
"Kakak Hu, pedang itulah yang merubah sikap dan sifat suami kamu, karena kakak saya adalah pemilik pedang naga api tersebut!" seru Qiao li yang menatap Kwee hu dengan rasa cemas.
"Jadi benar dugaanku!" gumam Kwee hu yang menatap Qiao Li.
"Pendekar Hu, kenapa kamu tadi langsung percaya saja sama pendekar Li?" tanya siluman macan putih yang penasaran.
"Itu karena sebelumnya ada peramal yang meramalkan kalau akan ada pendekar yang membawa angin dan juga air yang akan membantu menyelamatkan pangeran you dan mengembalikan kak Wen padaku. Dan setelah tahu cerita dari murid saya tadi, saya yakin apa yang di ceritakan peramal itu akan terjadi. Dan saya sangat berharap sekali pendekar Li dapat membebaskan pangeran You. Selain untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Ming, juga karena..." jawab Kwee hubuang berhenti sejenak.
"Pangeran You adalah cinta pertama saya!" lanjut Kwee hu dengan kalimat terakhir secara pelan.
"Apa jadi pendekar Hu menyukai Pangeran You? apa Pangeran you tidak membalas perasaan pendekar Hu padanya?" tanya Qiao Li yang menatap Kwee hu dan Kwee hu menganggukkan kepalanya pertanda kalau dia membenarkan ucapannya.
"Ah....! Kasih tak sampai!" seru Siluman macan putih yang menghela nafasnya.
"Lantas bagaimana dengan perasaan pangeran You yang sebenarnya?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Saya pernah bertanya perasaan pangeran you pada saya, dan tak ada perasaan apapun untuk saya selain sebagai seorang sahabat. Saya menerimanya dan hanya bisa menyukai pangeran you dalam diam saja." jawab Kwee hu yang menyeka air matanya.
"Andai saja kalian berjodoh!" gumam Qiao Li.
"Saya sudah pasrah, dan sekarang ini saya merasakan kalau jodoh saya bersama kak Bing Wen. Karena itu, bantulah saya untuk menyadarkan dan mengembalikan kak Bing Wen pada saya. Perlu pendekar Li ketahui bahwa saat ini saya sedang mengandung anak dari kak Bing Wen. Ketua sekte Sanca kembang!" ucap Kwee hu yang menatap wajah Qiao Li.
"A...apa mengandung? baiklah ketua Hu, saya akan membantu anda sebisa saya. Dan semua ini demi kebaikan kita semuanya, terutama untuk adik bayi yang masih ada di dalam perut pendekar Hu!" seru Qiao Li yang memegang tangan Kwee hu.
"Terima kasih pendekar Li." ucap pendekar Hu yang mengulas senyumnya.
"Bagaimana dengan batu keramat ya? apakah aku boleh melihat batu itu?" tanya Qiao Li yang mengingatkan Kwee hu dengan batu keramat atau batu Impian itu.
"Oiya! tunggu sebentar!" seru pendekar Hu yang melihat jari manis ya. Dan ternyata pendekar Hu itu mempunyai cincin yang sama dengan cincin kepunyaan Qiao Li, bermata biru.
"Cincin itu!" seru dalam hati Qiao Li yang menatap cincin bermata biru yang dipakai Kwee Hu.
Kwee hu kemudian mengeluarkan tiga buah batu impian dari dalam cincinnya.
"Batu impian!" gumam Qiao Li yang sangat mengenal ketiga batu tersebut.
__ADS_1
"Pendekar Li, saya berikan batu keramat ini padamu. Karena saya yakin kalau kamu bisa membebaskan pangeran You dan mengembalikan suamiku." ucap Kwee hu yang memberikan ketiga batu impian itu pada Qiao Li.
"Terima kasih, ini tugas yang berat tapi akan saya laksanakan sebisa saya." ucap Qiao Li yang kemudian memasukkan batu impian itu ke dalam cincinnya.
"Hati-hati jangan sampai jatuh ke tangan suamiku, karena dia berambisi untuk menguasai kerajaan Ming jika sudah mendapatkan tujuh batu keramat." pesan Kwee Hu dengan penuh rasa khawatir.
"Baiklah kalau begitu, aku akan berangkat sekarang mencari suami kakak Hu!" seru Qiao Li yang bersiap naik ke atas punggung Siluman macan putih.
"Tunggu sebentar!" seru Kwee hu yang membuat Qiao Li menoleh kearahnya dengan rasa penasaran.
"Ada apa kakak Hu?" tanya Qiao Li.
"Apakah kalian bisa mengantarkan aku kembali ke perguruanku?" tanya Kwee hu seraya mengulas senyumnya.
"Eh, tentu saja!" ucap Qiao Li yang juga membalas senyum Kwee hu.
"Maklumlah sejak hamil muda ini aku suka malas jalan. he...he....!' kata Kwee hu sembari mengulas senyumnya.
"Saya paham kakak Hu!" balas Qiao Li dan mereka kembali naik ke punggung siluman macan putih.
"Kalau itu terserah padamu Siluman macan putih, yang terpenting sampai di tujuan." balas Qiao Li dan mereka sudah dalam posisi siap berangkat.
Tubuh siluman macan putih itu melayang dan melesat menuju ke pohon besar di mana sebagian anggota sekte salju abadi, masih berjaga-jaga di samping pohon besar itu. Dan sebagian lagi berada di bawah pohon besar itu.
Setelah sampai di depan pohon besar itu, Siluman macan putih turun dari terbangnya dan merendahkan posisi nya agar penumpangnya turun.
"Pendekar Li, kamu jangan turun. Biar aku saja yang turun!" seru Kwee hu yang kemudian turun dari punggung siluman macan putih itu.
"Kalau begitu saya pamit kakak Hu!" seru Qiao Li seraya melambaikan tangannya.
"Hati-hati Pendekar Li!" pesan Kwee Hu pada Qiao Li yang membalas lambaian tangan Qiao Li.
Demikian pula dengan para anggota sekte salju putih yang ikut melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan dengan Qiao Li.
Sementara itu Qiao Li yang berada di punggung siluman macan putih, melesat kembali ke arah barat menjauhi hutan salju abadi.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Qiao Li melihat adanya aliran sungai yang berwarna kuning.
"Lembah sungai kuning!" seru Qiao Li yang menepikan tangnnya di leher Siluman macan putih.
"Ada apa pendekar Li?" tanya siluman macan putih yang kemudian berhenti dan memposisikan tubuhnya merendah agar Qiao Li bisa turun dari atas punggungnya.
Qiao Li turun dan melangkahkan kakinya mendekati sungai kuning.
Gadis itu mencuci wajahnya, meminum dan mengisi guci air yang biasa dia bawa dengan air sungai kuning yang jernih.
Demikian pula dengan siluman macan putih yang juga mencuci muka dan minum air aliran sungai kuning.
"Kita sudah sampai di lembah sungai kuning, jika kita lurus ke arah barat maka kita akan ke perkampungan bambu kuning." jelas Qiao Li yang menerangkan.
"Sebaiknya kita kesana, karena setelah dari perkampungan itu kita akan menuju ke gurun pasir. Dan setelah itu kita ke blok barat!" ucap Siluman macan putih yang ikut urun pendapat.
"Benar juga, ayo kita ke perkampungan bambu kuning. Sekalian aku mau bertemu saudara-saudari ku disana!" seru Qiao Li seraya mengulas senyumnya.
"Kamu naik ke punggungku lagi atau jalan kaki?" tanya siluman macan putih seraya menatap Qiao Li.
"Sebaiknya kita jalan kaki, agar tidak terlalu menarik perhatian banyak orang." jawab Qiao Li.
Siluman macan putih itu menganggukkan kepalanya dan mereka kemudian melangkahkan kaki menuju ke arah perkampungan bambu kuning.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1