
"Entahlah dan aku tidak ingat kalau aku punya kotak seperti ini!" jawab Bing Wen yang penasaran itu berusaha membuka kotak tersebut. Bing wen mencari kunci untuk membuka kotak tersebut.
Dan tak menunggu lama, Bing Wen sudah menemukan kunci kotak tersebut. Kemudian dia membuka kotak misterius yang membuatnya penasaran itu, karena muncul cahaya di sela-sela lubangnya.
Setelah kotak itu di buka, mereka terkejut akan silau dari sinar yang dikeluarkan oleh benda yang berada di dalam kotak tersebut.
Di dalam kotak bercahaya itu, terdapat empat buah batu bercahaya yang di dalamnya terdapat bintang.
"Batu keramat!" seru Bing Wen.
"Batu impian!" seru Qiao Li dan siluman macan putih yang sudah hafal dengan batu-batu itu.
"Pendekar Li! batu ini aku hadiahkan buat kamu. Sebagai tanda terima kasih saya, karena pendekar Li menyampaikan pesan dari istri saya." ucap Bing Wen yang menyerahkan kotak yang berisikan empat batu impian itu.
"Benarkah?" tanya Qiao Li dengan semangat, begitu pula dengan siluman macan putih.
"Tentu saja benar, dan untuk apa keempat batu ini. Karena kebahagiaanku yang sesungguhnya ada di hutan salju abadi."
"Terima kasih kakak Wen!" seru Qiao Li yang memegang kotak itu.
"Iya, jadi kita impas ya! dan saya mau pamit. Saya ingin segera pulang menemui istriku!" seru Bing Wen yang melanjutkan acara berkemas-kemasnya.
Sementara itu Qiao Li sedera memasukkan empat batu impian itu ke dalam cincin bermata birunya.
Kini sudah lengkap batu impian yang dimiliki oleh Qiao Li. Gadis itu menatap siluman macan putih dengan mengulas senyumnya, dan seolah mengerti maksud dari Qiao Li siluman macan putih itu juga mengulas senyumnya.
"Jadi sudah lengkap ya pendekar Li?" bisik ailumn macan putih pada Qioa Li.
"Iya, tinggal kita mengucap permintaan kita!" balas Qiao Li yang juga berbisik.
Setelah Bing Wen selesai berkemas, mereka keluar dari kamar dan bergabung dengan yang lainnya.
"Terima kasih untuk semuanya, mohon ma'af jika kami melakukan kejahatan pada kalian semua. Kami pamit mau pulang ke perguruan kami!" ucap pamit Bing Wen mewakili para anggotanya seraya melambaikan tangannya.
"Iya sama-sama dan hati-hatilah kalian dalam perjalanan." balas Qiao Li seraya membalas lambaian tangan dari Bing Wen.
__ADS_1
Kemudian Bing Wen dan semua anggotanya memablikkan badan mereka yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkan Qiao Li dan yang lainnya.
Beberapa saat kemudian mereka meninggalkan perguruan Bambu kuning, dan menuju ke arah hutan salju abadi.
Sementara itu semua anggota sekte bambu kuning melakukan aktifitasnya seperti biasanya.
Kakak Kun dan kakak Mei!" panggil Qiao Li pada kedua sahabatnya di perguruan Bambu kuning.
"Ada apa Li'er?" tanya mingmei yang segera menghampiri Qiao Li dan juga siluman macan putih.
"Karena permasalahan disini telah selesai, saya berniat untuk melanjutkan perjalanan saya bersama siluman macan putih. Bukan begitu macan putih?" jawab Qiao Li seraya bertanya pada siluman macan putih.
"Iya, benar sekali. Dan kita hampir kehilangan waktu karena perjalanan kita selalu ada yang menghalangi." jelas siluman macan putih yang menatap ke arah Chen Kun dan juga Ming Mei.
"Hmm...! baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya, saya buatkan bekal untuk perjalanan kalian." ucap Ming Mei yang menawarkan diri.
"aoh, tidakbusah repot-repot kak Mei!" seru Qiao Li yang tak enak hati.
"Sudah tidak apa-apa!" seru Ming Mei yang kemudian mempercepat langkahnya menuju ke dapur, untuk membawakan bekal pada Qiao Li dan siluman macan putih.
"Li'er, menurut kamu apa sebaiknya patriak An dan Patriak Feng yang berada di perguruan ini? karena aku dan Ming mei sudah tak sanggup lagi untuk mengurus semuanya ini!" ucap Chen Kun yang menatap Qiao Li seolah ingin segera tahu apa pendapat Qiao Li.
"Menurut Li'er, benar juga kak Kun. Yang saya khawatirkan jika ada serangan seperti sebelumnya. Pastinya kedua Patriak bisa melawan mereka dan juga tak sampai perguruan diambil alih oleh orang yang tak bertanggung jawab. Kasihan para anggota sekte, murid perguruan dan juga penduduk bambu kuning ini." jelas Qiao Li yang menatap Chen Kun.
"Jadi apa Li'er mau mampir sebentar ke penginapan pintu Naga, untuk sekedar memberi tahukan keadaan perguruan Bambu kuning pada Patriak An dan juga Patriak Feng?" tanya Ming Mei yang datang dari dapur dan menghapiri mereka bertiga.
"Menurutku tidak apa-apa kalau kita mampir sebentar apalagi perjalanan kita ke barat pastinya akan melewati penginapan yang ada di tengah gurun itu." pendapat dari siluman macan putih dan semuanya mengangguk tanda mereka menyetujuinya.
"Baiklah, kalau begitu kami akan segera berangkat. Sampai jumpa kakak Kun dan kakak Mei!" ucap pamit Qiao Li seraya menjabat tangan Chen Kun dan juga Ming Mei.
Kemudian Qao Li dan Ming mei saling berpelukan sebagai tanda perpisahan mereka.
Setelah melepaskan pelukan mereka, keduanya saling balas lambaian tangan.
Pada akhirnya Qiao Li dan Siluman macan putih meninggalkan perguruan Bambu kuning, dan mereka melangkahkan kaki menyusuri jalan.
__ADS_1
Dan ada kalanya Qiao Li naik di punggung siluman macan putih.
Mereka melewati perkampungan, persawahan dan hutan-hutan yang akhirnya mereka sampai di perbatasan dengan gurun pasir.
"Lihat kita sudah sampai di perbatasan blok timur dengan gurun pasir!" seru Qiao Li seraya menunjuk ke arah gurun pasir itu.
"Benar, kalau begitu aku akan percepat langkahku, biar kita cepat sampai di penginapan pintu naga!":seru siluman macan putih.
"Iya, aku juga tidak sabar mau membuat permintaan pada bayi impian untuk membuka segel pedang Azuya!" seru Qiao Li yang masih duduk di atas punggung siluman macan putih, dan siluman macan putih menganggukan kepalanya tanda setuju.
Kemudian siluman macan putih mempercepat langkahnya, lurus menuju ke tengah gurun pasir.
Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di depan penginapan tengah gurun, yaitu penginapan pintu naga.
Beberapa penjaga sudah mengenali Qiao Li dan mereka mempersilahkan Qiao Li masuk ke area penginapan pintu naga.
"Apa kabar para penjaga penginapan pintu Naga!" seru Qiao Li pada saat sudah turun dari punggung siluman macan putih, dan melangkahkan kaki menuju menghampiri para penjaga pintu gerbang penginapan pintu naga itu.
"Kabar kami baik-baik saja, Oh saudari Li!" jawab para penjaga itu yang pada awalnya tak mengenali Qiao li.
" Syukurlah kau kalau kalian dalam keadaan baik-baik saja. Dan apakah kami boleh masuk?" tanya Qiao Li pada para penjaga itu.
"Oh tentu saja! mari masuk saudari Li!" seru penjaga lainnya. Yang kemudian Qiao Li dan Siluman macan putih melangkahkan kaki masuk ke dalam halaman penginapan pintu naga itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1