
Xin Xin terus menyerang, Qiao Li yang semula agak ragu melawan ibunya yang lebih jago dari ayahnya dalam jurus pedang, menjadi lebih bersemangat lagi dalam berlatih jurus pedang tersebut.
"Hopp hiaat...!"
"Tak..tok...tak ..tok..!"
"Tak..tok...tak ..tok..!"
Bunyi tongkat bambu yang sedang beradu, semakin lama semakin cepat dan kekuatan dan kecepatan dalam bertarung Qiao Li semakin meningkat seiring Xin Xin yang terus melatihnya.
Hari bergulir semakin cepat dan senja telah tiba. Keduanya menyudahi latihan mereka.
"Li'er, kita lanjutkan besok latihannya. Kamu sudah banyak kemajuan, jadi besok kita langsung berlatih dengan pedang sungguhan!" seru Xin Xin.
"Baik ibu, badan Li'er juga sudah tidak enak. Banyak keringat dan pasir yang menempel di tubuh Li'er" ucap Qiao Li.
Setelah membuang tongkat bambu mereka ke tanah samping kandang kuda, Ibu dan anak itu melangkahkan kaki menuju ke penginapan.
Setelah membersihkan diri, mereka bergabung dengan Fang Chen, Qiao Feng dan yang lainnya.
"Bagaimana latihan kalian?" tanya Fang Chen pada Qiao Li dan isterinya Xin Xin.
"Li'er ada banyak kemajuan, dan sepertinya besok kita mulai berlatih dengan pedang sungguhan." jawab Xin Xin yang mengambilkan Faang Chen makanan.
"Begitu ya, Li'er jika kamu sudah mahir menggunakan jurus pedang, ayah harapkan kamu pwegunakan jurus itu dengan sebaik-baiknya. Pergunakanlah untuk membela yang lemah dan tertindas." pesan Fang Chen pada putrinya.
"Baik ayah, Li'er akan selalu ingat pesan ayah.
"Kenapa kamu sibuk sekali mengajari putrimu jurus pedang Xin'er?" tanya Qiao Feng yang penasaran.
"Selain untuk melindunginya, juga karena Li'er aku tugaskan untuk mencari kakaknya Ju long" jawab Xin Xin seraya mengaduk makanannya.
"Jadi Li'er kamu akan mendapat tugas yang berat rupanya!" seru Qiao Feng seraya menatap Qiao Li dan gadis itu mengulas senyum menandakan dirinya siap menerima tugas itu.
Dan semuanya melanjutkan makan dan perbincangan yang membuat suasana semakin akrab.
Malam semakin larut dan mereka mulai istirahat dikamar masing-masing, termasuk Xin Xin dan Fang Chen yang sudah selamat sejak Fang Chen sakit dan kembali ingatannya.
Demikian dengan Qiao Li yang juga tidur di kamarnya.
Keesokan harinya setelah melakukan pekerjaan rutinitas mereka di penginapan, Qiao Li dan Xin Xin mulai berlatih jurus pedang kembali di halaman belakang penginapan.
Dan kali ini mereka latihan menggunakan oedan yang biasa pada umumnya, Fang Chen dan Qiao Feng ikut melihat latihan tersebut dan sesekali ikut melatih dengan menyerang Qiao Li.
Giliran pertama Qiao Feng yang melawan Qiao Li.
"Hopp hiaaaat...!"
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
__ADS_1
Suara pedang yang beradu dengan serunya membuat irama yang khas di pagi itu.
Qiao Li ternyata mampu mengimbangi jurus-jurus pedang dari Qiao Feng.
Kemudian Qiao Li melawan ayahnya Fang Chen, dan gadis sedikit tersudut dan akhirnya dia mampu mengalahkan ayahnya.
"Hopp hiaaaat...!"
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Wah, lumayan juga beladiri kamu. Peningkatan yang sangat pesat!" seru dan puji Fang Chen pada putrinya.
"Terima kasih ayah, semua berkat ayah dan juga ibu yang gigih melatih Li'er" balas Qiao Li sembari menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat pada kedua orang tuanya.
"Semua kalau tidak ada kemauan dan kemampuan dari diri kamu, maka latihan kalian tidak ada apa - apanya." ucap Qiao Feng sembari menepuk pundak Qiao Li beberapa kali.
"Iya, terima kasih Bi" ucap Qaio Li yang mengulas senyumnya.
"Huh, jangan merasa bangga dulu Li'er, ayo hadapi ibu!" seru Xin Xin yang kemudian memutar pedang yang ada di tangannya dengan cepat dan Xin Xin bersiap dengan kuda - kuda jurus pedangnya.
Xin Xin mulai memutar dan siap mengarahkan pedang ke arah Qiao Li.
Putri Xin Xin dan Fang Chen juga tak mau ketinggalan, dia juga sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Pedang Qiao li mengarah langsung pada Ibundanya Xin Xin.
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!''
Bunyi pedang yang beradu membuat melodi yang khas pun terjadi, dan terus terjadi.
"Hopp hiaaaat...!"
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!''
"Aaarghh...!" Qiao Li terdesak, karena Xin Xin yang mengecoh pergerakan tangannya yang tidak dengan pedang tapi dengan pukulan.
Qioa Li jatuh terduduk beberapa meter dari posisinya.
"Kamu jangan mengalah sama ibu, bagaimana jika ada siluman yang menyamar sebagai ibu? apa kamu akan mengalah seperti itu, hah!" seru Xin Xin yang sedikit keras.
__ADS_1
"Ini karena ibu memang hebat, ayah saja kalah dengan ibu apalagi Li'er Bu?" ucap Li'er yang membela diri.
"Itu bukan menjadi alasan, sebagai pendekar harusnya jangan banyak alasan dan jangan menerima banyak pujian. Itu tidak bisa menjadikanmu kuat, tapi kamu akan menjadi sombong yang banyak alasan bila kalah!" nasehat Xin Xin.
"I..iya Bu!" sahut Qiao Li yang kemudian bangkit dari jatuh terduduk ya.
Gadis itu kembali bangkit dan menyiapkan kuda-kuda jurus pedangnya, dan kembali pertempuran sesama pedang terjadi.
"Hopp hiaaaat...!"
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!'
"Trang..Trang..Trang..Trang..!''
Untuk kali ini, Qiao Li berusaha untuk bisa mengimbangi setiap pergerakan ibunya, dan dia sudah tidak terkecoh lagi dengan pergerakan jurus-jurus yang digunakan ibunya.
Latihan itu berlangsung hingga sore, dan banyak tamu penginapan yang menonton.
Dan akhirnya Xin Xin menyudahi latihan mereka. Dan semua orang yang menonton membubarkan diri masing - masing.
"Lumayan juga!" puji Xin Xin pada saat menghampiri putrinya.
"Ini karena ibu, ayah dan bibi Feng yang melatih Li'er" ucap Li'er yang apa adanya.
"Bagus, ingatlah jangan merasa dirimu hebat. Karena diatas langit masih ada langit, kamu hebat di luar sana ada yang jauh lebih hebat darimu!' pesan Xin Xin seraya menatap Putrinya.
"Iya ibu, Li'er akan selalu mengingatnya." ucap Li'er.
"Baiklah ibu akan memberika pedang Azuya kepadamu, karena ibu yakin kamu bisa bekerja sama dengan pedang Azuya untuk membela kebenaran. Dan satu lagi, kamu bisa membuka segel dari pedang Azuya ini!" ucap Xin Xin yang menatap putrinya dengan nanar.
"Ibu, sepertinya Li'er belum pantas menerima pedang Azuya. Pedang yang selama ini bersama ibu, lantas ibu bagaimana?" tanya Qiao Li yang merasa kemampuannya masih dibawah ibunya.
"Jangan khawatirkan ibu, selama ibu bersama dengan ayah kamu ibu merasa aman." ucap Xin Xin seraya melirik ke arah Fang Chen dan Fang Chen menghampiri keluarganya itu.
"Benar Li'er jangan khawatirkan ibu kamu. Kami akan aman berdua, kamu ingat kalau ayah dan ibu masih punya satu jurus gabungan. Jurus yang belum ada tandingannya saat di jaman kita dulu" ucap Fang Chen yang mengingatkan Qiao Li.
"Iya, Li'er ingat itu. Pedang sepasang, iya kan ayah.. ibu?" ucap Qiao Li.
"Benar, jadi terimalah pedang Azuya dan kamulah sekarang pemiliknya" ucap Xin Xin yang memegang tangan putrinya.
Li'er pun mengangguk tanda setuju.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin.ppvv...
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...