
Qiao Li yang terus melangkahkan kakinya, tanpa dia sadari gadis itu menuju ke arah blok Barat.
Itu berarti berlawanan dari Fang Chen ayahnya yang berada di blok Timur.
Dimana di blok timur terdapat Perguruan dan Sekte aliran putih, sedangkan di Blok Barat terdapat Perguruan dan Sekte aliran hitam dan di sanalah banyak pejabat-pejabat negara yang suka makan hasil rakyat tanpa sepengetahuan raja atau kekaisaran Ming.
Saat ini matahari sudah muncul di ufuk timur, Qiao Li sudah berada di depan gapura masuk sebuah pedesaan.
"Lapar sekali!" ucap Qiao Li seraya memegang perutnya yang sedari tadi minta di isi.
"Dimana ada rumah makan ya?" batin Qiao Li yang melihat situasi di desa yang sedang dia singgahi.
Dan tibalah Qiao Li di depan sebuah rumah makan.
"Hmm..! lumayan ramai juga rumah makan ini!" Qiao Li yang masih membatin.
Gadis itu kemudian masuk ke rumah makan itu.
Pandangan semua orang tertuju pada gadis itu, tapi gadis itu pura-pura tak mengetahuinya.
"Pelayan, buatkan saya makanan dan minuman" kata Qiao Li yang memesan pada pelayan rumah makan itu.
"Nona, apa kamu sanggup membayar makanan kami?" tanya pelayan itu menatap Qiao Li seolah meremehkan gadis itu.
"Oh, mau bayar di muka ya!" seru Qiao Li yang kemudian dia mengeluarkan satu keping uang emas yang di bawanya dari dalam bukit Piramida.
"U..uang emas!" seru pelayan itu tak percaya dan demikian pula dengan pengunjung lainnya yang sedari tadi memperhatikan Qiao Li.
"Dari mana anak itu mempunyai uang emas?" bisik seseorang pada orang di sebelahnya.
"Apa kamu pencuri ya?" tanya si pelayan itu yang curiga.
"Saya pencuri atau bukan, itu bukan urusan anda! cepat bawakan saya makanan dan minuman!" seru Qiao Li yang mulai hilang kesabarannya.
"Baiklah, karena uang sudah ada di tanganku. Duduk dan tunggulah sebentar! " ucap pelayan itu yang kemudian berlalu dari meja Qiao Li.
"Hei gadis cilik! apa kau ada hubungannya dengan sepasang perampok bercadar?" tanya salah seorang pengunjung rumah makan itu.
"Sepasang perampok bercadar? Ma'af aku tak mengenal mereka!" jawab Qiao Li yang memang tak mengenal siapa yang di maksudkan pengunjung itu.
Kemudian orang yang bertanya pada Qiao Li itu kembali ke tempatnya.
Tak berapa lama, makanan telah di hidangkan oleh pelayan rumah makan itu di hadapan Qiao Li.
Qiao Li memakannya dengan lahap, seperti orang yang tiga hari tidak makan.
Jelas saja Qiao Li memakan makanan itu dengan lahapnya, karena selama setahun ini dia bersama Daiyu di dalam bukit piramida, tak pernah memakan makanan yang berbumbu.
"Ah, sedap sekali masakannya!" ucap Qiao Li setelah memakan dua porsi makanan yang di hidangkan pelayan itu.
Selesai makan, Qiao Li melangkahkan kakinya meninggalkan rumah makan tersebut.
Dan ternyata dia di ikuti beberapa orang yang tadi berada di rumah makan itu.
__ADS_1
"Hei nona kecil! serahkan uang emas kamu yang lainnya!" seru salah satu orang yang mengikuti Qiao Li itu.
"Uangku hanya satu itu, tak ada yang lain tuan!" ucap Qiao Li yang berbohong.
"Kurang ajar! kalau begitu, kata jual saja dia ke Kasim Wu! lumayan dapat uang banyak nantinya kita!"' seru salah satu dari empat orang yang menghadang Qiao Li.
"Apa maksudmu main jual-jual! Enak saja, langkahi dulu mayatku!' seru Qiao Li yang sudah dalam posisi siap melawan ke empat orang itu.
Walaupun dia tak yakin mampu melawan mereka.
"Ohh berani juga kamu!" seru salah seorang dari mereka lagi.
Dan adu jurus pun terjadi.
"Hopp... hiaaat...!"
"Bagh..!"
"Bugh..!"
"Bagh..!"
"Bugh..!"
"Aghh...!!"
Qiao Li terpukul dibagian perutnya dan keluarlah makanan yang dia makan di rumah makan yang dia singgahi tadi.
"Oh, makananku. Hukk.hukk..!!" ucap Qiao Li yang terbatuk-batuk karena rasa sakit yang teramat di perutnya.
"Kan sudah ku bilang dari tadi, seandainya kamu menurut dari, kamu tidak akan kesakitan nona cilik!" seru salah seorang dari mereka.
Kemudian ke empat orang itu melangkahkan kakinya menuju ke arah Qiao Li.
"Ma..mau apa kalian!" seru Qiao Li yang jatuh terduduk itu, berupaya mundur untuk menghindari ke empat kawanan itu sambil memegangi perutnya yang sakit.
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita di belakang ke empat kawanan itu.
"Hentikan kelakuan bejat kalian!"
Ke empat orang itu menoleh ke belakang dan mereka terkejut.
"Se..sepasang pendekar bercadar!" ucap ke empat kawanan itu dengan gemetaran, saat melihat dua orang laki-laki dan perempuan yang bercadar putih berdiri tegak di hadapan mereka.
"Dasar tak tahu diri! sungguh tak pantas jika empat laki-laki mengeroyok gadis cilik!" seru wanita itu lagi dengan geramnya.
"Mau tak mau, kita lawan dia!" seru salah satu dari empat orang itu.
"Iya, serang!"
Dan ke empat orang itu mengerang wanita yang bercadar itu sedangkan yang laki-laki yang bercadar lainnya mengawasi jalannya perkelahian itu.
"Hopp hiaat..!'
__ADS_1
"Bagh..!"
"Bugh..!"
"Aghh...!!"
"Bagh..!"
"Bugh..!"
"Aghh...!!"
Dua orang diantara mereka terkapar.
"Apa kalian mau menyusul!" seru wanita bercadar itu.
"Ti..tidak! A..ampun, ampuni kami!" ucap kedua orang itu yang kemudian berlutut di hadapan wanita bercadar itu.
"Pergilah kalian, aku memberi kalian satu kesempatan. Jika suatu hari aku melihat kalian mengulangi tindakan tak terpuji ini lagi, tak segan- segan pedangku akan menebas kalian!" seru wanita bercadar itu.
"Ba..baik Pendekar!" balas ke empat orang itu yang kemudian mereka lari tunggang langgang meninggalkan sepasang pendekar bercadar.
Kemudian pendekar bercadar itu menghampiri Qiao Li.
"Lain kali jangan berpergian sendirian nona manis!" ucap pendekar wanita bercadar itu.
Qiao Li tak menjawab, dia memandang dan berusaha mengingat suara wanita di depannya.
Sementara itu wanita pendekar bercadar itu juga memandang Qiao Li dengan tatapan tajam.
"Xin Xin, ayo kita pergi dari sini!" ajak laki-laki pendekar bercadar yang selalu bersama wanita pendekar bercadar itu.
"Ayo!" ucap wanita pendekar bercadar itu yang kemudian pergi dari hadapan Qiao Li yang terbengong itu.
"Si..suara itu! suara siapa ya?" gumam dalam hati Qiao Li.
Ketika dia tersadar, sepasang pendekar bercadar itu sudah hilang dari pandangannya.
"Ah...! kemana mereka perginya!" Qiao Li yang menggerutu sendiri.
"Ja..jadi dua orang bercadar tadi yang di bicarakan di rumah makan tadi!" gumam Qiao Li.
Dan Qiao Li melangkahkan kakinya yang entah kemana kakinya akan melangkah.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA...
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...