
Qiao Li membalasnya dan dengan jurus meringankan tubuhnya, dia dengan cepat meninggalkan perkampungan itu.
Hutan dan persawahan telah dilalui oleh Qiao Li, tapi gadis itu belum juga menemukan keberadaan saudaranya Ju long.
"Kemana perginya Kakak Long? Desa ini sepertinya dekat dengan perbatasan gurun pasir?" gumam dalam hati Qiao Li yang menebarkan pandangannya ke sekitar perkampungan yang ada di sekitarnya.
"Ah, sebaiknya aku cari makan dulu. Perasaan di desa ini ada rumah makan yang menyediakan menu makanan yang enak, coba aku telusuri tempat ini!" gumam dalam hati Qiao Li yang menyusuri jalan diantara rumah-rumah penduduk di sekitarnya.
"Oh, itu dia rumah makannya!" seru Qiao Li yang mempercepat langkahnya menuju ke rumah makan yang sudah ada di hadapannya.
Begitu ramai situasi saat ini di rumah makan itu. Qiao Li dengan sabar menanti para pelanggan yang sudah selesai makan dan meninggalkan restoran.
Tak berapa lama akhirnya gadis yang masih menyamar laki-laki itu memperoleh tempat duduk dan seorang pelayan restoran melayani gadis tersebut.
"Tuan, anda mau makan menu apa?" tanya pelayan itu dengan ramah.
"Satu porsi ayam panggang!" jawab Qiao Li seraya mengulas senyumnya.
"Minumnya apa tuan?" tanya pelayan itu seraya menatap Qiao Li.
"Air putih saja." ucap Qiao Li yang membuat pelayan itu heran.
"Tuan kami ada arak terbaik, apa anda tidak mencobanya?" tanya pelayan itu tetap dengan ramah.
"Terima kasih, tapi saya tidak minum arak!" jawab Qiao Li dengan mengulas senyumnya.
"Oh, baiklah kalau begitu mohon tunggu sebentar. Pesanan akan kami sediakan dengan segera." ucap pelayan itu yang kemudian meninggalkan Qiao Li setelah gadis itu menganggukkan kepalanya.
Qiao Li menebarkan pandangannya, bermacam-macam orang yang sedang makan di warung makan itu.
Dan dari pakaian, mereka diketahui dari bermacam-macam golongan dan perguruan.
Banyak informasi dan candaan yang terdengar oleh Qiao Li, dan tak berapa lama pelayan menghidangkan makanan pesanan Qiao Li.
Gadis itu yang sedang kelaparan, melahapnya dengan lahapnya. Dalam sekejap saja ayam panggang dihadapan Qiao Li habis seketika itu juga.
Setelah selesai makan, Qiao Li segera membayar makanannya pada kasir warung makan itu.
Kemudian gadis itu melangkahkan kakinya keluar dari rumah makan itu.
__ADS_1
Namun baru saja hendak melangkahkan kakinya, tiba-tiba telinganya mendengarkan sesuatu yang membuatnya penasaran.
"Eh, tahu tidak!'" seru orang pertama.
"Apa?" tanya orang kedua yang sedang makan ayam panggang di tangannya.
"Penginapan pintu naga di serang pemuda yang katanya baru turun dari puncak kawah gunung Naga!" seru orang pertama.
"Padahal penginapan itu baru saja berdiri setelah sebelumnya bernama penginapan mawar gurun yang terbakar habis waktu itu!" ucap Orang yang ketiga.
"Iya, dan penginapan yang saat ini bagiku masakannya lebih enak dari penginapan sebelum terbakar!" seru orang kedua yang menatap orang dihadapannya satu persatu.
"Siapa pemuda itu ya? kenapa dia mengobrak-abrik penginapan pintu naga? apa ada hubungannya dengan orang-orang yang ada di penginapan pintu naga itu?" tanya orang pertama.
"Apa? seorang pemuda yang katanya baru turun dari puncak kawah gunung Naga! apakah pemuda itu Kakak Long?" gumam dalam hati Qiao Li yang masih mendengarkan ketiga orang itu yang sedang berbincang-bincang itu.
"Ah, siapapun pemuda itu yang jelas dia sedang mengobrak-abrik penginapan pintu naga! Hal ini tak bisa di biarkan, aku harus segera ke penginapan pintu naga sekarang juga!" seru dalam hati Qiao Li yang mempercepat langkahnya keluar dari warung makan itu.
Dengan jurus eeingankan tubuh dengan dibantu jurus pengendalian udaranya, Qiao Li terus melesat menuju ke arah gurun pasir yang tinggal beberapa langkah dari hadapannya.
"Hopp hiaaat...!"
"Nampaknya akan ada badai gurun!" ucap Qiao Li yang melihat ke arah langit dan kemudian ke sekitarnya.
"Aku harus mempercepat langkahku, lebih baik aku gunakan kembali jurus pengendalian angin. Agar lebih cepat sampai ke penginapan pintu naga!" gumam dalam hati Qiao Li yang sedang melambaikan kedua tangannya seperti gerakan menari mengikuti arah angin.
Gerakan angin itu membuat pusaran kecil yang kemudian membawa Qiao Li melayang menuju ke tengah gurun pasir.
Dan akhirnya dia sampai di halaman penginapan Pintu Naga.
Nampaklah seorang pemuda yang sedang berhadapan dengan Patriak Feng, Patriak An, Xin Xin (Ibunda Qiao Li( dan Fang Chen (ayahanda Qiao Li).
"Benar dugaanku, itu kak Ju long!" seru dalam hati Qiao Li yang memperhatikan pertarungan itu.
"Xin'er! mau lari kemana lagi kamu! kamu itu milikku, jangan lari lagi!" seru pemuda yang memang itu Ju Long.
"Long'er, sadarlah! aku ini ibumu dan ini ayahmu! Jadi hormatilah kami sebagai orang tua kamu!" seru Xin Xin yang bingung menghadapi Ju long, apalagi saat ini Pedang Azuya tak ada pada dirinya.
"Aku tak percaya kalau kamu ibuku! kamu harus ikut denganku, kita kembali ke gunung Naga!" seru Ju long geram karena Xin Xin menolak permintaannya.
__ADS_1
"Dasar anak tak tahu diri!" seru Fang Chen yang geram.
"Kamu kalau memang suami Xin Xin, aku menantangmu untuk bertarung satu lawan satu!" seru Ju long yang menatap wajah Fang Chen dengan tajam.
"Oya, aku akan memberimu pelajaran anak muda!" seru Fang chen.
"Silahkan!" ucap Ju long dengan tersenyum sinis.
Adu jurus ayah dengan anak itu pun terjadi, dan untuk adu jurus tangan kosong hasil dari keduanya adalah seri.
Dan Ju long terpancing emosinya untuk mengeluarkan pedang Naga Apinya.
"Pedang Naga Api!" seru Ju long memanggil pedng kesayangannya.
Fang Chen dan Xin Xin saling pandang, kemudian keduanya meminjam pedang pada Patriak An dan juga Hua Tian.
Dan keduanya telah bersiap melawan Ju long. Adu jurus pedang itu terjadi dengan sangat dahsyatnya.
"Ha... ha... ha....!" kalian berdua melawanku hanya dengan sepasang pedang biasa saja! apa tak sayang dengan nyawa kalian?" seru Ju long dengan tawa yang merasa dirinya akan menang.
"Kita lihat saja anak muda!" seru Fang Chen dengan geram.
"Suamiku, apa kamu yakin akan melawan putra kamu sendiri dengan jurus pedang sepasang?'' tanya Xin Xin yang mengkhawatirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Apa boleh buat, dari pada anak kita ini membuat celaka orang lain lebih baik kita beri pelajaran padanya!" jawab Fang Che yang sebenarnya agak ragu.
Fang Chen dan Xin Xin menyerang Ju long dengan jurus pedang sepasang andalan keduanya pada saat di jamannya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1