
Sementara itu Ratu Flower mencari keberadaan ibundanya Nisa.
"Rani...!" seru Ratu Flower saat melihat ibunda nisa yang melayang-layang mengikuti arah angin yang berputar.
"Ratu....!" panggil ibunda Nisa saat tangannya menggapai tangan Ratu Flower dan Ratu Flower menarik dan memeluknya dengan erat.
"Rani, kami hanya bisa menyelamatkan kamu dan putra-putrimu. Aku tak bisa menyelamatkan suamimu. Semoga saja dia nanti jatuh di tempat yang tepat!" ucap Ratu Flower dengan rasa sedih.
"Apa kami akan terpisah ratu..?" tanya Ibunda Nisa yang penasaran.
"Iya..!" jawab Ratu Flower singkat.
"Suamiku, putra-putriku! jaga diri kalian baik-baik, kita akan terpisah!" seru ibunda Nisa dengan suara paraunya.
"A..apa terpisah! Nisa tak mau seperti ini!!" ucap Leonisa yang tak bisa lagi membendung kesedihannya.
"Leon jaga dan lindungi Ragadewa, dan Ekin..jaga dan lindungi Leonisa!" pesan Ratu Flower pada kedua putranya.
"Baik bunda!!" jawab Ekin dan Leon serempak dan kini mereka mengeluarkan gelembung cahaya, yang akan mengurangi tingkat kecepatan jatuh dari pusaran angin itu dan juga mengurangi rasa sakit bila nanti terjatuh.
"Saga! Ma'af kami hanya bisa menolong istri dan putra-putrimu. Bisa saja aku menolong mu, tapi nanti aku tak akan bisa kembali ke istana langit. Jadi ma'afkan aku ya Saga!" ucap Ratu Flower yang tak enak hati.
"Tidak apa-apa Ratu, yang terpenting kedua anak ku dan istriku bisa selamat." ucap ayah Nisa itu dengan tulus.
Pusaran angin itu makin lama makin tinggi dan tiba-tiba terdapat lubang hitam di atas pusaran angin itu.
Sedangkan Ratu Flower setelah memberi perlindungan kepada Rani berupa gelembung cahaya, dia keluar dari pusaran angin dan terbang mengiringi pusaran angin itu.
"Leon...Ekin, jaga diri kalian! Carilah tujuh bola Impian, agar kalian bisa kembali ke istana langit!!" seru Ratu Flower saat terbangnya mendekati Leon dan Ekin.
"Apa itu bola impian bunda?!" tanya Leon yang belum paham.
"Bola impian adalah bola kristal yang di dalamnya ada bintang satu sampai tujuh. Jika semua itu terkumpul, maka kamu bisa minta satu permintaan yang nantinya dia akan mewujudkan permintaanmu itu. Dan kalian bisa minta kembali ke istana langit!" jelas Ratu Flower.
"Baik bunda, kami akan mengingat hal itu!" ucap Ekin yang juga mewakili Leon.
Ratu Flower kemudian mendekati Rani, dan mengatakan sesuatu pada ibu dua anak itu.
"Rani...! kamu pasti bisa membuka segel pedang Azuya, pedang itu akan menolongmu dari orang-orang yang mengganggumu!" kata Ratu Flower yang masih dalam keadaan terbang dan mengiringi pusaran angin itu.
"Membuka segel pedang Azuya?" tanya Ibunda Nisa yang penasaran.
"Iya, dan juga kamu harus mencari Bola Impian seperti Ekin dan Leon. Bahu-membahulah kalian dalam mencari Bola impian itu. Karena dengan bola impian itu, kamu bisa meminta satu permintaan. Yaitu, bisa berkumpul kembali dengan keluargamu." jelas Ratu Flower.
"Tujuh Bola impian? bentuknya seperti apa Ratu?" tanya Ibunda Nisa yang penasaran.
__ADS_1
"Bola kristal yang di dalamnya ada bintangnya! ingat baik-baik ya Rani!" jawab Ratu Flower.
"Baik Ratu!" jawab ibunda Nisa yang terus memandang keluarganya satu persatu.
Ratu Flower kemudian mendekati ayah Nisa dan berpesan padanya.
"Apapun yang akan terjadi nanti, ingatlah keluargamu yang sangat merindukan kebersamaan kalian" ucap ratu Flower.
"Tentu ratu, aku pasti akan merindukan mereka!" ucap ayah Nisa dan ratu Flower terbang sedikit menjauh.
"Jaga diri kalian baik-baik ya!" seru Ratu flower yang melambaikan tangannya untuk semuanya.
"Baik bunda!" balas Leon dan Ekin.
"Baik Ratu!" balas Ayah Nisa, ibunda Nisa, Leonisa dan juga Ragadewa.
Ratu Flower pun melesat ke langit yang cerah dan menghilang.
Beberapa menit kemudian pusaran angin itu masuk ke lubang hitam itu dan membawa serta komisaris Saga, Rani, Ragadewa, Leonisa, Ekin dan Leon, yang akhirnya menghilang.
Di langit yang berbeda, lubang hitam itu muncul dan mengeluarkan pusaran angin yang terus berputar-putar.
"Wooww...!"
Gelembung cahaya Rani terus bergerak dan hampir menabrak gelembung cahaya putra-putrinya.
"Akan aku usahakan." balas Ekin.
Kemudian Ekin menatap Leonisa.
"Nisa, paman tinggal sebentar untuk menolong bunda kamu. Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ekin pada Leonisa.
"Iya paman, Nisa akan baik-baik saja." ucap Nisa yang juga khawatir dengan keadaan ibundanya.
"Tunggu di sini, paman akan keluar!" kata Ekin .
"Iya paman" jawab Nisa.
Ekin kemudian keluar dari gelembung cahaya dan mencari gelembung cahaya yang ada ibundanya Nisa di dalamnya.
Dengan menggunakan tali cahaya, Ekin mengendalikan gelembung cahaya dimana ibunda Nisa ada di dalamnya.
"Kamu tidak apa-apa kan Rani?" tanya Ekin saat sudah menguasai gelembung cahaya itu.
"Sedikit pusing sih!" jawab ibunda Nisa
__ADS_1
Sementara itu pusaran angin terus berputar dan berputar, hingga akhirnya Leonisa keluar dari pusaran angin itu.
"Nisa.....!" seru semuanya saat gelembung cahaya Nisa keluar dari pusaran angin itu.
Gelembung cahaya yang melindungi Leonisa, beberapa kali terpental dan melambung lalu jatuh ke sebuah jemuran, yang rata-rata kain lebar seukuran sprei kasur.
"Blughh...pyaarr..!"
Gelembung cahaya yang melindungi Leonisa seketika itu juga pecah dan banyak tiang jemuran yang ambruk dan bambu-bambu yang patah, secara otomatis sprei-sprei itupun jatuh dan kotor tertimpa Leonisa.
📆Flashback Off
"Leonisa putriku, ibu sangat merindukanmu!" ucap Rani yang tak henti-hentinya mencium kening putrinya.
"Ibu, Nisa juga rindu ibu, ayah dan kak Raga." ucap Qiao Li yang bernama asli Leonisa.
"Sebaiknya kita pergi dari sini!" kata seorang Pria yang selalu bersama Rani.
"Iya, ayo kita pulang ke pondok!" ucap Rani yang kemudian menggandeng putrinya, melangkahkan kaki meninggalkan pedesaan dan menuju ke sebuah lereng gunung.
"Ibu, bukankah dia paman Ekin?" tanya Qiao Li yang sedikit mengingat saat di pulau tengah laut beberapa waktu yang silam.
"Iya, dia paman Ekin. Selama ini paman Ekin yang membantu ibu dalam menumpas penjahat-penjahat." jelas Rani.
"Lihat gubuk itu Nisa?" tanya Ekin seraya menunjuk ke arah sebuah gubuk bambu yang berada di tepi air terjun.
"Iya paman!" jawab Qiao Li sembari menatap seorang dewa yang masih betah membujang itu.
"Itulah tempat aku dan ibu kamu beristirahat bila tak ada kerjaan di pedesaan." ucap Ekin yang membalas tatapan Qiao Li.
"Ayo kita percepat langkah kita, karena hari telah beranjak malam" ucap Rani yang mempercepat langkah kakinya.
"Baik Bu!" jawan Qiao Li dan mereka bertiga mempercepat langkah kaki mereka.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai di depan sebuah gubuk di samping telaga dan air terjun.
Sudah di pastikan hawa di sekitar tempat itu sangatlah dingin dan sejuk.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...