
Qiao Li kemudian membuka cadar putihnya, dan membuat Yan Qiu sangat terkejut demikian pula dengan Hua Tian yang baru saja keluar dari dapur.
"Li'er!" panggil Hua Tian dan Yan Qiu serempak saat melihat Qiao Li.
"Iya saya Li'er, bukankah kalian menyerang kerajaan?" tanya Qiao Li seraya menatap kearah Yan Qiu dan juga Hua Tian.
Gadis itu mengembalikan ingatannya dimana saat itu dia berada di desa Bambu kuning.
Dan saat itu semuanya mengantri untuk masuk ke ruang aula pertemuan di desa Bambu kuning, karena akan diadakan pertemuan seluruh sekte aliran putih.
Pertemuan itu di pimpin oleh Patriak An, Patriak Jingmi,yang dari sekte bambu kuning, Patriak Feng dari sekte walet putih dan Patriak Lung dari sekte pengemis.
...💭💭💭💭💭...
"Selamat pagi semuanya" sapa Patriak An saat berdiri di atas panggung dan semuanya menyimak dan memperhatikan Patriak An dengan seksama.
"Pagi Patriak!" balas semua yang mendengar sapaan dari Patriak An.
"Tujuan dari kita berkumpul saat ini, walaupun semuanya tak bisa hadir, maka pertemuan dan pembahasan kita lakukan dengan seadanya kita pada saat ini.!" seru Patriak Jingmi.
"Dalam misi kita, aku mau dibagi tiga!" usul Patriak Feng yang didengar semuanya.
"Dibagi tiga? untuk apa saja Patriak Feng?' tanya Patriak Jingmi yang menjauhkan rasa cemburunya pada Patriak Feng yang merupakan mantan wanita yang disukai kakak seperguruannya Patriak An.
"Satu kelompok menyerang para pejabat di Blok Barat, satu kelompok menyerang ke kota dan satu lagi dari kita mendirikan kembali penginapan di gurun pasir." usul Qiao Feng.
"Kami setuju dengan usul saudari Feng yang nomor satu dan nomor dua. Tapi kami masih bingung dengan usul anda yang nomor tiga! memangnya apa pentingnya kita membangun kembali penginapan di gurun pasir itu!" seru Patriak Lung yang penasaran.
"Dulu waktu saya menyamar menjadi tukang masak disana, saya melihat tempat itu sangat strategis. Kita bisa bangun kembali penginapan disana dan kita bisa dengan mudah mengetahui informasi-onformasi tentang kepemerintahan dan juga suasana di Blok barat!";jelas Patriak Feng.
"Benar, saya juga bersependapat, karena disanalah demikian" ucap Hua Tian yang menyetujui usul Patriak Feng.
__ADS_1
"Bisa kamu jelaskan kenapa kamu bersependapat dengan usul Patriak Feng?":tanya Patriak Lung yang penasaran.
"Aku juga pernah bekerja disana dan mengamati situasi disana. Penginapan itu terletak di gurun pasir, dimana diantara blok barat dan blok Timur dan juga arah terdekat menuju ke kerajaan Ming. Tempat itu tempat persinggahan para musafir yang melakukan perjalanan. Jadi pantaslah tempat itu disebut sebagai tempat strategis." jelas Hua Tian.
"Baiklah aku setuju dengan pendapat kalian, bagaimana dengan yang lainnya?" tanya patriak Lung yang pada akhirnya menyetujui usul Patriak Feng.
"Kalau begitu ayo kita bagi tugas, aku Patriak An dan Ming mei bertugas akan memimpin pasukan dari sekte bambu kuning serta walet putih untuk menyerang para pejabat korup di blok Barat" ucap Patriak An yang mewakili sekte bambu kuning dan juga walet putih .
"Sementara Patriak Lung bersama Chen kun, Hua Tian dan Yan Qiu pergi ke kerajaan Ming." lanjut Patriak An.
"Lantas bagai dengan Patriak Feng? " tanya patriak Lung yang penasaran.
"Patriak Feng nanti akan bertugas membantu Fang Chen, Qiao Li dan anggota sekte walet putih lainnya membangun kembali penginapan di gurun pasir itu." jelas Patriak An.
"Dan Patriak jingmi, saya tugaskan menjaga desa bambu kuning selama kami menjalankan misi kita." ucap Patriak An.
"Baiklah kami setuju, dan misi akan kita laksanakan mulai kapan?" tanya patriak Lung sembari menatap yang lainnya satu persatu.
...💭💭💭💭...
"Memang benar dari awal kita sesuai dengan rencana, hal itu berubah sejak kami mengetahui informasi tentang kenapa terjadinya banyak penculikan dan perdagangan para gadis dan perempuan di blok timur dan barat." jelas Hua Tian yang membawa baskom yang berisi air dan juga kain, yang akan digunakan untuk membersihkan luka pada lengan Yan Qiu.
"Oh, yang penculikan dan perdagangan perempuan seperti di Penginapan Mawar Gurun tempo hari?" tanya Qiao Li yang memastikannya.
"Iya seperti itu, dan hal itu di karenakan Kaisar Chenghua yang selalu terobsesi dengan kaum perempuan, karena itulah kaisar Chenghua memiliki banyak selir. Dan selir yang sangat kaisar sayangi adalah selir Lady Wan." cerita Yan Qiu, saat lukanya dibersihkan oleh Hua Tian.
Qiao Li mendengarkannya dengan seksama.
" Selir Lady Wan telah membunuh banyak anak kaisar. Kecemburuan Lady Wan itu terjadi karena putranya yang akan digadang - gadang sebagai penerus kekaisaran Ming, telah meninggal dunia karena sakit keras yang dialaminya. Lady Wan tak mau para selir Baginda Chenghua hamil maupun melahirkan anak dari Baginda chenghua, jika hal itu terjadi selir Lady Wan dengan cara apapun akan menghilangkan nyawa bayi - bayi yang tak berdosa tersebut." cerita Yan Qiu.
"Oh, sadis sekali!" gerutu Qiao Li kesal.
__ADS_1
"Oleh karena itu, Kami bermaksud memberitahukan berita yang kami dengar dan lihat itu pada Patriak An dan yang lainnya. Karena tak mungkin yang mulia Chenghua akan percaya dengan perkataan kita, jadi sebaiknya kita mengatur strategi agar bisa menggulingkan kekuasaan selir Lady Wan yang di lindungi oleh yang mulia Chenghua dan juga Kasim Wu." jelas Hua Tian yang membantu menceritakan pemikiran mereka.
"Kasim Wu? seperti tak asing dengan nama itu!" seru Qiao Li sembari mengernyitkan kedua alisnya.
"Orang yang selalu membeli para gadis yang akan dijadikan selir dan pemuas hasrat para prajurit adalah Kasim Wu itu!" jelas Yan Qiu yang mengobati lukanya dengan ramuan yang selalu dia buat dan selalu dia sediakan.
"Oiya, Kasim Wu lah yang sering diucapkan para penculik perempuan yang Li'er temui." ucap Li'er yang mengingat kejadian yang telah dilewati.
"Iya seperti itulah, jadi kita berupaya untuk mengumpulkan kembali tokoh - tokoh aliran putih." ucap Hua Tian.
"Dan disaat kami mencari para Patriak, kami selalu menemui halangan dan selalu yang kami temukan yaitu terjadi perdagangan wanita." sahut Yan Qiu yang telah mengobati lukanya dan hiabtian membantu membalut kembali luka tersebut.
"Menurutku, sebaiknya kalian berdua pergi ke penginapan di gurun yang sudah kami dirikan kembali, dan penginapan itu kami beri nama penginapan Pintu naga." ucap Qiao Li.
"Oh, jadi penginapannya sudah selesai dibangun?" tanya Yan Qiu yang penuh semangat.
"Iya dan kedua orang tuaku ada disana saat ini!" jawab Qiao Li.
"Kedua orang tua kamu?" tanya Hua tian dengan penasaran.
"Paman Fang Chen sudah sadar dari amnesianya, dan sekarang sudah bersama dengan ibu kandungku yang bernama Xin Xin" jelas Qiao Li yang menatap Hua Tian dan Yan Qiu satu persatu.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...