?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Mereka mencuri harta para pejabat dan membagikannya kepada rakyat yang kurang mampu" jelas Nenek Wan.
"Selain itu mereka akan menghajar setiap perampok yang merampok rakyat kecil seperti kami." lanjut Nenek Wan yang menjelaskan.
"Begitu ya Nek? jadi penasaran dengan sepasang pendekar bercadar itu!" ucap Qiao Li seraya memangku dagunya.
Gadis itu punya tekat yang bulat, untuk mengetahui siapakah Sepasang Pendekar Bercadar itu.
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang fi ketuk.
"Tokk...tokk...tokk...!"
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...