Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Kenangan di Pulau Tengah Laut


__ADS_3

Keesokan harinya, Komisaris Saga, Rani, Ragadewa dan Leonisa bersiap melakukan perjalanan ke pulau tengah Laut seperti yang di beritahukan oleh Komisaris Hari dan Linda kemarin.


"Kita nanti akan menyewa dan naik speedboat, untuk menuju ke pulau tengah Laut!" kata Komisaris Saga yang menjaga kedua buah hatinya, sedangkan ibunda Nisa sibuk mengemas barang bawaan mereka.


"Iya, tapi jangan kencang-kencang ya! karena bunda takut kalau Nisa mabuk laut" ucap ibunda nisa seraya menarik resleting tas ranselnya.


"Iya, ayah tahu itu sayang," sahut ayah nisa sembari tersenyum.


"Dah beres semua, yuk kita berangkat!" seru bunda Nisa yang memberikan satu tas ransel dan satu koper untuk suaminya dan dia juga menggendong tas ransel di punggungnya.


"Leonisa dan Ragadewa juga sudah siap bunda, ayah!" kata Ragadewa dan Leonisa bersamaan.


Setelah keluar dari hotel ternama di kota Sebrang, mereka berjalan menuju ke tempat parkir mobil mereka.


Ayah Nisa melajukan mobilnya perlahan-lahan menuju ke jalan raya.


Tiga puluh menit kemudian, mereka telah sampai di perkampungan dekat pantai.


Setelah memarkirkan mobil, ayah Nisa mengajak istri dan anaknya ke tempat penyewaan Speedboat.


Setelah mendapatkan harga yang pantas, mereka pun naik speedboat itu dan menuju ke laut lepas menuju ke pulau tengah laut.


Kurang lebih satu jam lamanya, mereka berada di Speedboat itu dan kini mereka sudah menepi dan memarkirkan speedboat dengan speedboat yang lain.


"Bunda , coba kita ke sana dulu!" ucap Komisaris seraya menunjuk ke arah yang dia maksudkan.


"Kemana Yah?" tanya Ibunda nisa yang penasaran.


"Jalan dimana tempat aku dan Yuki masuk secara diam-diam menerobos ke villa itu." ucap ayah Nisa dengan semangat.


Namun ketika dia sampai ditempat yang di tujunya, dia merasakan kekecewaan.


Semuanya telah di sulap menjadi taman.


"Sudah tidak ada lagi jalan tembus ke villa." ucap ayah nisa yang menghela nafasnya panjang.


"Ya sudah, yuk kita lihat-lihat saja dulu pemandangan di sini!!" ucap bunda Nisa pada Ayah Nisa seraya mengulas senyum.


Dan mereka melangkahkan kaki menuju ke tempat keramaian di pulau tengah laut itu.


"Siapa sangka, dulu banyak nyawa berjatuhan di sini! sekarang di gunakan untuk wisata!' ucap ayah Nisa yang mengingat dia melawan Baskoro dan anak buahnya.


Ayah Nisa kemudian bercerita tentang saat ketua geng Kobra dan antek-anteknya bersama teman masa kecilnya yang sekarang menjadi istri pamannya Nisa dan Raga, yaitu Yuki.


📆Flashback On


Situasi di halaman itu, Baskoro bersama orang-orang kepercayaannya berserta Emi dan Inah berdiri di atas panggung.


Di saat Inspektur Saga dan Yuki mengendap-endap, ada salah satu anggota geng kobra yang dari kamar mandi melihat mereka.


"Adaa penyusuuuup...! adaa penyu...!!" teriak anggota geng kobra tersebut dan kemudian,


"Dorr..!!"


Peluru dari pistol Inspektur Saga bersarang di dada anggota geng kobra yang berteriak tadi.


Yang mendengar teriakan dan suara tembakan tersebut langsung kocar- kacir.


Tak mau melewatkan kesempatan itu, Yuki melempar bola nanas ke arah para anggota geng kobra yang kocar-kacir itu.

__ADS_1


"Blumm..!!"


Inspektur Saga juga melempar bola nanas itu ke arah yang berbeda.


"Blumm...!!"


"Blummm....!! blummm...!!"


Dan empat bola nanas telah memakan puluhan orang anggota geng Kobra.


Di susul suara tembakan yang mengarah ke anggota-anggota geng kobra yang masih hidup.


"Dorr...!! Dooorrr...!!


" Dooooorrrrr...!!!!!!"


Suara tembakan itu langsung membuat para angota geng kobra itu terkapar bersimbah darah.


Baskoro dan tangan kanannya pun panik.


Sedangkan Emi dan Inah turun dari panggung dan bersembunyi.


"Siapa yang berani mengacau di tempatku..!! keluar kalian...!!" seru Baskoro geram.


"Kami yang melakukannya!"


Balas Inspektur Saga yang berjalan dengan senapan di panggul di pundaknya, bak Sylvester Stallone dalam film Rambo dan di ikuti dengan Yuki.


"Lagi-lagi kau Sagaa!!" ucap geram Baskoro.


"Selama kau belum mati, aku terus memburu mu..!" seru Inspektur saga lantang.


"Bedebah..! malah kau yang akan aku buat mati atau hilang ingatan!" Seru Baskoro.


"Hei..rupanya kau playboy juga! gadis cantik itu hanya akan mengantar nyawa saja .!! mana gadis bertopeng mu itu. hah..!!" seru Baskoro.


"Aku tidak akan mengantar nyawaku! tapi nyawamu!" kata Yuki geram.


"Cantik-cantik tajam juga mulutmu!" seru Edo geram.


"Rindu gadis bertopeng ya? Dia sudah memberimu kenang-kenangan pada Sania, Apa kau lupa? Sekarang giliran ku akan memberimu kenang-kenangan!" kata Inspektur Saga lantang.


"Bedebah...! Serang mereka...!!" seru Baskoro yang kemudian semua yang ada di panggung pun turun.


"O...! rupanya kalian mau mengantar nyawa! seru Inspektur Saga , dan bersama Yuki mereka memegang senapannya hendak menembak.


Baskoro menghentikan langkahnya mana kala tahu, lawannya yang bersenjata sedangkan anak buahnya tidak membawa senjata karena tak tahu penyerangan yang mendadak ini.


"Sial...!" gerutu Dio penuh penyesalan.


"Tahu begini aku tadi aku tidak ikut" gumam


Edward menyesal.


"Dorr..!! Doorr....!!"


"Brugh..brugh..!"


Suara tembakanpun terjadi. yang berasal dari senapan Inspektur .

__ADS_1


Edward dan Jarot pun tumbang.


Edo berusaha melarikan diri demikian juga Baskoro.


"Dorr...!"


"Auuuww...!"


Ada serangan dari belakang.


Satu peluru bersarang di lengan gadis yang bersama Inspektur Saga


"Yuki...!" seru Inspektur Saga.


Inspektur Saga pun menoleh ke belakang.


Seorang Anggota geng kobra sedang membawa senapan, yang menembaknya belum mahir


"Dooorrr..!!"


Satu tembakan dari Inspektur Saga bersarang di dada orang itu..


"Kejar Baskoro..!" tegas Yuki.


"Kamu tak apa-apa?" tanya inspektur saga khawatir.


"Aku tak apa-apa..! cepat kejar Baskoro..!'" teriak Yuki sambil menunjuk ke arah Baskoro yang melarikan diri.


"Kurang ajar..! lagi-lagi dia melarikan diri..!" gerutu Insrektur Saga yang terus lari mengejar Baskoro dan anak buahnya.


"Sial, ke arah mana mereka..!" gerutu Inspektur Saga lagi.


Inspektur Saga mengejar Baskoro dan Edo sampai ke bibir pantai,


Di lihatnya ada cahaya merah dan hitam membentuk lingkaran didepan bibir pantai lalu menghilang.


"Ah sial...! betul kan dia menghilang!" ucap Inspektur Saga kecewa.


Kemudian dia kembali ke halaman Villa, berjalan diantara anggota geng kobra yang tergeletak antara sudah menjadi mayat maupun pingsan.


Inspektur Saga mencari keberadaan tubuh Jarot dan Edward yang nota bene tangan kanan Baskoro yang kesekian.


"Itu dia..!" seru Inspektur Saga yang kemudian memeriksa denyut nadi Jarot dan Edward.


"Sudah tewas, ..!! Ahh., kalung itu.". seru Inspsektur Saga yang kemudian memeriksa tubuh Jarot.


"Ketemu...!!" seru Inspektur Inspektur Saga saat mengambil sesuatu dari dalam saku celana Jarot.


Sesuatu itu terbungkus dengan kain hitam. Saat Inspektu Saga membukanya, seberkas sinar hitam terpancar dari mustika hitam dari liontin kalung pusaka itu,


"Sebaiknya aku simpan kalung ini dalam cincin penangkal yang ada padaku. Bahaya kalau sampai jatuh ke tangan orang jahat '" gumam Inspektur Saga yang kemudian mengusap cincin penangkal itu dan keluar seberkas cahaya biru.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PUTRI PENDEKAR PEDANG AZUYA...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2