Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Perpisahan Keluarga


__ADS_3

Siang berganti malam, detik berganti menit, menit berganti jam dan demikian selanjutnya hingga tak terasa tiga hari berlalu dan kondisi fisik dan rohani Ju long yang sudah jauh lebih membaik.


"Kakak nampaknya sudah jauh mendingan ya!" seru Qiao Li yang menghampiri Ju long dengan membawakan semangko sup buatannya.


"Iya, jauh lebih baik dari sebelumnya Li'er!" sahut Ju long.


Tak berapa lama Xin Xin dan Fang Chen masuk ke kamar dan menghampiri kedua putra dan putrinya itu.


"Tadi ibu dengar kalau keadaan kamu lebih baik Ju long, apa benar begitu?" tanya Xin Xin yang sudah mendekat dan saat ini berada di samping Qiao Li.


"Sebaiknya ibu, ayah dan kak Ju long segera gunakan batu impiannya, untuk segera pulang ke jaman sebelum ke dinasti Ming ini." ucap Qiao Li seraya menatap ayah, ibu dan kakaknya satu persatu.


"Iya, tapi kita sebaiknya pergi dari penginapan ini, menjauhi semuanya. Agar tak ada yang tahu tentang batu impian, dan Qiao Li kedepannya akan tetap mudah mendapatkannya." ucap Xin Xin seraya melihat situasi di sekelilingnya.


"Sebaiknya kita pergi ke tengah gurun, karena pastibtakbakan ada orang yang akan melihat maupun mengikuti kita!" usul Fang Chen.


"Baiklah, mari kita pergi ke tengah gurun saja ayah, ibu dan kak Ragadewa!" ajak Qiao Li seraya menatap semua keluarganya.


"Tunggu! biar aku habiskan sup ini dulu!" seru Ju long sembari memakan sup di hadapannya sesuap demi sesuap.


"Iya, tapi pelan-pelan saja kakak!" seru Qiao Li sembari mengulas senyumnya. Demikian pula dengan Ju long yang membalas senyuman dari adik yang juga kembarannya itu.


Beberapa menit kemudian Ju long sudah menyelesaikan makan supnya.


"Sudah selesai, ayo kita berangkat!" seru Ju long yang meletakkan mangkok sup di atas meja disamping tempat tidurnya.


Kemudian Ju long turun dari tempat tidur dan berdiri bersejajar dengan keluarganya.


"Ayo!" jawab semuanya dan hampir bersamaan.


Mereka kemudian melangkahkan kaki keluar dari kamar dan mereka berpapasan dengan Patriak An dan yang lainnya.


"Mohon ma'af untuk semuanya, kami berempat ingin jalan-jalan sebentar. Sudah lama kami tak melakukannya." ucap Fang Chen yang menutupi apa yang akan mereka lakukan.


"Iya, hati-hati. Karena badai gurun datang sewaktu-waktu." pesan Patriak An.


"Terima kasih Patriak!" ucap Xin Xin dan yang lainnya hampir bersamaan

__ADS_1


Keempat orang itu kemudian melangkahkan kaki meninggalkan penginapan pintu naga.


Mereka terus berjalan menyusuri gurun dan berkumpul di tengah-tengah gurun, dan mereka saling berpelukan untuk terakhir kalinya. Dan suasana haru menyelimuti mereka.


"Sebenarnya ibu tak mau meninggalkan kamu disini Qiao Li, tapi apa boleh buat karena batu impian hanya bisa mengantarkan tiga orang untuk kembali ke jaman kita!" ucap Xin Xin seraya memeluk dan membelai rambut putrinya.


"Seandainya saja bisa berempat ya Bu! Tentunya ini kebahagiaan terbesar untuk kita!" ucap Fang Chen yang ikut merangkul putrinya dan demikian pula dengan Ju long atau Ragadewa.


"Kakak akan merindukan saat kita main dan belajar bersama!" ucap Ragadewa saat memeluk Qiao Li.


"Li'er juga akan merindukan kalian semuanya." ucap Qiao Li.


Fang Chen melihat ke sekitarnya, dan juga melihat langi-langit di atas gurun pasir.


"Sebaiknya kita mulai dari sekarang!" seru Fang Chen ketika melihat situasi yang akan terjadi.


"Iya, sepertinya akan datang badai gurun pasir. Ayo kita lakukan sekarang!" balas seru Xin Xin.


"Baik Bu!" sahut Qiao Li dan Ju long bersamaan.


Kemudian Qiao Li dan Xin Xin mengeluarkan Batu impian dari cincin bermata biru di jari manis ibu dan anak itu.


Setelah dijadikan satu, Xin xin merapalkan keinginan mereka seperti halnya Chiang Yi dan Hai Jun beberapa waktu yang silam.


"Batu Impian batu keramat, bantulah kami. Kami ingin kembali ke jaman kami sebelum ke jaman ini!" seru Xin Xin.


Dan hal itu di ulangi oleh Xin xin sampai yang ketiga kalinya.


Qiao Li memperhatikannya dengan seksama saat-saat ketiga orang yang dicintainya akan meninggalkannya.


Dan untuk yang ketiga kalinya, muncullah seekor naga putih yang bertanduk diantara kepulan awan yang mengelilingi mereka dan sedikit membuat Fang Chen dan Ju long terkejut.



"Hai kalian para manusia, aku sudah mendengar keinginan kalian. Maka akan saya kabulkan keinginan kalian sebagai hadiah perjuangan kalian mengumpulkan batu-batu impian ini!' ucap sang naga putih itu.


"Terima kasih naga putih!" ucap Xin Xin dan Fang Chen yang bersamaan.

__ADS_1


Ju long dan Fang chen begitu takjub dengan apa yang dilihatnya ini


Tiba-tiba muncul sebuah bola perpaduan Cahaya dan angin yang semula kecil, lama kelamaan menjadi besar dan perputarannya semakin cepat.


"Li'er, selamat tinggal! Jaga diri kamu baik-baik!" seru Xin xin dan juga Fang Chen yang bersamaan.


Li'er eh Leonisa, cepat kumpulkan batu impian lagi. Segeralah pulang dan kita berkumpul kembali!'' pesan Ju long pada adiknya seraya melambaikan tangannya.


"Iya Li'er ingat itu! Jangan khawatirkan Li'er. Li'er bisa jaga diri!" balas seru Li'er dari kejauhan.


"Li'er, selamat tinggal!" seru Xin xin, Fang Chen dan Ju long yang bersamaan dan ketiganya melambaikan tangan pada Qiao Li.


"Iya, kalian juga semoga sampai di tempat tujuan!" seru Qiao Li yang mengulas senyumnya dan masih terus melambaikan tangan kanannya sebagai salam perpisahannya.


Semuanya saling melambaikan tangan sampai perpaduan bola cahaya dan angin itu semakin lama semakin membesar dan memberi efek ledakan yang dahsyat, sebelum mengirim Xin xin, Fang Chen dan Ju long ke jamannya.


Ledakan tadi membawa efek yang luar biasa dan kembali membuat Qiao Li terlempar secara dahsyat menjauh dari gurun pasir.


Qiao Li terpental sejauh mata memandang ke arah timur, dan Qiao Li menggunakan jurus pengendali anginnya untuk mempertahankan dirinya agar jatuhnya tidah terlalu jauh dari gurun pasir.


Sementara itu Bola perpaduan cahaya itu membawa Xin Xin, Fang Chen dan Ju long melesat jauh ke angkasa.


Dan kini mereka terpisah jarak ruang dan waktu dengan Qiao Li.


Sementara itu tubuh Qiao Li terus melesat dan jatuh ke tumpukan pasir yang menggunung, Qiao Li terjatuh dan tak sadarkan diri.


Badai pasir tiba dan anginnya yang menderu membawa ribuan pasir beterbangan dan ada yang sebagian menutupi tubuh Qiao Li, yang saat ini hanya tinggal wajahnya saja yang nampak tak tertutup pasir.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2