
"Benar, jadi terimalah pedang Azuya dan kamulah sekarang pemiliknya" ucap Xin Xin yang memegang tangan putrinya.
Li'er pun mengangguk tanda setuju.
"Pedang Azuya!" seru Xin Xin yang memanggil pedang Azuya.
Dan secara tiba-tiba pedang itu muncul di tangan Xin Xin. Kemudian Xin Xin menyerahkannya pada Qiao Li.
Dengan sedikit gemetaran putri Xin Xin menerima pedang pusaka ibundanya itu
"Cobalah berlatih menggunakannya, supaya kalian saling mengenal satu sama lainnya." Ucap Xin Xin .
"Baik Bu" jawab Qiao Li yang kemudian mengikuti apa ucapan ibunya. Gadis itu terus berlatih jurus pedang dengan pedang Azuya, dengan meliuk - liuk sesuai jurus yang diajarkan Xin Xin.
Qiao Li yang pada awalnya merasakan berat, pada akhirnya bisa menguasai pedang Azuya.
"Hopp hiaaat...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Hopp hiaaat...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Hopp hiaaat...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
Qiao Li terus berlatih dan tak merasakan peluh yang membasahi tubuhnya.
Xin Xin dan Fang Chen terus memperhatikan putri mereka berlatih.
Sedangkan Qiao Feng dan yang lainnya sudah masuk ke dalam penginapan.
"Hopp hiaaat...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Hopp hiaaat...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Hopp hiaaat...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
"Weeet...weeet....weeet...!"
__ADS_1
Suara teriakan Qiao Li dan sabetan pedang Azuya dan deburan pasir yang beterbangan menambah aksen Qiao Li dalam berlatih.
Tanpa terasa hari beranjak malam, dan Xin Xin menyuruh putrinya menghentikan latihannya.
"Li'er, berhenti! latihan kali ini cukup sampai disini!" seru Xin Xin yang didengarkan oleh Qiao Li.
"Baik ibu!" balas Qiao Li yang kemudian menutup jurusnya.
"Li'er, coba kamu simpan pedang Azuya ke dalam tubuh kamu!" seru Xin Xin.
"Ibu, bagaimana caranya?" tanya Qiao Li yang merasa belum tahu caranya.
"Xin'er, sebaiknya kamu ceritakan bagaimana awalnya kamu mendapatkan pedang Azuya ini" ucap Fang Chen saat menghampiri dua perempuan yang merupakan istri dan putrinya.
"Baiklah, waktu itu setelah latihan pada waktu malam hari. Karena kelelahan Ibu tertidur pulas di kamar ibu yang merupakan tempat rahasia. Tiba- tiba ibu mendengar suara petikan harpa mengalun merdu." Kata Xin Xin yang mengawali ceritanya.
🗓️Flashback on.
Kala itu Xin Xin bernama Rani, dan Fang Chen bernama Inspektur Saga.
"Si..siapa kamu?" tanya Rani yang penasaran.
"Apa kabar Rani? Aku Leony!" jawab Leony.
(Leony adalah adik dari Leon atau Hei Jun)
"Kabarku baik, Leony. Kenapa wujudmu seperti ini?" tanya Rani penasaran.
"Peri mah bebas, aku bisa berubah sesuai keinginanku!" jawab Leony dengan asal.
"Iya..iya deh yang Peri!" Sahut Rani yang juga asal.
"Saat aku melihat latihanmu tadi siang, aku ingin memberimu sesuatu." kata Leony yang kemudian di tangkupnya kedua tangannya dan dia berkomat-kamit seperti merapal mantera dengan menggosokkan telapak tangannya tersebut.
Kemudian ditengadahkannya kedua tangannya dan muncul cahaya biru yang panjang membentuk sebuah pedang.
"Semoga pedang ini berjodoh padamu. Ambillah, jika kamu menyebut namanya dia akan muncul maupun menghilang sesuai permintaanmu." kata Leony sambil menyerahkan pedang tersebut.
"Apa nama pedang ini?" tanya Rani sambil menerima pedang tersebut.
"Pedang Azuya..!" jawab Leony.
Rani pun mencoba menyebut namanya, "pedang Azuya" dan pedang itu pun menghilang dari pandangannya.
Kembali Rani menyebutkan
"Pedang Azuya..!" maka pedang itu muncul kembali.
Kemudian Rani menggunakannya untuk latihan, berbagai jurus pedang pun dia tunjukan.
"Hop ...! Hiaaat..!!"
" Weeeeet...! weeeeet...! weeeet.,!!"
"Bagaimana Rani, apa kamu suka?'" tanya Leony yang kagum akan gerakan jurus-jurus Rani.
"Aku suka sekali Leony, terima kasih Leony!" seru Rani yang memeluk Leony.
Seketika itu juga, Rani terbangun dari mimpinya.
"Apa ini? aku hanya mimpi?" tanya Rani dalam hati.
Dia pun penasaran, dan mencoba menyebut nama pedang itu.
"Pedang Azuya!"
Seketika itu juga muncul pedang Azuya di telapak tangannya.
"Ah betul tidak mimpi!" seru Rani sambil memeluk pedang Azuya itu.
__ADS_1
"Kini aku punya senjata!" Seru Rani dengan mengukas senyumnya.
"Pedang Azuya, bantu aku, kita tumpas kejahatan di muka bumi ini!" seru Rani dengan mantap.
"Pedang Azuya!" dan pedang Azuya itu menghilang dari pandangan Rani.
🗓️Flashback off.
"Jadi begitulah ceritanya." Kata Xin Xin yang mengakhiri ceritanya.
"Li'er coba ya Bu!" Seru Qiao Li yang kemudian dia mencoba membuat pedang Azuya menghilang dari pandangannya.
"Pedang Azuya!" seru Qiao Li, namun pedang tetap saja berdiam diri.
"Ibu, kenapa dia tidak mau menghilang?" tanya Qiao Li sedikit bingung.
Kemudian Xin Xin menghampiri Pedan Azuya.
"Pedang Azuya, dia putriku. Dampingi dia dalam setiap perjuangannya. Jaga dan bantu dia seperti kamu menjagaku" Ucap lirih Xin Xin pada pedang Azuya.
Tiba - tiba saja pedang Azuya memancarkan cahaya biru kehijauan dan Qiao Li tertegun karenanya.
"Ayo coba kamu panggil dia, Li'er!' seru Xin Xin dan Qiao Li mendengarkannya lalu mempraktekkannya.
"Pedang Azuya!" seru Qiao Li dan sekejap saja pedang itu menghilang dari pandangan Qiao Li, Xin Xin dan juga Fang Chen.
"Coba kamu panggil Pedang itu, Li'er!" seru Fang Chen dan Qiao Li memanggil pedang Azuya kembali.
"Pedang Azuya!" dan seketika itu jua pedang itu muncul di tangan Qiao Li.
"Ayah, ibu..Li'er bisa!" Seru Li'er dengan semangat.
"Akhirnya pedang Azuya sudah nyaman bersamamu Li'er!" seru Xin Xin yang mengulas senyumnya.
"Pedang Azuya!" dan pedang Azuya menghilang dari tangan Qiao Li.
"Iya, ibu ayah terima kasih banyak!" Ucap Qiao Li yang mengulas senyum pada kedua orang tuanya.
"Sebaiknya kita membersihkan diri dan makan malam, perut ayah sedari tadi minta diisi!" seru Fang Chen sembari tersenyum.
"Baiklah, ayo kita masuk ke penginapan!" sahut Xin Xin dan dibalas "iya " oleh Qiao Li.
Ketiganya kemudian masuk ke penginapan dan mulai membersihkan diri mereka seta mengganti pakaian mereka.
Beberapa menit kemudian mereka bertemu kembali di meja makan bersama Qaio Feng dan pelayang lainnya.
Mereka makan malam bersama, karena hari ini tak ada yang menginap di penginapan Pintu Naga. Jadi keadaan penginapan sedang sepi.
Hanya merekalah penghuni penginapan dan mereka saling bercerita serta bermain catur untuk mengisi kesunyian malam.
Setelah malam semakin larut, mereka beranjak ke kamar masing - masing dan mulai naik ke peraduan Masing - masing.
...****...
Hari - hari berlangsung seperti biasanya, dan Qiao Li sering berlatih sendirian di halaman belakang penginapan.
Tibalah hari dimana Qiao Li harus meninggalkan penginapan pintu naga guna mencari saudara kembarnya Ju Long dan juga mencari batu impian yang ke empat sampai ke tujuh.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1