Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Pedang Azuya dan Pedang Naga Kembali Beradu


__ADS_3

Setelah sampai di tengah desa, Qiao Li dan juga siluman macan putih menghentikan langkah mereka. Keduanya menebarkan pandangan mata mereka ke sekitarnya.


"Hei siapa kalian! berani-beraninya mencari perkara!" seru salah satu orang dari anggota sekte Sanca kembang itu yang melangkahkan kakinya maju dan saling berhadapan dengan Qiao Li.


"Aku hanya orang biasa yang mau mengambil kembali milik kami dari kalian!" jawab Qiao Li yang juga berseru.


"Apa maksud kamu, aku tidak mengerti!" seru laki-laki itu dengan penasaran.


"Bukankah desa bambu kuning ini adalah terdapatnya perguruan Bambu kuning?" tanya Qiao yang menebarkan pandangannya ke sekitarnya dan dia melihat bangunan-bangunan di perguruan Bambu kuning itu masih sama dengan yang pernah dia jumpai sebelumnya.


"Ha...ha....! sekarang tempat ini menjadi milik kami, tak akan ada lagi sejarah tentang sekte bambu kuning!" seru laki-laki itu dengan girangnya.


"Oh begitu ya! Bagaimana jika aku akan merebutnya kembali, dan membalikkan ucapan kamu! akan aku hapus sekte Sanca kembang dari sejarah!" seru Qiao Li dengan lantang.


"Beraninya kau bocah! lawan kami terlebih dahulu!" seru laki-laki itu dengan geram dan bersiap melawan Qiao Li.


"Aku tidak mau berurusan dengan kalian! tapi kalau kalian memaksa, baiklah akan aku lawan kalian semuanya! jadi majulah kalian!" seru Qiao Li seraya mengarahkan pandangannya pada anggota sekte Sanca kembang yang telah mengelilinginya.


"Sombong sekali, baiklah kalau itu mau kamu! serang dia!" seru laki-laki yang sedari tadi berbicara dengan Qiao Li.


"Serang...!" seru semua anggota yang mengikuti aba-aba dari laki-laki yang memberi komando mereka.


Dengan menggunakan kembali jurus pengendalian anginnya, Qiao Li menghempaskan semua anggota sekte Sanca kembang hanya dalal satu hempasan.


"Aaah...!"


Semua anggota sekte Sanca kembang itu terhempas ke belakang dengan kerasnya.


"Kurang ajar! pantas sekali kamu menantang kami semuanya!" gerutu laki-laki yang berbicara dengan Qiao Li sedari tadi.


Laki-laki itu mengeluarkan pedangnya dan bersiap menyerang Qiao Li.


"Rasakan ini!" seru laki-laki itu yang sudah mengayunkan pedangnya ke arah Qiao Li.


Dengan santai Qiao Li membuat gerakan mendorong laki-laki itu dan tanpa disadari oleh laki-laki itu, dirinya terpelanting jauh ke belakang dan menubruk dinding bangunan disekitarnya.


"Aaagh...!" Laki-laki itu mengerang kesakitan.


"Bukankah tadi sudah aku bilang kalau aku tidak ada urusan dengan kalian. Karena kalian sendiri yang memintanya, ya dengan terpaksalah kalian merasakan hembusan angin dari jurusku!" seru Qiao Li sambil mengulas senyumnya.


"Hopp hiaaat....!"


Tiba-tiba saja dari arah aula perguruan, muncullah seorang laki-laki yang lumayan tampan yang bersalto sampai dihadapan Qiao Li.


"Siapa kau bocah! beraninya memporak-porandakan perguruan yang susah payah aku rebut ini!" seru laki-laki itu dengan geramnya.

__ADS_1


"Buat apa kamu tahu namaku, aku hanya orang biasa saja yang tak punya prestasi!" balas Qiao Li yang tak mau menunjukkan identitas aslinya.


"Kurang ajar kau! rasakan ini!" seru laki-laki itu yang bersiap dengan jurusnya. Dari tangannya mengeluarkan api, dan api itu mengarah pada Qiao Li.


"Jurus pengendali api! bukankah hanya kak Ju Long yang memilikinya?" tanya dalam hati Qiao Li yang kemudian mengeluarkan jurus pengendalian anginnya untuk menandingi jurus pengendalian Api milik laki-laki yang ada dihadapannya itu.


"Brrr....!"


Jurus pengendalian angin Qiao li tidak dapat menandingi jurus pengendalian api. Malah jurus itu membuat api itu semakin membesar.


"Hua...ha....ha....! hanya seperti ini jurus yang kamu miliki!" seru laki-laki itu yang tak lain adalah Bing Wen, suami Kwee hu.


Qiao Li menarik nafas dan mengeluarkannya secara pelan-pelan, dia mengubah jurusnya dari pengendali angin menjadi jurus pengendali air.


"Kejahatan dilawan dengan kebaikan, api dilawan dengan air!" gumam Qiao Li yang tangannya seperti menari dan menarik air sungai kuning yang ada didekat mereka.


Qiao Li membuat air itu menjadi ombak dan akhirnya menjadi bola air yang lumayan besar dan siap untuk dia lemparkan ke lawannya.


"Apa! ternyata kamu juga mempunyai jurus pengendalian air! seru Bing Wen yang terkejut.


"Bersiaplah!" seru Qiao Li yang kemudian melempar bola air seperti orang yang sedang memukul bola dalam permainan bola voli.


"Hopp hiaaat!" seru Qiao Li yang sudah melempar bola air itu.


"Cless...!" dan api yang ada di tangan Bing Wen mendadak mati dan tangan Bing Wen mengeluarkan asap tipis.


"Kurang ajar! kau membuatku mandi dua kali!" seru Bing Wen yang geram.


"Heh....he...he...!"


Gelak tawa Siluman macan putih yang sedari tadi menjadi penonton perseteruan itu.


"Pedang Naga!"


Bing Wen mengeluarkan pedang yang kemarin selalu dibawa oleh Ju long.


"Jadi pedang Naga ditemukan oleh Bing Wen!" gumam dalam hati Qiao Li yang dengan serius memperhatikan Pedang yang di pegang oleh Bing Wen.


"Kenapa kamu diam? apa kamu sudah tahu kehebatan pedang Naga ini?" tanya Bing Wen dengan mengulas senyum tipisnya.


"Ketua Sanca kembang itu harus di jauhkan dari pedang naga api itu! iya, aku harus merebut pedang itu!'' gumam dalam hati Qiao Li yang bersiap ke tengah pertarungan.


"Hop hiaaat....!"


"Pedang Azuya!" panggil Qiao Li dan seketika itu juga muncul pedang Azuya di tangan gadis itu.

__ADS_1


"Pedang Azuya? jadi kau pendekar bercadar itu!" seru Bing Wen yang geram karena tempo hari usahanya selalu digagalkan oleh pendekar bercadar, yang kala itu Xin Xin ibu Qiao Li lah yang menjadi pendekar bercadar.


"Memang aku pendekar bercadar, ada masalah apa kamu denganku sebelumnya?" tanya Qiao Li yang mencoba mengorek permasalahan Bing Wen dengan ibundanya.


"Ah, pura-pura tak tahu kau ya!" seru Bing Wen yang sudah bersiap dengan pedang naga apinya.


Bing Wen terus menyerang Qiao Li dengan pedang Naga-nya dan Qiao Li berusaha menangkis setiap serangan Bing Wen dengan pedang Azuya pemberian ibunya.


"Hopp hiaaat...!"


"Trang.... Trang... Trang.... Trang...!"


"Trang.... Trang... Trang.... Trang...!"


"Trang.... Trang... Trang.... Trang...!"


Dan pertempuran itu terus berlangsung hingga menjauhi arena pertempuran yang ada di tengah desa bambu kuning itu.


Kedua pedang itu terus beradu dan belum ada yang mengalahkan maupun terkalahkan.


Tanpa terasa hari telah berganti malam, pertempuran mereka di desa Bambu Kuning. Dan keduanya sudah mulai kehabisan tenaga.


"Wuzzzz...!"


Hawa dingin dari hembusan angin di lembah sungai kuning mulai merasuk ke tulang-tulang mereka.


Mereka yang tidak ada persiapan memakai pakaian tebal, gemetaran karena tak kuasa menahan dinginnya angin malam di lembah sungai Kuning.


"Wuzzz...!"


Kembali hembusan angin itu menyelimuti mereka. Tiba-tiba telapak tangan Bing Wen mengeluarkan api.


Perlahan-lahan api tersebut menyelimuti tubuh laki-laki suami dari ketua sekte Salju Abadi itu.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2