Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Melatih jurus Pedang


__ADS_3

"Ah ayah bisa saja!" seru Xin XiAhn dan Qiao Li secara bersamaan seraya mengulas senyum mereka.


...****...


Hari berlangsung seperti biasanya, dan keadaan Fang Chen telah pulih seperti sedia kala namun masih perlu penyesuaian dan belajar tentang situasi dan kondisi disekitar penginapan.


"Ibu! untuk mempercepat kita dalam memperoleh batu impian, sebaiknya Li'er mencari kak Long. Li'er yakin kalau Li'ee bisa menemukan kak l


Long" ucap Li'er yang yakin.


"Sebetulnya ibu belum tega membiarkanmu berpetualang sendirian, karena ibu belum begitu tahu kemampuan kamu, Li'er." ucap Xin Xin seraya menatap Li'er dengan khawatir.


"Ibu, do'akan saja yang terbaik buat Lier. Percayalah Li'er akan mencari batu impian yang masih kurang empat itu. Dan Li'er akan mencari kak Long dan membawanya untuk ibu dan ayah" ucap Qiao Li yang berusaha meyakinkan ibundanya.


"Baiklah kalau begitu kita ke halaman belakang, ada yang ingin ibu serahkan padamu" ucap Xin Xin yang melangkahkan kakinya ke halaman belakang penginapan dan diikuti oleh Qiao Li.


Sedangkan Fang Chen belajar tentang bahasa sekaligus kebiasaan penduduk Dinasti Ming.


Tak berapa lama Xin Xin dan Qiao Li sudah berada di halaman belakang penginapan pintu naga.


"Ibu, apa yang akan ibu serahkan pada Li'er?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Sebelumnya ibu Ingin melihat kemampuan pedang kamu!" seru Xin Xin yang memberikan sebuah tongkat bambu yang kebetulan berada di sekitarnya pada Qiao Li, dengan cara melemparkannya pada putrinya.


"Happ...!"


Qioa Li menerima tongkat bambu itu dan dia berusaha mengingat kembali jurus-jurus pedang yang pernah dia lihat saat ayahnya menghadapi para perampok saat dalam perjalanan menuju ke gurun pasir.


🗓️Flashback on.


Kawanan perampok itu telah mengepung Qiao Li, Fang Chen dan yang lainnya.


"Berhenti..!" seru pemimpin mereka.


"Li'er, apa kamu mau mengasah kemampuan kamu?" tanya Fang Chen saat menoleh ke arah Qiao Li.


"Boleh juga, ayo ayah kita hajar mereka!" seru Qiao Li dengan penuh semangat.


Keduanya pun turun dari kereta kuda itu, sementara anggota sekte bambu kuning yang ikut dengan Qiao Li tetap di dalam kereta kuda itu.


"Apa mau kalian!" seru Fang Chen yang menatap kawaan perampok dihadapannya satu persatu.


"Serahkan semua harta benda kalian, atau...!" seru perampok itu.


"Kami tak punya apa-apa, jadi biarkan kami melanjutkan perjalanan kami!" balas Feng Chen dengan sopan.


"Kalau begitu, serahkan anak gadismu itu! ha .ha..ha...!" seru salah satu diantara mereka.


"Langkahi dulu mayatku!" seru Fang Chen yang mulai membuat kuda-kuda.


"Kurang ajar! serang mereka!"seru salah satu mereka yang mampu menggerakkan kawanannya untuk menyerang Fang Che dan Qiao Li.


Langkahi dulu mayatku!" seru Fang Chen yang mulai membuat kuda-kuda.


"Kurang ajar! serang mereka!"seru salah satu mereka yang mampu menggerakkan kawanannya untuk menyerang Fang Chen dan Qiao Li.


Fang Chen dan Qiao Li saling memunggung, dan waspada terhadap serangan lawan mereka.

__ADS_1


Perkelahian dengan tangan kosong pun berlangsung dengan seru.


"Hop hiaat...!"


"Bagh..! bugh...! bagh...! bugh..!"


"Aaaghh....!"


"Bagh..! bugh...! bagh...! bugh..!"


"Aaaghh....!"


Keduanya menang di perkelahian tangan kosong ini, banyak anggota lawan yang terluka karena pukulan dan tendangan dari jurus tarian Dewi Cinta.


"Sreeeng..!"


Terdengar para perampok itu mengeluarkan senjata mereka.


"Ayah, mereka pakai senjata!" seru Qiao Li yang cemas.


"Tenang ambil saja pedang mereka yang kita kalahkan tadi!" seru Fang Chen yang kemudian mengambil dua pedang dari perampok yang telah Fang Chen hajar tadi, dan menyerahkan satu pedang pada Qiao Li.


"Masalahnya, Li'er tak bisa memainkan pedang ayah!" ucap Li'er saat menerima sebuah pedang dari Fang Chen.


"Apa kamu tak bisa menggunakan jurus pedang?" tanya Fang Chen yang merasa heran.


"Belum bisa, kan belum diajarin sama ayah!" jawab Qiao Li seraya menggelengkan kepalanya.


"Hei sudah belum ngerumpinya! rasakan serangan kami!" seru salah satu perampok yang kini tinggal empat orang itu.


"Kalau begitu, Li'er kamu menepilah! biar aku bereskan cecunguk - cecunguk ini!" seru Fang Chen uang sudah menyiapkan diri menyerang para perampok itu.


"Hopp hiaaaaat..!'


"Trang...! Trang...! Trang...! Trang...!"


"Trang...! Trang...! Trang...! Trang...!"


Satu perampok terkapar bersimbah darah. Dan pertarungan kembali terjadi, kali ini tiga orang perampok yang jadi lawan Fang Chen.


Hopp hiaaaaat..!'


"Trang...! Trang...! Trang...! Trang...!"


"Trang...! Trang...! Trang...! Trang...!"


Dan satu perampok lagi terkapar bersimbah darah, dan kini tinggal dua orang peramapok yang saling pandang dan perlahan mereka melarikan diri meninggalkan Qiao Li dan Fang Chen dan juga kereta kudanya.


"Akhirnya beres juga!" ucap Fang chen yang mengambil senjata-senjata dari lawan-lawannya yang tekapar itu.


🗓️Flashback off.


"Li'er! apa yang kamu pikirkan?" tanya Xin Xin yang memperhatikan sikap putrinya.


"E..Li'er berusaha mengingat jurus yang digunakan ayah, ibu" jawab Qiao Li yang kemudian menarik nafas ya panjang dan mengeluarkannya secara pelan-pelan.


Qiao Li memejamkan matanya sejenak dan bayangannya terlintas pada saat ayahnya, Fang chen melatihnya beberapa jurus pedang yang di kuasai.

__ADS_1


...💭💭💭💭...


"Li'er, ayo kita belajar jurus pedang!" ucap Fang Chen saat sudah ada di samping Qiao Li.


"Benarkah? ayo ayah Li'er sudah siap!" seru Qiao Li yang bersemangat.


"Kita cari tempat yang sesuai untuk latihan." ucap Fang Chen saat melangkahkan kaki beberapa langkah ke samping tenda mereka.


Kemudian mereka mulai berlatih jurus pedang, dan di mulai dari dasar-dasar jurus pedang.


"Li'er, lihat gerakanku lebih dahulu. Nanti kamu tirukan ya!" seru Fang Chen.


" Iya yah, Li'er mengerti!" balas Qiao li yang mengerti.


Dan keduanya berlatih jurus pedang di terangi cahaya perapian dan juga sinar bulan yang cukup terang di malam itu.


Latihan itu berlangsung hingga tengah malam.


Dan hari-hari mereka pada siang hari membangun penginapan dan malam harinya digunakan untuk berlatih jurus pedang.


...💭💭💭💭...


Qiao Li kemudian mempraktekannya dan Xin Xin melihat dengan detail setiap gerakan putrinya.


Sesekali Xin Xin membenarkan posisi Qiao Li baik langkah sampai cara memegang pedangnya.


"Hopp hiaat...!"


"Weeet...weeet....weeet...!"


Qiao Li terus mengarahkan pedangnya ke ruang hampa dan menimbulkan suara gesekan tongkat bambu dengan angin.


"Hopp hiaat...!"


"Weeet...weeet....weeet...!"


"Weeet...weeet....weeet...!"


Terus dan terus dengan sekuat tenaga Qiao Li bergerak mengikuti apa yang diajarkan Fang Chen.


Xin Xin kemudian mengambil tongkat bambu yang lain dan dia menyerang putrinya.


"Hopp hiaaat..!"


"Tokk...tokk...tokk..!"


"Tokk...tokk...tokk..!"


Xin Xin terus menyerang, Qiao Li yang semula agak ragu melawan ibunya yang lebih jago dari ayahnya dalam jurus pedang, menjadi lebih bersemangat lagi dalam berlatih jurus pedang tersebut.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin.ppvv...

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2