Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Qiao Li siuman


__ADS_3

Sesosok manusia itu kemudian membopong Qiao Li dan membawa tubuh Qiao Li ke sebuah Goa yang tak jauh dari tempat itu.


"Apa yang kakak temukan?" tanya seorang wanita tua dari dalam goa yang melangkahkan kaki menghampiri sesosok laki-laki tua yang masih mampu membopong Qiao Li.


"Ada seorang gadis, yang jatuh dari atas. Dan aku tadi sempat melihat adanya cahaya hijau yang melindungi gadis ini!" jawab laki-laki tua yang kemudian menurunkan Qiao Li di atas batu yang sudah dibentuk persegi, yang mereka gunakan untuk tidur.


"Gadis cantik, he...he...! Seperti aku dulu, benar tidak kakak!" seru wanita tua itu seraya terkekeh.


"Aku merasakan energi besar yang ada dalam tubuh gadis ini. Hanya saja kemampuannya tidak pernah dia asah!" seru laki-laki tua itu seraya memandangi wajah Qiao Li.


"Perapiannya!" seru wanita tua itu yang kemudian menyalakan perapian yang hampir padam itu.


"Kamu memasak apa?" tanya Laki-laki tua itu seraya mendekati perapian itu.


"Sayur soup kesukaan kakak! he...he...!" ucap wanita tua itu seraya terkekeh.


Mereka berdua adalah suami istri yang menepi, menjauhi kehidupan dunia. Walau tanpa anak yang mendampingi mereka, keduanya merasakan kebahagiaan yang menurut mereka tidak mereka dapatkan dikehidupan diatas mereka.


Seminggu lamanya mereka merawat Qiao Li, dan perlahan-lahan Qiao Li membuka kedua matanya dan berusaha mengingat sesuatu.


"A....aku dimana? apa yang terjadi padaku?" tanya dalam hati Qiao Li yang melihat ke setiap sudut ruangan goa. Hanya perapian yang masih menyala untuk mengusir hawa dingin yang berhembus dari luar goa.


"Ada perapian, berarti ada orang disini. Dan dia menolongku!" gumam dalam hati Qiao Li yang berusaha untuk duduk diatas batu yang berbentuk kotak itu.


"Hey, gadis itu sudah bangun kak!" seru seorang wanita tua yang baru saja masuk ke goa dan melihat Qiao Li yang sudah duduk di atas batu tempat tidurnya.


"Sudah bangun ya?" tanya seorang laki-laki tua yang juga dari luar goa, melangkahkan kakinya masuk ke goa mengikuti wanita tua tadi dengan membawa kayu bakar di punggungnya.


"I..iya, bolehkah saya minta minum? saya kehausan." pinta Qiao Li dengan suara yang lemah.


"Oh, tentu saja. Sebentar akan saya ambilkan!" ucap wanita tua itu yang kemudian mengambil gelas yang terbuat dari bambu dan mengambil minuman dari kuali yang terbuat dari tanah liat dan berada di atas perapian yang lainnya.


"Minumlah ramuan ini, ramuan ini bisa menghangatkan tubuh kamu!" ucap wanita tua itu yang memberikan ramuannya yang masih hangat pada Qiao Li.


Gadis itu pun meminumnya dan timbul rasa hangat di dalam tubuhnya.

__ADS_1


"Iya benar-benar hangat nek!" seru Qiao Li sambil mengulas senyumya pada si wanita tua itu.


"Nenek sudah tahu itu, ramuan ini minuman kami selama berada di goa ini." jelas wanita tua itu.


"Terima kasih nek!" ucap Qiao Li.


"Iya sama-sama. Oiya, anak manis makan dulu ya!" ucap wanita tua itu yang kemudian mengambilkan Qiao Li makanan di sebuah mangkok yang dari tanah liat.


Setelah selesai, wanita tua itu memberikan mangkok yang berisi bubur itu pada Qiao Li.


Qiao Li menerimanya, perutnya yang saat ini minta diisi.


"Terima kasih." ucap Qiao Li yang menerima mangkok yang berisikan bubur itu.


Walaupun lidahnya saat ini kelu tak bisa merasakan apa-apa, Qiao Li tetap berusaha menyantap bubur itu dengan lahapnya.


"Enak?" tanya wanita tua itu pada Qiao Li yang terkejut karena dengan cepat gadis yang bersama mereka dengan cepat memakan bubur buatannya itu.


"Saya serasa tidak makan selama seminggu, jadi tak merasakan apapun di bubur ini!" ucap Qiao Li yang jujur apa adanya.


"Jadi saya pingsan sampai seminggu lamanya?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"iya, kamu jatuh dari atas dan selama seminggu lamanya kamu pingsan." ucap wanita tua itu yang menambahi.


"Nenek dan kakek, ini dimana?" tanya Qiao Li uang menebarkan pandangannya ke setiap sudut goa.


"Ini goa di jurang lereng gunung Es, dan kamu siapa anak manis?" jawab sekaligus tanya wanita tua itu pada Qiao Li.


"Nama saya Qiao Li, saya berasal dari sebuah penginapan di tengah gurun. Saya mengembara karena saya mau mencari kakak saya. Dan ternyata kakak saya amnesia dan dia tidak mengenal saya, bahkan dia yang menyerang saya hingga saya jatuh ke jurang." jawab Qiao Li.


"Oh begitu ya, tapi saya yakin kalau kamu bukan orang sembarangan!" ucap laki-laki tua itu pada Qiao Li.


"Maksud kakek?" tanya Qiao Li yang belum mengerti.


"Mana ada manusia yang jatuh ke jurang ini selamat dan tidak luka sama sekali? Dan sewaktu aku mengangkat tubuh kamu, aku rasakan kalau ada energy besar di dalam tubuh kamu!" jawab laki-laki tua itu.

__ADS_1


Qiao Li memeriksa tubuhnya, dan benar saja tak ada luka serius yang ada ditubuhnya.


"Apakah karena pedang Azuya uang melindungiku?" tanya dalam hati Qiao Li.


"Pulihkan tenaga kamu, anggap saja kami kakek dan nenek kamu, iya kan kak? he...he...!" tanya wanita tua yang lebih suka dipanggil nenek itu seraya terkekeh.


"Iya, tak punya anak tahu-tahu punya cucu! ha...ha...!" jawab si kakek sambil tertawa.


"Kakek dan nenek , Li'er sudah lama tak melihat kakek dan nenek Li'er. Entah bagaimana kabar mereka sekarang!" gumam Li'er yang sekilas terlihat wajah kakek dan neneknya. Walaupun bukan kakek dan nenek kandung.


(Kakek dan nenek Qiao Li adalah Tuan Wibowo dan Nyonya Lani \=Gadis Tiga Karakter)


"Sudah kalau kangen sama kakek dan nenek kamu, anggap saja kami ini kakek dan nenek kamu! kami ini pasangan yang tak mempunyai keturunan, walaupun begitu kami sangat bahagia disini. Kami selalu bersama. Tanpa ada yang memisahkan kita." ucap si kakek yang menghampiri si nenek dan kemudian memeluk si nenek.


"Wah, kakek dan nenek hebat ya! kalian menyepi berdua di goa dijurang lereng gunung es." ucap Qiao Li yang mengulas senyumnya melihat kemesraan kedua kakek dan nenek itu.


"Kami sudah merasakan pahit manisnya di dunia atas sana, apa lagi dunia persilatan. Kamilah sepasang pengendali Air dan Angin, kekuatan kami selalu menjadi incaran para orang-orang yang haus kekuasaan. Dengan berbagai cara mereka ingin berguru pada kami, yang intinya ingin menggunakan jurus-jurus kami untuk mengendalikan bawahannya maupun orang lain. Karena itulah kami memilih menyepi disini, karena jurus kami bukan untuk menyakiti maupun mengendalikan orang lain." jelas panjang lebar si kakek.


"Oh jadi begitu ya?" ucap Qiao Li yang mencoba memahami cerita si kakek.


"Sebetulnya tidak hanya itu saja yang membuat kami menyepi disini!" ucap si nenek sembari tersenyum.


"Hah, ada lagi alasan kalian yang membuat kalian menyepi?" tanya Qiao Li yang penasaran dengan ucapan si nenek tadi.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2