
"Pasti akan muncul pelangi yang indah setelah hujan badai melanda. Tetap akan ada cahaya setelah adanya kegelapan." ucap Qiao Li yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke penginapan pintu naga.
"Kalian bereskan semuanya, aku akan membersihkan diriku sebentar!" seru Qiao Li pada anggota sekte bambu kuning yang berada di teras penginapan pintu naga, untuk berteduh dari angin dan hujan yang baru saja terjadi.
"Baik Saudari Li!" jawab beberapa anggota sekte bambu Kuning yang kemudian mereka melangkahkan kaki membereskan sisa-sisa pertempuran.
"Kita apakan ketua sekte rambut putih yang sudah tak berdaya ini?" tanya salah satu anggota sekte bambu kuning yang saat ini berada disamping ketua sekte rambut putih yang terkapar tak berdaya itu.
"Sebaiknya kita satukan dengan yang kemarin, yaitu mengurus kuda di belakang! he..he...!" balas seru temannya yang berdiri tak jauh darinya.
" Wah, boleh juga! ha...ha...!" seru salah satu anggota sekte bambu kuning itu sembari tertawa terpingkal-pingkal.
Kemudian mereka membawa ketua sekte rambut putih itu menuju ke halaman belakang dan dipertemukan dengan anggota sekte rambut putih yang kemarin telah dilumpuhkan oleh Qiao Li.
Hari demi hari telah berlalu dan keadaan di penginapan Pintu naga, beraktifitas seperti biasanya. Dan roda ekonomi di penginapan pintu Naga berangsur-angsur membaik dan ada peningkatan tamu yang datang ke penginapan.
Dengan jurus mengendalikan airnya, Qiao Li membuat taman dan kebun di jalan sekitar penginapan serta air terjun mini. Yang semua hal itu mereka kira hanya impian saja, tapi karena Qiao Li lah yang mereka anggap sebagai mimpi itu menjadi kenyataan.
Beberapa hari kemudian di saat malam harinya, terlihat sesosok laki-laki yang berambut putih berjalan ke halaman dan beberapa detik kemudian menatap ke arah penginapan pintu naga.
Sesosok laki-laki tersebut yang tak lain adalah ketua sekte rambut putih , yang dalam pikirannya nampak memikirkan sesuatu.
Berkali-kali dia membuang nafasnya dengan kasar. Hal itu diketahui oleh Qiao Li yang memperhatikannya dengan seksama.
"Apa yang dilakukan ketua sekte rambut putih itu?" tanya dalam hati Qiao Li yang penasaran.
Kemudian gadis itu melangkahkan kaki perlahan-lahan menghampiri ketua sekte Rambut putih itu.
"Apa kang anda lakukan ketua?'' tanya Qiao Li pada ketua sekte rambut putih, saat sudah berada disamping laki-laki berambut putih itu.
"Sedang merindukan seseorang saudari Li!" jawab ketua sekte Rambut putih itu yang menghela nafasnya panjang.
"Merindukan seseorang?" tanya iao Li yang penasaran.
"Iya merindukan seseorang." jawab Ketua sekte rambut putih itu yang yang membenarkan jawabannya.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, siapakah yang anda rindukan ketua?" tanya Qiao Li yang semakin penasaran.
"Pemilik penginapan ini sebelumnya!" jawab laki-laki itu yang menatap kosong pintu penginapan pintu naga.
"Maksud anda, bibi Daiyu?" ucap Qiao Li yang mencoba menebak.
"Iya, wanita itu benrana Daiyu!" jawab Ketua sekte rambut putih itu seraya menoleh ke arah Qiao Li.
"Bolehkah saya tahu ketua, apa hubungan ketua dengan bibi Daiyu?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Kami sepasang suami istri, yang dulu tak direstui orang tua Daiyu. Kedua orang tua Daiyu memisahkan kami, karena ada dendam antara orang tua Daiyu dengan ketua sekte rambut putih sebelumnya. Dan waktu itu aku bertekad mau belajar beladiri dan mengambil alih posisi ketua sekte rambut putih. Yang tujuannya untuk membalaskan sakit hati orang tua Daiyu." jelas ketua sekte rambut putih tersebut dengan menarik nafasnya panjang.
"Jadi ketua adalah suami bibi Daiyu?" tanya Qiao Li yang memastikannya.
"Iya, dan aku rindu padanya saat ini. Karena itulah aku kemarin mengutus anggota sekte rambut putih untuk mencari informasi tentang penginapan ini. Untuk mengetahui secara pasti keberadaan Daiyu." jelas Ketua sekte rambut putih itu yang menatap wajah Qiao Li dengan sendu.
Ada kesedihan yang bisa dirasaka Qiao Li pada saat melihat kedua mata ketua sekte rambut putih itu.
"Ma...ma'afkan Li'er jika membuat kacau rencana anda ketua, bukan maksud Li'er membuat ketua jadi begini." ucap Qiao Li yang tak enak hati dengan apa yang telah dia lakukan pada ketua sekte rambut putih itu.
"Baiklah ketua untuk menebus kesalahan saya pada ketua, maka saya akan mempertemukan anda dengan istri anda ketua!" seru Qiao Li yang menatap wajah ketua sekte rambut putih itu dengan mengulas senyumnya.
"A...apa maksud kamu?" tanya ketua sekte rambut putih itu yang tak percaya.
"Saya akan pertemukan anda dengan bibi Daiyu ketua!" jawab Qiao Li yang berusaha meyakinkan ketua sekte rambut putih itu.
"Ba...bagaimana mungkin? itu berarti kami akan membunuhku! apakah seperti itu, Li'er!" seru ketua sekte rambut putih itu yang sangat terkejut.
"Apa yang ketua maksudkan? siapa yang akan membunuh ketua?" tanya Qiao Li yang sedikit bingung.
"Bukankah Daiyu sudah meninggal dalam kebakaran yang lalu? jadi jika mau bertemu Daiyu, ya harus ke alam baka tentunya?" jawab ketua sekte rambut putih itu dengan kebingungannya.
"Siapa bilang kalau bibi Daiyu sudah meninggal?" tanya Qiao Li dengan mengembangkan senyumnya.
"Apa maksud kamu istrimu masih hidup?" tanya ketua sekte rambut putih itu dengan penasaran.
__ADS_1
"Iya, bibi Daiyu masih hidup dan saat ini dia ada di tempat aman." jawab Qiao li.
"Syukurlah kalau Daiyu masih hidup!" seru ketua sekte rambut putih itu yang semula sendu, kini menjadi semangat karena apa yang dikatakan oleh Qiao Li.
"Tapi aneh, kenapa bibi daiy tak pernah cerita kalau dia sudah bersuami ya?" gumam Qiao Li seraya memegang dagunya.
"Di awal tadi aku sudah bilang kalau hubungan kami tak di restui orang tua Daiyu, karena itulah dia menyembunyikan bahkan memendam perasaannya. Dan hanya dia sendiri yang merasakannya." jelas ketua sekte rambut putih itu yang meyakinkan Qiao Li.
"Baiklah saya percaya, dan sebaiknya kita berangkat nanti malam setelah pekerjaan penginapan sudah selesai." kata Qiao Li yang menatap ketua sekte rambut putih itu.
"Iya, dan saya juga akan menyelesaikan pekerjaan saya. Kita bertemu lagi nanti dimana saudari Li?" tanya Ketua sekte rambut putih itu.
"Kita betemu di kamar saya saja, ketua!" jawab Qiao Li yang melangkahkan kakinya dan ketua sekte rambut putih itu mengikutinya dengan berusaha mensejajarkan langkah kakinya.
"Di kamar?" tanya ketua sekte rambut putih itu yang meyakinkan dirinya.
"Iya, di kamar saya." jawab Qiao Li mempertegas jawabannya dengan terus melangkahkan kakinya.
Sementara ketua sekte rambut putih berhenti dengan rasa penasaran yang ada dipikirannya saat ini.
"Di kamar? ah sudahlah, aku lihat saja apa yang akan dia tunjukkan nanti!" gumam dalam hati ketua sekte rambut putih itu yang terus menatap Qiao Li dari belakang.
Beberapa menit kemudian dia melangkahkan kakinya ke belakang penginapan, untuk melakukan tugasnya. Memberi makan kuda-kuda para tamu penginapan.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1