Pendekar Pedang Azuya

Pendekar Pedang Azuya
Pertemuan Anak dan Ibu


__ADS_3

Gadis berusia empat belas tahun itu terus berjalan mengikuti petunjuk arah yang di dapatkannya tadi.


Teruslah dia melangkah tanpa hambatan sama sekali, hingga sampailah di sebuah desa.


Banyak warga yang berduyun-duyun ke alun-alun, dimana ada utusan dari kerajaan yang memberikan pengumunan.


Qiao Li yang penasaran ikut melangkahkan kaki untuk pergi ke alun-alun guna mendengarkan pengumunan dari utusan kerajaan itu.


"Dong....dong...dong...!!"


"Di beritahukan pada semua orang, barang siapa yang berhasil menangkap hidup atau mati sepasang pendekar bercadar, maka akan mendapat hadiah yang sepantasnya. Tertanda tiga kanselir kerajaan."


"Dong....dong...dong...!!"


"Sekali lagi kami beritahukan..."


"Di beritahukan pada semua orang, barang siapa yang berhasil menangkap hidup atau mati sepasang pendekar bercadar, maka akan mendapat hadiah yang sepantasnya. Tertanda tiga kanselir kerajaan."


"Dong....dong...dong...!!"


"Menangkap sepasang pendekar bercadar,itu sama saja kita menyerahkan pahlawan kelaparan kita!" ucap berapa warga.


"Tidak usah di tanggapi! kalau mereka mati, siapa lagi yang akan bantu kita!" seru warga lainya.


Para warga pun membubarkan diri dan tak ada yang menggubris penguman dari pihak kerajaan itu.


"Jadi sepasang pendekar bercadar itu, adalah pahlawan buat mereka!" gumam dalam hati Qiao Li.


Tiba-tiba pandangan Qiao Li tertuju pada sepasang laki-laki dan perempuan yang memakai pakaian seperti warga umumnya dan memakai topi lebar yang terbuat dari bambu.


"Dua orang itu mencurigakan sekali!" ucap dalam hati Qiao Li yang terus memperhatikan dua orang yang misterius itu.


Sepasang orang itu tersebut berjalan meninggalkan keramaian desa.


Qiao Li terus mengikuti mereka dengan mengendap-endap.


Tiba-tiba Qiao kehilangan jejak keduanya.


"Kemana mereka perginya!" ' gumam Qiao Li yang melihat ke sekitarnya.


"Hai Siapa kamu!" seru Suara seorang perempuan untuk berapa di belakang Qiao Li. Qiao Li menghentikan kakinya dan menoleh ke belakang.


Sesosok wanita yang dia cari selama ini.


"I..ibu...!" panggil Qiao Li.


"Putriku..! Apakah benar yang aku lihat ini?" tanya wanita .


Keduanya pun saling memandang dan saling memeluk, melepas rasa rindu diantara mereka.


Dan kenangan saat sebelum terpisah pun membayangi mereka berdua.


📆Flasback on,


Ayah....!" panggil seorang anak perempuan yang berusia tiga belas tahun, pada ayahnya yang berada di kursi di balkon kamarnya.


"Eh, bidadariku Leonisa! ada apa cantik?" tanya ayah Leonisa yang meletakkan majalah yang dia baca.


"Nisa dan kak Raga kan lulus pa, bagaimana kalau kita piknik?" tanya Leonisa sembari duduk di pangkuan papanya.


"Boleh, piknik kemana?" tanya papanya Leonisa.


"Ke kota Sebrang Yah!" jawab seorang wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu yang datang bersama kembaran Leonisa yang seorang anak laki-laki, bernama Ragadewa


"Pulau sebrang? kenapa memilih ke sana Nisa?" tanya ayah Nisa yang penasaran.


"Mengingat perjuangan Ayah!" kata Nisa sembari mengulas senyum.


"Bagaimana dengan kalian?" tanya ayah Nisa yang meminta pendapat.


"Kita sih setuju saja, iya kan Raga?" jawab ibunda Leonisa sembari menatap pada putranya.


"Iya, asal bersama-sama saja! yang penting banyak makanannya! he..he..!" canda Ragadewa.


"Hu...! dasar tukang makan!" seru Nisa sembari melemparkan bantal ke arah kembarannya.


"Biarin! wekkk...!" balas Raga sembari melempar balik bantalnya.


"Hei, sudah-sudah ayah setuju!"ucap ayah Leonisa sembari tersenyum.


"Tapi kapan kita berangkatnya Yah?" tanya Nisa dengan semangat.

__ADS_1


"Hmm... Minggu depan. Ayah harus mengajukan ijin dulu pada kantor pusat, Dan kita ijin pada keluarga kita yang lainya." kata Ayah Nisa dengan mengulas senyum.


"Makasih ayah, Nisa sayang ayah!" ucap Leonisa seraya mengecup pipi kiri ayahnya.


"Cupp...!"


"Hm..hm..! yang kanan protes..!!" ucap ayah Nisa yang masih tersenyum .


"Nih,Cupp...!" Nisa yang memberi kecupan di pipi kanan ayahnya


"Terima kasih sayang." ucap ayah Nisa yang kembali melayangkan senyumannya.


"Ayah, kami juga mau meluk!" ucap ibunda Nisa dan Raga yang hampir bersamaan.


"Eh kakak sama bunda, ikut-ikutan saja!" seru Nisa yang dibalas usapan di kepalanya oleh ibundanya.


Nisa sangat bahagia hari ini.


...****...


Seminggu kemudian, setelah berpamitan pada semua keluarganya, Keluarga kecil itu berangkat dengan naik mobil yang di kemudikan oleh Ayah Nisa.


Mereka memang sengaja naik mobil dalam perjalanan ke kota Sebrang .


Posisi duduk mereka, Ayah Nisa sebagai sopir, Leonisa di samping ayahnya, ibunda Nisa di belakang Ayah Nisa dan Ragadewa di belakang Leonisa.


"Aku kok merasa aneh ya?" tanya ayah Nisa saat dalam perjalanan menuju pulau Sebrang.


"Aneh yang bagaimana Yah.?" tanya Ibunda Nisa yang penasaran.


"Kita kan sudah pergi jauh dari keluarga kita, dan aku merasa kita nggak akan kembali pada mereka..!" ucap ayah Nisa pada ibunda Nisa.


"Mungkin hanya perasaan ayah saja" ucap Ibunda Nisa yang mencoba menenangkan suaminya.


"Iya, semoga saja tidak terjadi apa-apa!" ucap ayah Nisa dan kemudian dia menyalakan lagu-lagu kesayangannya di audio mobilnya untuk menghilangkan rasa kecemasannya.


"Yah, lagunya jangan yang nostalgia! kami kan tidak tahu lagu itu!" seru Leonisa yang protes dengan lagu yang di putar Ayahnya.


Kemudian Leonisa memutar lagu kesukaannya.


Perjalanan dari kota J menuju Pulau Sebrang membutuhkan waktu kurang lebih satu hari untuk kendaraan darat.


Cukup jauh medan yang mereka tempuh. Bila lelah dan mengantuk, komisaris Saga menyempatkan diri untuk menepi sekedar untuk beristirahat.


Ayah Nisa kemudian menepikan kendaraannya, dan Leonisa mematikan Audio mobilnya.


Mereka pun tidur untuk melepas lelah.


Tak berapa lama, ada empat orang menggedor pintu mobil.


Membuat semua


penumpang mobil itu tanpa terkecuali, bangun dengan rasa kaget dan penasaran.


"Dhokk...dhokk...dhokk...!!"


"Apa yang terjadi?" tanya Ibunda Nisa yang sangat terkejut.


"Nampaknya ada yang mau merampok kita Bunda!" Leonisa yang menebak.


"Kalian jangan keluar dari mobil!" ucap Ayah Nisa, yang kemudian keluar dari mobil.


"Ayah..! hati-hati!" seru ibunda Nisa yang khawatir.


"Ayah kan polisi hebat, bunda jangan khawatir!" ucap Ragadewa yang berusaha menenangkan ibundanya.


"Betul bunda, percaya deh sama ayah!" kata Leonisa dengan keyakinan.


"Iya sayang, makasih!" ucap ibunda Nisa seraya mengusap kepala putranya.


Dan ketiganya melihat suasana di luar mobil.


"Ma'af, apa mau kalian sampai menggedor-gedor pintu mobil kami!" seru ayah nisa saat keluar dari mobil dan menatap ke empat orang itu satu persatu dengan tajam.


hiasan dan barang berharga lainnya!" seru seorang dari mereka.


"Oohh, ceritanya mau merampok ya! sebaiknya kita berolah raga dulu teman!!" seru ayah Nisa yang sudah dalam posisi bersiap menghadapi lawannya.


"Kurang ajar..! berani benar kau menantang kami, cari mati kau rupanya!!" umpat salah satu dari mereka.


Dan mereka berempat menyerang Ayah Nisa dengan bergantian .

__ADS_1


"Hopp....!!"


"Bagh...!!"


"Bugh...!!"


"Aaaaghh...!!"


"Bagh...!!"


"Bugh...!!"


"Aaaaghh...!!"


Dua diantara empat orang itu terkena pukulan di pipi kanan mereka oleh pukulan dari ayah Nisa itu.


"Ayo kalian berdua, maju sekalian!!" tantang ayah Nisa dengan jari tangan kanannya memberi kode untuk kedua orang yang belum terkena pukulan dari ayah nisa itu, untuk maju dan menghadapinya.


"Kurang ajar..!! rasakan ini..!!" seru seorang dari dua orang itu, dia dan temannya mengeluarkan pisau yang mereka sembunyikan di balik punggung mereka.


"Hiaat..!!" satu orang menyerang dengan cara tangan kanan menusuk ke arah ayah nisa, dan dengan entengnya di tepis oleh komisaris polisi di kota J itu.


Kemudian Ayah Nisa memberikan dua pukulan tepat di ulu hati lawannya.


"Bughh...! Bughh...!!"


"Uuugghh...!!"


Orang itu mengerang kesakitan.


"Cihh...! rasakan in...!!" seru laki-laki yang satunya, namun belum selesai dia berseru, dia mendapat hadiah tendangan dari ayahnya Nisa.


"Aaaghh...! brukk...!!"


Laki-laki itu jatuh terpelanting dan tak sadarkan diri.


"Hei, jangan di ulangi lagi perbuatan kalian ini atau kalian akan berurusan denganku!" seru ayah Nisa pada ke empat orang itu yang tunggang langgang melarikan diri.


"Lari...!"


"Untung saja aku sedang berlibur! kalau tidak, kalian akan berurusan dengan pengadilan!" seru ayahnya Nisa yang kemudian membuka pintu mobilnya, dan dia masuk ke dalam mobil.


"Ayah..! ayah tidak kenapa-kenapa kan?'' tanya Leonisa yang merasa khawatir tapi bangga pada ayahnya yang seorang polisi itu.


"Ayah tidak apa-apa. Kamu, bunda dan kak Raga bagaimana?" tanya ayah Nisa seraya menoleh pada ketiga orang yang di cintainya itu satu persatu.


"Kami tak apa-apa ayah..!" jawab Ibunda Nisa dan diikuti Ragadewa.


"Oke sebaiknya kita lanjutkan perjalanan, agar lebih cepat sampai!" seru Ayah nisa dan di setujui oleh Ibunda Nisa dan kedua putra- putrinya.


Mobil itu pun kembali melaju dengan kecepatan sedang, melanjutkan perjalanan mereka.


Matahari telah beranjak ke ufuk barat, menandakan bersiap ke peraduan.


Dan mereka telah sampai ke pelabuhan.


Setelah mengantri tiket, mobil itu masuk ke dalam sebuah kapal besar yang muat untuk mengangkut kendaraan.


Leonisa dan keluarganya menikmati semilirnya hembusan angin di atas kapal.


Ragadewa adalah bocah laki-laki yang memakai kalung bertuliskan Ragadewa dan Leonisa bocah perempuan yang juga memakai kalung yang bertuliskan Leonisa, yang merupakan pemberian terakhir dari kakek buyut mereka yang bernama Kakek Darma sebelum mereka meninggal.


Keduanya bersendau gurau nampak senang sekali, tawa dan senyum menghias di bibir mereka.


Tak berapa lama, kapal telah bersandar di pelabuhan pulau Sebrang.


Mereka melangkahkan kaki menuju mobil mereka yang berada di bawah.


"Pulau Sebrang..! saya datang membawa istri dan anakku!" seru Komisaris Saga ayah Nisa dengan leganya saat keluar dari kapal.


Dan kemudian Ayah dua anak itu mengemudikan mobil itu menuju ke hotel ternama di kota Sebrang itu.


...~¥~...


...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA...


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...BERSAMBUNG...


__ADS_2