Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Yan Qiu Terluka


__ADS_3

Beberapa orang jatuh terkapar oleh jurus pedang Hua Tian dan juga Yan Qiu.


Sementara Qiao Li sudah kehabisan kerikilnya, dan kemudian dia memanggil pedang pemberian ibunya.


"Pedang Azuya!" Seru Qiao Li dan muncullah pedang berwarna hijau yang bersinar mengkilap berada di tangan kanan Qiao Li.


"Pedang Azuya!" seru salah satu prajurit itu yang kembali mundur beberapa langkah.


"Iya itu pedang Azuya! tunggu apa lagi, kita tangkap perempuan itu dan kita ambil pedang yang ada di tangannya itu!" seru salah satu prajurit yang memimpin mereka.


Seolah mendapat suntikan semangat, para prajurit itu kembali menyerang Qiao Li, Hua Tian dan juga Yan Qiu dengan membabi - buta.


"Ciiiaaat...!"


"Trang...Trang...Trang...Trang...!"


"Trang...Trang...Trang...Trang...!"


"Sreeet...!"


"Aaagrh...!"


"Qiu'er..!" seru Hua Tian tatkala melihat Yan Qiu terkena sayatan pedang diantara pedang para prajurit yang menyerang mereka.


"Kakak Qiu terluka!" seru Qiao Li yang menyempatkan melihat Yan Qiu yang memegang lengannya yang berdarah karena terluka. Dan saat ini dia berada dibelakang Hua Tian, diantara Qiao Li dan juga Hua Tian.


"Qiu'er, kamu tak apa - apa?" bisik Hua Tian denga tatapannya tetap waspada dengan kemungkinan yang ada.


"Tak apa - apa kak Tian" balas Yan Qiu yang kemudian mengambil obat luka yang dia buat dan membalutkan di lukanya dan kemudian dia merobek pakaiannya sebagai perban untuk membalut luka dan obat luka agar menyatu.


Yan Qiu adalah tabib muda yang bisa mengatasi luka ditubuhnya.


Sementara itu Qiao Li kembali melawan para prajurit yang tinggal belasan orang itu, tetap dengan pedang Azuya ditangannya.


"Trang...Trang...Trang...Trang...!"


"Trang...Trang...Trang...Trang...!"


"Sreeet...! Sreeet...! Sreeet...!"


"Aaagrh...! Aaagrh...! Aaagrh...!"


Kembali beberapa orang jatuh terkapar tergores oleh pedang Azuya.


"Kurang ajar!" seru beberapa orang dari mereka.


"Apa kalian masih mau melanjutkan perkelahian ini?" tanya Qiao Li dengan senyum sinis.

__ADS_1


"Bedebah! bocah ingusan, kami tak takut!" seru Satu orang yang dengan geram menatap Qiao Li.


"Ohw, rupanya kamu ingin tahu rasanya di hunus oleh pedang Azuya ya!" seru Qiao Li tetap dengan senyum sinis, untuk membuat menciutkan semangat para prajurit itu.


Sebagian dari prajurit itu mengambil langkah seribu untuk meninggalkan tempat pertempuran itu.


"Kurang ajar! tunggu pembalasan kami nanti!" seru salah satu prajurit yang kemudian memberi kode pada semua prajurit yang tersisa untuk meninggalkan tempat pertempuran itu.


"Dasar, kalian prajurit pengecut!" seru Hua Tian dengan kesalnya dan dia mengambil pedang dari prajurit yang terkapar di sampingnya. Kemudian Hua tian melemparkan pedang tersebut ke arah prajurit yang lari paling belakang.


"Jleb..!"


"Aaaghh...!"


Seketika prajurit itu ambruk dan bersimbah darah.


Qiao Li menghampiri Yan Qiu dan demikian pula dengan Hua Tian yang juga menghampiri Yan Qiu.


"Kakak Qiu, apakah kamu baik - baik saja?" tanya Qiao Li saat berhadapan dengan Yan Qiu.


"Aku tidak apa - apa" jawab Yan Qiu walau pun sedikit meringis karena menahan rasa sakitnya.


"Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini!" usul Hua Tian yang melangkahkan kakinya menghampiri dua perempuan beda usia itu.


"Boleh juga usul kak Tian, disini banyak mayat serta banyak penduduk yang melihat kita. Lebih baik kita segera tinggalkan tempat ini!" seru Qiao Li kemudian Hua Tian menggandeng Yan Qiu dan mereka meninggalkan perkampungan itu.


Ketiga orang itu melangkah pergi menyusuri jalan setapak dan akhirnya masuk ke hutan.


Gadis itu menarik nafasnya panjang dan mengeluarkannya secara pelan - pelan.


Langkah mereka menuju ke sebuah gubuk dekat air terjun.


"Benar, itu gubuk ibu dan paman Chiang Yi!" seru dalam hati Qiao Li yang ingat sekali dengan gubuk yang ada di depannya.


Gadis itu ingat betul bagaimana dia bertemu dengan ibunya untuk pertama kalinya di era kekaisaran Ming ini.


Dimana namanya sebelumnya adalah Leonisa, ibunya Rani, dan paman Chiang Yi adalah paman Ekin.


...💭💭💭💭...


Leonisa putriku, ibu sangat merindukanmu!" ucap Rani yang tak henti-hentinya mencium kening putrinya.


"Ibu, Nisa juga rindu ibu, ayah dan kak Raga." ucap Qiao Li yang bernama asli Leonisa.


"Sebaiknya kita pergi dari sini!" kata seorang Pria yang selalu bersama Rani.


"Iya, ayo kita pulang ke pondok!" ucap Rani yang kemudian menggandeng putrinya, melangkahkan kaki meninggalkan pedesaan dan menuju ke sebuah lereng gunung.

__ADS_1


"Ibu, bukankah dia paman Ekin?" tanya Qiao Li yang sedikit mengingat saat di pulau tengah laut beberapa waktu yang silam.


"Iya, dia paman Ekin. Selama ini paman Ekin yang membantu ibu dalam menumpas penjahat-penjahat." jelas Rani.


"Lihat gubuk itu Nisa?" tanya Ekin seraya menunjuk ke arah sebuah gubuk bambu yang berada di tepi air terjun.


"Iya paman!" jawab Qiao Li sembari menatap seorang dewa yang masih betah membujang itu.


"Itulah tempat aku dan ibu kamu beristirahat bila tak ada kerjaan di pedesaan." ucap Ekin yang membalas tatapan Qiao Li.


"Ayo kita percepat langkah kita, karena hari telah beranjak malam" ucap Rani yang mempercepat langkah kakinya.


"Baik Bu!" jawan Qiao Li dan mereka bertiga mempercepat langkah kaki mereka.


Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di depan sebuah gubuk di samping telaga dan air terjun.


Sudah di pastikan hawa di sekitar tempat itu sangatlah dingin dan sejuk.


Sesampainya di Gubuk tepi danau itu, Rani dan Qiao Li menyiapkan makan malam mereka.


Sementara Ekin menyalakan obor untuk penerangan mereka.


...💭💭💭💭...


"Iya, disinilah tempat tinggal ibuku!" seru dalam hati Qiao Li yang kemudian dia mempercepat langkahnya karena dirinya tertinggal jauh dari langkah Hua Tian dan juga Yan Qiu.


"Kalian sudah lama tinggal di gubuk ini?" tanya Qiao Li yang sudah mensejajarkan langkahnya.


"Kami baru beberapa hari tinggal di sini, saat rombongan kami banyak yang tewas saat berjuang melawan para penjahat yang berkedok pejabat!" jelas Hua Tian yang kemudian membuka pintu gubuk yang terbuat dari anyaman bambu itu.


Mereka masuk dan duduk di kursi yang sudah tersedia di gubuk itu, namun sebelumnya Hua tian mengunci pintu utama itu.


Qiao Li menebarkan pandangannya ke setiap sudut gubuk, dan seolah dia bernostalgia mengingat saat - saat ibunya Xin xin dan Chiang Yi yang bercerita tentang perjalanan mereka.


Hua Tian kemudian bangkit dari duduknya dan masuk ke dapur untuk mengambil air dan juga kain bersih, yang akan dia gunakan untuk membersihkan luka pada lengan kiri Yan Qiu.


"Nona, kalau kami boleh tahu siapakah nona ini? dan kenapa membantu kami dalam melawan para prajurit tadi?" tanya Yan Qiu dengan sedikit meringis kesakitan, karena lukanya yang terlalu dalam.


Qiao Li kemudian membuka cadar putihnya, dan membuat Yan Qiu sangat terkejut demikian pula dengan Hua Tian yang baru saja keluar dari dapur.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2