
"Sudah ada yang membayarkannya?" tanya Hai Jun yang penasaran
"Benar di seorang wanita bercadar putih dengan membawa pedang warna hijau di tangannya. Dialah yang sudah membayarkannya." jelas laki-laki itu seraya mengulas senyumnya.
"Wanita bercadar putih?" tanya lirih Hai Jun yang penasaran.
"Iya, dia ke arah timur tuan!" jawab Laki-laki itu, dan Hai Jun menganggukkan kepalanya.
"Baiklah tuan, saya akan makan terlebih dahulu. Setelah ini saya akan mencari tahu siapa wanita itu dan saya mau berterima kasih padanya.
Mari silahkan tuan!" kata laki-laki pemilik warung makan itu yang dengan telaten melayani orang-orang yang berkunjung ke tempatnya.
Setelah makan Hai Jun segera melanjutkan perjalanannya.
Di sepanjang jalan, banyak mayat yang rata-rata orang bayaran atau prajurit kerajaan.
Banyak orang dari kalangan kaum menengah kebawah yang mengelu-elukan pendekar wanita bercadar itu sebagai pahlawan
Namun di pihak lain di kalangan menengah ke atas menganggap Pendekar wanita bercadar itu sebagai musuh.
"Hmm... aku semakin penasaran dengan wanita bercadar itu!" gumam dalam hati Hai Jun.
Tak berapa lama Hai Jun melihat pertempuran antara wanita bercadar dengan para anggota sekte Beruang Hitam.
Dia memperhatikan dengan seksama jalannya pertempuran itu.
Dan ternyata di sisi lain ada Chiang Yi yang juga memperhatikan pendekar wanita bercadar itu.
Sementara itu pendekar wanita bercadar itu ternyata telah merampas hasil rampokan dari sekte Beruang Hitam.
Karena hal itulah mereka saling beradu jurus.
"Hai kembalikan cincin dan batu keramat itu!":seru salah satu dari anggota sekte beruang Hitam pada pendekar wanita bercadar itu.
"Apa serahkan? yang sudah ada di tanganku tak mungkin aku kembaikan pada kalian!" balas seru Pendekar bercadar itu.
"Kurang ajar! Bersiaplah untuk mati!" seru laki-laki diantara anggota sekte Beruang Hitam itu.
"Wah, itu kata-kataku untuk kalian!" seru Pendekar wanita bercadar itu yang kemudian menggunakan jurus tendangan berputarnya melawan para anggota sekte beruang Hitam yang mengepungnya.
"Hop hiaaat ..!"
"Dugh... dugh... dugh .. dugh...!"
"Aaghh...!"
Empat anggota sekte Beruang Hitam itu terdorong mundur beberapa langkah.
Dan sekali lagi Xin Xin melakukan Tendangan berputarnya.
"Hop hiaaat ..!"
"Dugh... dugh... dugh .. dugh...!"
"Aaghh...!"
__ADS_1
Dan lagi empat anggota sekte Beruang Hitam itu terdorong mundur beberapa langkah.
"Perempuan itu, dia membuatku penasaran!" ucap dalam hati Hai Jun dan demikian pula dengan Chang Yi yang penasaran dengan pendekar wanita bercadar itu.
Keduanya masuk ke dalam kepungan dan jurus masing-masing mereka melawan anggota-anggota sekte beruang Hitam itu.
Bola-bola cahaya dan Bola-bola api menghiasi suasana pertempuran itu.
"Boumm...boummm...!"
"Aagh...!"
"Boumm...boummm...!"
"Aaghh...!"
"Boumm...boummm...!"
"Aaghh...!"
"Boumm...boummm...!"
"Aaghh...!"
Dan hampir semua anggota sekte Beruang Hitam itu terkapar dan tak bangkit lagi.
"Ekin..! mau apa kamu di sini!" seru Hai Jun pada Chiang Yi.
"Hei, kau juga! kenapa ada di sini?" bukannya menjawab, Chiang Yi justru bertanya.
"Aku ingin bertemu dengan pendekar bercadar itu!" jawab Hai Jun yang kesal pada Chiang Yi.
"Sebagai adik, seharusnya kamu mengalah. Biarkan kakakmu ini dapat jodoh terlebih dulu!' seru Hai Jun.
"Tidak! kakak yang harus mengalah pada adiknya!" seru Chiang Yi yang geram.
"Kurang ajar kau! Adik tak tahu diri!" seru Hai Jun yang bersiap dengan jurus bola-bola apinya.
"Apa! kakak benar mau melawanku!' balas seru Chiang Yi yang bersiap dengan dengan bola-bola cahayanya.
"Boum... duarr...!"
"Boum... duarr...!"
"Boum... duarr...!"
"Boum... duarr...!"
Kedua jurus itu saling bertabrakan, dan mengeluarkan suara yang sangat memekikkan telinga.
Hal itu membuat Pendekar bercadar yang telah menyelesaikan urusannya memberi pelajaran pada anggota sekte Beruang Hitam yang tersisa, tiba-tiba saja perhatiannya tertuju pada suara dentuman keras dan juga perpaduan cahaya tabrakan yang menyilaukan mata itu.
"Cahaya itu, bukankah itu Ekin dan Leon? kenapa mereka berkelahi?" tanya dalam hati pendekar bercadar itu.
Pendekar Bercadar itu kemudian menghampiri keduanya.
__ADS_1
"Hentikan! apa yang kalian lakukan ini, kalian kan bersaudara!" seru pendekar bercadar itu, yang membuat Hai Jun dan Chiang Yi berhenti dan mencari sumber suara.
"Suara itu?" ucap Chiang Yi yang seperti mengingat suara Pendekar bercadar itu.
"Kami sedang berlomba untuk bertemu denganmu pendekar Bercadar!" ucap Hai Jun yang menatap Pendekar bercadar itu.
"Bertemu denganku, untuk apa?" tanya Pendekar bercadar itu pada kedua laki-laki dihadapannya.
"Karena kami penasaran sekaligus mengagumimu. Dan kalau kamu mau, jadilah istriku!" ucap Chiang Yi yang mulai tertarik dengan tingkah Pendekar bercadar itu.
Pendekar bercadar itu tersentak kaget, dan perlahan-lahan dia membuka cadarnya.
"Aku harap kalian jangan sampai terlalu dalam mengagumimu!" ucap pendekar bercahaya itu yang sudah membuka Cadarnya.
"Ra..Rani!" seru Hai Jun dan Chiang Yi bersamaan.
"Apa kalian akan menyukai wanita yang sudah bersuami dan punya dua orang anak ini?' tanya Rani yang menghampiri kedua putra dewa yang di kenalnya itu.
"Maaf Rani, aku kira kamu orang lain" ucap Chiang Yi yang tak enak hati.
"Aku juga minta maaf Rani, aku tak tahu kalau itu kamu. Aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri" ucap Hai Jun yang juga tak enak hati.
"Kalian sebenarnya juga tak salah, lagi pula aku kan pakai cadar. Maklum saja kalau kalian tak mengenali aku. Oiya sekarang jangan panggil aku dengan Rani, tapi Xin Xin. Kalau boleh tahu apa kalian punya nama lain? " jelas sekaligus tanya Xin Xin.
"Aku Chiang Yi, Xin'er" jawab Chiang Yi atau Ekin.
"Kakak Yi" ucap Xin xin seraya tangannya memberi tanda salam pada Chiang Yi.
"Kalau Aku Hai Jun, Xin'er!" jawab Hai Jun atau Leon.
"Kakak Jun" ucap Xin Xin yang juga tangannya memberi salam pada Hai Jun.
"Sepertinya ada yang kurang?" tanya Chiang Yi yang mengingat sesuatu.
"Kakak Jun, dan kakak Yi, apa kalian tahu dimana Putraku Raga?" tanya Xin xin yang khawatir.
"Nah, itu tadi yang mau aku tanyakan!" seru Chiang Yi yang khawatir.
"Sejak tabrakan pusaran angin dan badai kemarin, aku tidak tahu-menahu tentang keberadaan Raga" ucap Hai Jun yang juga khawatir.
"Kalau begitu kita cari sama-sama!" ucap Xin Xin yang juga cemas.
"Jatuhnya Leonisa dan Saga itu di arah sebelah timur, sebaiknya kalian berdua mencari mereka ke arah timur. Sedangkan aku, akan mencari Raga di daerah barat. Lagi pula, Raga itu tanggung jawabku!" ucap Hai Jun yang merasa ini kewajibannya.
"Baiklah kalau itu mau kakak Jun, tapi kakak Jun juga harus ingat selain mencari putraku, jangan lupa mencari batu Impian. Karena aku sudah mendapatkannya satu buah batu Impian saat aku merampas dari sekte Beruang Hitam tadi." ucap Xin Xin seraya menunjukkan batu impian yang ada di dalam buntalan kain yang Xin Xin srempangkan di bahunya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...
.