Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Alam bawah sadar Fang Chen


__ADS_3

Qiao Li dan Xin Xin kemudian mengantar dan mengarahkan mereka pada tugas-tugas yang akan mereka jalani.


Setelah itu keduanya membersihkan badan mereka di kamar mandi masing-masing.


Setelah itu mereka pergi menemui Qiao Feng yang sedang menjaga Fang Chen. Sedangkan Fang chen masih terbaring di tempat tidurnya.


"Patriak, biar kami yang menungguinya" ucap Xin Xin pada Qiao Feng.


"Baiklah, kalau ada apa-apa, bisa kamu jubingi aku!" ucap Qiao Feng seraya bangkit dari tempat duduknya.


Xin Xin dan Qiao Li duduk diposisi kanan dan kiri Fang Chen.


Mereka melihat Fang Chen masih tak sadarkan diri.


Sementara itu alam bawah sadar Fang Chen, muncullah kenangan awal perjumpaannya dengan Xin Xin istrinya. Yang sebelumnya bernama Rani.


...💭💭💭💭...


Kejadian dimana Fang Chen atau Inspektur Saga dikejar oleh dua motor yang saling boncengan.


"Kak depan kita ada sepeda motor dikejar dua sepeda motor yang saling berboncengan. Sepeda motor yang mengejar kelihatannya bawa senjata!" Seru Xin Xin atau Rani


"Itu begal Ran, dia akan membuat korbannya jatuh dulu" kata Raditya, makan Rani.


"Akan aku kecohkan para begal itu,kamu siap...si.. " belum selesai bicara, Radit menengok ke arah Rani ternyata Rani sudah siap dengan topeng khasnya.


Radit pun tersenyum. Radit pun juga memakai topengnya.


Kemudian Radit mempercepat laju mobil dan membunyikan klakson secara asal.Membuat si Begal berang. Kemudian Radit memberhentikan mobilnya di depan ketiga sepeda motor itu.


Empat orang pengejar segera turun, orang menghajar seseorang yang di kejar,dan dua orang menghajar Radit dan Rani. Hingga ada yang mengeluarkan senjata.


Rani lebih dulu membekukan lawannya.Seperti biasa dia mengambil dompet lawannya. "Musang Hitam? tapi jaketnya kok bergambar kobra? ada apakah ini?" tanya Rani dalam hati.


Akhirnya Raditya dan orang yang dikejar itu bisa menaklukkan la*


&wannya.


Tiba-tiba _ yang dikejar itu mengeluarkan empat buah borgol dari dalam jok sepeda motornya.


Rani dan Radit saling berpandangan. "Polisi...?!!" kata mereka bersamaan.


"Kirim mobil patroli dengan enam anggota sekarang!" perintah polisi tersebut pada salah satu anggota kesatuannya.


"Terima kasih atas bantuan kalian, tapi ini sangat membahayakan diri kalian" kata polisi pada Radit dan Rani. "Tidak apa-apa,kami sudah biasa menghadapinya"kata Radit.


Polisi itu pun melepaskan helm yang sejak tadi masih dipakainya. Terpancar aura ganteng, gagah dan kharismanya. Rani yang melihatnya,seakan tak mau mengedipkan matanya.


"Oya saya Inspektur Saga" kata Polisi itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Dan disambut oleh Radit "Raditya dan..." kata Radit sambil menoleh kearah adiknya yang masih terpaku akan ketampanan sang Inspektur.


Tiba-tiba Rani mengulurkan tangannya. "Panggil saja Ran" kata Rani sambil tersenyum.


"Kenapa kalian pakai topeng, saya kira tadi komplotan mereka." kata inspektur Saga yang penasaran.

__ADS_1


"Kami hanya tidak ingin dikenali lawan kami, Karena tujuan kami belum berhasil" kata Raditya.


"Apa tujuan kalian,munIntanya Sagaspekturgkin saya bisa bantu?" .


"Kami mau menagih janji pada orang yang menabrak orang tua kami sepuluh tahun yang lalu." jelas Radit.


"Iya kami Yatim piatu sejak saat itu" imbuh Radit.


"Ok,kalau ada apa-apa bisa hubungi saya ."kata Inspektur Saga sambil mengulurkan kartu namanya. Dengan sigap di ambil oleh Rani.


"Baik Inspektur" kata Rani yang masih memandang Inspektur Saga.


Setelah berpamitan, Inspektur Saga menghampiri mobil patroli dan dia pergi dengan naik sepeda motornya.


...~~~~...


Di lain hari, kejadian dimana teman Rani dipukuli orang-orang.


Tiba-tiba mata Rani melihat seseorang yang Rani kenal .


"Inspektur Saga!" Rani mengayuh sepedanya lebih kencang, iya Inspektur Saga ada di sebuah pertokoan yang sepertinya baru kerampokan.gt drrtt t6yy


"Inspektur Saga, tolong teman saya, teman saya dipukuli orang-orang!" seru Rani sambil terengah-engah.


"Bisa kau tunjukan lokasinya?" tanya Inspektur Saga.


"IYa Inspektur,tapi saya bawa sepeda kayuh?" tanya Rani.


"Saudara Alex, anda lanjutkan penyelidikannya. Dan saya titip sepeda Nona ini,tolong di jaga ya. Saya ada keperluan sebentar" perintah Inspektur pada bawahannya.


Ingin rasanya Rani memeluk Inpektur dari belakang seperti posisinya saat ini di bonceng Inspektur Saga.Tapi Dia harus jaga sikap.


Akhirnya mereka sampailah di lokasi yang dituju.


"Itu Inspektur ..!" seru Rani sambil menunjuk ke arah gerombolan.


"Kami disini, jaga motorku!" pinta Inspektur Saga sambil tersenyum.


"Aduh tampannya, klepek-klepek nih..!" batin Rani


"I..iya Inspektur" balas Rani gugup. Inspektur Saga langsung menghampiri gerombolan tersebut.


"Huh..jaga motor, yang benar saja Inspektur? aku bukan tukang parkir?lagi pula anda akan melawan begitu banyak orang, tanganku jadi gatal nih! mau membantu menghajar mereka!" gerutu Rani seraya mengepalkan tangannya.


Rani pun mencari kerikil di sekitar tempatnya sembunyi. Setelah dirasa cukup, Rani mengendap-endap mendekati gerombolan itu.


"Berhenti! apa yang kalian lakukan?" seru Inspektur Saga saat mendekati gerombolan tersebut.


"Polisi! sebagian cepat bawa sandera, sebagian ikut aku hadapi polisi itu. Dia kan cuma sendirian, tak ada yang perlu ditakuti!" perintah salah seorang dari mereka.


Benar saja mereka membagi diri menjadi dua, sebagian mengahadapi Inspektur Saga dan sebagian membawa Dio teman Rani untuk menjauh dari tempat semula.


"Apa yang kalian lakukan pada anak itu!" seru Inspektur Saga.


"Bukan urusanmu!" jawab salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Kurang ajar! ini sudah termasuk kriminal!" batin Inspektur Saga saat dilihat dari kejauhan nampak Dio yang pingsan diseret empat anggota dari mereka yang lain.


Perkelahian tangan kosong pun tak terelakkan. Inspektur Saga melawan empat orang dihadapannya. Beberapa jurus telah mereka keluarkan.


Sementara itu sisi yang lain


"Ayo cepat, kita bawa anak ini ke mobil!" seru seseorang dari mereka.


Tiba-tiba...


"Plakk....Plakk...Plakk...plakk!" empat kerikil mengenai leher belakang mereka. "Aghh...!!" secara otomatis memegang leher belakang mereka yang sakit karena benda kecil yang mengenainya.


"Siapa itu, beraninya main belakang!" bentak salah seorang dari mereka dan menoleh kebelakang. Dan dilihatnya seorang gadis bertopeng yang bersandar di sebuah pohon, dengan santainya melambaikan tangannya.


"Hai, kalian mencari ku?" tanya gadis bertopeng itu yang tak lain adalah Rani sambil tertawa kecil.


"Apa kau yang menyerang kami dari belakang!" tanya salah satu dari mereka dengan geram.


"Menurutmu siapa lagi? adakah orang lain selain aku?" Rani balik bertanya dan tetap tertawa sinis.


"Kurang ajar bocah ingusan, mau mati kau!" seru mereka semakin geram.


"Bukan aku yang mau mati,tapi kaliaaaan!" seru y1ei1r melangkah maju berhadapan dengan empat orang didepannya.


Satu persatu mereka melawan Ran, tapi tak ada satupun jurus mereka mengenai gadis itu. Karena dengan cepatnya Rani bisa menghindar dan membalikkan serangan mereka. Akhirnya mereka berempat menghadapi Rani secar9a bersamaan.


"Aduh apa kalian nggak malu, mengeroyok seorang gadis? apa kata dunia? jika aku kalah akan ada yang menertawakan kalian dan jika aku menang, semakin banyak yang menertawakan kalian? Atau jangan-jangan kalian nggak punya malu ya?" ejek Rani sambil tertawa lebar.


"Bedebah! jangan pedulikan ocehan dia. Seraaaaaang" seru salah satu diantara mereka.Dan mereka pun maju secara bersamaan.


Rani pun bersiap dengan jurus andalannya, tendangan berputar. Dua orang terpental dan tak bangun lagi,tapi Ran sempat kecolongan. Salah satu pukulan dari mereka mengenai ulu hatinya.u


"Aghh...sial!¿¿!¡" Rani pun mundur beberapa langkah dan mengatur pernafasannya.


"Menyerahkan nona manis? atau jangan-jangan yang kami tangkap itu pacar kamu ya? sampai mati-matian kamu membelanya...ha..ha" ejek salah satu dari dua orang yang tersisa.


"Menyerah pac.cihh! buka ciri khas ku!" balas Ran sambil pasang kuda-kuda. Berniat segera melumpuhkan keduanya.


Rani mengguna kan sisa kerikil di sakunya.


"Takk...takk!!" kerikil itu mengenai dahi kedua lawannya dan mereka pun sempoyongan saat menerima serangan kerikil-kerikil itu.


"Huh...akhirnya beres juga!" seru Rani sambil menepukan tangannya membersihkan tangannya dari debu.


Ketika Ran hendak melangkah pergi, tiba-tiba ada seseorang dibelakangnya. Ran pun membalikkan badannya dengan posisi siap menyerang.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2