
"Nek, malam-malam kenapa ada tamu?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Dugaan nenek, itu pasti salah satu sepasang pendekar bercadar!" nenek Wan yang menebak.
Kemudian nenek Wan itu melangkahkan kakinya untuk membukakan pintunya.
"Salah satu pendekar bercadar?" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian mengikuti nenek Wan di belakangnya.
Saat nenek Wan membuka pintu, tak ada seorangpun disana.
Nenek Wan itu kemudian melihat ke lantai, dan di atas lantai itu ada satu kantung kain berwarna coklat.
Kemudian nenek Wan pun mengambilnya dan menutup pintunya dari dalam.
"Benar dugaanku, salah satu dari pendekar bercadar itu." ucap nenek Wan yang kemudian membuka kantung kain yang berwarna coklat itu.
"Maksud nenek, ini pemberian sepasang pendekar bercadar itu?'tanya Qiao Li yang penasaran
"Iya, dan lihatlah! mereka membagi-bagikan beberapa keping uang emas!" seru Nenek Wan yang membuka dan melihat isi kantong coklat yang ada di tangannya.
"Iya benar nek! mulia sekali hati mereka!" ucap Qiao Li yang semakin penasaran.
"Nek, Li'er pergi sebentar ya!" pamit Qiao Li saat si Nenek Wan sedang sibuk menghitung jumlah kepingan uang emas itu.
"Oh iya, hati-hati ya!' ucap si nenek tanpa memperhatikan Qiao Li.
Qiao Li keluar dari rumah nenek Wan dan melangkahkan kakinya sampai di halaman nenek Wan.
"Aku mencari mereka di mulai dari mana ya?" gumam Qiao Li yang terik melangkahkan kakinya.
Setelah sampai di perkampungan, sayup-sayup Qiao Li mendengar suara ketukan pintu.
"Tokk...tokk...tokk...!!"
"Suara itu dari arah barat, benar dari arah barat!" gumam Qiao Li dalam hati dan terus mempertajam pendengarannya.
Qiao Li melangkahkan kakinya mengikuti suara ketukan pintu itu
Tak berapa lama, Qiao Li melihat dua bayangan yang mereka satu persatu mengetuk pintu serta meletakkan kantong kain berwarna coklat di depan pintu warga.
"Ah, itu mereka!" seru dalam hati Qiao Li yang kemudian dengan mengendap-endap mengejar bayangan hitam itu.
Qiao Li gadis yang berusia empat belas tahun yang penasaran dengan sesosok sepasang pendekar bercadar itu.
Saat ini dia berada di sepanjang jalan yang sepi mengikuti kedua pendekar bercadar itu.
Tiba-tiba Qiao Li melihat dari kejauhan sepasang pendekar bercadar itu di hadang oleh segerombolan pasukan kerajaan.
"Berhenti!" seru seorang pemimpin pasukan kerajaan itu.
"Kenapa kalian menyuruh kami berhenti?" tanya pendekar laki-laki yang bercadar itu.
"Kalian adalah buronan yang harus kami tangkap!" jawab pemimpin pasukan kerajaan itu.
"Apa buronan? apa kami melakukan kesalahan, hingga kami menjadi buronan?" tanya Pendekar Bercadar yang perempuan.
"Cihh, kalian merampok para pejabat dan para pengusaha! karena itulah kalian menjadi buronan."umpat pemimpin pasukan itu.
__ADS_1
"Itu salah mereka! kenapa mereka kaya dengan hasil uang rakyat? dan kenapa kalian semua mencekik rakyat dengan kebijakan-kebijakan yang memojokkan rakyat-rakyat miskin!" seru Pendekar Bercadar yang perempuan
"Tau apa kau dengan kami! kau memang layak di jadikan buronan!" seru pemimpin pasukan itu geram
"Oiya, coba saja kalau kalian mampu!" seru pendekar laki-laki bercadar yang sudah bersiap-siap dengan jurus-jurusnya.
"Biar aku yang meladeni mereka, kamu menepilah!" ucap pendekar bercadar yang laki-laki itu pada pendekar bercadar wanita.
"Baiklah!" balas pendekar bercadar wanita seraya menunduk sebentar dan kembali menengadah.
Sementara pendekar wanita yang bercadar itu kemudian menepi dan mengawasi situasi yang terjadi.
Para prajurit kerajaan itu mengepung pendekar laki-laki yang bercadar itu dengan senjata tombak mereka.
Pendekar laki-laki bercadar tetap dalam posisinya, namun kedua matanya yang terus mengamati pergerakan lawan-lawannya.
"Seraaaang...!" seru pemimpin pasukan kerajaan itu memberikan komando pada pasukannya.
Sementara pendekar laki-laki bercadar itu diam dengan keadaan kedua telapak tangan yang mengeluarkan bola-bola cahaya beewarna kuning.
Kemudian dia menghantamkan bola-bola cahaya itu ke arah lawan-lawannya.
"Boummm..!"
"Boumm....!"
"Aaaghh..!"
Boummm..!"
"Boumm....!"
"Aaargh..!"
Dan lagi-lagi pendekar laki-laki itu menggunakan jurus bola-bola cahaya warna kuning untuk menyerang lawan-kawannya.
Boummm..!"
"Boumm....!"
"Aaaghh..!"
Boummm..!"
"Boumm....!"
"Aaargh..!"
Lagi-lagi beberapa orang dari pasukan kerajaan terkapar seperti bola bowling yang menggelinding tepat pada sasarannya.
"Semuanya, mundur..!" seru pemimpin pasukan prajurit itu.
Dan semua pasukan prajurit yang menghadang mereka seketika Itu juga mundur karena merasakan mereka di posisi tersudut..
Sepasang pendekar bercadar itu tak memberi ampun, mereka kemudian mengejar pasukan yang kabur itu.
Qiao Li yang belum begitu tinggi kemampuan bela dirinya, tak mampu mengejar mereka.
__ADS_1
Namun gadis itu melihat dari kejauhan adanya cahaya berwarna kekuningan seperti kembang api.
"Mereka sudah sampai di sana, sayang sekali aku tak bisa menyusul mereka." keluh Qiao Li yang takjub saat melihat cahaya yang berwarna kuning itu meledak-ledak di kejauhan sana.
Gadis itu kemudian membalikkan badan dan kembali melangkahkan kakinya menuju ke gubuk nenek Wan.
Sesampainya di depan gubuk nenek Wan, ternyata nenek Wan duduk di depan gubuk.
"Nenek, kenapa nenek di luar?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Nenek khawatir dengan keadaan kamu Li'er!" ucap si nenek yabg kemudian bangkit dari duduknya.
"Li'er hanya jalan-jalan sebentar Nek!" ucap Qiao Li yang menghampiri Nenek Wan.
"Sebaiknya kita masuk!" ucap Nenek Wan.
"Iya, nek" balas Qiao Li dan mereka kemudian masuk ke gubuk dan menutupnya pintunya kembali.
"Apa kamu penasaran dengan sepasang pendekar bercadar itu?" tanya Nenek Wan yang penasaran.
"Iya nek, karena saya seperti mengenal salah satu diantara mereka" ucap Qiao Li yang duduk di atas tikar bersama nenek Wan.
"Pergilah ke Gunung Huang, nenek mendengar kabar kalau mereka tinggal di gunung Huang" ucap nenek Wan seraya menepuk-nepuk punggung tangan Qaio Li.
"Gunung Huang?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Iya, dan kamu juga harus hati-hati selama dalam perjalanan ke sana!" ucap nenek Wan yang kemudian meletakkan kantung coklat dari pendekar bercadar itu pada telapak tangan Qiao Li.
"I..ini untuk apa nek?' tanya Qiao Li yang penasaran.
"Untuk bekal kamu mencari sepasang pendekar bercadar itu!" jawab nenek Qiao Li seraya tersenyum.
"Tidak usah nek, saya sudah punya. Kantung coklat berserta isinya ini di berikan oleh sepasang pendekar bercadar untuk kepentingan nenek. Jadi sebaiknya nenek gunakan sebaik-baiknya ya!" ucap Qiao Li yang menyerahkan kembali kantong coklat beserta isinya pada nenek Wan.
"Tapi Li'er!" ucap nenek Wan yang belum tega.
"Benar nek, Li'er sudah mempunyainya." ucap Li'er.
"Kalau begitu ayo kita istirahat. Besok pagi kamu harus segera berangkat menuju ke Gunung Huang!" ucap Nenek Wan.
"Iya nek!" balas Qiao Li dan keduanya menuju ke tempat istirahat masing-masing.
📆Flashback Off.
"Dan keesokan harinya aku mencari ibu dan paman Yi." ucap Qiao Li dan Xin Xin mengusap kepala putrinya dengan lembut.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1