
"Baik!" balas mereka yang kemudian menyiapkan senjata - senjata di tangan mereka masing - masing.
Para anggota sekte Musang merah itu menyerang Qiao Li dari segala penjuru dan membuat Qiao Li yang berada di tengah - tengah merasa tersudut.
Qiao Li menghentakkan kakinya dan melompat ke atas, hampir saja semua senjata yang menjadi satu itu mengenai tubuh Qiao Li.
Gadis itu turun tepat di atas senjata yang beradu, dan menjadikanya sebagai tumpuan untuk kembali ke atas dan bersalto turun tepat di belakang para anggota sekte Musang Merah itu.
"Pedang Azuya!"
Karena merasa terpojok, Qiao Li memanggil pedang Azuya pemberian ibunya.
"Pe..pedang Azuya!" seru beberapa orang yang nampak ketakutan saat melihat Qiao Li mengeluarkan pedang Azuya.
"Ada apa dengan kalian! kenapa kalian seperti itu? Ayo, katanya mau melawan aku!" seru Qiao Li dengan lantang.
"Ma - ma'afkan kami, kami tak tahu kalau anda mempunyai pedang Azuya!" jawab salah satu dari mereka.
"Hei, memangnya kenapa dengan pedang ini?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Semua patriak kami dibantai oleh pemilik pedang Azuya terdahulu. Dan markas kami juga dihancurkan oleh pemilik pedang Azuya terdahulu" jelas anggota sekte Musang Merah yang lainnya.
"Jadi, kali ini kalian menyerah?' tanya Qiao Li yang menatap satu persatu wajah mereka, seolah mencari kejujuran dari mereka.
"Iya, dan kami mau nona menjadi ketua kami!" seru salah satu dari mereka.
"Ketua? ma'af saya rasa saya tidak bisa. Saya suka mengembara dan tidak suka mengekang maupun dikekang. Karena itu, saya mohon ma'af dan permisi" ucap Qiao Li yang kemudian dia berpamitan untuk meninggalkan tempat itu.
Namun baru beberapa langkah saja, tiba - tiba banyak senjata yang menodongnya dari belakang.
"A..a..apa'an ini!" seru Qiao Li yang merasakan leher bagian belakangnya dingin karena ujung - ujung senjata yang mereka gunakan menempel di leher belakang Qiao Li.
"Kau kira kami benar - benar menyerah? serahkan pedang Azuya dan juga batu impian kami!" seru ketua dari sekte Musang merah itu.
Dengan cepat Qiao Li yang belum menyimpan pedang Ayuza, menunduk dan berputar seraya mengarahkan pedang Azuya ke bagian kaki para anggota sekte Musang Merah itu.
"Sreeet.....!"
Sebagian dari mereka, kakinya putus dari tuannya. Mereka ambruk dengan paha yang bersimbah darah.
"Kurang ajar!" umpat salah satu dari mereka yang tidak terkena sabetan pedang Azuya.
"Apa kalian ingin seperti mereka?" tanya Qiao Li seraya melihat kehebatan pedang Azuya yang mampu membersihkan diri dari noda darah para anggota sekte Musang merah itu.
"Ayo lawan aku!" seru ketua sekte Musang merah itu bak pahlawan yang akan melindungi anggotanya.
"Baik, rasakan ini! " seru Qiao Li yang kini menyerang lawannya dengan jurus gabungan tarian Dewi Cinta dengan menggunakan pedang Azuya.
__ADS_1
"Hop hiaaat...!"
"Trang..Trang..Trang..Trang..!''
"Trang..Trang..Trang..Trang..!''
Pertempuran begitu sengit dan seru, belum ada yang kalah maupun menang.
"Hop hiaaat...!"
"Trang..Trang..Trang..Trang..!''
"Trang..Trang..Trang..Trang..!''
Hingga Qiao Li melihat adanya peluang untuk mengalahkan ketua sekte Musang merah itu.
Gadis itu menggunakan jentikan kerikil guna mengecoh ketua sekte Musang merah itu.
"Tokk...tokk...!" dua kerikil melesat dan mengenai bagian leher depan dan dahi ketua sekte Musang merah itu, yang seketika itu juga dia tak bisa mengeluarkan suara dan tersungkur ke belakang.
"Ugh..!" suara kesakitan dari ketua sekte Musang hitam itu ketika tubuhnya jatuh ke tanah.
Qiao Li melihat ke semua anggota sekte Musang hitam itu, dan mereka semua berlutut meminta ampunan dari Qiao Li.
Gadis itu tak menghiraukannya, dia bersiul dan tak berapa lama datang seekor kuda putih yang menghampirinya.
"Hop!" Qiao Li naik ke atas kuda itu dan kemudian memacunya untuk meninggalkan sarang sekte Musang merah.
"Drap...drap...drap....!" derap langkah kaki kuda menusuri jalan setapak yang membelah hutan rimba itu.
Hari berganti petang, akhirnya perjalanan Qiao Li sampai diperbatasan desa.
Gadis itu mengendalikan kuda putihnya dengan pelan. Dia berkeliling untuk mencari penginapan.
Hingga akhirnya dia menemukan sebuah penginapan, dan kemudian dia turun dari kudanya.
Qiao Li di sambut oleh penjaga kuda para tamu, dan gadis itu bertanya,
"Apakah masih ada kamar buat saya?"
"Masih nona, biar kudanya saya yang jaga dan rawat nona" ucap penjaga kuda itu dengan sopan.
"Baik, tolong jaga dan beri makan dia! Dan terimalah ini!" Ucap Qiao Li sembari memberi satu keping uang emas pada penjaga kuda itu.
"Terima kasih, terima kasih nona!" Ucap penjaga kuda itu seraya menundukkan kepalanya beberapa kali.
"Iya, permisi!" Ucap Qiao Li yang melangkahkan kakinya menuju ke teras penginapan dan masuk menemui resepsionis penginapan itu.
__ADS_1
"Adakah satu kamar kosong untuk saya menginap malam ini?" tanya Qiao Li pada resepsionis itu.
"A..ada, mari saya tunjukkan!" ucap resepsionis itu dengan sumringah.
Qiao Li mengikuti kemana resepsionis itu melangkah, dan mereka berhenti di depan sebuah kamar.
Resepsionis itu membukakan pintu dan masuk ke dalam kamar tersebut, diikuti oleh Qiao Li.
"Ini kamarnya nona, untuk semalam dua keping emas sudah termasuk makan malam dan sarapan. Kalau mau mandi, ada kamar mandi di sebelah sana nona" jelas resepsionis itu seraya
melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi dan memperlihatkan semua fasilitas penginapan tersebut.
"Baiklah saya akan menginap disini. Saya akan membersihkan diri lebih dulu, setelah itu saya mau makan malam" ucap Qiao Li seraya menatap resepsionis itu.
"Ba..baik nona, saya mohon diri. Semoga betah di kamar ini" ucap resepsionis itu sembari menundukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Qiao Li.
Qiao Li segera menutup dan mengunci pintu kamar dan kemudian mengambil pakaian gantinya. Setelah itu, dia melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.
Gadis itu memulai ritual mandinya, dan kemudian memakai pakaian gantinya.
Setelah selesai Qiao Li keluar dari kamar mandi dan bersamaan dengan itu, ada yang mengetuk pintu kamarnya.
"Tokk...tok...tokk...!"
Qiao Li kemudian melangkahkan kakinya menghampiri pintu dan membukanya.
"Permisi nona, ini makan malam untuk nona!" ucap pelayan itu yang kemudian Qiao Li mempersilahkan pelayan itu yang membawa nampan yang diatasnya terdapat makanan dan minuman.
Setelah meletakkan makanan tersebut, pelayan itu meninggalkan kamar Qiao Li. Sedangkan Qiao Li menutup kembali pintu kamarnya.
Kemudian Qiao Li menghampiri meja dimana makanan dan minuman dari pelayan itu berada.
Qiao Li memeriksa makanan tersebut dan setelah dirasa makanan itu aman, gadis itu makan makanan itu dengan lahapnya.
Setelah selesai makan, tiba - tiba Qiao Li merasakan kantuk yang luar biasa.
"Kenapa tiba - tiba kedua mata ini terasa berat?" gumam dalam hati Qiao Li, yang kemudian dengan sempoyongan melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur.
Gadis itu seketika ambruk diatas tempat tidur dengan posisi tengkurap.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
__ADS_1
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...