
Setelah masuk ke aula pertemuan mereka menghampiri Bing Wen yang sudah tak berdaya, terbaring di aula pertemuan tersebut.
"Berapa lama dia akan bangun dari tak sadarkan dirinya?" tanya Siluman macan putih yang melihat keadaan Bing Wen.
"Kemungkinan bisa sehari sampai dua hari." jawab Qiao Li yang menatap ke arah Bing Wen.
Sementara itu semua anggota sekte Sanca putih yang mengelilingi Qiao Li, siluman macan putih dan juga Bing Wen.
"Kami minta ma'af atas perlakuan kami yang tidak menyenangkan tadi pendekar Li!" seru salah satu anggota sekte Sanca kembang yang mewakili teman-temannya.
"Saya sudah mema'afkan kalian semuanya. sekarang pindahkan tubuh ketua kalian ini ke kamarnya!" jawab sekaligus perintah Qiao Li pada anggota sekte Sanca kembang itu.
"Ba....baik pendekar!" jawab salah satu anggota sekte Sanca kembang dan dia mengajak dua orang lainnya untuk mengangkat tubuh Bing Wen.
"Ayo kita angkat tubuh ketua!" serunya.
"Baik!" balas yang lainnya.
Setelah tubuh Bing Wen dipindahkan ke kamarnya, Qiao Li menatap semua anggota sekte Sanca kembang yang mengelilinginya.
"Ada yang tahu dimana penanggung jawab sekte bambu kuning sekarang ini?" tanya Qiao Li yang menatap satu persatu anggota sekte Sanca kembang dihadapannya.
"Mereka ada di ruang hukuman, bersama anggota sekte bambu kuning lainnya." jawab salah satu anggota sekte Sanca kembang.
"Bebaskan mereka semua!" seru siluman macan putih dengan lantang.
"Ba...baik!" balas para anggota sekte Sanca kembang, yang saat ini mereka tak ada nyali untuk melawan Qiao Li dan siluman macan putih. Karena ketua mereka sudah tak berdaya di tangan Qiao Li.
Kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke raungan dimana mereka menahan Chen Kun, Ming Mei dan yang lainnya.
Tak berapa lama para tahanan keluar dari tempat yang menahan mereka, semuanya dikumpulkan di halaman beserta para anggota sekte Sanca kembang oleh Qiao Li.
Ada diantara mereka yang sempat saling beradu mulut sampai beradu otot.
Chen Kun dan Ming Mei berusaha memisahkan mereka, walaupun sempat kerepotan.
__ADS_1
Namun keadaan kembali seperti semula dan mereka membuat barisan untuk memisahkan diri.
Tak berapa lama Qiao Li dan siluman macan putih keluar dari aula dan Ming Mei melihatnya.
"Li'er!" seru Ming Mei yang melihat Qiao Li yang keluar dari aula pertemuan bersama siluman macan putih itu melangkahkan kaki menuju ke kerumunan anggota kedua sekte di halaman perguruan Bambu kuning.
"Kakak Mei! kalian tidak apa-apakan?" tanya Qiao Li yang kemudian memeluk Ming Mei dan istri Chen Kun itu membalas pelukan Qiao Li dengan erat.
"Kakak dan kak Kun tidak apa-apa. Dan aku sangat merindukanmu Li'er!" bisik Ming mei di telinga Qiao Li.
"Iya Li'er juga sangat merindukan kak Mei!" balas Qiao Li yang juga berbisik pada Ming Mei.
"Terima kasih Li'er, kamu telah membebaskan kami." ucap Chen Kun pada saat Qiao Li dan Ming Mei melepas pelukan mereka.
"Itu kewajiban Li'er kakak Kun!" balas Qiao li sembari mengulas senyumnya.
Setelah semuanya berkumpul, Qiao Li mulai berbicara dihadapan semua anggota sekte Bambu kuning dan juga sekte Sanca Kembang.
"Saya mewakili ketua kalian semuanya! Kalian harusnya berdamai, dan saya minta kepada kalian anggota sekte Sanca kembang untuk kembali ke tempat asal kalian. Tentunya setelah ketua kalian kak Bing Wen sudah sadar nanti. Dan sekarang ini tak ada lagi baku hantam maupun saling ejek mengejek diantara kalian. Apakah kalian mengerti?" ucap sekaligus tanya Qiao Li pada kedua sekte ya g ada dihadapannya.
"Kami mengerti!" seru semuanya tanpa terkecuali.
"Siap saudari Li!" seru semua anggota sekte bambu kuning.
"Pendekar Li! ketua sudah siuman!" seru seorang anggota sekte Sanca kembang yang bertugas menjaga Bing Wen yang sedang tak sadarkan diri.
"Oh, baiklah aku akan kesana!" sahut Qiao Li dan semua barisan kedua sekte membubarkan diri mereka masing-masing.
Chen Kun dan Ming Mei mengatur kembali para anggotanya. Sementara para anggota sekte Sanca kembang membantu anggota sekte bambu kuning. Ada yang memasak, mencari kayu bakar sampai bercocok tanam.
Sedangkan Qiao Li dan juga siluman macan putih melangkahkan kakinya menuju ke kamar dimana Bing Wen berada.
Tak berapa lama mereka sudah masih dan melangkahkan kaki menuju ke samping tempat tidur dimana Bing Wen yang sudah dalam posisi duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Si..siapa kalian dan kenapa saya berada disini?" tanya Bing Wen yang menatap Qiao Li dan siluman macan putih dengan wajah penasarannya.
__ADS_1
"Saya Qiao li dan ini siluman macan putih. Benar kah anda Bing Wen suami dari Kwee Hu, ketua dari sekte salju abadi?"jawab sekaligus tanya Qiao Li.
'Benar, bagaimana anda mengenal istri saya?" tanya Bing Wen dengan rasa penasarannya.
"Sebelum saya bertemu dengan anda, saya sudah bertemu dengan istri anda. Dan kakak Hu sudah menceritakan tentang anda pada kami. Dan perlu anda ketahui kalau saat ini istri anda sedang hamil, karena itulah kakak Hu meminta saya untuk mencari anda. Menyuruh Anda untuk kembali ke sekte salju abadi." jelas Qiao Li.
"Istriku hamil?" tanya Bing Wen yang meyakinkan pendengarannya.
"Iya kak Wen, istri anda saat ini sedang mengandung." jawab Qiao Li yang apa adanya.
"Oh, syukurlah! saya harus pulang sekarang juga!" seru Bing Wen dengan semangat.
"Tapi anda masih harus istirahat saudara Wen!" seru Siluman macan putih yang keherannan dengan semangat Bing Wen yang tadinya lemah tak berdaya, snamun sekarang ini dia bangkit dari tempat tidurnya dan dengan kedia mata yang berbinar-binar.
"saya tidak apa-apa! malah sekarang ini saya sangat mengkhawatirkan istri saya!" seru Bing Wen yang mulai berkemas-kemas.
Qiao Li dan siluman macan putih saling pandang, keduanya mengangkat bahu dan mengulas senyum tipis.
Sementara itu Bing Wen membuka lemari dan terdapat pakaian serta sebuah kotak yang nampak bercahaya.
"Cahaya apa itu!" seru Bing Wen yang penasaran dan demikian pula dengan Qiao Li dan juga dengan siluman macan putih.
"Apa isi kotak itu kak Wen?" tanya Qiao Li yang menghampiri Bing Wen yang mengaangkat dan meletakkannya di atas tempat tidur.
"Entahlah dan aku tidak ingat kalau aku punya kotak seperti ini!" jawab Bing Wen yang penasaran itu berusaha membuka kotak tersebut. Bing wen mencari kunci untuk membuka kotak tersebut.
Dan tak menunggu lama, Bing Wen menemukan kuncinya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
__ADS_1
...Terima kasih...
...Bersambung...