
Dengan cepat Qiao Li mengambil bola itu dan langsung memasukkannya dalam cincin penyimpanan bermata biru miliknya, yang selalu dia pakai di jari manis sebelah kiri Qiao Li.
"Siapa kau!" seru seorang laki-laki yang mengumpulkan dan memimpin anggota sekte serigala hitam yang tersisa.
"Ma'af biar saya simpan saja dulu batu telur naganya, sementara kalian berkonsentrasi membangun kembali perguruan serigala hitam ini!" seru Qiao Li yang menyamar memakai pakaian laki-laki dihadapan semua anggota sekte serigala hitam yang tersisa.
"Usul kamu boleh juga, tapi yang menjadi ketua disini adalah aku! Jadi akulah yang berhak menyimpannya!" seru pemimpin mereka itu dengan geram.
"Terserah! yang terpenting sekaran batu telur naga itu aman bersamaku!" seru Qiao Li dengan mengulas senyum kemenangannya.
"Kurang ajar! kembalikan batu telur naga itu!" seru pemimpin sekte serigala yang tersisa itu dengan dibarengi sikap yang siap menyerangnya.
"Oh, coba saja kau ambil dariku kalau kau bisa!" seru Qiao Li yang juga sudah bersiap diri dengan beberapa kerikil di setiap ruas jarinya.
"Apa yang kamu bawa itu?" tanya pemimpin sekte serigala hitam yang tersisa itu.
"Ha...ha...ha...!" laki-laki itu tertawa dengan terpingkal-pingkal dan diikuti oleh anggota sekte serigala yang lainnya.
"Kerikil? ha...ha...ha...!" celetuk beberapa anggota sekte serigala hitam itu yang tertawa dengan riuhnya.
Qiao Li mengulas senyumnya, dan dia bersiap untuk melemparkan semua kerikil-kerikil yang ada di setiap ruas jarinya ke arah para anggota sekte serigala hitam, yang tertawa terpingkal-pingkal. Seolah mengejek apa yang Qiao Li lakukan dengan kerikil-kelikil itu.
"Hopp hiaaaat....!"
"Takk...! takk...! takk....!"
"Aaagh...! Aaaghh..!"
Tiga kerikil yang dilempar oleh Qiao Li dua diantaranya tepat masuk ke tenggorokan Pemimpin sekte serigala hitam itu dan satu orang anggota serigala hitam yang tadi menertawainya dengan keras.
Sementara kerikil yang satunya mengenai dahi anggota sekte serigala hitam yang berada disamping anggota sekte serigala hitam yang terkena kerikil lemparan Qiao Li tepat di tenggorokannya itu.
"Apa!" suara terkejut semua anggota sekte serigala hitam yang melihat pemimpin serta dua temannya yang terkena kerikil-kerikil yang dilemparkan Qiao Li.
"Siapa kau?" tanya salah satu anggota sekte serigala hitam yang berani maju karena penasaran dengan orang yang mengalahkan pemimpin mereka.
"Aku? aku ya aku!" jawab Qiao Li dengan mengulas senyumnya.
"Kurang ajar! kita serang dia bersamaan!" seru laki-laki itu yang mengkomando para anggota sekte serigala hitam lainnya.
Mereka beramai-ramai menyerang Qiao Li. Dan gadis itu tak gentar menghadapi mereka, dilemparkannya beberapa kerikil yang tersisa kearah lawannya.
"Hopp hiaaaat....!"
"Takk...! takk...! takk....!"
"Aaagh...! Aaaghh..!"
Keriki-kerikil itu mengenai beberapa orang penyerangnya.
"Hopp hiaaaat....!"
__ADS_1
"Takk...! takk...! takk....!"
"Aaagh...! Aaaghh..!"
Dan lagi dan lagi, lawannya pun sudah berkurang banyak.
Qiao Li kehabisan kerikilnya, dan lawannya masih lumayan banyak yang siap menyerangnya.
"Kerikilnya sudah habis! seraaaang!" seru salah satu dari anggota sekte serigala hitam itu.
"Nampaknya pedang Azuya harus tampil!" seru dalam hati Qiao Li yang kemudian mengeluarkan pedang kesayangannya.
"Pedang Azuya!"
Seru Qiao Li yang membuat para anggota sekte serigala hitam yang semula beringas mau menyerang Qiao Li, kini berhenti seketika saat melihat Pedang Azuya di tangan Qiao Li.
"Apa! apa dia perempuan itu!" seru beberapa anggota sekte serigala hitam itu, mereka mengira Qiao Li adalah pendekar bercadar yaitu Xin Xin ibu Qiao Li.
"Kenapa dia jadi laki-laki?" tanya para anggota sekte serigala hitam itu dengan rasa penasaran mereka.
"Jangan banyak pikiran! rasakan ini!" seru Qiao Li yang dengan pedang Azuya, menyerang para anggota sekte serigala hitam itu.
Bunyi pedang yang beradu itu pun terdengar dengan nyaring.
"Hopp hiaaat...!"
"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"
"Sreet...Sreet...!"
"Aaaghh...! Aaagh...!"
Darah segar menempel di pedang Azuya, namun dengan cepat pedang itu bersih kembali tanpa noda darah yang semula menempelnya.
Kembali pertarungan itu berlangsung dengan sengit.
"Hopp hiaaaat....!"
"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"
"Sreet...Sreet...!"
"Aaaghh...! Aaagh...!"
Kembali korban berjatuhan dari pihak Sekte serigala hitam dan rata-rata mereka terkena sayatan dari pedang Azuya.
Dan kini tinggalah beberapa orang saja, yang hampir semuanya ketakutan melihat teman-temannya yang sudah tak berdaya karena pedang Azuya,
"Menyerahlah kalian, setahkan penawar racun kalian dan juga serahkan satu kereta kuda yang paling bagus buat saya!" seru Qiao Li dengan posisi mengarahkan pedang Azuya ke arah para anggota sekte serigala hitam yang tersisa.
"Kau mau merampok kami rupanya!" seru salah satu anggota sekte serigala hitam itu dengan geram.
__ADS_1
"Kalian pilih harta apa nyawa kalian!" seru Qiao Li dengan tajam mengarah ke semua anggota sekte serigala hitam yang tersisa itu.
"Kurang ajar! tidak akan kami berikan sampai titik darah penghabisan kami!" seru satu orang anggota sekte serigala itu dengan geram.
Hanya beberapa orang saja yang menyerang Qiao Li, dan sebagian lainnya angkat kaki perlahan-lahan meninggalkan perguruan serigala hitam itu.
Kembali bunyi pedang yang beradu itu pun terdengar dengan nyaring.
"Hopp hiaaat...!"
"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"
"Sreet...Sreet...!"
"Aaaghh...! Aaagh...!"
Satu persatu dari mereka berjatuhan, dan akhirnya tak ada lagi lawan yang menyerang Qiao Li.
"Seharusnya kalian memenuhi permintaanku tadi, dan kalian bisa selamat! tidak akan jadi seperti ini!" seru Qiao Li yang kemudian dia mencari penawar racun di saku pakaian para anggota sekte serigala hitam itu.
Setelah beberapa lama mencari, akhirnya dia menemukan penawar racun itu di saku pakaian pemimpin mereka yang sebelumnya telah terkapar karena terkena kerikil dari Qiao Li.
Kemudian Qiao Li mencari kereta kuda yang masih layak untuk dia naiki.
"Kuda, ikutlah denganku ya!'' ucap Qiao Li seraya membelai lembut leher kuda dari kereta kuda yang akan dia naiki.
Setelah naik kereta kuda itu, Qiao Li mengendalikan kereta kuda tersebut ke arah dimana Patriak An dan yang lainnya berada.
Gadis itu terus menyusuri jalan yang sebelumnya dia lewati bersama Patriak An dan yang lainnya.
Tak berapa lama, dia telah sampai di aliran sungai yang searah dengan keberadaaan Patriak An dan yang lainnya.
Qiao Li menghentikan kereta kudanya saya sudah sampai di samping Patriak An dan yang lainnya beristirahat.
"Patriak!" panggil Qiao Li yang kemudian turun dari kereta kuda yang dia kendalikan itu.
"Li'er...!" balas Patriak An dengan rasa penasarannya.
"Li'er, dari mana saja kamu! kami mencarimu sedari tadi!" seru Chen Kun yang sebenarnya sedikit kesal, namun juga lega karena Qiao Li tak apa-apa.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1