
"Tuan, tuan...! bayar dulu sebelum pergi!" seru salah satu pelayan yang tadi melayani mereka.
"Apa kau bilang? bayar?" tanya laki-laki yang pertama pada pelayan yang menghalangi mereka.
"I..iya, kalian harus bayar makanan kalian!" seru pelayan itu dengan lantang.
"Apa bayar? baiklah, rasakan ini!" seru laki-laki kedua itu dengan mengeluarkan jurusnya.
"Bugh.... bugh..... bugh....!"
Telapak tangan dari laki-laki kedua itu menyerang pelayan itu yang mengakibatkan si pelayan terdorong dan terjungkal ke depan.
"Kurang ajar! sungguh keterlaluan mereka!" umpat Qiao Li yang kemudian mengambil kerikil yada ada dalam kantong kainnya.
"Takk... takk... takk....!"
Dengan melesat cepat ketiga kerikil itu mengenai tengkuk leher para laki-laki yang mendorong pelayan itu.
"Aaargh.,! Aaargh.,! Aaargh.,!"
Ketiga laki-laki tersebut tersungkur ambruk dan tak sadarkan diri.
Semua orang terkejut yang melihat tiba-tiba ketiga laki-laki tersebut ambruk jatuh ke lantai.
"Hei, kenapa mereka?"
"Apa yang membuat mereka terkapar?"
Banyak pertanyaan yang terlontarkan dari para pengunjung itu.
Setelah membayar makanan dan minumannya, Qiao Li melangkahkan kaki melewati ketiga laki-laki yang terkapar itu meninggalkan rumah makan itu.
Gadis itu terus berjalan di jalanan perkampungan itu, dan melihat banyak orang yang berlalu lalang di sekitarnya.
Tiba-tiba pandangannya tertuju pada kerumunan di alun-alun yang ada di hadapannya itu dan Qiao Li penasaran jadinya.
"Ada apa disana? aku ingin lihat apa yang terjadi di sana!" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian melangkahkan kakinya mendekati kerumunan orang itu.
Terdengar banyak orang yang bersaut-sautan dalam memenyebutkan nominal angka.
"Oh, rupanya disini pelelangannya. Ini baru benda-benda kuno yang mwereka lelang. Sebaiknya aku tunggu sampai batu impian itu di lelang." ucap dalam hati Qiao Li seraya melihat keadaan yang terjadi dalam pelelangan tersebut.
Cukup lama juga gadis itu menunggu, dan akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga, pembawa acara mengumumkan sebuah pelelangan.
"Kini tiba saatnya benda terakhir yang akan kita lelang hari ini!" ucapan dari pembawa acara itu yang kemudian membuka penutup kain yang menutupi sebuah benda yang terlihat bulat itu.
"Wah, apa itu ya?"
"Benda terakhir pasti benda spesial!"
"Waduh, uangku sudah habis buat ambil beberapa barang tadi!"
Berbagai ucapan terdengar dari mulut para peserta pelelangan itu.
__ADS_1
"Dan inilah benda terakhir yang akan kami lelang!" seru pembawa acara itu yang kemudian membuka penutup kain yang menutupi benda yang berbentuk bulat itu.
Dan terbukalah benda bulat yang berkilau dengan di dalamnya terdapat bintang keemasan itu.
"Batu atau bola impian, iya itu dia!" gumam dalam hati Qiao Li yang bersemangat tatkala melihat apa yang ada dihadapannya itu.
"Batu telur naga!"
"Iya itu batu telur naga!"
"Siapapun yang bisa mengumpulkan tujuh batu telur naga, maka semua keinginannya akan terkabulkan!" seru beberapa orang yang tahu tentang batu telur naga itu.
"Pelelangan untuk batu telur naga ini di mulai dari satu keping uang emas! dan siapa yang berani menawar dengan jumlah paling banyak, dia berhak mengambil batu telur naga ini!" seru pembawa acara itu yang memulai pelelangan bayi impian itu.
"Dua keping emas!"
"Tiga keping emas!'
"Empat keping Emas!"
Dan terus berlanjut hingga puluhan keping emas.
"Dua puluh lima keping emas!"
"Tiga puluh keping emas!"
"Empat pukul keping emas!'
Kemudian semua peserta diam, karena mereka berpikir jika harus membayar lebih dari empat puluh keping emas.
"Empat puluh lima keping emas!"
Seru orang yang menawar batu telur naga itu. Dan pembawa acara mengulang kembali apa yang dikatakan oleh penawar tadi.
"Empat puluh lima keping emas! ada yang mau lebih tinggi lagi?" tanya pembawa acara itu dengan menebarkan pandangannya ke seluruh peserta lelang.
"Lima puluh keping emas!'' seru Qiao Li yang mencoba ikut dalam pelelangan itu.
"Wauw! lima puluh keping emas, adakah yang lebih tinggi lagi!" seru pembawa acara itu yang terus menebarkan pandangannya ke setiap peserta yang hadir.
"Lima puluh lima!" seru seseorang yang menawar lebih tinggi.
"Enam puluh keping emas!"
"Enam puluh lima keping emas!"
"Tujuh puluh keping emas!"
"Tujuh puluh lima keping emas!"
"Adakah yang lebih tinggi lagi!" seru pembawa acara itu yang terus menebarkan pandangannya ke setiap peserta yang hadir.
"Delapan puluh keping emas!" seru Qiao Li yang sebenarnya ragu, uang dalam cincin penyimpanannya masih cukup apa tidaknya.
__ADS_1
"Seratus keping emas!" seru seorang laki-laki yang nampak seumuran dengan Fang Chen.
"Ah, seratus keping uang? apa dia anak pejabat? sepertinya dia tidak membawa peti atau cincin penyimpanan? apa benar dia membawa uang seratus keping emas?" tanya dalam hati Qiao Li yang penasaran dengan laki-laki yang menawar batu impian dengan seratus keping emas itu.
"Wah, apa ada yang lebih tinggi?" tanya pembawa acar itu dengan semangat.
Tiba-tiba dari kursi penonton, ada bayangan hitam yang melompat, bersalto sampai ke tengah panggung dengan membawa sebuah pedang yang gagangnya terukir naga.
"Hopp hiaaat...!"
"Ada! aku akan bayar dengan nyawamu!" seru pemuda itu seraya menodongkan pedangnya ke arang pembawa acara tersebut.
"A...apa yang anda inginkan?" tanya pembawa acara itu dengan gemetaran.
"Serahkan batu telur naga itu padaku!" seru pemuda itu dengan lantang.
"Apa? ti...tidak mungkin! ini bukan milik saya!" dengan masih gemetaran pembawa acara itu menjawabnya.
Pemuda itu berusaha merebut batu telur naga itu, namun dengan cepat pembawa acara itu mencoba mempertahankannya.
Perebutan batu telur naga itu berlangsung sengit diatas panggung.
Banyak orang yang menyaksikan hal itu, dan banyak yang bersorak karena dianggap sebagai hiburan.
"Ini bukan lagi pelelangan, tapi perampokan!" gumam dalan hati Qiao Li yang menganalisa kejadian yang terjadi diatas panggung itu.
"Selama kamu belum menyerahkan uang seratus keping emas, aku tidak akan memberikan batu telur naga ini padamu!" seru pembawa acara itu yang dibantu oleh para pengawalnya untuk mempertahankan batu telur naga itu.
Pertarungan sengit itu terjadi, dan para peserta lelang dan para penonton hanya bisa menyaksikan pertarungan tersebut. Dan mereka menganggapnya sebagai hiburan.
Sementara Qiao Li terus mengawasi jalannya pertarungan itu, dan dia melihat kemampuan dari pemuda yang menantang pembawa acara lelang itu kemampuannya diatas rata-rata.
Laki-laki seumuran Qiao Li itu terus menghantam benteng pertahanan pengawal yang melindungi pembawa acara dan batu telur naga itu.
"Bagh.... bugh.... bagh...bugh....!"
"Aaaghh.... aaaaghh..... aaaaghh!"
Laki-laki itu memukul, menedang dan kadang menangkis setiap serangan dari lawannya.
Dengan perhuangan yang lumayan menguras energinya, laki-laki itu mendapatkan batu impian dari tangan pembawa acara tersebut.
Namun tiba-tiba, "Dapat....!'' ada sesosok yang bersalto diatas laki-laki itu dan merebut batu telur naga dari tangan laki-laki yang seumuran dengan Qiao Li tersebut.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...