
"Iya, kita harus percepat langkah kita. Menurut kabar kalau akan ada badai pasir di gurun pasir ini!" kata Xin Xin yang mengingatkan.
"Benar, ayo kita percepat langkah kita!" seru Chiang Yi dan lima orang itu berjalan melangkahkan kaki mereka melanjutkan perjalanan ke lembah sungai kuning.
Tak berapa lama mereka sampai di puing-puing penginapan Mawar Gurun.
"Ibu disinilah aku pertama kali jatuh dari pusaran angin. Dan aku bekerja di sini!" ucap Qiao Li yang bersemangat dan berjalan diatas puing-puing penginapan Mawar gurun.
"Betulkah?' tanya Xin Xin yang sedang mengamati sisa-sisa puing-puing penginapan.
"Cukup luas juga untuk ukuran penginapan!" pendapat Chiang Yi.
"I..itu apa?" tanya Ayumi seraya menunjuk ke arah sebuah pusaran angin yang menderu.
"Gawat, itu badai gurun!" seru Hai Jun yang khawatir demikian pula dengan yang lainnya.
"Aku harus temukan pintu itu!" seru Qiao Li yang mencoba mengingat sesuatu, dimana dulu dia dibawa masuk Daiyu ke ruang rahasia.
"Apa yang kamu pikirkan Li'er?" tanya Xin Xin ketika melihat raut wajah putrinya.
"Aku mencoba mengingat bagaimana cara aku masuk ke ruang rahasia di bawah penginapan ini Bu" jawab Qiao Li yang terus memeriksa beberapa tempat diantara puing-puing bangunan penginapan mawar Gurun yang terbakar itu.
🗓️Flashback on
"Aaaghhh,...! panaaass...!" teriak Qiao Li yang kepanasan saat di tarik Daiyu masuk ke kobaran api.
Daiyu hanya diam karena amarah yang memuncak.
Mereka terus berjalan di antara bara api yang ada didinding penginapan yang masih tegak berdiri untuk sementara waktu itu.
"Mau kemana kita?" tanya Qiao Li diantara kesibukannya melindungi wajahnya dari kobaran api.
Daiyu tak juga menjawab.
Tiba-tiba Daiyu berhenti, dia mengorek-ngorek bara api yang menumpuk.
Dan ternyata terlihatlah sebuah pintu yang terbuat dari tembaga.
Daiyu mengetukkan kipasnya sebanyak tiga kali.
"Tugh.... tughh....tugh....!"
Pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Masuk..!"
Daiyu mendorong Qiao Li masuk melewati pintu yang terbuka itu.
"Brugh...! Aaargh...!"
Gadis cilik itu mengerang kesakitan.
Dan Daiyu juga masuk ke ruang rahasia itu.
Setelah masuk, kembali Daiyu mengetuk tepi pintu tembaga itu sebanyak tiga kali.
"Tugh... tugh.... tugh...!"
Pintu itu pun tertutup dengan rapatnya.
__ADS_1
🗓️ Flashback off
Qiao Li mengingat lokasi pintu masuk ke ruang rahasia itu.
Dia bergegas mengorek-orek tempat yang diyakininya terdapat pintu masuk ke ruang rahasia.
Dan tak begitu lama terlihatlah sebuah pintu yang terbuat dari tembaga.
"Ibu, boleh pinjam pedang Azuyanya?" tanya Qiao Li yang mencoba mengingat cara membuka pintu tembaga itu.
"Pedang Azuya? baiklah akan ibu keluarkan!" ucap Xin Xin yang kemudian memanggil pedang Azuya.
"Pedang Azuya..!"
Muncullah pedang berwarna hijau di tangan Xin xin, kemudian dia menyerahkan pedang itu pada putrinya.
Qiao Li menerima pedang Azuya dan kemudian mengetuk-ketukkan pada inti tembaga itu sebanyak tiga kali.
"Tugh.... tughh....tugh....!"
Pintu itu terbuka dengan sendirinya.
"Eh, pintunya terbuka!" seru Xin Xin yang terkejut dan demikian dengan yang lainnya.
"Ibu, paman Yi ,paman Jun dan kak Ayumi ayo kita masuk! Badainya semakin dekat!" seru Qiao Li.
"Oh iya ayo kita masuk kak! sebelum ada badai!" ajak Xin Xin yang masuk ke ruang rahasia itu setelah Qiao Li.
"Ayumi kamu duluan!" ucap Chiang Yi dan Ayumi pun menurutinya.
Chiang Yi dan Hai Jun pun yang berikutnya masuk ke ruangan rahasia itu.
"Tugh... tugh.... tugh...!"
Pintu itu pun tertutup dengan rapatnya.
"Jadi ini tempat rahasia yang ada di bawah penginapan mawar gurun itu!" Kata Qiao Li yang kemudian menceritakan kejadian saat ada di dalam ruang rahasia itu, dimana dirinya masih dalam kekuasaan Daiyu.
🗓️Flashback on.
"Mulai sekarang kita tidak bisa keluar lagi, dan kau harus jadi pelayanku seumur hidupku di sini! he..he..!" seru Daiyu seraya terkekeh.
"Apa? seumur hidup?" tanya Qiao Li penasaran.
"Iya, karena aku telah kehilangan kunci pintu keluar dari ruang rahasia ini! jadi kita akan ada di sini selama-lamanya! he .he..!" jawab Daiyu yang kembali terkekeh.
"Tempat apa ini?" tanya Qiao Li seraya melihat ke setiap sudut ruangan itu.
"Ya inilah yang ada di dalam bukit piramida. Harta karun yang mereka cari itu ada di lorong sebelah sana" kata Daiyu seraya menunjuk ke arah yang di maksud.
"Kenapa nyonya menunjukkan harta itu padaku? apa tidak takut kalau sewaktu-waktu aku mengambilnya?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Kalau mau ambil, ambil saja! Lagi pula kita tidak bisa keluar dari sini!" seru Daiyu dengan senyum sinisnya.
" Begitukah? Tak bisa keluar sama sekali?" pertanyaan dalam hati Qiao Li yang semakin penasaran.
"Kalau mau makan, ambil sayuran dari kebun di sana!" kata Daiyu seraya menunjuk ke arah yang sepertinya ada cahaya yang masuk di sana.
"Carilah sendiri kamar buat kamu tidur! aku mau istirahat. Ingat..! kalau aku panggil cepatlah datang, aku tidak suka orang yang lelet!" seru Daiyu dengan sedikit mengancam.
__ADS_1
"Ba..baik nyonya!' ucap Qiao Li yang sedikit takut.
Daiyu menuju ke kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Qiao Li menuju ke tempat yang terdapat banyak cahayanya itu.
Qiao Li berjalan melewati lorong-lorong goa, dengan terseok-seok karena ada beberapa luka bakar di kakinya.
Gadis itu melihat setiap detail tempat itu, hingga tempat yang banyak cahayanya yang di sebut Daiyu tadi kebun.
Memang di situ banyak sekali tanaman dan sayuran. Karena ada cahaya matahari yang masuk dari segala penjuru.
"I...ini seperti rumah kaca?" kata dalam hati Qiao Li.
Qiao Li melihat begitu banyak tanaman tropis di depannya.
"Pengairan di sini dari air mancur dari sumber mata air di gurun pasir ini. Sistem pertanian yang modern!" kata dalam hati Qiao Li yang kemudian mengambil air di air mancur itu dengan kedua tangannya dan di basuhkanlah di wajahnya.
"Begitu segarnya!" seru Qiao Li saat selesai membasuh mukanya.
Qiao Li kemudian menyusuri kembali lorong- lorong yang ada, dan dia mencari kamar yang nyaman untuk dia tinggali.
"Sepertinva disini lebih nyaman, dan sedikit jauh dari si nenek sihir itu!" gumam Qiao Li seraya melihat tiap sudut ruangan itu yang terdapat sebuah batu lempeng yang bisa buat dia tidur.
Qiao Li kemudian merebahkan dirinya di atas batu itu, dan dalam sekejap dia sudah terlelap dalam tidurnya.
Beberapa jam kemudian, terdengar seseorang yang sedang memanggIl,
"Pelayan penipu...! dimana kamu..!
Pelayan penipu...!"
Seru Daiyu untuk julukan Qiao Li yang baru.
"Aist, dapat julukan lagi! kemarin pelayan bisu, sekarang pelayan penipu! Nasib..!" gerutu Qiao Li yang kemudian bangkit dari tidurnya dan melangkahkan kaki ke sumber suara.
"I..iya Nyonya!" sahut Qiao Li saat sudah dekat dengan kamar Daiyu.
Dan gadis itu terus melangkahkan kakinya menghampiri suara orang yang memanggilnya.
"I..iya nyonya!" seru Qiao Li saat sudah berada di hadapan Daiyu.
"Sudah aku bilang kalau aku tidak suka dengan orang lelet! Dari mana saja kamu!" hardik Daiyu yang membuat Qiao Li mundur beberapa langkah.
"Ya .tadi kan di suruh istirahat!" ucap Qiao Li yang membela dirinya.
"Alasan! Cepat cari makanan! aku lapar!" seru Daiyu yang kemudian duduk diatas batu seraya menggerakkan kipasnya ke arah tubuhnya.
"Ba..baik nyonya!" jawab Qiao Li yang bergegas menuju ke kebun yang tadi di lihatnya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1