
Setelah sampai di rumah Laki-laki itu , Hai Jun segera mandi dan demikian dengan laki-laki yang menolongnya itu.
Sementara istri dari laki-laki itu sedang memasak dan lanjut membersihkan badannya.
Tak berapa lama mereka kemudian makan bersama dan saling bercerita
Setelah itu Laki-laki yang dipanggil Hai Jun ayah itu menunjukkan sebuah kamar pada Hai Jun.
Hai Jun segera beristirahat dan demikian dengan ayah dan ibu angkat Hai Jun karena malam telah larut.
Disaat keheningan malam, tiba-tiba saja ada suara rintihan yang mengganggu tidur Hai Jun.
"Jangan bawa istri saya! jangan bawa istri saya...!" demikianlah rintihan yang di dengar oleh Hai Jun, dan sesaat kemudian Hai Jun membuka kedua matanya.
"Kau tak juga bayar hutang kamu, rasakan ini!" Seru seseorang yang bersuara keras
"Aa..ampun tu..tuan!" suara rintihan laki-laki yang dikenal Hai Jun.
"Sreet jlebb!" orang uang bersuara keras itu tak memberi kesempatan pada Laki-laki yang menjadi ayah angkat Hai Jun itu.
"Aaaghh..!" suara erangan yang menyayat hati, karena sayatan dan hunusan pedang di ulu hati ayah angkat Hai Jun.
Hai Jun bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari kamarnya.
Dan saat dia keluar dari kamarnya di lihatnya ayah angkatnya sudah bersimbah darah.
"Kurang ajar! siapa yang melakukan semua ini!" seru Hai Jun yang kemudian dengan setengah berlari keluar dari rumah dan melihat apa yang telah terjadi.
Ternyata banyak orang yang ditangkap dan rata-rata dari mereka wanita.
"Buat apa mereka menangkap para wanita-wanita itu!" gumam dalam hati Hai Jun yang melangkahkan kaki mendekati orang -orang yang telah membawa para wanita-wanita itu.
"Hentikan perbuatan kalian!" seru Hai Jun saat tepat dihadapan gerombolan penculik wanita-wanita itu.
"Kurang ajar! siapa kamu berani memberhentikan kami!" seru salah satu diantara gerombolan itu.
"Tak perlu kamu tahu siapa aku! nyawa harus dibayar dengan nyawa!" seru Hai Jun dengan geram.
Gerombolan-gerombolan itu mengepung Hai Jun, dan Hai Jun mulai bersiap menghajar mereka satu persatu.
"Hop hiaaaat...!”
"Bagh ..bugh.. bagh.. bugh...!"
"Bagh ..bugh.. bagh.. bugh...!"
Tiba-tiba sebagian gerombolan itu meninggalkan lokasi dengan membawa beberapa kereta yang berisikan para tahanan mereka.
"Sialan, apa ibu angkatku ada diantara kereta itu?" gumam dalam hati Hai Jun geram.
"Aku harus selesaikan yang ini dulu!" Hai Jun yang membatin.
Hai Jun yang juga dewa Api itu, mengeluarkan jurus bola-bola apinya.
__ADS_1
Di tangkupkannya kedua tangannya dan muncullah bola-bola apai di antara kedua telapak tangan Hai Jun.
Dan keluarlah Bola-bola api di kedua telapak tangan Hai Jun.
"Api!"
"Dia bukan manusia!"
"Dia tidak kepanasan sama sekali?"
"Jangan-jangan dia Iblis!"
"Gawat, tatapannya mengarah ke arah kita!"
Kasak-kusuk terdengar di antara grombolan-yang menghadang Hai Jun.
Tanpa perduli kan omongan mereka, Hai Jun menggelindingkan bola-bola api itu seperti bola bowling.
Satu bola api ke sisi arah timur, satu ke sisi arah barat, dan satu ke sisi arah selatan, serta satu bola api ke sisi arah Utara.
"Buumm... buumm... buumm.. Buumm..!"
Bola-bola api itu membakar para gerombolan orang bayaran yang menghadang Hai Jun.
Akhirnya terbukalah jalan untuk Hai Jun untuk keluar dari kepungan mereka.
Pemuda itu dengan menghentakkan kakinya melesat ke arah rombongan kereta kuda itu pergi.
Hampir saja Hai Jun kehilangan mereka, namun akhirnya dia telah menemukannya.
"Jika aku menggunakan jurus apiku, ada kemungkinan kalau Kuda-kuda itu akan takut dan membahayakan para penumpangnya!" Hai Jun yang membatin.
Akhirnya Hai Jun melesat dan mendahului kereta kuda itu.
"Berhenti!" seru Hai Jun. Dan tiga kereta kuda yang membawa puluhan wanita itu berhenti seketika
"Mau apa dia!" seru para pengawal yang duduk bersama para kusir kereta kuda tersebut
Mereka satu persatu turun dari kereta kuda itu dan berjalan menghampiri Hai Jun.
"Mau apa kamu menghentikan kami!" seru salah satu diantara mereka.
"Membebaskan tahanan kalian!" seru Hai Jun geram.
"Kurang ajar, serang dia..!" seru salah seorang pengawal kereta kuda itu.
Dan mereka menyerang Hai Jun dengan senjata pedang mereka.
Hai Jun terpaksa mengeluarkan pedang apinya yang sebelumnya dia mengurangi volume api di pedang itu, agar tidak menimbulak ketakutan pada kuda-kuda pembawa kereta yang berisi para wanita itu.
"Hop hiaaat...!"
"Traang... Trang... Trang.. Trang..!"
__ADS_1
"Traang... Trang... Trang.. Trang..!"
"Traang... Trang... Trang.. Trang..!"
Adu jurus pedang pun berlangsung, dan akhirnya enam orang itu di selesaikan dalam hitungan beberapa menit saja.
"Aaagh...!" suara erangan terakhir para pengawal kereta kuda itu.
Setelah semuanya beres dan Hai Jun memeriksa semua isi dalam kereta kuda.
"Ibu angkat!" panggil Hai Jun saat melihat seorang wanita yang dia kenal.
"Hai Jun!" panggil wanita itu saat melihat Hai Jun dan dia segera turun dari kereta kuda dan menghampiri Hai Jun.
"Ibu angkat, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkan ayah angkat. Saya menyesal!" ucap Hai Jun seraya menundukkan kepalanya.
"Iya, walaupun sedih ibu akan berusaha tabah. Apa kamu tidak ikut kembali ke gubuk ibu?" tanya ibu angkat Hai Jun.
"Saya masih ada tanggung jawab mencari keluarga dan para sahabat saya yang terpisah dengan saya kemarin bu." jelas Hai Jun dan ibu angkatnya.
Ibu angkat Hai Jun pun mengerti, dan dia mengijinkan Hai Jun untuk pergi.
Kemudian ibu angkat Hai jun itu berlalu meninggalkan Hai Jun yang sendirian.
Hai Jun berdiri masih melihat rombongan kereta kuda itu yang perlahan menjauh hingga tak lagi nampak di kedua mata Hai Jun.
Setelah itu pemuda itu pun mulai melakukan perjalanannya kearah Timur guna mencari keberadaan Xin Xin dan Chiang Yi.
Di sepanjang jalan Hai Jun belum menemukan tanda-tanda keberadaan Xin Xin dan Chiang Yi.
Dia tetap terus berjalan dan tibalah dia di sebuah desa, dimana dia sudah kelaparan namun dia tak mempunyai uang untuk membayar makanan.
Tiba-tiba ada seseorang laki-laki setengah baya menghampiri Hai Jun.
"Tuan, anda seorang musafir, mari tuan makan di tempat saya!" ajak laki-laki itu.
"Ma'af tuan, tapi saya tak punya uang untuk mengganti makanan anda tuan" ucap Hai Jun jujur
"Jangan khawatir tuan, karena sudah ada yang membayarkannya " ucap laki-laki itu dengan tersenyum.
"Sudah ada yang membayarkannya?" tanya Hai Jun yang penasaran
"Benar di seorang wanita bercadar putih dengan membawa pedang warna hijau di tangannya. Dialah yang sudah membayarkannya." jelas laki-laki itu seraya mengulas senyumnya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...