Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Masih Mengejar Pendekar Bercadar


__ADS_3

Qiao Li gadis yang berusia empat belas tahun yang penasaran dengan sesosok sepasang pendekar bercadar itu.


Saat ini dia berada di sepanjang jalan yang sepi mengikuti kedua pendekar bercadar itu.


Tiba-tiba Qiao Li melihat dari kejauhan sepasang pendekar bercadar itu di hadang oleh segerombolan pasukan kerajaan.


"Berhenti!" seru seorang pemimpin pasukan kerajaan itu.


"Kenapa kalian menyuruh kami berhenti?" tanya pendekar laki-laki yang bercadar itu.


"Kalian adalah buronan yang harus kami tangkap!" jawab pemimpin pasukan kerajaan itu.


"Apa buronan? apa kami melakukan kesalahan, hingga kami menjadi buronan?" tanya Pendekar Bercadar yang perempuan.


"Cihh, kalian merampok para pejabat dan para pengusaha! karena itulah kalian menjadi buronan."umpat pemimpin pasukan itu.


"Itu salah mereka! kenapa mereka kaya dengan hasil uang rakyat? dan kenapa kalian semua mencekik rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang memojokkan rakyat-rakyat miskin!" seru Pendekar Bercadar yang perempuan


"Tau apa kau dengan kami! kau memang layak di jadikan buronan!" seru pemimpin pasukan itu geram


"Oiya, coba saja kalau kalian mampu!" seru pendekar laki-laki bercadar yang sudah bersiap-siap dengan jurus-jurusnya.


"Biar aku yang meladeni mereka, kamu menepilah!" ucap pendekar bercadar yang laki-laki itu pada pendekar bercadar wanita.


"Baiklah!" balas pendekar bercadar wanita seraya menunduk sebentar dan kembali menengadah.


Sementara pendekar wanita yang bercadar itu kemudian menepi dan mengawasi situasi yang terjadi.


Para prajurit kerajaan itu mengepung pendekar laki-laki yang bercadar itu dengan senjata tombak mereka.


Pendekar laki-laki bercadar tetap dalam posisinya, namun kedua matanya yang terus mengamati pergerakan lawan-lawannya.


"Seraaaang...!" seru pemimpin pasukan kerajaan itu memberikan komando pada pasukannya.


Sementara pendekar laki-laki bercadar itu diam dengan keadaan kedua telapak tangan yang mengeluarkan bola-bola cahaya beewarna kuning.


Kemudian dia menghantamkan bola-bola cahaya itu ke arah lawan-lawannya.


"Boummm..!"


"Boumm....!"


"Aaaghh..!"


Boummm..!"


"Boumm....!"


"Aaargh..!"


Beberapan dari para pengepung itu terkapar tak sadarkan diri sebab terkena serangan dari jurus dari pendekar laki-laki bercadar itu,


Dan lagi-lagi pendekar laki-laki itu menggunakan jurus bola-bola cahaya warna kuning untuk menyerang lawan-kawannya.

__ADS_1


Boummm..!"


"Boumm....!"


"Aaaghh..!"


Boummm..!"


"Boumm....!"


"Aaargh..!"


Lagi-lagi beberapa orang dari pasukan kerajaan terkapar seperti bola bowling yang menggelinding tepat pada sasarannya.


"Semuanya, mundur..!" seru pemimpin pasukan prajurit itu.


Dan semua pasukan prajurit yang menghadang mereka seketika Itu juga mundur karena merasakan mereka di posisi tersudut..


Sepasang pendekar bercadar itu tak memberi ampun, mereka kemudian mengejar pasukan yang kabur itu.


Qiao Li yang belum begitu tinggi kemampuan bela dirinya, tak mampu mengejar mereka.


Namun gadis itu melihat dari kejauhan adanya cahaya berwarna kekuningan seperti kembang api.


"Mereka sudah sampai di sana, sayang sekali aku tak bisa menyusul mereka." keluh Qiao Li yang takjub saat melihat cahaya yang berwarna kuning itu meledak-ledak di kejauhan sana.


Gadis itu kemudian membalikkan badan dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke gubuk nenek Wan.


Sesampainya di depan gubuk nenek Wan, ternyata nenek Wan duduk di depan gubuk.


"Nenek khawatir dengan keadaan kamu Li'er!" ucap si nenek yabg kemudian bangkit dari duduknya.


"Li'er hanya jalan-jalan sebentar Nek!" ucap Qiao Li yang menghampiri Nenek Wan.


"Sebaiknya kita masuk!" ucap Nenek Wan.


"Iya, nek" balas Qiao Li dan mereka kemudian masuk ke gubuk dan menutupnya pintunya kembali.


"Apa kamu penasaran dengan sepasang pendekar bercadar itu?" tanya Nenek Wan yang penasaran.


"Iya nek, karena saya seperti mengenal salah satu diantara mereka" ucap Qiao Li yang duduk di atas tikar bersama nenek Wan.


"Pergilah ke Gunung Huang, nenek mendengar kabar kalau mereka tinggal di gunung Huang" ucap nenek Wan seraya menepuk-nepuk punggung tangan Qaio Li.


"Gunung Huang?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Iya, dan kamu juga harus hati-hati selama dalam perjalanan ke sana!" ucap nenek Wan yang kemudian meletakkan kantung coklat dari pendekar bercadar itu pada telapak tangan Qiao Li.


"I..ini untuk apa nek?' tanya Qiao Li yang penasaran.


"Untuk bekal kamu mencari sepasang pendekar bercadar itu!" jawab nenek Qiao Li seraya tersenyum.


"Tidak usah nek, saya sudah punya. Kantung coklat berserta isinya ini di berikan oleh sepasang pendekar bercadar untuk kepentingan nenek. Jadi sebaiknya nenek gunakan sebaik-baiknya ya!" ucap Qiao Li yang menyerahkan kembali kantong coklat beserta isinya pada nenek Wan.

__ADS_1


"Tapi Li'er!" ucap nenek Wan yang belum tega.


"Benar nek, Li'er sudah mempunyainya." ucap Li'er.


"Kalau begitu ayo kita istirahat. Besok pagi kamu harus segera berangkat menuju ke Gunung Huang!" ucap Nenek Wan.


"Iya nek!" balas Qiao Li dan keduanya menuju ke tempat istirahat masing-masing.


...****...


Keesokan paginya, Nenek Wan telah membuat bekal untuk perjalanan Qiao Li.


"Kenapa nenek repot-repot? saya kan sudah bilang kalau saya sudah punya uang nek!" ucap Qiao Li yang tak enak hati.


"Li'er kamu sudah nenek anggap seperti cucu nenek sendiri. Kalau kamu bertemu dengan sepasang pendekar bercadar, tolong sampaikan salam dan terima kasih nenek ya!" ucap nenek Wan.


"Iya nek, nanti Li'er sampaikan." ucap Qiao Li yang kini memeluk nenek Wan


"Li'er, hati-hati di jalan ya!" ucap nenek Wan seraya mengusap kepala Qiao Li.


"Iya nek, Li'er berangkat!" ucap pamit Qiao Li yang kemudian melangkahkan kakinya menuju halaman di depan gubuk nenek Wa.


Qiao Li kemudian membalikkan badannya dan melambaikan tangan kanannya.


Nenek Wan pun membalas lambaian tangan Qiao Li.


Qiao Li melanjutkan perjalanannya, dan di setiap perjalanannya tak pernah telat gadis itu bertanya pada para penduduk tentang keberadaan Gunung Huang.


"Ma'af permisi, arah ke gunung Huang.?" tanya Qiao Li yang bertanya pada seorang laki-laki yang tengah memotong kayu di tepi desa dengan sopan.


"Gunung Huang? gunung itu sangat terjal nak?" tanya laki-laki itu yang menghentikan aktifitasnya.


"Saya tahu, maka dari itu saya ingin menjelajahinya!" ucap Qiao Li yang tak mengatakan yang sebenarnya.


"Baiklah kalau itu tekat kamu. Ikutilah jalan ini lurus. Kau lihat gunung terdekat itu, itulah gunung terdekat itu? itulah gunung Huang" ucap laki-laki itu seraya tangan kanannya.


Qiao Li mengangguk mengerti.


"Terima kasih, saya akan kesana!" ucap sekaligus pamit Qiao Li.


Hati-hati ya nak! " ucap laki-laki itu seraya yang melihat kepergian Qiao Li dengan menggeleng-gelengkan kepalanya secara perlahan-lahan.


Dan melanjutkan aktifitasnya kembali setelah Qiao Li menjauh dan menghilang dari pandangannya.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PUTRI PENDEKAR PEDANG AZUYA...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2