Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Perkampungan Barat


__ADS_3

"Li'er, dari mana saja kamu! kami mencarimu sedari tadi!" seru Chen Kun yang sebenarnya sedikit kesal, namun juga lega karena Qiao Li tak apa-apa.


"Saya kembali ke perguruan serigala hitam, dan aku berhasil melumpuhkan mereka serta mengambil kereta kuda mereka." ucap Qiao Li yang turun dari kereta kuda yang ditungganginya, dan menarik kuda ke tempat rerumputan yang menghijau.


"Kau melakukannya sendirian?" tanya Patriak An yang tak percaya, begitu juga dengan Chen Kun.


"Iya, yang terpenting saya tidak apa-apa dan saya kembali dengan membawa kereta kuda untuk kalian." jawab Qiao Li sembari tersenyum.


"Benar, Patriak juga merasa sengang karena kamu kembali tak mengalami luka sedikit pun." ucap Patriak An sembari menepuk pundak Qiao Li dua kali.


"Sebaiknya kita segera pindahkan Patriak Jingmi dan Patriak Lung ke atas kereta, dan segera kita ke penginapan pintu naga untuk menemui Yan Qiu." ucap Chen Kun dan disetujui oleh Patriak An.


Mereka kemudian memindahkan kedua Patriak itu ke atas kereta kuda yang dibawa oleh Qiao Li.


Setelah semuanya selesai, mereka berpamitan dengan Qiao Li.


"Kami akan pergi, jaga diri kamu baik-baik Li'er!" pesan Patriak An pada Qiao Li.


"Iya, jangan khawatirkan saya. Saya bisa jaga diri." ucap Qiao Li seraya tersenyum.


"Sampai jumpa lagi Li'er!" seru Chen Kun yang sudah naik lagi ke atas kereta. Dan Patriak An juga menyusul naik keatas kereta kuda tersebut.


"Saya titip salam buat kedua orang tua saya danjuga samuanya Patriak!" seru Qiao Li seraya menatap ke arah Patriak An.


"Baik, akan saya sampaikan nanti. Selamat tinggal Li'er!" Seru Patriak An seraya memegang tali kemudi kereta kuda tersebut dan kemudian menariknya.


Sementara Chen Kun melabaikan tangan ke arah Qiao Li dan gadis itu membalas lambaian tangan Chen Kun.


"Hia...Hia...hia...!"


Patriak An mengendalikan kereta kuda meninggalkan Qiao Li. Dan Qiao Li memandang kepergian Patriak Am dan yang lainnya sampai kereta kuda itu hilang dari pandangan Qiao Li.


Setelah itu Qiao Li melangkahkan kakinya ke arah berbeda, dari langkah roda kereta kuda yang membawa Patriak An dan yang lainnya.


"Akan aku lanjutkan perjalananku mencari kak Ju Long!" seru Qiao Li yang menyusuri jalan setapak yang dilewatinya.

__ADS_1


Hutan belantara dan juga bukit terjal telah dilalui oleh Qiao Li, persawahan dan Padang rumput juga telah dilewati oleh gadis pembawa pedang Azuya itu.


"Hmm...! kalau dihitung-hittung ibu sudah mendapatkan tiga batu impian, dan aku sudah dua batu impian. Jadi masih kurang dua lagi batu impian yang jatuh aku dapatkan lagi." ucap dalam hati Qiao Li sembari terus berjalan.


Tak berapa lama Qiao Li melihat ada perkampungan yang lumayan besar.


"Ah, aku coba istirahat di kampung itu. Dan siapa tahu disana nanti aku bisa bertemu dengan kak Ju long." ucap dalam hati Qiao Li yang kemudian mempercepat langkahnya menuju ke perkampungan yang dia lihat itu.


Tak butuh waktu lama, gadis itu sudah sampai di depan Gapura perkampungan tersebut. Diatas gapura tertera nama perkampungan itu.


"Perkampungan Barat? seperti apa perkampungan ini!" seru dalan hati Qiao Li yang kemudian melangkahkan kakinya masuk ke perkampungan barat itu.


Gadis itu menebarkan pandangannya ke seluruh perkampungan, dan dia melihat bermacam-macam aktifitas dan profesi manusia di dalamnya.


Mulai dari pengemis, pedagang sampai orang yang berlalu lalang yang dilihat gadis itu.


"Perutku lapar sekali, sebaiknya aku mengisi perutku terlebih dahulu!" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian mencari warung makan disekitar tempat itu.


Tibalah dia ke tempat makan uang lumayan panjang antriannya. Qiao Li harus rela berdiri mengantri jika hendak memesan makanan di warung. makan itu.


Tak berapa lama antrian telah tiba pada giliran Qiao Li, gadis itu segera memesan makanan dan minuman untuk dirinya pada pelayan tempat makan itu.


Dan akhirnya Qiao Li sudah mendapatkan tempat duduk untuknya. Gadis itu menebarkan pandangannya ke sekitar tempat


dimana dia duduk.


Terdengarlah orang yang sedang berbisik-bisik, membahas sesuatu.


"Kabarnya akan ada pelelangan di kampung ini, apa benar itu?" tanya salah satu orang yang ada diantara orang-orang yang berbisik itu.


"Iya, dan kabarnya banyak barang yang akan dilelang tahun ini!" jawab orang yang kedua.


"Dan salah satunya ada sebuah batu telur naga yang akan dilelang!" seru orang yang ketiga, hal itu membuat Qiao Li yang semula diam saja, tak memperdulikan mereka akhirnya tertarik dengan pembicaraan mereka.


Gadis putri Xin Xin dan Fang Chen itu merasa penasaran apa yang mereka perbincangkan, apalagi yang menyangkut dengan batu telur naga atau bola impian.

__ADS_1


"Bola impian, sekarang ini yang ada dalam cincinku ada dua dan yang ada dalam cincin ibu ada tiga. Berarti masih kurang dua lagi bola impian yang harus aku dapatkan!" gumam dalam hati Qiao Li yang terus mendengarkan pembicaraan pelanggan tempat makan, yang duduk disamping meja makannya.


Tak berapa lama makanan pesanan mereka telah dihidangkan oleh para pelayan dan termasuk makanan dan minuman yang dipesan oleh Qiao Li.


Setelah semuanya dihidangkan dihadapannya, Qiao Li segera menyantap makanan itu tapi sebelumnya dia berdoa terlebih dahulu.


Demikian pula dengan para laki-laki yang ada disamping Qiao Li, mereka juga sedang memakan hidangan makanan yang ada dihadapannya.


"Hei, pokoknya kita harus ikut dalam pelelangan itu! kita harus dapatka batu telur naga itu!" seru orang yang pertama di sela-aela makannya.


"Memangnya apa keuntungan kita dalam memiliki batu telur naga itu?" tanya orang yang ketiga dengan penasaran.


"Kalau kita bisa mengumpulkan tujuh batu telur naga, maka kita bisa menguasai kerajaan Ming. Bahkan kita bisa menguasai dunia!" jawab Laki-laki yang pertama dengan semangat menggebu-gebu.


"Menguasai kerajaan Ming, menguasai dunia? apa benar itu semua?" tanya laki-laki kedua yang belum percaya dengan ucapan Laki-laki yang pertama itu.


"Benar, percayalah! ada yang pernah melihat kalau batu telur naga ini mengirim tiga orang ke dunia yang berbeda!" jawab Laki-laki yang pertama.


"Kalau begitu, kita harus mendapatkannya! dan kita cari lagi batu telur naga itu sampai terkumpul menjadi tujuh!" seru laki-laki yang ketiga dengan semangat yang menggebu-gebu.


"Iya, kita harus dapatkan batu telur naga itu!" seru laki-laki yang lainnya yang hampir bersamaan.


Kemudian mereka melanjutkan acara makan mereka dan juga demikian dengan Qiao Li yang sedari tadi mendengarkan mereka berbincang-bincang itu.


Tak berapa lama mereka telah menyelesaikan makanan yang ada dihadapan mereka, dan mereka bangkit dari duduknya untuk meninggalkan tempat duduk mereka.


"Tuan, tuan...! bayar dulu sebelum pergi!" seru salah satu pelayan yang tadi melayani mereka.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

__ADS_1


...Terima kasih...


...Bersambung...


__ADS_2