
Setelah selesai sarapan dan membereskan peralatan makan, mereka segera menyiapkan bekal untuk perjalanan mereka nanti.
Kemudian mereka bergegas meninggalkan gubuk samping air terjun.
"Tujuan kita berarti ke sungai lembah kuning ya? " tanya Xin Xin saat dalam perjalanan mereka.
"Iya, Bu" Jawa Qiao Li saat mensejajarkan langkahnya pada Ibu dan pamannya.
"Lihatlah kita sudah sampai di tepi jalan perbatasan!" ucap Chiang Yi seraya menunjuk ke arah yang di maksudkan.
"Kita tanya penduduk, arah ke Sungai Lembah Kuning." ucap Xin Xin.
"Iya biar aku yang mencari tahu. Kalian tunggu di bawah pohon di sana itu." ucap Chiang Yi seraya menunjuk ke arah pohon yang berdaun lebat, yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Baik paman!" ucap Qiao Li.
"Baik kakak Yi" ucap Xin Xin.
Chiang Yi melangkahkan kakinya masuk ke perkampungan dan meninggalkan Qiao Li dan Xin Xin yang beristirahat di bawah pohon itu.
"Li'er, nanti kalau ada waktu ibu mau mengajari kamu ilmu pedang. Selama ini kan ibu baru mengajari kamu tangan kosong" kata Xin Xin seraya duduk di atas akar pohon yang menyembul.
"Benarkah itu Bu? Li'er sangat berharap sekali." ucap Qiao Li seraya mengulas senyumnya.
"Ngomong-ngomong kenapa Kakak Yi lama sekali ya?" tanya Xin Xin yang merasa aneh.
"Sebaiknya kita susul saja!' pinta Qiao Li yang juga penasaran, dengan apa yang terjadi pada paman Yi.
Keduanya kemudian melangkahkan kakinya menuju ke perkampungan.
Pada saat mereka masuk ke gerbang perkampungan, nampak bendera berlambangkan Kalajengking merah yang dibawa sebagian orang.
Mereka seperti mengumpulkan para penduduk dan akan membawa sebagian dari mereka ke suatu tempat.
"Apakah mereka akan dibawa ke Istana seperti yang lainya?" tanya lirih Xin Xin yang di dengar oleh Qiao Li.
"Ke istana, kenapa banyak orang yang mengirim orang ke istana?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Setahu ibu, Raja di yang sekarang ini doyan main wanita. Dia sudah punya satu permaisuri dan satu selir utama, yang selir bayangannya pun tak terhitung jumlahnya. Belum lagi dayang yang berparas cantik pun di jadikan selir juga sama Raja itu!" jelas Xin Xin yang mengajak Qiao Li sembunyi karena ada beberapa anggota sekte kalajengking Merah yang berkeliling.
"Terus paman Yi ada dimana ya Bu?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Dia pasti sedang mengawasi keadaan. Kamu di sini, ibu akan menghadapi mereka." ucap Xin Xin yang kemudian mengeluarkan cadarnya.
"Iya Bu! " ucap Qiao Li yang mengawasi Ibunya dengan seksama.
Xin Xin mengkahkan kaki dan kemudian bersalto sampai di antara anggota Sekte kala jengking dan juga para penduduk yang hampir semuanya duduk berjongkok.
"Bolehkah aku ikut campur?":tanya Xin Xin dengan menatap ke arah Anggota sekte kalajengking merah dengan tatapan yang tajam.
"Kau pendekar bercadar!' seru salah satu dari dua puluh anggota sekte kalajengking merah itu.
"Baguslah jika kalian sudah mengenalku. Sekarang aku mau tanya, kalian mau apa dengan para penduduk ini!" seru Xin xin tetap dalam posisinya.
"Kau tak perlu tahu dengan urusan kami, kepung dia!" seru anggota sekte kalajengking merah yang berbicara tadi.
Anggota sekte kalajengking merah lainnya pun menuruti apa yang di seruannya, yaitu dua puluh orang itu mengepung Xin Xin.
__ADS_1
"Boummm.... boummm... boummm.!"
"Boummm.... boummm... boummm.!"
Terdengar bunyi ledakan dari arah selatan dimana Xin Xin berdiri.
"Itu pasti kak Chiang Yi?" batin Xin Xin yang kemudian menyerang mengeluarkan pedang Azuya-nya.
"Pedang Azuya!"
Pedang itu seketika muncul di tangan Xin Xin.
Dan Xin Xin menyerang dua puluh orang itu secara bergantian.
"Hop hiaaat..!'
"Traang... Trannng... Trang... traang..!"
"Traang... Trannng... Trang... traang..!"
"Traang... Trannng... Trang... traang..!"
"Sreet... sreet... sreet...!"
Tiga orang tergores pedang Azuya di dada, lengan dan leher mereka.
Hal itu terulang kembali.
"Hop hiaaat..!'
"Traang... Trannng... Trang... traang..!"
"Traang... Trannng... Trang... traang..!"
"Sreet... sreet... sreet...!"
"Hop hiaaat..!'
"Traang... Trannng... Trang... traang..!"
"Traang... Trannng... Trang... traang..!"
"Jlebb.... jlebb...jlebb..!"
Tiga orang tersayat dan tiga orang lagi terhunus pendang Azuya.
"Ah, tinggal sebelas orang lagi, aku akan coba bantu ibu. Sekalian aku akan mengasah ilmu pemindah Energy!" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian dia setengah berlari menghampiri arena pertempuran.
"Li'er!" panggil Xin Xin yang sedikit khawatir akan putrinya.
"Jangan membuatku jadi anak manja Bu! Li'er kan punya kampuan, jadi akan Li'er asah kemampuan Li'er!" seru Qiao Li yang sudah bersiap siaga.
Xin Xin mencoba untuk tersenyum untuk memberi semangat pada putrinya, walaupu sakit yang dirasakannya saat ini.
"Hei tuan-tuan! hadapi aku!" seru Qiao Li dengan mengumpulan keberaniannya.
"Bocah ingusan, mau apa kau ke sini!"
__ADS_1
Seru salah satu anggota kalajengkin merah itu.
"Aku cuma ingin belajar beladiri dari kalian, itu saja!" ucap Qiao Li yang bersiap menyerang dengan tangan kosong.
Dua orang anggota sekte kalajengking merah menyerang Qiao
"Hop hiaat...!"
"Bagh... bugh..bagh... bugh..!"
"Aagrhh...!"
"Bagh... bugh..bagh... bugh..!"
"Aagrhh...!"
Dua orang anggota sekte Kalajengking Merah itu pun terkapar di tangan Qiao Li.
Sementara itu sisa sembilan orang anggota sekte anggota kalajengking merah, telah terkapar dengan luka hunusan pedang Azuya di dada mereka.
"Ini pelajaran buat kalian, jangan menyusahkan rakyat kecil, kalau tidak kalian akan menghadapi Pendekar bercadar!" seru Xin Xin seraya melihat ke anggota sekte Kalajengking Merah yang terkapar di hadapannya.
"Ibu!" panggil Qiao Li yang menghampiri Xin Xin.
"Li'er, kamu lumayan juga!" ucap Xin Xin sembari tersenyum dan Li'er pun ikut tersenyum
"Ayo kita kesana!" ajak Xin Xin seraya menunjuk ke arah ledakan-ledakan yang bersinar kuning itu.
"Apakah paman Yi?" tanya Qiao Li menebak.
"Iya, paman Yi ada di sana!" jawab Xin Xin.
Kemudian mereka melangkahkan kaki mencari keberadaan Chiang Yi dengan menyusuri sinar dan suara dentuman yang tiba-tiba menghilang.
Dan tibalah dia di tempat dimana Chiang Yi telah mengalahkan puluhan anggota Sekte kalajengking merah.
Qiao Li dan Xin Xin melangkahkan kaki mendekati Chiang yi.
Tapi ternyata Chiang Yi menghampiri sebuah kereta kuda dan masuk ke dalam kereta kuda itu.
Dia menemukan sebuah kotak harta hasil rampokan anggota sekte kalajengking merah.
"Kakak Yi..!" panggil Xin Xin.
"Paman Yi, paman sedang apa?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Hey, aku aku menemukan ini!' jawab Chiang Yi sumringah.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...