Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Makan siang bersama Patriak


__ADS_3

Badai pasir tiba dan anginnya yang menderu membawa ribuan pasir beterbangan dan ada yang sebagian menutupi tubuh Qiao Li, yang saat ini hanya tinggal wajahnya saja yang nampak tak tertutup pasir.


Beberapa jam kemudian badai telah berhenti dan langit pun cerah kembali.


Qiao Li membuka kedua matanya dan mencoba mengingat apa yang telah terjadi padanya.


"Ayah, ibu, kak Ju long.....! selamat jalan, semoga kalian sehat dan bahagia selalu tanpa aku, sampai aku kembali pulang ke jaman kita!" ucap Qiao Li yang tak terasa meneteskan air mata di pipinya.


Qiao Li kemudian menggunakan jurus pengendalian anginnya untuk menyibak pasir yang menutupi tubuhnya.


"Wuzz ....!"


Angin beterbangan dan tubuh Qiao Li kini telah bersih dari pasir yang menempel di tubuhnya.


Masih dengan menggunakan jurus pengendalian anginya, Qiao Li melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kembali ke penginapan pintu naga.


Tak butuh waktu yang lama akhirnya Qiao Li telah sampai di depan pintu gerbang penginapan pintu naga dan gadis itu melangkahkan kakinya masuk ke halaman penginapan pintu naga tersebut.


Saat tiba di halaman penginapan, Qiao Li disambut oleh Chen Kun dan juga Ming Mei.


"Li'er, kenapa kamu sendirian? mana kedua orang tua kamu dan kakak kamu?" tanya Ming Mei yang menatap ke arah Qiao Li saat Qiao Li sudah ada dihadapannya.


"Mereka sudah pulang ke jaman modern. Dan mereka titip salam untuk kalian semuanya!" jawab Qiao Li yang menatap ke arah Ming Mei dan juga Chen Kun.


"Sebaiknya kamu temui Patriak An dan juga Patriak Feng untuk memberikan penjelasan pada kedua guru besar kita!" seru Chen Kun yang mengingatkan.


"Baiklah, dimanakah mereka?" tanya Qiao Li yang kemudian melangkahkan kakinya dan diikuti oleh Ming Mei.


"Kedua Patriak saat ini ada di ruang utama penginapan, karena saat ini ada banyak tamu yang datang untuk menginap. Ya tahu sendiri tadi ada badai gurun yang sangat sangat dahsyatnya!" jawab Ming Mei yang sesekali melihat ke arah Qiao Li.


"Oiya, tadi sempat ada badai gurun ya!" ucap Qiao Li yang mengulas senyumnya.


Sesampainya di ruang utama, mereka membantu Patriak An dan juga Patriak Feng dalam menerima dan melayani pelanggan yang keluar dari penginapan.

__ADS_1


Tak berapa lama mereka telah menyelesaikan semuanya, dan mereka kemudian makan bersama karena sudah waktunya mereka untuk makan siang.


"Qiao Li, dimana kedua orang tua dan juga kakak kamu? ayo ajak makan sekalian!" ajak Patriak An pada saat mereka duduk di meja makan dengan aneka makanan yang telah Qiao Feng masak untuk mereka.


"Ma'af sebelumnya Patriak, kedua orang tua serta kakak Li'er tidak berpamitan terlebih dulu. Dan mereka juga minta ma'af bila selama ini merepotkan kalian semuanya!" ucap Qiao Li seraya memandang Patriak An dan juga Patriak Feng bergantian.


"Apa maksudnya mereka saat ini pergi dari penginapan pintu naga ini begitu?" tanya Patriak Feng yang penasaran.


"Iya, dan juga pergi dari dinasti Ming ini." ucap Qiao Li yang menambahi.


"Pergi dari kekaisaran Ming, maksud kamu apa?" tanya Patriak An yang masih bingung dengan ucapan Qiao Li.


"Kedua orang tua dan kakak saya sudah pulang ke jaman kami sebelum tiba disini." ucap Qiao Li yang mengambil makanan yang sesuai dengan seleranya.


"Kenapa mendadak sekali, kita kan belum memberikan ucapan perpisahan untuk mereka!" seru Patriak Feng.


"Mohon ma'af jika kami tak memberitahukan terlebih dulu. Kami sangat buru-buru, karena kesempatannya hanya datang sekali saja." balas Qiao Li.


"Ya sudah, kalau begitu kita makan dan habiskan semua makanan yang telah Patriak Feng masak lebih dulu. Setelah itu kita bercerita dan bercanda sesuka kalian!" seru Patriak An dan semuanya menyetujuinya.


Tak berapa lama mereka telah selesai makan dan Qiao Li bersama Ming Mei membereskan semua piring bekas dan sisa-sisa makanan mereka.


Setelah itu mereka mulai berbincang-bincang perihal yang ingin mereka utarakan.


"Patriak An!" panggil Qiao Li yang mulai duduk kembali di atas kursinya.


"Ada apa Li'er?" tanya Patriak An sembari menatap kearah Qiao Li.


"Li'er tak melihat keberadaan Patriak Jingmi dan patriak Lung, serta Kak Hua Tian dan Kak Yan Qiu. Dimanakah mereka?" tanya Qiao Li yang mengingat dia pernah menyarankan pada mereka yang disebutkan Qiao Li untuk pergi ke penginapan Pintu Naga.


"Oiya, kami belum memberitahukan pada kamu kalau kita kehilangan kedua Patriak kesayangan kita." jawab Patriak Feng yang menatap Qiao Li dengan sendu.


"Apa maksud Patriak?" tanya Qiao Li yang penasaran.

__ADS_1


"Mereka telah meninggal dunia karena kita terlambat mengobati racun yang menjalar di tubuh mereka." jawab Patriak An dengan wajah sendunya.


"Astaga, Li'er baru ingat!" seru Li'er yang mengusap wajahnya dengan kasar.


"Li'er ingat kalau mereka berdua terkena racun. Lantas dimana kak Hua Tian dan kak Yan Qiu saat ini?"" lanjut tanya Qiao Li yang penasaran.


"Mereka saat ini berada di perguruan Bambu kuning. Menjaga sementara sebelum kamu kembali dari pengembaraan kamu." jawab Patriak An pada Qiao Li.


"Maksud Patriak, Li'er yang akan menjaga penginapan ini sendirian?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Iya terpaksa, karena kedua orang tua kamu dan juga kakak kamu yang sudah tidak berada disini, jadi ya hanya kamu dan beberapa anggota sekte bambu kuning saja yang menjaga penginapan ini. Karena kami akan kembali ke perguruan Bambu kuning." jelas Patriak An.


"Apakah Kak Chen Kun dan Kak Ming Mei juga ikut?" tanya Qiao Li yang penasaran.


"Iya, kami berempat akan pulang ke perguruan Bambu kuning." jawab Chen Kun yang sedari tadi diam dan mendengarkan.


"Kenapa kalian bersamaan pulangnya?" tanya Qiao Li lagi.


"Begini ya Li'er, kami pulang itu karena kami mau mengadakan pernikahan antara Hua Tian dan Yang Qiu, setelah itu akan ada lagi pernikahan yaitu Chen Kun dan Ming Mei. Jadi apakah kamu sudah mengerti kenapa kami pulangnya secara bersamaan?" jelas Patriak Feng sekaligus memberi pertanyaan pada Qiao Li.


"Wah, ada kabar bahagia ya! kalau aku menunggu di sini, berarti aku tak bisa menghadiri pernikahan mereka!" seru Qiao Li yang memandang wajah Chen Kun dan juga Ming Mei secara bergantian.


"Iya, tak apa. Tugas kamu lebih berat karena menunggu dan menjaga penginapan pintu naga ini!" ucap Ming Mei yang mendekati Qiao Li dan kemudian menepuk bahu Qiao Li pelan-pelan dan berasa untuk Qiao Li.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2