
Beberapa menit kemudian, Chiang Yi dan Ayumi menghampiri Qiao Li dan Xin Xin. Dan mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"Ibu sebenarnya mau cerita sama kamu Li'er. Apa kamu mau mendengarkan cerita ibu?" tanya Xin Xin saat mereka melangkahkan kaki dan melanjutkan perjalanan.
"Cerita apa ya Bu? Li'er mau mendengarkannya" ucap Qiao Li yang penasaran.
"Ini perjalanan waktu ibu, Paman Chiang Yi, Kakak kamu Raga dan juga paman Leon." Kata Xin Xin, dan mereka beristirahat di tepi sungai untuk sekedar membasuh muka, tangan dan kaki mereka.
Sedangkan Chang Yi dan Ayumi sedang asyik mencari ikan untuk mengisi perut mereka.
"Jadi ibu akan menceritakan ketika berada di pusaran angin ya ?" tanya Qiao Li yang menebak.
"Benar, saat kita terpisah setahun lebih kemarin." jawab Xin Xin yang kemudian mulai bercerita.
📆 Flashback on.
Saat setelah kamu terlempar dari pusaran angin, dan pusaran angin terus berputar membawa Ayah, bunda dan saudara kembarnya Ragadewa.
"Wuuzzz..... wuzzz...... wuzzz..!!"
Pusaran angin bertiup dengan kencang dan menerjang apa yang ada di hadapannya.
"Putriku, Leonisa...! dimana dia?" tanya Rani yang sangat cemas.
(Leonisa adalah Qiao Li, dan Ran adalah Xin Xin)
"Ma'af Rani, putrimu terlempar di gurun pasir tadi." jawab Ekin yang merasa bersalah karena tak bisa menjaga Leonisa, karena harapan mereka jatuh secara bersamaan tanpa terpisah.
(Ekin adalah Chiang Yi)
"Saga! hati-hati! nampaknya giliran kamu yang akan terlempar!" seru Leon yang sedari dari mengawasi arah gerak pusaran Angin itu.
"Iya! Aku titip jaga istri dan anakku ya!" seru Komisaris Saga yang kemudian dia melihat ke arah sekitarnya.
(Komisaris Saga adalah Fang Chen)
"Aku akan jatuh dimana? di sekitar sini banyak pepohonan, ada kemungkinan saat ini aku di hutan!" Komisaris Saga membatin saat melihat di sekitarnya.
Dan benar kata Leon, komisaris Saga terlempar terlebih dulu.
Tubuh komisaris Saga terpental dan terkantuk pohon berat dan tepat di kepalanya.
"Dugh....! blukk...!!"
"Saga!" seru Ekin dan Leon dari atas, karena masih berada di pusaran angin.
Komisaris Saga jatuh terkurap di bawah pohon besar tepat di depan mulut sebuah goa dan kepalanya bersimbah darah.
Beberapa saat kemudian pusaran angin itu menjauh yang masih membawa Rani, Ragadewa, Ekin dan Leon meninggalkan komisaris Saga yang dalam kondisi sangat mengenaskan saat ini.
__ADS_1
"Kak Saga, bagaimana nasib kamu?" racau Rani
"Sudahlah yang terpenting bagaimana dengan keadaan kita nanti!" Seru Leon yang terus berputar mengikuti arah angin.
Pusaran angin itu terus berputar dan sampai di tepi pantai, dan terus berputar.
Tiba-tiba datang badai dari laut yang tak kalah dahsyatnya.
"Awas hati-hati, nampaknya pusaran angin ini akan bertabrakan dengan badai laut!" seru Ekin ya g melihat situasi yang akan terjadi.
"Apa tabrakan? gawat, kita bisa mendarat secara tidak sempurna!" seru Qiao Li yang khawatir.
Dan benar apa yang mereka khawatirkan. Terjadilah tabrakan antara badai laut dan Pusaran langit yang begitu dahsyat.
"Ibu... Raga takut!" seru Ragadewa yang merupakan saudara kembar Leonisa atau Qiao Li.
"Berdoa sayang, semoga jatuh di tempat yang nyaman!" seru Xin Xin pada putranya Ragadewa.
"Duaaarr...!"
Tabrakan dua angin dahsyat itu terjadi, dan kini ke empat orang itu terpental secara bersamaan dan jatuh berlainan tempat.
Ekin atau Chiang Yi jatuh diatas laut sebelah kanan dan Leon juga jatuh diatas permukaan laut sebelah kiri.
Sementara Ragadewa jatuh tepat sebuah kawah yang kebetulan sedang mengeluarkan lahar dingin.
Sedangkan Rani atau Xin xin jatuh diatas kapal nelayan dan akibatnya kapal itu patah dan mengalami kebocoran.
Karena akibat dari kerusakan tersebut, para nelayan tidak bisa melaut untuk beberapa hari ke depan.
"Apa itu tadi ya?" tanya seorang nelayan yang penasaran dan mencari sumber suara.
Beberapa orang mengikuti nelayan itu karena juga penasaran akan suara yang begitu keras itu.
"Oh, ada yang jatuh di atas kapal kita!" seru seorang nelayan.
"Ada seorang wanita, pakaiannya aneh!" seru nelayan kedua.
"Jangan-jangan dia penunggu laut ini!" seru nelayan ketiga.
"Aaghh, entah dia penunggu laut entah siapa, yang jelas dia merugikan kita." seru nelayan satu.
"Iya benar. Bagaimana ini jika kita tidak bisa melaut, anak dan istri kita mau dikasih makan apa?" tanya salah satu nelayan itu.
"Kita jual saja wanita itu pada tengkulak, siapa tahu mereka mau bayar mahal. Lumayan buat pengganti beberapa hari yang tidak bisa melaut!" usul nelayan kedua.
"Setuju!"
"Iya, aku juga setuju!"
__ADS_1
"Baik, ayo kita bawa wanita ini pada tengkulak. Lagi pula kalau kita bisa dimarahi istri-istri kita!" kata nelayan ketiga.
Dan mereka membawa Rani ke tengkulak ikan yang ada di pasar
"Tuan Song!" panggil nelayan satu pada seseorang yang berpakaian paling mewah diantara lainnya.
"Hei kalian, mana ikan kalian!" seru orang yang di panggil Tuan song itu.
"Maaf kami tidak bisa melaut, karena kapal kami rusak. Dan itu semua karena wanita ini jatuh diatas kapal kami. Jika tuan berkenan dengan wanita ini, sudilah memberi kami beberapa keping uang emas. Sebagai ganti kami yang tidak bisa melaut" ucap nelayan kedua panjang lebar.
"Wanita itu? hm..!" gumam orang yang bernama tuang song itu.
"Terima saja tuan, kita beli murah. Lalu kita jual mahal pada Kasim Wu" saran asisten tuan Song yang berbisik di telinga tuaan Song itu.
"Bagus juga ide kamu!" seru tuan Song itu yang kemudian menyetujui saran asistennya.
Tuan song memberi satu kantong emas pada nelayan itu, dan kini Rani berpindah ke tangan Tuan Song.
"Apa aku ini di jual oleh mereka?" batin Rani yang belum begitu paham dengan apa yang diucapkan para nelayan dengan tengkulak itu.
"Ah, benar! Para nelayan itu mendapat uang dari orang yang berpakaian bagus itu!" kata dalam hati Rani yang mulai geram.
Setelah para nelayan itu pergi, Rani dengan tangan terikat kebelakang, memberikan serangan mendadak pada Tuan Song dengan tendangannya.
"Hop...hiaat!"
"Dugh...dugh..!"
Rani memberikan pukulan dengan lututnya dan mengenai perut tuan Song sebanyak dua kali.
"Aaaghh...!"
Tuan Song seketika mengerang kesakitan, dan secara reflek orang bayaran Tuan Song mengepung Rani yang masih dalam keadaan terikat di belakang itu.
"Pedang Azuya!'
Muncullah sebuah pedang yang bersinar kehijauan.
Rani segera membungkuk dan seolah paham apa yang disampaikan tuannya, pedang Azuya dengan secepat kilat menggores pada tali yang mengikat tangan Rani atau Xin Xin.
Seketika itu juga Rani bebas dan siap bertarung melawan orang-orang bayaran tuan Song itu.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...