
Tibalah hari dimana Qiao Li harus meninggalkan penginapan pintu naga guna mencari saudara kembarnya Ju Long dan juga mencari batu impian yang ke empat sampai ke tujuh.
"Ibu, ayah dan semuanya Li'er berangkat ya!" Ucap pamit Li'er yang sudah menuntun seekor kuda berwarna putih senada dengan pakaiannya yang juga berwarna putih.
"Hati-hati diperjalananmu putriku!" seru Fang Chen yang menatap putrinya yang sebenarnya dirinya belum tega melepaskan Qiao Li ke dunia luar sana.
Demikian pula dengan Xin Xin yang kedua matanya berkaca - kaca melihat putrinya yang akan meninggalkannya mencari saudaranya.
"Li'er, bawa bekal ini untuk perjalanan kamu nanti, dan juga ada sedikit uang bila sewaktu kamu membutuhkannya." ucap Xin Xin seraya memberikan bungkusan yang berisi nasi bersama lauk - pauknya dan satu kantong uang pada putrinya.
"Terima kasih ibu, ayah" ucap Li'er yang menerima bekal sekaligus uang dalam kantong yang diberikan oleh Ibunya.
"Li'er, jangan lupa membawa cadar, karena perjalanan kamu penuh debu dan juga angin!" pesan Fang Chen pada putrinya.
"Pakaillah kain cadar ini, kain cadar ini uang biasa ibu gunakan saat bersama paman Hai Jun" Kata Xin Xin seraya menyerahkan kain berwarna putih.
Qiao Li menerimanya dan memakainya sekaligus.
Setelah itu Qiao Li bergegas naik ke atas kuda dan dia melambaikan tangannya pada kedua orang tuanya, ibu angkatnya Qiao Feng dan yang lainnya.
"Sampai jumpa semuanya!" Salam perpisahan Qiao Li.
"Hop hiaaa...!" Qiao Li berusaha mengendalikan kuda berwarna putih itu, menyusuri gurun pasir yang membentang.
Qiao Li mengarahkan kudanya ke arah barat, sesuai petunjuk dari ibunya.
"Beruntung aku mengikuti saran ibu dan ayah, cadar ini sangat berguna sekali buatku pada saat ini." gumam dalam hati Qiao Li yang terus melajukan derap langkah kudanya.
"Hiaaa...hiaaa...hiaaa...!" seru Qiao Li.
Akhirnya sampai juga Qiao Li di perbatasan, dimana matahari sudah berada diatas kepala Qiao Li.
"Putih, pasti kamu haus dan lapar ya?" tanya Qiao Li sembari mengusap lembut leher kuda putih itu.
Kuda itu bersuara seperti umumnya dan pertanda dia mengerti apa yang dikatakan Qiao Li.
"Kita cari sungai dan Padang rumput, semoga saja di depan kita bisa menemukannya!" Ucap Qiao Li dan kuda itu melangkah dengan langkah sedang, karena jalanan di perbatasan sedikit berbatu.
Tak berapa lama akhirnya mereka menemukan apa yang mereka cari. Ada sebuah aliran sungai kecil dan di sampingnya Padang rumput yang menghijau.
Qiao Li turun dari kudanya, dan menarik kudanya itu ke aliran sungai kecil namun airnya jernih yang ada si depannya.
Kuda itu segera mendekatkan mulutnya ke sungai dan dia meminum air di aliran sungai tersebut.
Sedangkan Qiao Li membuka cadarnya dan dia membasuh wajahnya yang terkena debu dan pasir saat melintasi gurun pasir tadi
Setelah puas minum air sungai, Qiao Li menarik kuda putih itu ke Padang rumput. Dan Kuda itu dengan lahapnya memakan rumput yang ada dihadapannya.
Sementara Qiao Li membuka bekal yang tadi diberikan oleh ibunya.
Qiao Li memakan bekal itu dengan lahapnya dan tak lupa dia juga minum air putih yang dia bawa dari penginapan pintu naga tadi pagi.
__ADS_1
Tanpa Qiao Li sadari, ada beberapa pasang mata yang mengintainya.
Selesai makan dan melihat kudanya yang sudah kenyang, Qiao Li bangkit dari duduknya. Baru saja dia bangkit dari duduknya, ada tiga orang yang laki - laki yang bertubuh tegap dan memakai pakaian serba merah mengepungnya.
"Ha..ha..! mau kemana kamu nona?" goda salah satu laki-laki yang berbaju merah itu.
"Siapa kalian, dan mau apa?" tanya Qiao Li yang waspada melihat di setiap gerakan ketiga laki - laki tersebut.
"Kami dari sekte Musang merah, dan kami menginginkanmu untuk membantu perekonomian sekte kami!" Ucap laki-laki yang berpakaian merah itu disamping kanan Qiao Li.
"Huh, aneh sekali! kalian laki - laki kenapa minta bantuan pada wanita! apa kalian tak punya malu? Atau jangan memang sedari kecil tak punya malu!" seru Qiao Li dengan senyum miringnya.
"Kurang ajar, perempuan tak tahu diuntung!" umpat laki - laki yang berbaju merah di sebelah kiri Qiao Li.
"Cari mati kau nona!" seru laki - laki yang berpakaian merah lainnya.
Satu persatu mereka menyerang Qiao Li dengan tangan kosong.
"Hop hiaaat...!"
"Bagh..! bugh...! bagh..! bugh..!"
Aaarghh...!"
Salah satu dari laki-laki berpakaian merah itu terkena pukulan Qiao Li tepat di ulu hatinya.
"Sialan, lumayan juga kau hai perempuan!" seru salah satu dari dua laki - laki itu dengan geram.
"Ayo kita serang dia bersamaan!" seru laki - laki berpakaian serba merah lainnya.
"Baik, kita serang dia bersamaan!" seru yang lainnya, dan mereka menyerang Qiao Li secara bersamaan.
Gadis itu meladeninya dengan cekatan.
"Hop hiaaat...!"
"Bagh..! bugh...! bagh..! bugh..!"
"Bagh..! bugh...! bagh..! bugh..!"
"Hop hiaaat...!"
"Bagh..! bugh...! bagh..! bugh..!"
"Aaaghh...!"
Kembali satu laki - laki yang berpakaian merah itu terdorong ke belakang karena pukulan Qiao Li dengan keras mengenai bahu kirinya.
"Sialan!" umpat laki - laki yang bahunya terkena pukulan Qiao Li.
"Bedebah!" umpat laki - laki yang masih berdiri dan dia mencabut goloknya yang sebelumnya dia simpan di belakangnya.
__ADS_1
"Sreeeng..!"
"Rasakan ini!" seru laki - laki itu.
"Qiao Li mundur dan mengelak guna menghindari ketajaman golok itu.
"Hopp hiaaat...!'
"Weeet ..!"
"Hopp..!"
"Weeet..!"
"Hopp hiaaat...!'
"Weeet ..!"
"Hopp..!"
"Weeet..!"
Hal itu berulang - ulang yang membuat laki-laki berpakaian serba merah itu naik pitam.
"Kenapa kau hanya menghindar saja hah!" seru laki - laki itu dengan geram.
"Apa kamu ingin aku menyerangmu?" tanya Qiao Li yang dia sudah menyiapkan kerikil di tangan kanannya yang dia sembunyikan di punggungnya.
"Ya, apa kau tak punya pedang? kasihan sekali! terimalah ini!" seru laki - laki itu yang mengarahkan golok ke arah Qiao Li dan Qiao Li tak takut menghadapi laki - laki itu.
Gadis itu membuang tubuhnya ke samping dan dia menjentikkan dua kerikil ke arah pergelangan tangan kanan laki - laki itu yang memegang golok dan satu lagi mengarah ke pelipis bagian matanya di sebelah kiri.
"Tokk...!" satu kerikil tepat sasaran mengenai pergelangan tangan laki - laki itu. Dan laki - laki itu mnejatuhkan senjatanya karena merasakan pergelangannya sangat sakit.
"Aaaghhh...!" rintih laki- laki itu. Dan satu lagi kerikil melayang tepat di pelipis kiri laki - laki itu.
"Tokk...!"
"Aaarghh..!" lagi - lagi laki - laki itu mengerang kesakitan dan dia terhuyun - huyun jatuh ke tanah. Dan dia tak sadarkan diri.
"A..apa! gadis itu ternyata punya kemampuan rupanya!' bisik laki - laki yang pertama kali jatuh dengan memegang bagian ulu hatinya yang masih terasa sakit.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk like//favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin...
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...