
Sementara itu keadaan Xin Xin dan Chiang Yi.
Setelah mendapatkan beberapa informasi, mereka segera berangkat dengan tujuan mencari kedua gadis yang mereka sayangi.
Mereka bergerak melesat dengan meringankan tubuh mereka, menembus gelapnya hutan belantara.
"Kakak Yi, apakah informasi dari mereka tadi benar-benar akurat adanya atau mereka hendak menjebak kita?" tanya Xin Xin yang khawatir karena seajak tadi tak menemukan alamat yang dituju.
"Entahlah, aku juga jadi ragu-ragu!" ucap Chiang Yi yang terus waspada.
Dan benar saja, mereka telah dijebak.
Saat ini mereka berada didepan sebuah hutan belantara, dimana ada banyak macam jebakan di hadapan mereka.
Mulai jebakan balok, jebakan tambang hingga jebakan belati yang telah terpasang dan masih banyak lagi.
"Sial! apa pencarian kita berhenti sampai di sini?" gerutu Chiang Yi kesal.
"Jangan patah semangat kakak Yi, kakak bisa gunakan jurus bola-bola cahaya untuk menembus jebakan-jebakan itu." saran Xin Xin.
"Oh, benar juga!" ucap Chiang Yi yang membenarkannya.
Chiang Yi segera menangkupkan telapak tangannya dan segeralah dia berkomat-kamit membaca mantera, muncullah cahaya kemerahan di telapak tangan Chiang Yi.
Cahaya itu membentuk sebuah bola yang terbagi dua, dan Chiang Yi melemparkannya ke arah hutan yang penuh dengan jebakan itu.
"Boum... boumm... boumm...!"
Ledakan demi ledakan menghantam jebakan-jebakan itu.
Dan tanpa mereka sadari, ada sesuatu yang melayang diatas mereka.
"Ibu...paman Yi..!' panggil seseorang.
"Ibu.... paman Yi..!" sekali lagi panggilan dari atas mereka, yang tak lain adalah Qiao Li dan Ayumi.
Mereka sedang mengendarai paralayang dan berputar-putar sesuai angin yang berhembus.
"Kakak Yi, Itu Li'er bersama Ayumi!" seru Xin Xin saat mendengar panggilan suara dari atasnya.
"Benar, itu mereka!" seru Chiang Yi yang kemudian dai menghentikan aksinya menghancurkan jebakan-jebakan di hutan ke akan itu.
Kini dia mengeluarkan tali cahaya di telapak tangan kananya.
"Sreeet...!"
Tali Cahaya menjulur dengan panjangnya dan terus mengarah pada paralayang itu
Dengan sendirinya tali cahaya itu mengikat paralayang yang dimana ada Qiao Li dan Ayumi yang mengendarai paralayang itu.
__ADS_1
Dengan perlahan Chiang Yi menarik paralayang itu seperti main layangan.
Beberapa menit kemudian, aralayang itu turun dengan sempurna, Qiao Li dan Ayumi tak sedikit pun mengalami cidera yang berat.
"Li'er, Ayumi..!" seru Xin Xin saat keduanya sudah berada di darat.
Dengan setengah berlari Xin Xin menghampiri Qiao Li dan Ayumi yang baru saja turun dari paralayang itu.
"Kalian tak apa-apa kan?" tanya Xin Xin yang kemudian memeluk putrinya dengan erat.
Sementara itu Chiang Yi menghampiri Ayumi yang ada disamping Qiao Li.
"Ayumi, kamu tak apa-apa kan?" tanya Chiang Yi saat sudah berada di hadapan Ayumi.
"Saya tidak apa-apa kak!" jawab Ayumi uang membuat perasaan Chiang Yi sangatlah bahagia.
"Kenapa kalian bisa pakai paralayang?" tanya Xin Xin penasaran.
"Iya karena alat dari Ayumi Bu!" jawab Qiao Li seraya melirik Ayumibyang sudah di dampingi Chiang Yi.
"Apakah kalian benar di tangkap Sekte Tengkorak Hitam?" tanya Chiang Yi yang penasaran.
"Iya, dan kami ditahan di ruang bawah tanah!" jawab Ayumi.
"Oya? trus kalian bisa keluar bagaimana caranya?" tanya Xin Xin yang penasaran.
"Trus Ayumi mengalihkan perhatian mereka agar Li'er bisa mengambil Batu impian itu." jelas Qiao Li.
"Bagaimana kalian bisa menghadapi anggota sekte tengkorak hitam itu?" tanya Chiang Yi yang penasaran.
"Ayumi mengeluarkan granat Gas air mata dan juga pistol air cabe.
"Wih, ibu jadi bangga sekaligus senang, karena putriku bisa menghadapi para perjahat"Ucap Xin Xin yang di sambut senyum merekah di bibir Qiao Li.
Sambil melangkahkan kaki, mereka berempat saling bercerita. Dari awal di culik, sampai berada tepat dihadapan Xin Xin dan Chiang Yi.
Mereka kini telah keluar dari hutan Jebakan, dan mereka melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda.
Di sepanjang jalan Chiang Yi tak pernah jauh dari Ayumi, dan Ayumi sangat menyukainya.
Hal itu tak lepas dari perhatian Qiao Li.
"Paman, apa paman benar - benar menyukai Ayumi?" tanya Qiao Li dengan keberaniannya bertanya pada Chiang yi.
"Iya, awalnya aku tertarik sama kamu Li'er, mungkin apa karena aku terlalu lama menyendiri. Jadi perasaan itu semakin lama semakin aku tepis. Hingga Ayumi muncul, awalnya karena ada kemiripan antara Ayumi dan mantan kekasih paman." kata Chiang Yi.
"Namun ternyata paman benar-benar tak bisa kehilangan Ayumi, hal itu sangat mengganggu pikiran paman" lanjut kata Chiang Yi yang terus menatap Ayumi.
"Hm..!"
__ADS_1
"Bagaimana dengan kamu Ayumi?" tanya Chiang Yi yang ingn tahu perasaan Ayumi.
"Ayumi tak tahu perasaan ini, tapi yang jelas Kakak Yi selalu dalam bayangan saya,dan tiap bertemu dengan Kakak Yi, Seakan ada yang menyesak di dada ini" jelas Ayumi yang membuat Chiang Yi tak bisa berkata-kata.
Dan hanya mampu berkata "Aku sangat menyayangimu Ayumi"
Keduanya berhenti dan saling menatap intens, di dada mereka saat ini berasa bergemuruh.
"Ayumi, aku mencintaimu. Maukah kamu menjadi kekasih, istri dan ibu dari anak-anakku nanti?" tanya Chiang Yi dan Ayumi yang masih menatap Chiang yi secara ini, mengangguk dan bibirnya berucap "Ya!"
"Ayumi!" Panggil Chiang Yi yang kemudian memeluk Ayumi.
"Kakak Yi!" Panggil Ayumi yang kemudian membalas pelukan erat Chiang Yi
Qiao Li dan Xin Xin terus berjalan meninggalkan meninggalkan Chiang Yi dan Ayumi.
"Bu, kenapa seperti sepi ya?" tanya Qiao Li yang kemudian berbalik ku untuk memastikan pendengarannya.
Betapa terkejutnya Qiao Li saat mendapati dua insan yang sedang berpelukan.itu.
"Ibu, paman Yi dan Ayumi ..!" ucap lirih Qiao Li yang tak terasa air matanya jatuh ke pipinya.
Xin Xin menoleh mengikuti perkataan Putrinya.
Walaupun sedikit terkejut, Xin Xin berusaha membesarkan hati putrinya.
"Yakinlah esok akan datang jodoh kamu yang lebih baik dari Kakak Yi" ucap pesan Ibunda Qiao Li.
"iya Bu, walaupun sangat menyayangi
Paman Yi, Li'er akan berusaha melupakannya." ucap janji Qiao Li.
"Baguslah putriku, jadilah pendekar wanita yang selalu mengutamakan kepentingan umum diantara kepentingan pribadi. Masa depanmu masih panjang, kamu mengerti kan sayang?" ucap pesan Xin Xin yang tak mau putrinya larut dalam kesedihan.
"Iya ibu, Li'er tahu. Lawan terberat Li'er adalah diri Li'er sendiri. Li'er berusaha mengendalikan diri Li'er. Li'er tak mau terpuruk karena masalah ini, karena ada tujuan yang sangat mulia yang akan Li'er jalani" ucap Li'er yang membuat Xin Xin bangga.
Ibu dan anak itu pun saling berpelukan.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1