
Nama paman Chang Yi, Li'er" jawab Ekin yang sekarang bernama Chang Yi.
"Ibu, Li'er pernah bertemu dengan ayah." kata Qiao Li seraya menatap ibunya.
"Ayah? dimana?" tanya Xin Xin yang penasaran.
"Di penginapan Mawar Gurun. Tapi ayah aneh!' jawab Qiao Li mencoba mengingat kembali saat pertemuannya dengan Fang Chen.
"Aneh, bagaimana maksud kamu?' tanya Xin Xin yang semakin penasaran.
"Ayah tak mengingat Qiao Li lagi Bu! dan nama ayah sekarang Fang Chen." jawab Qiao Li lirih.
📆Flashback on
Saat itu ada badai besar di gurun pasir.
"Wuzzz.....wuzzz....wuzz...!!"
Angin yang semula tenang kini berubah kencang dan pasir-pasir beterbangan sesuai arah angin yang berhembus.
"Badai besar terjadi! Cari tempat berlindung yang aman. Jaga-jaga jika bangunan ini tak mampu menahan badai angin besar itu!" seru Qiao Feng pada Qiao Li, Yan Qiu dan Caihong.
Sementara Hua Tian dan Fang Chen yang semula berada di luar, kini masuk ke dalam penginapan.
Hua Tian dan Fang Chen melangkahkan kaki menuju ke dapur.
Mereka sekedar ingin melihat kondisi Yan Qiu dan yang lainya.
"Yan Qiu, dan yang lainnya! kalian tak apa-apa kan?" tanya Hua Tian yang penasaran.
"Kami tak apa-apa, kalian bagaimana?" jawab Yan Qiu yang kemudian memberi pertanyaan juga pada Hua Tian.
"Di luar anginnya sangat dahsyat, hingga pandangan mata kami hanya terfokus pasir yang beterbangan kesana dan kemari!" jawab Fang Chen yang sedari tadi diam.
Qiao Li yang sedari tadi duduk di pojokan, kedua alisnya berkenyit mana kala mendengar suara yang tak asing di telinganya.
"Ayah!" Qiao Li membatin, dan kemudian dia mencari sumber suara yang di dengarnya tadi.
Gadis itu sangat terkejut, saat melihat wajah Fang Chen. Dia mengucek kedua matanya berkali-kali, dan dia memastikan dirinya kalau laki-laki yang ada di hadapannya itu adalah ayahnya.
"Ayah!" Qiao Li terus membatin.
"Li'er, kamu kenapa?" tanya Qiao Feng yang penasaran dengan sikap Qiao Li yang begitu aneh tak seperti biasanya.
Qiao Li menggelengkan kepalanya, karena dia belum yakin kalau di hadapannya itu adalah ayahnya.
"Semisal laki-laki ini ayahku, seharusnya sedari tadi dia memelukku!" Qiao Li yang membatin.
"Wuuzzzzz...!!"
"Blessh...blessh...blessh...!"
Angin badai berganti hujan yang begitu derasnya, membuat bukit pasir yang sudah menipis kini perlahan-lahan terlihat bentuk Piramida yang sering di sebutkan banyak orang itu.
Terdengar suara riuh di ruang utama penginapan mawar Gurun.
"Piramidanya sudah nampak! harta itu akan jadi milikku!" seru beberapa pelanggan penginapan.
"Tidak! harta itu milik kami!" seru rombongan pelanggan dari sudut kanan ruangan.
"Harta itu milikku!" seru seseorang dari sudut kanan ruangan itu.
"Milikku....!"
"Milik kami...!"
"Milikku....!"
"Milik kami...!"
"Milikku....!"
"Milik kami...!"
Dan baku hantam pun terjadi.
Seluruh ruangan pun menjadi kacau balau.
"Kita jangan ikut campur, kita tunggu saja siapa yang masih bertahan." kata Qiao Feng yang terus menatap ke arah perkelahian itu.
Perkelahian antar perampok di seluruh penjuru kota dinasti Ming, mereka berlomba-lomba berharap jadi pemenang dan berkesempatan mengambil harta Karun di piramida harta Karun.
Siang hari berganti malam dan malam hari berganti pagi, perkelahian itu belum juga usai.
"Hentikan...!" seru seorang wanita dari lantai atas.
__ADS_1
Semua orang berhenti dan mencari sumber suara.
"Apa kalian akan menghancurkan penginapanku!" seru wanita itu yang tak lain adalah Daiyu si pemilik penginapan mawar Gurun.
"Kami hanya ingin mengambil harta karun yang ada piramida itu!" seru salah satu perampok.
"Harta Karun? itu omong kosong, kalau pun ada pastilah nenek moyangkulah yang mendapatkannya terlebih dulu!" seru Daiyu yang geram.
Ada beberapa perampok yang tidak peduli dengan omongan Daiyu.
Diantara hujan deras mereka memaksa pergi ke bukit Piramida harta Karun itu.
Dengan susah-payah mereka berjalan, mereka menemui kekecewaan.
Bukit Piramida itu sama sekali tak ada pintu masuknya.
"Pasti Daiyu menyembunyikan sesuatu!" seru salah satu perampok yang berada di bukit Piramida harta Karun itu.
"Iya, pastilah dia tahu jalan masuk ke dalam Piramida ini!" seru yang lainnya.
"Kalau dia tak memberitahukannya juga, kita hajar pemilik penginapan itu!" seru yang lainnya.
Dan mereka pun kembali ke penginapan.
Sementara itu di penginapan, para perampok semakin brutal.
"Kita ke dapur, serang semua anak buah Daiyu!" seru salah seorang perampok itu.
"Ayo kita serang, dan kita bawa perempuan-perempuannya. Dari pada tidak dapat harta Karun, perempuan-perempuan itu bisa memuaskan kita! he..he..!" seru para perampok itu dengan terkekeh.
Mereka kemudian menyerang Qiao Feng dan lainnya, yang berada di dapur.
"Apa-apa'an ini! mereka semakin brutal! padahal kita tak mencampuri urusan mereka!" seru Hua Tian geram.
"Sebaiknya kita bersiap saudara Tian!" seru Fang Chen.
"Baik saudara Chen!" balas Hua Tian.
"Yan Qiu, kau ikut aku dan Caihong! lindungilah putri angkatku!" perintah Qiao Feng yang membagi tugas.
"Baik Patriak!" seru Yan Qiu dan Caihong serempak.
Fang chen dan Hua Tian melawan para perampok di sudut kanan dan Qiao Feng dan Yan Qiu menyerang para perampok di sudut kiri.
"Trang... Trang.... Trang....Trang...!"
"Apa yang terjadi? kenapa menjadi kacau seperti ini?" gumam Qiao Li yang ketakutan di balik punggung Caihong.
Para perampok semakin banyak, apa lagi perampok yang tadi kebukit piramida, sudah kembali ke penginapan dan mereka menyerang Daiyu.
Orang bayaran Daiyu juga sibuk membantu Daiyu.
Sementara Yan Qiu kewalahan dan beberapa perampok menerobos pertahanan mereka, beberapa dari mereka sedang menyerang Caihong.
Mengetahui hal itu, Fang chen bergeser dan melindungi Yan Qiu, Caihong dan Qiao Li.
Fang Chen mengambil pedang dan menggunakan jurus tarian Dewa yang merupakan salah satu jurus andalan perguruan Darma putih.
"Jurus itu, ayah sering latihan sama bunda pakai jurus itu! itu jurus perguruan ya kakek!" batin Qiao
Li saat memperhatikan Fang Chen beraksi.
"Ayah! aku yakin dia Ayah!" kata dalam hati semangat, dan kini dia memberanikan diri ikut menyerang para perampok itu dengan kemampuan yang seadanya.
"Hop hiaaa...!"
"Bagh.. bugh... bagh... bugh...!!"
Walaupun pukulan Qiao Li belum begitu bertenaga, gadis cilik itu mampu merobohkan satu dan dua perampok.
"Li'er! kau punya kemampuan rupanya!" seru Qiao Feng yang tak sengaja melihat Qiao Li melawan dua perampok itu Dan Qiao Li hanya tersenyum.
Tiba-tiba ada seorang perampok yang main belakang, dia hendak menusuk Fang chen dari belakang.
"Ayah...awas!" seru Qiao Li yang kemudian mendorong perampok yang mau menghunuskan pedangnya pada Fang Chen.
"Brukk..!" perampok itu jatuh karena di dorong Qiao Li.
"Ayah!" panggil Qiao Li yang langsung menubruk Fang Chen dan memeluk erat Fang chen.
Qiao Li terus memanggil Fang Chen dengan bahasa aslinya.
"Ayah, Nisa sangat merindukanmu!" racau Qiao Li.
"Hei, Qiao Li! apa yang kamu katakan? aku tidak mengerti. Dan..dan kamu bisa bicara?" tanya Fang Chen penasaran.
__ADS_1
Kemudian Qiao Li menggunakan bahasa Kanton-mandarin.
"Ayah, aku putrimu. Kita terdampar disini satu keluarga, dan terpisah. Ayah, Ibu, Kak Raga dan Nisa, Nisa itu aku ayah! Ayah! nama ayah Saga!" jelas Qiao Li.
"Apa? kamu putriku, kamu pasti berbohong ya!" seru Fang Chen yang tak percaya.
"Li'er! sudah aku duga, kamu sebetulnya bisa bicara!" seru Qiao Feng dengan mengulas senyum karena dugaannya tidak meleset dan saat menghampiri Qiao Li.
"Ma'af ibu angkat, itu karena aku tak tahu adat istiadat di sini!" jelas Qiao Li.
"O... rupanya kau penipu cilik ya!" seru Daiyu yang terlihat sangat marah.
"Apa yang akan kau lakukan Daiyu!" seru Qiao Feng yang melihat perubahan wajah Daiyu.
"Kau juga bibi Feng! ternyata kau punya kemampuan, apa kau seperti seperti Ming mei juga!" seru Daiyu yang mulai curiga.
"Kau benar, Ming mei adalah keponakanku. Dan aku menghancurkan penginapan maksiat ini!" seru Qiao Feng dengan lantang.
Sementara itu Yan Qiu dan Caihong mengambil obor yang jadi penerangan di penginapan itu, Mereka berdua membakar meja dan yang lainnya.
"Kalian...!" seru Daiyu yang geram, karena penginapannya kini akan hancur.
Daiyu menyerang membabi-buta dengan jurus pemindah energi.
"Weeet.... weet... weeet....!"
Serangan itu langsung mengarah kepada siapa pun yang ada di dekatnya.
"Hati-hati! dia menggunakan jurus pemindah Energi!" Seru Qiao Feng yang juga penuh kewaspadaan.
"Jurus pemindah Energi!" seru Hua Tian dan Fang Chen bersamaan.
Daiyu kini sudah berhadapan dengan Qiao Feng, Hua Tian dan Fang Chen.
"Gawat, kalau jurus itu mengenai salah satu dari mereka!" seru Caihong yang melihat keadaan genting itu.
Caihong dan Yan Qiu yang sudah membakar sebagian penginapan, membuat para perampok yang masih hidup kelabakan.
Mereka berlarian keluar dari penginapan.
Lalu kedua gadis itu menghampiri Qiao Feng dan yang lainya.
"Patriak, kak Tian dan kak Chen! cepat pergi dari sini!" seru Yan Qiu karena api sudah sampai ke tempat mereka.
"Kalian berdua keluarlah lebih dulu!" seru Qiao Feng.
Tanpa bicara, Yan Qiu dan Caihong keluar lewat pintu dapur.
"Ayaaah! ayaaaah..!" teriak Qiao Li.
"Patriak Feng dan saudara Tian keluarlah! aku akan keluar dengan Li'er!" seru Fang Chen yang melihat Qiao Li terkepung api.
"Ayaaah! ayaaaah, tolooong..!" teriak Qiao Li lagi.
"Hati-hati saudara Chen!" seru Hua Tian.
"Chen'er, selamatkanlah putri angkatku!" pinta Qiao Feng.
"Akan saya usahakan Patriak!" jawab Fang Chen yang mengamati situasi.
Kemudian Hua Tian dan Qiao Feng keluar dari pintu dapur itu.
Sedangkan Fang Chen berusaha meraih Qiao Li, dan saat hendak di dapatkan ternyata Daiyu menangkap Qiao Li dan melesat masuk ke dalam penginapan melalui kobaran api.
"Li'er..!" panggil Fang Chen.
"Ayah..!" balas Qiao Li seraya meronta-ronta.
"Pergi saja kalian! penipu cilik ini akan mati bersamaku!" seru Daiyu diantara kobaran api yang semakin membesar itu.
📆Flashback Off.
"Dan saat itulah Qiao Li terakhir kalinya Qiao Li bertemu ayah " ucap Qiao Li dengan kedua mata berkaca-kaca.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1