
Suatu hari di saat hanya ada Xin xin dan Fang Chen, Qiao Li sudah bersiap memberitahukan apa yang telah dia alami selama perjalanannya mencari Ju long.
"Ayah dan ibu, sewaktu aku mengembara banyak sekali rintangan yang harus aku temui. Dan akhirnya aku telah mendapatkan empat batu impian." ucap Qiao Li.
"Kami bangga pada kamu Li'er, kemajuan kamu begitu pesat. Dan sekarang ini kita tinggal menunggu kakak kamu sadar dan kita gunakan batu impian itu untuk kembali ke dunia kita yang sebelumnya." ucap Fang Chen.
"Iya ayah." balas Qiao Li.
Kemudian Qiao Li menceritakan kisah perjalanannya di pelelangan sampai belajar jurus pengendalian air dan juga pengendalian angin.
...****...
Beberapa hari kemudian, hanya Qiao Li saja yang menunggui Ju long yang masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Kak Ju Long, cepatlah sadar kak! Li'er ingin rasanya di peluk oleh saudara sendiri. Sudah sekian tahun lamanya kita tak jumpa, sekalinya kita berjumpa kakak dalam keadaan amnesia." ucap dalam hati Lier yang meneteskan air matanya dan kemudian dia menyeka air mata tersebut yang telah jatuh di kedua pipinya.
Tiba-tiba saja Qiao Li melihat jari tangan kanan Ju long bergerak.
"Kak Ju long!" panggil Qiao Li yang menghampiri tubuh kakaknya itu.
Perlahan Ju long membuka kedua matanya, beberapa kali Ju long mengedipkan kedua matanya. Dan kemudian menebarkan pandangannya ke sekitarnya dan berhenti melihat ke arah Qiao Li.
"Apa kabar kak Ragadewa!" sapa Qiao Li yang memperkirakan kalau Ju long sembuh dari amnesianya.
"Ra...ga dewa? kamu kenal aku?" tanya Ju long yang penasaran.
"Iya, kakak kan saudara kembar aku!" jawab Qiao Li sembari mengulas senyumnya.
"Saudara kembar? kau Leonisa?" tanya Ju Long yang berusaha mengingat kembali wajah-wajah keluarganya.
"Iya kak!" jawab Qiao Li.
"Sebentar ya kak!" seru Qiao Li yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke pintu, dan dia keluar untuk memanggil kedua orang tuanya.
Tak berapa lama dengan setengah berlari Qiao li, Xin Xin dan Fang Chen masuk ke kamar dimana Ju long berada.
__ADS_1
"Putraku Ragadewa!" panggil Xin Xin dan juga Fang Chen secara bersamaan.
"Ayah, ibu! kenapa kita berpakaian seperti ini?" tanya Ragadewa yang penasaran.
"Kita semuanya terdampar di jaman Dinasti Ming. Nama kamu saat ini adalah Ju Long, Leonisa Qiao Li, ibu Xin Xin sedangkan Ayah kalian Fang Chen." jelas Xin Xin seraya memeluk putranya.
"Ragadewa, apa kamu bisa bercerita tentang peristiwa setelah terlempar dari pusaran angin yang membawa kita beberapa tahun yang lalu?" tanya Fang Chen yang penasaran.
"Yang Ragadewa ingat, kalau Ragadewa terlempar ke sebuah kawah dingin. Ragadewa dengan sekuat tenaga berusaha menepi. Dan pada akhirnya Raga berhasil menepi dan tiba-tiba Raga tak sadarkan diri waktu itu." jawab Ragadewa yang terus mengingat kejadian yang dia alami.
"Terus kenapa kamu mendapatkan pedang Naga?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Pedang? oh pedang yang berapi itu?" tanya Ju Long yang menebak apa yang di maksud oleh Qiao Li.
"Iya, pedang itu!" seru Xin Xin yang juga penasaran.
"Raga ingat waktu tersadar, Raga melihat cahaya yang sangat terang di dalam sebuah goa. Karena penasaran, Raga melangkahkan kaki masuk ke goa dan mengetahui sumber cahaya itu dari api yang menyelubungi pedang itu. Raga menghampirinya karena penasaran dan Raga mencabut pedang tersebut. Dan seketika itu juga Raga tak ingat apa-apa lagi." ucap Ragadewa yang mengingat hal tersebut.
"Ah, benar kata kakek Angin dan nenek air! pedang naga itu di dalamnya ada roh pengendali api yang tersegel di dalamnya. Dan pengendali api bisa mencuci otak orang yang memegang pedang naga itu. Makanya kak Ju long tidak mengingat ibu, ayah dan juga Qiao Li." jelas Qiao Li yang mengingat akan ucapan kakek angin dan nenek air.
"Kembali ke jaman kita? bagaimanakah caranya?" tanya Ju long yang penasaran.
"Apakah kamu ingat saat Ratu flower memberitahukan caranya pada ibu?" tanya Qiao li yang menatap ke arah saudara kembarnya itu.
"Batu impian, kita harus mengumpulkan tujuh batu impian. Benar begitu?" tanya Ju long yang teringat kembali kenagan lamanya.
"Iya benar sekali, dan kita sudah mengantarkan paman Ekin dan paman Leon kembali ke kerajaan langit!" jawab Xin Xin yang bersemangat.
"Benarkah?" tanya Ju long untuk meyakinkan dirinya.
"Iya, dan setiap mengantarkan hanya di patok tiga orang saja yang bisa kembali ke jaman yang kita inginkan." jelas Xin xin
"Hanya tiga orang saja? paman Ekin, paman Leon dan satunya siapa bu?" tanya Ju long yang penasaran.
"Dia bibi Ayumi, gadis dari abad XXX yang juga jatuh ke dinasti Ming ini." jawab Xin Xin.
__ADS_1
"Sebentar, kita kan berempat, kalau bertiga berarti ada satu yang masih tinggal di Dinasti ini?" tanya Ju long yang penasaran.
"Iya, Li'er yang tetap tinggal di sini!" jawab Isi Li sembari mengulas senyumnya.
"Kau? kenapa harus kamu adikku?" tanya Ju long yang penasaran.
"Kak Ju long, saya ada tugas yang harus saya selesaikan. Dan Li'er rela kalau tidak bisa kembali bersama kalian. Tapi setelah ini Qiao Li akan kembali mengumpulkan batu impian lagi, dan Qiao Li janji akan kembali menemui kalian semuanya." jawab Qiao Li seraya menggenggam jari tangan Ju long. Ada perasaan haru diantara mereka.
"Adikku, kakak akan menunggumu!" seru Ju long yang menatap wajah kembarannya itu dalam-dalam.
"Baiklah sekarang pulihkan tenaga kak Ju long, agar bisa kembali ke jaman kita dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun." ucap Qiao Li.
"Oiya, ibu tadi masak. Kita makan sekalian disini saja!" seru Xin Xin yang bersemangat.
"Ide bagus Bu! lama sekali kita tidak makan bersama!" balas Fang Chen.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, mari Bu Li'er bantu bawakan masakan ibu ke kamar ini!" seru Qiao Li.
"Iya, ayo kita ke dapur Li'er!" balas seru Xin Xin, kemudian ibu dan putrinya itu melangkahkan kaki keluar dari kamar dan menuju ke dapur.
Beberapa saat kemudian mereka datang dengan membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman untuk mereka berempat.
Dan mereka makan bersama di kamar tersebut dengan sesekali bercanda dan bertukar cerita.
Siang berganti malam, detik berganti menit, menit berganti jam dan demikian selanjutnya hingga tak terasa tiga hari berlalu dan kondisi fisik dan rohani Ju long yang sudah membaik.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...