
Kembali ke kisah Fang Chen.
Setelah melakukan perjalanan dua hari dua malam, akhirnya rombongan Sekte Bambu kuning tiba di lembah sungai kuning.
Daerah sekitar tempat itu sangatlah subur, karena adanya aliran sungai kuning.
Dinamakan sungai kuning, di karenakan air dan lumpur yang mengalir berwarna kuning dan menyuburkan.
"Kalian memang hebat memilih tempat, Hua Tian dan Chen Kun!" ucap Patriak An pada putra dan muridnya.
"Terima kasih Patriak" ucap Chen Kun dan Hua Tian bersama'an.
"Baiklah, yang laki-laki bangun dua buah rumah. Yang satu untuk laki-laki dan yang satu untuk perempuan. Dan untuk yang perempuan, ayo kita mulai memasak untuk semuanya." ucap Patriak Jingmi.
"Patriak..! kalau untuk yang suami istri bagaimana?" tanya salah satu anggota sekte Bambu kuning yang memang sudah berkeluarga.
"Sementara kalian pisah dulu, nanti setelah dua rumah ini jadi, kalian bisa buat rumah kalian masing-masing. Tentunya dengan bahan seadanya." jelas Patriak Jingmi seraya menatap orang-orang yang ada di depannya.
"Baik Patriak!" jawab semuanya dan mereka melakukan tugas masing-masing.
Para lelaki membuat rumah untuk mereka berteduh, Sedangkan yang perempuan membuat makanan untuk semuanya.
Mereka bahu membahu mengerjakan semuanya.
Para lelaki, kembali terbagi menjadi beberapa bagian.
Ada yang mencari bambu, kayu buat tiang dan ada yang mencari ijuk buat atap rumah.
Sedangkan para perempuan ada yang menanak nasi dan ada yang memasak sayur dan lauknya.
"Kakak Chen, saya ambilkan nasinya ya?" Yan Qiu yang menawarkan diri membantu Fang Chen.
"Tidak usah Qiu'er, aku bisa ambil sendiri." ucap Fang Chen yang menolak secara halus.
Hal itu di ketahui oleh Hua Tian dan Chen Kun.
"Saudara Kun kau lihat sendiri kan, Qiu'er sekarang ini jarang bersama kita. Selalu dia bersama laki-laki itu!" kata Hua Tian yang menyimpan rasa amarah.
"Iya, bahkan Qiu'er jarang menyapa kita!" balas Chen Kun yang ikut menyaksikan Yan Qiu yang selalu bersama Fang Chen.
Mereka membangun pedesaan hampir dua mingguan.
Ada yang sebagian dari mereka bercocok tanam dan ada juga yang mmenjadi pencari ikan.
Kehidupan sekte Bambu kuning di lembah kuning, sudah seperti pada umumnya kehidupan di pedesaan.
__ADS_1
Pedesaaan yang mereka bangun ini kemudian di kenal dengan desa Bambu kuning.
Pemuda dan anak-anak, sebagian belajar menulis, membaca, bela diri dan juga pengobatan.
Untuk pelajaran menulis, membaca dan pengobatan mereka di ajarkan oleh Patriak Jingmi dan Yan Qiu.
Sedangkan untuk Bela diri, yang mengajar adalah Hua Tian dan Patriak An.
Sedangkan Fang Chen hanya mengikuti dan mendalami keduanya.
...****...
Sementara itu Ming Mei dan delapan perampok wanita lainnya, terus berlari dan tanpa sadar mereka meyusuri lLembah Sungai Kuning.
Tanpa sengaja mereka bertemu beberapa orang pencari ikan penduduk desa Bambu Kuning.
"Hei, siapa kalian?' tanya salah seorang pencari ikan.
"Kami pengelana yang kebetulan sampai di sini" jawab Ming Mei sebagai ketua dari perampok wanita itu yg bertanggung jawab atas delapan anggota yang tersisa.
"Kalau begitu, mari mampir di tepat kami" kata pencari ikan yang lainnya.
Dan mereka pun setuju, kemudian mereka berjalan menuju ke perkampungan bambu kuning dengan di pandu para pencari ikan.
"Baiklah, di mana ketua kalian berada?" tanya Ming Mei seraya menebarkan pandangannya ke pedesaan yang begitu subur dan indahnya.
Mereka tiba di sebuah bangunan yang paling besar, karena sering di di gunakan sebagai ruang pertemuan.
"Sebentar nona, saya menghadap ketua terlebih dahulu." kata salah satu pencari ikan.
"Baiklah, silahkan!" balas Ming Mei yang tangannya memeberi aba-aba mempersilahkan.
"Nona Mei, apa keputusan singgah dan tinggal di sini, adalah keputusan yang benar?" tanya salah satu perampok wanita itu pada Ming Mei.
"Semoga saja, sebelum kita menemukan anggota sekte walet putih lainnya" jelas Ming Mei dan yang lainnya mengangguk mengerti.
"Semoga saja kita mengenal ketua di desa ini!" kata salah satu perampok wanita itu.
"Iya, aku berharap juga demikian." kata Ming Mei yang pandangannya tak henti-hentinya memandang ke sekitarnya.
Sementara itu, salah satu pencari ikan yang mau menghadap ketua mereka, kini sudah berada di depan Patriak An dan Patriak Jingmi serta yang lainnya.
Mereka sedang membahas kelangsungan desa Bambu kuning.
"Mohon maaf Patriak, di luar ada sembilan wanita yang sepertinya telah melakukan perjalanan yang jauh!" kata pencari ikan saat berada di depan Patriak An seraya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Suruh saja mereka menghadapku, aku ingin tahu siapa mereka!" seru Patriak An pada pencari ikan itu.
"Baik Patriak An!" bals pencari ikan itu yang kemudian berjalan keluar dan menemui Ming Mei dan yang lainnya.
"Nona, mari masuk. Ketua kami telah mengijinkan kalian untuk masuk." kata pencari ikan itu yang mempersilahkan Ming mei dan yang lainnya masuk.
"Baik, terima kasih tuan!" kata Ming Mei yang kemudian masuk ke rumah paling besar itu.
Pada saat berada di dalam rumah, Ming Mei mengulas senyum mana kala melihat ada tanda Bambu kuning di dinding rumah itu.
"Kita di pihak kawan!" bisik Ming Mei pada teman-temannya.
"Iya, sekte Bambu kuning!" bisik yang lainnya.
"Ma'afkan atas kelancangan kami menghadap anda tuan." kata Ming Mei dengan tangan kanan di letakkan di dada dengan menyilang, seraya menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa, kami dengan senang hati menerima kunjungan kalian." balas Patriak An, yang sebetulnya menasaran dengan kesembilan perempuan di hadapannya itu
"Apakah yang dihadapan saya ini benar Patriak An. Ketua sekte Bambu kuning?" lanjut tanya Ming Mei yang mencoba menebak.
"Benar, sayalah Patriak An. Apa sebelumnya kita saling mengenal?" jawab Patriak An sekaligus bertanya.
"Kami dari sekte Walet Putih, saya Ming Mei keponakan sekaligus murid Patriak Feng." jawab Ming Mei yang mengeluarkan ikat kepala hitam dengan berbordir burung walet warna putih.
Dan di ikuti oleh perampok wanita lainnya.
"Oh jadi kita masih saudara sealiran putih, mari silahkan duduk" ucap Patriak Jingmi yang sedari tadi diam memperhatikan.
Tak berapa lama Yan Qiu dan Chen Kun datang membawa makanan dan minuman untuk mereka.
"Bisa ceritakan, kenapa kalian bisa sampai di sini?" tanya Patriak An yang penasaran.
"Semuanya berawal dari penculikan para gadis desa di sekitar sekte walet putih, oleh orang-orang yang tidak kami kenal. Dan Patriak mengajak kami menyelidikinya. Hingga kami menemukan apa yang kami cari." cerita Ming Mei seraya menatap Patriak An.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1