Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Xin Xin dan Chang Yi


__ADS_3

Sesampainya di Gubuk tepi danau itu, Rani dan Qiao Li menyiapkan makan malam mereka.


Sementara Ekin menyalakan obor untuk penerangan mereka.


"Ibu boleh tahu bagaimana keadaan kamu setelah terlempar dari pusaran angin waktu itu?" tanya Rani yang penasaran saat telah selesai menyiapkan makan malam mereka.


"Iya, paman Ekin juga ingin tahu" ucap Ekin saat selesai menyalakan beberapa obor dan menghampiri ibu dan anak itu.


"Waktu itu...!" Qiao Li mulai bercerita


📆Flashback on


Langit di atas sebuah penginapan di atas gurun pasir mendadak menghitam.


Dan muncullah pusaran angin yang sangat besar dan kencang.


Tiba-tiba saja ada gelembung cahaya yang terlempar dari pusaran angin itu dan jatuh tepat di halaman bangunan satu-satunya di gurun dan merupakan sebuah penginapan yang tersohor.


Karena terletak diantara blok Barat dan Blok timur.


Gelembung cahaya itu melindungi seorang gadis yang bernama Leonisa, beberapa kali terpental dan melambung lalu jatuh ke sebuah jemuran, yang rata-rata kain lebar seukuran sprei kasur.


"Blughh...pyaarr..!"


Gelembung cahaya itu seketika itu juga pecah dan banyak tiang jemuran yang ambruk dan bambu-bambu yang patah, secara otomatis sprei-sprei itupun jatuh dan kotor tertimpa Leonisa.


"Syukurlah ada gelembung cahaya dari Paman Ekin, jadi aku tidak terluka!" kata dalam hati Leonisa yang kemudian berusaha bangkit dari duduknya.


Namun tak berapa lama ada seorang wanita berpakaian aneh, tiba-tiba menghampiri Leonisa.


Wanita itu mengoceh dengan bahasa asing yang Leonisa tak paham maksudnya.


"Wanita itu bicara apa, apa dia gila? aku tak tahu bahasanya? sebenarnya aku ada di mana?" tanya dalam hati Leonisa.


"Bagaimana aku menjawabnya?" gumam Leonisa yang terus berpikir.


"Ah, sebaiknya aku pura-pura bisu saja! aku tak tahu tempat apa ini!" batin Leonisa yang merasa tak mengenal bahasa dan lokasi tempat dia terdampar.


(Translate dari bahasa Kanton)


"Hei, dasar gadis tak tahu diri! seenaknya saja merusak jemuranku! " umpat wanita itu yang kemudian menampar Leonisa.


"Plakk..!!"


Wanita itu tiba-tiba menampar Leonisa dan dia mengumpat seperti memarahi Leonisa dengan bahasa yang tak di mengerti oleh Leonisa.


Leonisa hanya diam dan mengusap pipinya untuk menahan rasa sakit akibat tamparan wanita itu.

__ADS_1


"Kau harus membayar kecerobohanmu! kau tak boleh kemana-mana! kau harus ganti rugi atas semua yang kau lakukan!" seru wanita itu yang menunjuk tangannya supaya Leonisa mengumpulkan semua kain-kain yang jatuh karena tertimpa gelembung cahaya tadi dan juga tubuh Leonisa.


Leonisa hanya diam dan memperhatikan setiap gerakan mulut wanita di depannya.


"Tak mau bicara ya? apa kamu bisu? baiklah akan aku ulangi dengan isyarat, perhatikan ya!" seru wanita itu yang kemudian melakukan setiap omongannya dengan gerakkan.


Akhirnya Leonisa mengerti apa yang di maksudkan wanita itu, dia menuruti perintah wanita itu dengan mengumpulkan kain-kain itu satu persatu.


"Hei, setelah ini kamu cuci semuanya di sumur itu dan di jemur di sini! tapi sebelumnya kamu perbaiki dulu jemuran ini!!" perintah wanita itu dengan di iringi bahasa isyarat.


Leonisa mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju ke sumur dan mencuci semua kain-kain itu.


Setelah merasa yakin Leonisa bisa melakukannya, wanita itu meninggalkan Leonisa dan kembali masuk ke bangunan yang menurut Leonisa sangat aneh.


Gadis itu kemudian mencuci dan sesekali memperhatikan ke sekitarnya dan dia merasa sangat aneh.


"Dari bahasa dan pakaian yang di pakai wanita tadi, aku sepertinya terdampar di negara Tiongkok. Tapi bangunan ini tak seperti bangunan rumah adat Tiongkok?" kata dalam hati Leonisa yang terus melihat hamparan pasir di sekeliling tempat di mana dia saat ini berdiri.


"Gurun pasir!" Leonisa membatin.


Setelah mencuci, Leonisa memperbaiki jemuran yang rusak tadi. dan kemudian memperbaikinya agar bisa di gunakan untuk menjemur kain-kain Sprai itu.


Walaupun sedikit kesusahan, dia berusaha untuk memperbaikinya.


"Ah..akhirnya bisa juga!" gumam Leonisa dengan senang hati setelah bisa memperbaiki jemuran itu.


Kemudian gadis itu menjemur satu persatu kain sprei yang baru di cucinya hingga habis.


Dia mempercepat langkahnya untuk menghampiri wanita tua yang ternyata sedang membuang sampah.


"Hai kamu siapa?" tegur wanita tua itu yang penasaran.


Leonisa hanya diam dan membuat gerakan minum, dan wanita itu mengerti.


Kemudian wanita tua itu mengajak Leonisa masuk, dan mengambilkan air putih di wadah gelas dari bambu.


Dan Gadis itu pun meminumnya sampai habis.


"Nampaknya kau buka dari Dinasti Ming, pakaian kamu yang membuatku yakin kamu bukan berasal dari negara ini.!" kata wanita itu seraya memegang pakaian yang di kenakan Leonisa.


Leonisa hanya diam dan memperhatikannya, sedikit dia paham apa yang di katakan wanita itu.


"Namaku Qiao Feng panggil saja Ibu" kata wanita setengah baya itu pada Leonisa, namun gadis itu hanya diam dan memperhatikan setiap ucapan dan gerak-gerik orang yang ada di depannya itu.


"Apakah dia memperkenalkan dirinya, namanya siapa tadi? Ahh...! panggilannya ibu! iya ibu!" ucap dalam hati Leonisa seraya berpikir.


Untunglah di sekolahnya ada pelajaran bahasa asing, dan salah satunya bahasa Mandarin.

__ADS_1


Jadi Leonisa tak begitu kesulitan dengan bahasa Kanton yang saat ini di dengarnya.


"Oiya, lupa kalau kamu tidak bisa bicara ya! he..he..!" ucap Qiao Feng yang terkekeh karena ucapannya sendiri.


Leonisa pun ikut tersenyum melihat Qiao Feng yang terkekeh itu.


"Bagaimana kalau aku beri nama kamu Qiao Li. Karena aku lihat selain cantik, dan cerdas kamu juga kuat untuk seorang gadis seusia kamu. He...he..! karena kamu mampu mencuci sebegitu banyak sprei dalam waktu singkat!" jelas Qiao Feng seraya tersenyum memandang Leonisa.


"Apa yang dia maksudkan ya?" tanya Leonisa dalam hati.


"Li'er, panggil aku ibu ya. Kamu aku angkat jadi putriku!" kata Bibi Feng dengan bahasa isyarat.


Leonisa hanya bisa tersenyum dan mengangguk karena sedikit mengerti maksud dari wanita di depannya itu.


Sekarang nama Leonisa menjadi Qiao Li, dan dia saat ini membantu Qiao Feng memasak di dapur.


Tak berapa lama, datang seorang gadis cantik yang juga berpakaian sama dengan Qiao Feng, datang menghampiri Qiao Feng.


"Bibi, pelanggan kamar nomor satu dan dua pesan makanan. Apakah ada makanan untuk mereka?" tanya gadis itu yang tak lain pelayan di tempat itu.


"Ada, tunggu sebentar ya!" jawab Bibi Feng yang kemudian mempersiapkan makanan yang untuk para pelanggan.


Gadis itu melihat ke arah Qiao Li yang membantu Qiai Feng di dapur, dengan tatapan yang aneh.


"Bi, dia siapa?" tanya gadis itu pada Qiao Feng seraya menunjuk ke arah Qiao Li.


"Ohw, dia putri angkatku!" jawab Qiao Feng yang kemudian dia meraih tangan Qiao Li dan di gandengnya untuk mendekat pada gadis pelayan tadi.


📆Flashback off


"Jadi nama kamu Qiao Li, putriku?" tanya Ibunda Qiao Li yang memastikan.


"Iya ibu, kalau Ibu dan paman Ekin ganti nama tidak?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Ibu juga mengganti nama ibu, menjadi Xin Xin" kata Rani setelah menghabiskan segelas air putihnya.


"Kalau paman Ekin, ganti nama tidak?" tanya Qiao Li yang masih juga penasaran.


"Nama paman Chang Yi, Li'er" jawab Ekin yang sekarang bernama Chang Yi.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....

__ADS_1


...Terima kasih...


...BERSAMBUNG...


__ADS_2