
Chiang Yi memutar-mutar daging rusa diatas perapian.
Terciumlah aroma daging bakar yang membuat perut mereka semakin meronta-ronta karena kelaparan.
"Hmmm...harumnya! Coba Li'er mau yang agak gosong itu paman!" seru Li'er yang mencium aroma daging bakar
"Baiklah, ini untuk kamu dan berikan ini untuk ibu kamu!" seru Chiang Yi saat membagi daging rusa yang sudah matang itu.
"Terima kasih paman" ucap Qiao Li.
"Terima kasih kakak Yi!" seru Xin Xin .
"Sama-sama, ayo dimakan!" ucap Chiang Yi sembari tersenyum.
Mereka bertiga makan dengan lahapnya, dan daging rusa itu kini tinggal setengahnya.
"Sebaiknya kita simpan setengah daging rusa ini buat besok saat kita sarapan!" ucap Xin Xin yang kemudian membungkus sisa daging rusa itu dengan daun dan menyimpannya dalam peti bekas penyimpanan uang emas.
Dan uang emasnya sudah dibagi-bagikan pada penduduk oleh Xin Xin dan Qiao Li.
Setelah mencuci tangan dan kaki, mereka pun mencari tempat untuk posisi tidur yang nyaman.
Beberapa jam kemudian, ada sebuah kilatan cahaya yang jatuh dengan kerasnya, tidak jauh dari mereka beristirahat.
"Buuumm..!"
Bunyi tabrakan sesuatu benda dengan tanah yang menimbulkan getaran yang dahsyat.
Hal itu membuat semua binatang yang ada di sekitar tempat itu lari sejauh mungkin dari lokasi tersebut.
"Apa yang terjadi?" tanya Xin Xin saat terbangun dan langsung berdiri melihat situasi demikian juga dengan Qiao Li dan juga Chiang Yi.
"Entahlah, ayo kita cari tahu!" ucap Chiang Yi yang kemudian mengeluarkan bola cahaya dan membuat bola cahaya itu melayang dan menerangi jalan di depan mereka bertiga.
"Seperti bau mesin terbakar?" tebak Xin Xin yang mengingatkan saat berada di jamannya dulu.
"Iya Bu!' ucap Qiao Li yang membenarkan.
"Benar, mesin terbakar!" seru Chiang Yi yang juga mengenal bau yang mereka hirup itu.
Tak berapa lama, mereka menemukan sebuah benda bermesin.
"Apa itu mobil ya?" tanya Xin Xin penasaran, jika ada mobil di jaman Dinasti Ming ini.
"Bukan Bu, itu pesawat masa depan!" seru Qiao Li yang yakin akan apa yang di lihatnya, mengingatkan pada sebuah film yang dulu pernah ditontonnya.
__ADS_1
"Pesawat masa depan?" tanya Chiang Yi yang penasaran.
Mereka pun menghampiri benda itu, dan terlihat seorang gadis yang pingsan di dalam pesawat itu.
"Ada seorang gadis Bu!" seru Qiao Li saat melihat dari balik pintu kaca pesawat masa depan itu.
"Coba aku buka pintu pesawat itu! seru Chiang Yi yang berusaha membuka pintu pesawat itu, namun tak juga berhasil.
"Coba aku buka dengan pedang Azuya!" seru Xin Xin yang kemudian mengeluarkan pedang Azuyanya.
"Pedang Azuya!"
Xin Xin kemudian menggaris pintu pesawat masa depan yang muat satu orang tersebut.
"Klek..!"
Pintu pesawat masa depan itu terbuka, dan nampak seorang gadis yang pingsan dengan memeluk kemudi pesawat itu.
"Apa dia bisa dibangunkan?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Sepertinya lukanya sangat parah! Sebaiknya kita bawa ke dekat perapian." ucap Xin Xin yang sudah memeriksa keadaan gadis itu.
"Biar aku angkat dan bopong dia!" seru Chiang Yi yang kemudian meng hampiri tubuh gadis masa depan itu.
Betapa terkejutnya Chiang Yi saat melihat paras cantik gadis masa depan yang ada di hadapannya itu.
Qiao Li dan Xin Xin sangatlah terkejut.
"Luna..!"
"Apa mungkin gadis ini reinkarnasi kekasih kakak yi?" xin Xin yang mencoba menebaknya.
"Iya, mungkin dia reinkarnasi Luna! Karena waktu meninggalnya Luna, dia memakai kalung mutiara dari Siluman kura-kura." jelas Chiang Yi yang kemudian membopong Gadis itu keluar dari pesawat masa depan dan membawanya melangkah ke tempat dimana ada perapian mereka.
Sementara itu Xin Xin dan Qiao Li mengikuti di belakang Chiang Yi.
Setelah sampai di tempat dimana ada perapian mereka, Chiang Yi menurunkan gadis itu di tempat yang sudah disediakan Xin Xin dan Qiao Li.
Xin Xin mencoba mengobati luka luar gadis itu dengan membersihkan dan mengompres luka-luka lebam gadis itu.
"Ibu,., benar gadis ini datang kebih jauh dari jaman Kita!" ucap Qiao Li yang terus memperhatikan gadis yang terbaring lemah di hadapannya itu.
"Sebaiknya kita tunggu sampai dia sadar!" ucap Xin Xin dan yang lainnya menyetujuinya.
"Sebaiknya kalian istirahatlah, biar aku yang berjaga malam ini!" ucap Chiang Yi.
__ADS_1
Dan semuanya menyetujuinya.
Qiao Li dan Xin Xin tidur di samping gadis itu Sedangkan Chiang Yi duduk di seberang perapian.
Chiang Yi duduk bersila mengawasi semua keadaan di sekitarnya seraya mengingat sesuatu hal di masa lampau.
Ibu permaisuri dan ibu dari sahabatnya, yang mengatakan bahwa akan muncul jodoh dia di tempat yang berbeda.
"Apakah gadis itu akan jadi kekasihku? semoga saja, gadis itu sangat mirip sekali dengan Luna, kekasihku!" gumam dalam hati Chiang Yi.
Suasana malam di hutan itu kembali tenang, dan juga mencekam.
Hawa dingin yang dihembuskan angin, sangatlah menusuk pori-pori kulit dan menembus ke dalam tulang-tulang keempat manusia itu.
Malam ini tak begitu banyaknya hambatan maupun gangguan yang berarti, hingga pada waktu matahari beranjak muncul dari peraduannya.
Chiang Yi bangkit dari duduk bersilanya dan kemudian dia meregangkan otot-ototnya dengan melatih kembali jurus-jurus tangan kosongnya.
Qiao Li terbangun dari tidurnya dan mendengar suara Chiang Yi yang sedang berlatih.
"Paman, bolehkah aku ikut berlatih dengan paman?" tanya Qiao Li yang juga ingin menghilangkan rasa dingin yang menyerangnya semalaman.
"Boleh saja, ayo , kemarilah!" balas Chiang Yi yang disambut senyuman oleh Qiao Li.
Dan saat ini keduanya berlatih bela diri tangan kosong.
Sementara itu Xin Xin yang juga sudah terbangun, mencari sesuatu wadah yang biaa di gunakan untuk merebus air.Setelah menemukannya, Xin Xin bergegas merebus air untuk membuat segelas teh hangat.
Tiba saatnya mereka sarapan bersama. Tetap dengan menu daging rusa panggang sisa makan malam mereka.
"Apa kita tetap tinggal di sini, sampai gadis ini siuman, atau kita bawa dia melanjutkan perjalanan, walaupun dia sedang tidak sadarkan diri?" tanya Qiao Li yang sedang bingung menghadapi masalah seperti ini.
"Sebaiknya kita berangkat saja, dan gadis ini kita bawa dengan naik kereta kuda." ucap Xin Xin dan semuanya setuju.
Dan akhirnya mereka bembawa Gadis itu masih dalam keadaan pingsan, melanjutkan perjalanan mereka mencari Fang Chen ke aliran sungai kuning.
.....~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/,komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...