
"A..ada apa ya?" tanya resepsionis itu pada Qiao Li.
"Terima kasih atas pelayanannya, ini ada sedikit tips untuk kamu!" ucap Qiao Li yang memberikan tips, pada resepsionis itu.
"Terima kasi-terima kasih nona!' ucap resepsionis yang usianya lebih tua dari Qiao Li.
"Sama-sama, saya mau tanya arah ke desa Bambu kuning, itu dimana ya?" tanya Qiao Li dan resepsionis itu paham apa yang dimaksudkan oleh Qiao Li.
"Anda sebaiknya lewat jalan sebelah kanan, lurus nanti ada persimpangan silahkan ambil kanan. Anda jalan lurus dan nanti akan menemui aliran sungai yang berwarna kuning. Anda ikuti dengan melawan arah arus dari sungai kuning itu. Dan anda silahkan terus berjalan dan nanti akan menemui hutan bambu kuning. Dan di situlah desa Bambu kuning" jelas resepsionis itu yang sangat di mengerti oleh Qiao Li.
"Terima kasih, saya pamit akan melanjutkan perjalanan saya" ucap Qiao Li.
"Sama-sama Nona" ucap resepsionis itu yang mengulas senyum.
"Qiao Li membalas senyuman itu dan kemudian melangkahkan kakinya mengikuti arahan dari resepsionis tadi.
"Langkah yang aku mulai adalah lewat jalan sebelah kanan, baik akan aku lakukan" gumam dalam hati Qiao Li yang melangkah ke menuju ke jalan sebelah yang ditunjukkan oleh resepsionis tadi.
Tak berapa lama Qiao Li sudah berada di jalan yang dimaksudkan, Qiao Li kemudian berjalan lurus dan menemui sebuah persimpangan.
Di persimpangan itu, kemudian Qiao Li mengambil jalan yang sebelah kanan.
Kemudian Qiao li jalan lurus dan benar dia menemui aliran sungai yang berwarna kuning.
Qiao Li mengikuti petunjuk resepsionis tadi untuk melawan arah arus dari aliran sungai kuning itu.
Dan Qiao Li terus berjalan kurang lebih dua jam lamanya, dan akhirnya dia menemui hutan bambu kuning.
"Ah, itu hutan bambu kuningnya, berarti aku sudah dekat dengan desa Bambu kuning" gumam Qiao Li yang saat ini semangat untuk melangkahkan kakinya.
Selama perjalanan melewati hutan bambu kuning, Qiao Li menjumpai beberapa penduduk desa Bambu kuning.
Qiao Li memberhentikan salah seorang penduduk dan dia mulai bertanya.
"Maaf, bisa anda tunjukkan dimana desa Bambu kuning?" tanya Qiao Li dengan sopan pada seorang wanita setengah baya yang sedang membawa sayuran di keranjang bambu yang di gendhongnya di punggungnya.
Wanita itu menghentikan langkahnya dan menatap ke arhb
"Oh, ikuti saya nona!" ucap wanita itu yang kemudian melangkah dan diikuti oleh Qiao Li.
"Apakah anda tinggal di desa Bambu kuning?" tanya Qiao Li yang penasaran dan berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan wanita itu.
__ADS_1
"Benar sekali nona, saya salah satu penduduk di desa Bambu kuning. " jawab wanita itu yang terus melangkah.
"Apakah ada yang bernama paman Chen disana?" tanya Qiao Li yang menanyakan tentang ayahnya yang Amnesia.
"Paman Chen?" tanya wanita itu yang memberhentikan langkahnya.
"Paman Fang Chen maksud saya bi, dan paman Hua Tian dan juga bibi Yan Qiu?" tanya Qiao Li yang sangat berharap mendapat jawaban.
"Ada hubungan apa anda dengan mereka, nona?" tanya Wanita itu dengan penasaran.
"Kami sudah saling mengenal, sejak kejadian di Penginapan mawar Gurun!" jawab Qiao Li dan wanita itu kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit lebih cepat
Hampir saja Qiao Li tak mampu mengejarnya, namun akhirnya gadis itu mampu mengimbangi langkah wanita itu.
"Apakah kamu juga ikut dalam pertemuan sesama anggota aliran putih yang diadakan di desa kami?" tanya wanita itu yang terus melangkahkan kakinya.
"Tidak, aku hanya mencari orang-orang menjadi bagian dari hidupku!" ucap Qiao Li sambil mengulas senyumnya.
"Sebentar lagi aku akan bertemu ayah, ayah aku sangat merindukanmu!" ucap dalam hati Qiao Li yang tak terasa bulir-bulir kristal air matanya berjatuhan.
"Anda menangis nona?" tanya Wanita itu yang penasaran.
"Eh iya, hanya teringat akan masa lalu saja!" jawab Qiao Li sambil menyeka air matanya.
"Siapa gadis yang bersama kamu nyonya Lin?" tanya salah seorang penjaga pintu gerbang desa itu.
"Oh, dia gadis yang katanya mengenal Saudara Chen dan saudara Tian." jawab wanita itu seraya memandang Qiao Li.
"Oh saudara Chen dan saudara Tian, mereka sedang berada di ruang latihan. Melatih para penduduk yang ikut dalam misi pemberontakan!" ucap penjaga gerbang itu.
"Baiklah kami akan kesana" ucap wanita yang dipanggil nyonya Lin itu.
"Ayo nona, kita segera ke tempat latihan." ucap Wanita itu.
"Bibi Lin terima kasih ya!' ucap Qiao Li yang tetap melangkahkan kakinya.
"Darimana kami tahu namaku?" tanya Wanita yang di panggil Qiao Li dengan sebutan bibi Lin itu.
"Dari penjaga tadi!' ucap Qiao Li yang menghentikan langkahnya karena bibi Lin juga menghentikan langkah kakinya.
"Oiya, ma'af saya sudah pikun ternyata! he.he..!' ucap Bibi Lin sambil terkekeh.
__ADS_1
"Saya Qiao Li bibi, panggil saja Li'er!' ucap Qiao Li yang memperkenalkan dirinya.
"Nama yang bagus Li'er" ucap bibi Lin.
"Terima kasih bibi, ini juga pemberian dari ibu angkat saya, Qiao Feng" kata Qiao Li yang mensejajarkan langkahnya dengan langkah Bibi Lin.
"Qiao Feng?" tanya Bibi Lin yang menghentikan langkahnya.
"Iya, bibi Feng Patriak dari Sekte Walet putih" jelas Li'er.
"Kabarnya kan kamu sudah meninggal?" tanya Bibi Lin uang penasaran.
"Memang, dulu hampir saja saya meninggal. Namun sekarang bibi lihat sendiri kan!" seru Qiao Li seraya mengulas senyumnya.
"Iya, bibi lihat dan mendengar suara kamu uang nyata." ucap Bibi Lin yang masih memperhatikan Qiao Li lebih teliti.
"Kita sudah sampai atau belum di tempat latihan paman Chen ya bi?' tanya Qiao Li yang mendengar suara orang yang sedang latihan.
"Itu di balik tembok ini kok Li'er!" jawab Bibi Lin yang terus melangkahkan kakinya menyusuri jalan tepi tembok, menuju ke pintu masuk ke tempat latihan itu.
"Hopp hiaaat..!"
"Bagh...! bugh...!Bagh...! bugh...!"
'"Bagh...! bugh...!Bagh...! bugh...!"
Suara itu semakin keras terdengar, dan tibalah mereka di depan pintu tempat latihan dimana Hua Tian dan Fang Chen sedang melatih beberapa orang penduduk yang akan di persiapkan ikut dalam pemberontakan nanti.
Qiao Li melihat Fang Chen yang sedang memberi materi dan strategi dalam berperang.
Gadis itu dengan setengah berlari melangkahkan kakinya menghampiri Fang Chen.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...