
"Siapa mereka dan apa perlu mereka?" tanya dalam hati Qiao Li yang terus mengawasi pertarungan itu.
"Kembalikan harta kami!" seru salah satu dari orang yang berpakaian compang camping itu.
"Apa! mengembalikan? enak saja! ini adalah pajak dari kalian, jadi untuk apa kalian minta kembali!" seru salah satu pengawal yang yang tak lain adalah prajurit kerajaan.
"Sebelum raja yang sekarang, pajak kamibtidaj sebegitu besarnya. Wajarlah kami mau kembalikan pajak kami ke jumlah yang semula dan kami mau minta kembali sebagian pajak kami!" seru salah satu orang yang memakai pakaian compang camping itu.
"Uang yang sudah ada ditangan kami, pantang bagi kami untuk mengembalikannya pada kalian!" seru prajurit itu pada laki-laki yang memakai compang-camping itu.
"Kurang ajar! serang mereka!" seru laki-laki yang memakai pakaian compang-comping itu.
."Hiaaat....!"
"Trang...Trang.... Trang....!"
"Trang...Trang.... Trang....!"
"Hiaaat....!"
"Trang...Trang.... Trang....!"
"Trang...Trang.... Trang....!"
Perkelahian semakin seru dan menjadi-jadi. Qiao Li terus memperhatikan dan mengamatinya dengan seksama.
"Nampaknya orang-orang yang memakai pakaian compang-camping itu dari sekte pengemis?" gumam dalam hati Qiao Li yang masih duduk santai dan mengawasi dari tempat persembunyiannya.
Perseteruan itu berlangsung dengan sengit, pada awalnya para laki-laki uang memakai pakaian compang-camping itu unggul dalam pertarungan mereka, tapi beberapa saat kemudian datang prajurit dalam jumlah besar.
Para laki-laki uang memakai pakaian compang camping itu kewalahan dan mereka terdesak.
"Aku yakin kalau para laki-laki yang memakai pakaian compang-camping itu adalah dari sekte pengemis, dan mereka adalah aliran putih! jadi aku harus bantu mereka!" gumam dalam hati Qiao Li yang kemudian turun dari dahan pohon yang menjadi persembunyiannya saat ini.
Dan gadis itu memakai cadar putihnya untuk menutupi sebagian wajahnya.
Setelah gadis itu turun dari pohon, dia mencari kerikil yang ada di tanah sekitar pohon tersebut.
Setelah dirasa cukup dalam mendapatkan beberapa kerikil, Qiao Li bersiap membantu para laki-laki yang memakai pakaian compang-camping itu dengan kerikil-kerikil yang ada di kantong kainnya.
"Hopp hiaaaat....!"
"Takk...! takk...! takk....!"
"Aaagh...! Aaaghh..!"
Keriki-kerikil itu mengenai beberapa prajurit yang menyerang para laki-laki yang memakai pakaian compang-camping itu.
"Hopp hiaaaat....!"
"Takk...! takk...! takk....!"
__ADS_1
"Aaagh...! Aaaghh..!"
Kembali Qiao Li melemparkan kerikil-kerikinya lagi, dan lawannya pun sudah berkurang banyak.
Qiao Li sudah kehabisan kerikilnya, dan lawannya masih lumayan banyak yang siap menyerangnya.
"Kerikilnya sudah habis! seraaaang!" seru salah satu dari prajurit itu.
Para prajurit itu terus menyerang Qiao li tanpa ampun yang mengakibatkan gadis itu terpojok dan dia diam sesaat untuk memikirkan sesuatu.
"Nampaknya pedang Azuya harus tampil!" seru dalam hati Qiao Li yang kemudian mengeluarkan pedang kesayangannya.
"Pedang Azuya!"
Seru Qiao Li yang membuat para Prajurit yang semula beringas mau menyerang Qiao Li, kini berhenti seketika saat melihat Pedang Azuya di tangan Qiao Li.
"Apa! apa dia perempuan itu!" seru beberapa anggota sekte serigala hitam itu, mereka mengira Qiao Li adalah pendekar bercadar yaitu Xin Xin ibu Qiao Li.
"Kenapa dia jadi laki-laki?" tanya para anggota sekte serigala hitam itu dengan rasa penasaran mereka.
"Jangan banyak pikiran! rasakan ini!" seru Qiao Li yang dengan pedang Azuya, menyerang para anggota j ihh
Bunyi pedang yang beradu itu pun terdengar dengan nyaring.
"Hopp hiaaat...!"
"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"
"Sreet...Sreet...!"
"Aaaghh...! Aaagh...!"
Darah segar menempel di pedang Azuya, namun dengan cepat pedang itu bersih kembali tanpa noda darah yang semula menempelnya.
Kembali pertarungan itu berlangsung dengan sengit.
"Hopp hiaaaat....!"
"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"
"Sreet...Sreet...!"
"Aaaghh...! Aaagh...!"
Kembali korban berjatuhan dari pihak Sekte serigala hitam dan rata-rata mereka terkena sayatan dari pedang Azuya.
Dan kini tinggalah beberapa orang saja, yang hampir semuanya ketakutan melihat teman-temannya yang sudah tak berdaya karena pedang Azuya,
"Menyerahlah kalian, serahkan apa yang diminta para lengemisbtadi!" seru Qiao Li dengan posisi mengarahkan pedang Azuya ke arah para prajurit yang tersisa.
"Kau mau merampok kami rupanya!" seru salah satu prajurit itu dengan geram.
__ADS_1
"Iya, merampok dar para perampok harta kami! Kalian pilih harta apa nyawa kalian!" seru Qiao Li dengan tajam mengarah ke semua prajurit yang tersisa itu.
"Kurang ajar! tidak akan kami berikan sampai titik darah penghabisan kami!" seru salah satu prajurit itu dengan geram.
Hanya beberapa orang saja yang menyerang Qiao Li, dan sebagian lainnya angkat kaki perlahan-lahan meninggalkan arena pertempuran itu.
Kembali bunyi pedang yang beradu itu pun terdengar kembali dengan nyaring.
"Hopp hiaaat...!"
"Trang..! Trang..! Trang..! Trang..! Trang..!"
"Sreet...Sreet...!"
"Aaaghh...! Aaagh...!"
Satu persatu dari mereka berjatuhan, dan akhirnya tak ada lagi lawan yang menyerang Qiao Li.
"Seharusnya kalian memenuhi permintaan mereka tadi, dan kalian bisa selamat! tidak akan jadi seperti ini!" seru Qiao Li yang menatap para prajurit yang lari tunggang langgang itu dan meninggalkan kereta kuda yang mereka gunakan untuk membawa harta benda dari penarikan pajak mereka.
Kemudian Qiao Li melangkahkan kakinya menghampiri orang-orang yang berpakaian compang-camping yang terluka cukup serius itu.
"Apakah kalian tidak apa-apa?" tanya Qiao Li yang menatap satu persatu dari orang-orang yang berpakaian pengemis itu.
"Luka-luka kami tidak seberapa, terima kasih atas pertolongan anda. Kalau boleh kami tahu, apakah anda pendekar bercadar?" tanya salah satu laki-laki yang berpakaian pengemis yang ada dihadapan Qiao Li.
"Oh, iya." ucap Qiao Li yang kemudian dalam hati bergumam,
"Pendekar bercadar itu ibu aku, aku hanya meneruskannya. He... he...!"
"Kalau begitu kamu adalah kawan kita, terima kasih banyak karena anda selalu membantu kami saat dalam kesusahan." ucap laki-laki pengemis yang ada dihadapannya itu.
"Tidak apa-apa itu adalah kewajiban saya, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Qiao Li pada para pengemis itu.
"Sebelumnya perkenalkan kami dari sekte pengemis, dimana anggota kami memang para pengemis. Pada waktu kami sedang bekerja, para prajurit mendatangi tempat kami yang hanya tinggal para wanita dan anak-anak kecil. Harta kami dirampas semuanya oleh para prajurit itu dengan alasan untuk membayar pajak yang berkali-kali lipat itu. Karena itulah kami mau meminta kembali harta kami yang seharusnya tidak mereka ambil itu!" jelas salah satu pengemis itu.
"Oh, kalau begitu cepatlah kalian pergi dan bawa serta kereta kuda itu." ucap Qiao Li seraya menujuk ke arah kereta kuda uang sengaja di tinggalkan oleh pemiliknya itu.
"Terima kasih, Kami mohon sudilah kiranya pendekar bercadar bersedia mampir ke gubuk kami." ucap pengemis yang ada dihadapan Qiao Li itu.
"Ma'af bukannya saya tidak mau, tapi saya dalam perjalanan yang sangat penting. Jadi lain hari saja!" balas Qiao Li seraya menangkupkan tangannya dengan jari kiri yang di kepalkan dan jari kanan membungkusnya.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like/favorite/rate 5/Gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...