
Beberapa menit kemudian dia melangkahkan kakinya ke belakang penginapan, untuk melakukan tugasnya. Memberi makan kuda-kuda para tamu penginapan.
Malam hari disaat semua pekerjaan selesai, dan suasana penginapan sudah sepi.
Ketua sekte rambut putih melangkahkan kakinya menuju ke kamar Qiao li. Dia tak menyadari kalau gerak-geriknya diawasi oleh dua orang anggota sekte bambu kuning yang sedang berjaga.
"Kau lihat, apa yang dia lakukan malam-malam begini ke kamar saudari Li?" bisik salah satu diantara anggota sekte bambu kuning itu.
"Iya, penasaran jadinya!" balas yang lainnya dengan berbisik pula.
Keduanya tetap dalam posisi mereka mengawasi ketua sekte rambut putih yang sudah berada di depan pintu kamar Qiao Li.
"Tok.... tok.... tok....!"
Ketua sekte rambut putih itu mengetuk pintu dan tak berapa lama Qiao Li membuka pintu kamarnya dari dalam.
"Saya kira anda lupa, ketua." ucap Qiao Li yang kemudian mempersilahkan ketua sekte rambut putih itu masuk.
Hal itu membuat kedua anggota sekte Bambu kuning yang tadi mengintai mereka, saling pandang dan banyak pertanyaan di hati mereka.
Sementara itu ketua sekte rambut putih itu masuk ke kamar Qiao Li, dan kemudian gadis itu menutup serta mengunci pintu kamarnya.
"Dimana istriku Daiyu?" tanya Ketua sekte rambut putih itu yang penasaran.
"Tenang saja, nanti kita akan bertemu dengannya!" jawab Qiao Li yang kemudian dengan menggunakan jurus pengendali anginnya, gadis itu mendorong tempat tidurnya yang tadinya di posisi tengah ruangan. Dan setelah didorong Qiao Li, posisi tempat tidur tepat lekat dengan dinding kamar.
Dan terlihatlah sebuah pintu yang terbuat dari tembaga, di tengah ruangan yang mana sebelumnya tertutup oleh tempat tidur.
"Ada pintu rahasia?" tanya ketua sekte rambut putih yang tak percaya.
"iya, dan semoga saja bibi Daiyu masih berada di dalamnya." jawab Qiao Li yang kemudian memanggil pedang Azuyanya.
"Pedang Azuya!"
Muncullah pedang hijau di tangan kanannya. Kemudian gadis itu mengetukkan pedang Azuya sebanyak tiga kali, di tepi pintu kecil tersebut.
"Tugh.... tughh....tugh....!"
Pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Masuklah ketua!" seru Qiao Li pada ketua sekte rambut putih.
__ADS_1
Walau sedikit ragu, namun rasa penasaran mengalahkannya. Ketua sekte rambut putih itu pun masuk melewati pintu kecil yang terbuka itu.
"Brugh...!"
Kaki ketua sekte rambut putih itu menginjak di lantai ruang rahasia bukit piramida itu.
"Bugh...!"
Kaki Iao Li juga menginjak di lantai ruang rahasia itu.l
Setelah itu kembali Qiao li mengetuk tepi pintu tembaga itu sebanyak tiga kali dari dalam ruang rahasia.
"Tugh... tugh.... tugh...!"
"Brugh...!"
Dan pintu itu pun tertutup dengan rapat. Sementara itu ketua sekte rambut putih menebarkan pandangannya ke setiap sudut ruang rahasia Bukit Piramida itu.
"Ayo kita cari bibi Daiyu, semoga saja dia masih ada di sini." ajak Qiao Li dan ketua sekte rambut putih itu menyetujuinya dan mengikuti langkah Qiao Li.
Mereka menyusuri lorong-lorong dan memasuki tiap ruangan-ruangan ruang rahasia itu.
Dan tibalah mereka di ruangan yang paling ujung, keduanya memasuki ruangan itu.
Ketua sekte rambut putih itu menghampiri dan mengusap kening Daiyu dengan lembut. Dan wanita itu membuka kedua matanya, dan dia sangat terkejut.
Kemudian wanita itu memposisikan dirinya untuk duduk dan mengingat ingat siapa laki-laki yang ada dihadapannya itu, dengan diterangi dengan cahaya obor di ruangan tersebut.
"Apakah aku sedang bermimpi?" tanya Daiyu lirih dengan terus menatap kearah ketua sekte rambut putih itu.
"Apa kabarmu Yu'er?" tanya Ketua sekte rambut putih itu dengan mengulas senyumnya.
"Kabar ku baik-baik saja. Aku tidak mimpi kan? ini benar kakak Lin, Guan Lin suamiku?" tanya Daiyu yang terus menatap ketua sekte rambut putih itu.
"Kamu masih mengingat nama suamimu ini!" ucap Ketua sekte rambut putih itu yang kemudian memeluk erat Daiyu, demikian pula dengan Daiyu yang membalas dengan pelukan erat juga.
Tumpah ruah kerinduan keduanya, Isak tangis haru dan bahagia suasana di ruangan itu.
Qiao Li sadar diri, dia membiarkan keduanya saling meluapkan rasa rindu mereka. Gadis itu melangkahkan kakinya menuju keluar ruangan itu dan dia berjalan menuju ke arah perkebunan di bawah bukit piramida.
Suasana masih sama seperti yang Qiao Li lihat terakhir saat bersama ibunya dan yang lainnya pada waktu keberangkatan Chiang Yi, Hai jubdan juga Ayumi ke kerajaan langit dengan menggunakan tujuh batu impian.
__ADS_1
"Sudah tiga kali ini berada di tempat ini, tempatnya pun masih seperti awal aku disini." gumam dalam hati Qiao Li yang pandangannya terus ke setiap sudut kebun kecil itu.
"Li'er!"
Tiba-tiba saja ada yang memanggil namanya.
Gadis itu menoleh, mencari sumber suara yang memanggilnya. Dan dia melihat Daiyu menggandeng tangan ketua sekte rambut putih.
"Bibi Daiyu!" balas panggil Qiao Li saat tahu siapa yang memanggilnya.
"Terima kasih kamu mempertemukan aku dengan suamiku kakak Lin. Ma'af jika aku tak pernah cerita kalau sebenarnya aku sudah bersuami." ucap Daiyu yang kemudian memeluk Qiao Li.
"Eh, itu sudah menjadi kewajiban Li'er" ucap Qiao Li yang membalas pelukan Daiyu.
"Guan Lin adalah suami bibi, yang dulu kami dipisahkan oleh orang tua bibi. Saat ini kami bisa bersama adalah kebahagiaan buat bibi." kata Daiyu saat melepas pelukan mereka.
"Li'er juga ikut senang melihat bibi bahagia." ucap Qiao Li yang mengulas senyumnya.
"Padahal bibi pernah memperlakukan kamu tak seperti layaknya, tapi kamu masih memberikanku kebahagiaan." ucap Daiyu yang meneteskan air matanya karena terharu.
"Aku pun tak menyangka, awalnya aku menyerangmu. Dan kamu dapat mengalahkan ku, sekarang kamu memberikan kebahagiaan padaku dengan mempertemukan aku dengan istriku." ucap ketua sekte rambut putih itu yang menatap ke arah Qiao Li.
"Sudahlah, ini adalah kewajiban saya. Selanjutnya apa rencana kalian kedepannya?" tanya Qiao Li yang penasaran dengan jawaban sepasang suami istri dihadapannya itu.
"Kami memutuskan tetap tinggal disini. Kita akan menjalani hari-hari bersama di ruangan ini. Karena tak ada lagi yang kami harapkan diatas sana, karena disini pun juga sudah terpenuhi makanan dan minuman kita." ucap Daiyu yang menatap Qiao Li.
"Benar saudari Li, karena percuma juga aku diatas sana. Aku sudah tak punya jurus apapun dan tak mungkin aku akan menjadi ketua rambut putih lagi." jelas Guan Li.
"Baiklah kalau itu keputusa kalian, dan semoga kalian bahagia selamanya." ucap dia Qiao Li.
"Terima kasih do'anya Li'er!" ucap Daiyu yang sekali lagi memeluk Qiao Li.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...