Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Keinginan Xin xin


__ADS_3

Kemudian Ju long mengambil selimut dari kulit binatang itu dan menyelimutkannya ke tubuh Xin Xin.


Ju long duduk di samping wanita yang masih menutup matanya itu, dia kemudian mengusap kepala Xin Xin dengan lembut, serta mencium kening Xin Xin.


Tak berapa lama Xin Xin membuka kedua matanya. Alangkah terkejutnya dia pada saat melihat wajah Ju long tepat dihadapannya.


"Kau...!" seru Xin Xin yang mendorong Ju long dengan kuat hingga dia terpental lumayan jauh.


"Xin'er, apa yang kamu lakukan!" seru Ju long yang tidak terima di perlakukan Xin Xin seperti itu.


"Ma'af, habisnya kamu membuatku terkejut!" seru Xin Xin yang berusaha bangkit dan memposisikan dirinya untuk duduk.


"Aku baru saja menolongku dan minta sedikit bonus dari kamu Xin'er!' seru Ju long seraya memposisikan dirinya untuk duduk di samping Xin Xin.


"Bonus apa ya?" tanya Xin Xin yang belum mengerti dan menoleh ke arah Ju long yang masih bertelanjang dada dan tampak tubuhnya yang six pack itu.


Tanpa sengaja, Xin Xin melihat adanya tanda lahir pada lengan kiri Ju long.


"Tanda lahir ini mengingatkanku pada ... Raga dewa!" kata dalam hati Xin xin yang penasaran dan di lihatnya kembali tanda lahir di lengan Ju long.


"Kamu sudah mendapatkan Batu telur naga itu, apakah kamu masih mau menjadi pendampingku?" tanya Ju long yang kemudian menoleh ke arah Xin Xin.


Xin Xin tak mendengarkan apa perkataan Ju Long, dia masih meyakinkan dirinya kalau pemuda yang ada dihadapannya itu adalah putranya yang hilang.


Ibunda Qiao Li itu refleks memeluk Ju long dengan kerinduannya pada putra laki-lakinya itu.


"Putraku..!" racau Xin xin dengan isakan tangis kebahagiaan karena telah bertemu dengan putranya itu.


Namun beda yang telah dirasakan oleh Ju long, dia merasakan kalau Xin Xin telah menerimanya dengan setulus hatinya.


"Akhirnya kau menerimaku Xin'er!" seru Ju Long dengan mengulas senyumnya.


"Apa maksud kamu?" tanya Xin Xin yang terkejut dan melepaskan pelukannya.


"Kamu menerimaku jadi pendampingku selamanya bukan?" tanya Ju long seraya menatap Xin Xin dengan tajam.


"Tidak ..tidak...tidak...!" seru Xin Xin yang sangat terkejut saat mendengar apa yang dikatakan oleh Ju long.

__ADS_1


"Tidak? kenapa kamu tadi memelukku?" tanya Ju long yang penasaran.


"Itu karena kamu adalah putraku!" seru Xin Xin yang menatap Ju long dengan tatapan keibuannya.


Ju long juga menatap Xin xin, dan dia merasakan adanya kasih sayang yang berbeda.


"Salah, kamu bohong ya! kamu bohong karena tak mau menjadi istriku!" seru Ju long yang tak ingin terpengaruh akan tatapan Xin Xin.


"Long'er, kenapa kau mengiraku bohong? jelas-jelas di lengan kamu ada tanda lahir dan itu sama dengan kembaran kamu!" seru Xin Xin, namun Ju long tak menerima akan hal itu.


"Kamu bohong! aku bukan anak kamu, kamu berkata begitu agar kamu bisa kembali pada suami kamu, iya kan? sekarang juga aku akan menantang suami kamu untuk memperebutkan kami Xin'er!" seru Ju long dengan geramnya.


"Dia tak percaya juga? begitu aku harus ada cara supaya dia tidak menggangguku dan dia punya kegiatan lainnya!' ucap dalam hati Xin xin yang terus berpikir.


"Pokoknya kau tetap milikku!" seru Ju long yang dengan rasa marahnya menghancurkan batu dihadapannya hanya dengan menggunakan telapak tangannya.


"Bummm...!"


Dan hal itu membuat Xin Xin sangat terkejut, ketika melihat batu yang ada dihadapannya itu hancur lebur.


"Ba..baiklah aku mau menerima kamu, asalkan kamu mau memberikan aku empat lagi batu impian!" seru Xin Xin dengan tak tiknya.


"Iya, batu telur naga itu empat buah lagi!' seru Xin Xin yang mempertegas dirinya.


"Baik, pasti dengan mudah aku akan mendapatkannya.!" seru Ju long yang penuh dengan percaya diri.


"Bagaimana kalau kita turun gunung sekarang juga, semakin cepat kita mencari batu impian maka semakin cepat aku bersamamu!" seru Xin Xin dan Ju long menatap Xin Xin dengan wajah bersinar.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita turun gunung sekarang juga!" seru Ju long dengan bersemangat.


"Ayo!" balas Xin Xin yang juga bersemangat.


"Nah, jika begini Ju long akan selalu dekat denganmu dan aku bisa mendapatkan batu impian lagi setelah itu kami akan berkumpul kembali sebagai keluarga yang seutuhnya. Tinggal bagaimana cara menyembuhkannya dari amnesianya" ucap Xin Xin dalam hati.


Kemudian keduanya bangkit dari duduk mereka dan mereka membawa perbekalan yang mungkin akan sangat mereka butuhkan dalam perjalanan nantinya.


Setelah selesai menyiapkan perbekalan, mereka segera berangkat menuruni gunung dengan melalui jalan setapak, hutan hingga persawahan.

__ADS_1


Mereka sesekali menyempatkan diri untuk beristirahat dan makan+makanan perbekalan mereka.


"Perbekalan kita sudah habis, dan kita belum menemukan perkampungan di sekitar tempat ini!'' seru Xin Xin seraya memandang kesekitarnya.


"Benar, hari sudah beranjak petang. Lebih baik kita mencari tempat untuk kita menginap malam ini!" ucap Ju long yang kemudian menatap ke arah Xin Xin.


"Apa boleh buat, kita menginap di sini saja, kita buat perapian untuk mengusir hawa dinginnya malam dan juga mengusir binatang-binatang buas!" ucap Xin Xin dan mereka berbagi tugas, Xin Xin membersihkan tempat yang akan mereka tempati dan Ju long mencari kayu bakar untuk perapian malam ini.


Ju long ternyata tidak saja mencari kayu bakar, dia juga mencari buruan untuk makan malam mereka. Dan Ju Long menangkap seekor ayam hutan.


Sementara itu Xin Xin mencari sumber mata air untuk mengisi tempat air mereka yang terbuat dari bambu.


Setelah selesai membersihkan ayam hutannya, Ju long menghampiri Xin Xin yang sudah selesai membuat perapian.


"Jadi makan malam kita ayam hutan ya!" seru Xin Xin saat melihat Ju long membakar ayam hutan itu.


"Iya, adanya cuma ayam hutan. Semoga bisa mengenyangkan kita berdua!" Seru Ju long.


"Ha..ha.., tentu saja kita kenyang. Kalau tidak kenyang juga berarti perut kamu sebesar gajah! he..he..!" canda Xin Xin yang kemudian mereka tertawa bersama.


Setelah selesai makan dan minum, mereka kemudian mulai mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka dengan tidur berdua di bawah sinar bulan purnama.


Xin Xin dan Ju long saling bergantian untuk tidur dan berjaga malam ini.


Malam makin larut dan tak ada bahaya yang mengancam mereka malam ini. Dan keduanya tertidur pulas karena rasa kantuk dan kelelahan yang saat ini mereka rasakan.


Beberapa jam kemudian kicauan burung bersautan dan matahari telah muncul dari ufuk timur walaupun masih dengan rasa malu-malu.


Xin Xin membuka kedua matanya dan menebarkan pandanganya disekitarnya.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2