
Oh, cerita Ibu dan ayah yang menghabisi paman Simon, Li'er sedikit tahu sih!" kata Qiao Li seraya bersedekap untuk sedikit mengusir rasa dingin pada malam hari ini.
"Trus apa paman tak ada lagi perasaan sama sekali sama ibu, kalian kan selalu bersama?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Ha...ha...! ibu kamu yang terlalu setia sama ayah kamu! tak ada tertariknya dia sama aku!" jawab Chang Yi sambil tertawa.
"Sesetia itu kah ibuku? ah, aku besok juga begitu, setia pada satu pasangan!" seru Qiao Li seraya tersenyum.
"Memangnya sudah ada gambaran punya pasangan?" tanya Ekin seraya mengusap kepala Qiao Li
"He..he..belum, " jawab Qiao Li dengan cengengesan.
"Paman, Ceritakan siapa saja yang paman sukai?" pinta Qiao Li dengan memohon.
"Mau tahu ya?' goda Ekin sembari tersenyum.
"Iya, aku kepingin tahu laki-laki itu suka perempuan seperti apa sih?" tanya Qiao Li yang penasaran.
"Paman dulu pernah sempat suka sama kekasih sahabat paman!' kata Ekin yang awalnya menunduk namun perlahan dia menceritakan awal pertemuannya pada gadis yang ternyata kekasih sahabatnya itu.
"Kisah ini saat aku terjebak di dunia Siluman, dan namaku Masi Ekin! he..he..!" ucap Ekin sembari tertawa.
"Iya Paman, Qiao Li ingin mendengarkannya!" ucap Qiao Li seraya tersenyum.
"Baiklah, inilah ceritanya...!"
📆Flasback on
Di dunia Siluman, Ekin bersahabat dengan siluman Rajawali, yang merupakan raja siluman terdahulu.
Pada waktu itu mereka sedang melakukan perjalanan untuk memburu para siluman, tanpa sengaja mereka melihat sesosok gadis yang terlempar dari tebing.
Siluman Rajawali mencengkram dan membawa gadis itu menuju ke tempat tinggal mereka berdua.
Tak berapa lama, siluman Rajawali itu menurunkan Kirana di sebuah goa yang berada di tebing.
"Tempat apa ini?" batin seorang gadis yang bernama kirana yang kemudian dia bangkit dari posisi berbaringnya.
Kirana melihat Siluman rajawali setengah singa itu menurunkan seorang pemuda dari punggungnya.
"Pergilah..!!" kata pemuda itu pada siluman Rajawali.
Pemuda tampan itu adalah Ekin, yang kemudian berjalan menghampiri Kirana.
"Apa kau tidak apa-apa nona?" tanya pemuda itu pada Kirana.
Kirana yang masih terpesona ketampanan pemuda itu, seolah tak mendengarkannya.
"Nona!" panggil pemuda itu sambil menggoyangkan telapak tangannya di hadapan wajah Kirana.
Dan Kirana tersentak kaget karenanya.
__ADS_1
"Oh iya, maaf! Tuan tadi mengatakan apa ya?" tanya Kirana yang tersipu malu karena tak mendengar panggilan pemuda di depannya.
"Apa ada yang terluka?" tanya pemuda itu pada Kirana.
"Ah tidak, hanya lecet sedikit!" jawab Kirana jujur.
"Aku Ekin, siapa nama nona?" tanya pemuda itu yang tak lain bernama Ekin sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Kirana, terima kasih telah menolong saya." jawab Kirana sambil membalas uluran tangan Ekin.
"Sama-sama, kau diburu siluman, aku pemburu siluman!" kata Ekin sambil tersenyum.
"Maksud kamu apa?" tanya Kirana karena kata-kata Ekin tadi mengingatkannya pada Aaron.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam goa, di sini banyak siluman yang mengintai kita." kata Ekin dengan tangan kanan di belakang dan tangan kiri mempersilahkan Kirana untuk masuk ke dalam goa dengan tetap mengulas senyum.
Setelah menarik nafas dan membuangnya, Kirana memberanikan diri masuk ke goa bersama Ekin pemuda yang menolongnya itu.
"Kenapa anda di tandai oleh para siluman?" tanya Ekin yang mulai membuat perapian di dalam goa itu.
"Entahlah Aku juga nggak tahu, katanya sih untuk pesugihan!" ucap Kirana yang melihat Ekin membuat perapian.
Dan goa yang semula dingin kini terasa hangat.
Kirana mendekati perapian, karena dia kedinginan dengan angin lembah yang sedikit masuk ke goa.
Sedangkan Ekin sedang menguliti kelinci hasil buruannya.
"Ini makan malam kita!" kata Ekin dengan menunjukan kelinci yang sudah di kulit pada Kirana.
"Ahpp, makan saja sendiri, aku nggak tega untuk memakannya." kata Kirana sambil menutup wajahnya.
"Terserahlah..! kalau lapar jangan nangis ya!" seru Ekin yang sudah selesai membersihkan daging kelinci itu di sungai kecil dalam goa.
Kirana hanya diam saja, dia asyik menghangatkan diri di perapian.
Ekin mulai membakar daging kelinci itu.Terciumlah aroma wangi daging kelinci itu.
"Krucuk...krucuk...krucuk..!!"
Bunyi suara perut Kirana yang minta di isi.
"Biasanya aku tak pernah sampai kelaparan begini' kata dalam hati Kirana sambil memegang perutnya.
"Ha..ha..! mulut bisa saja kamu bungkam, tapi perutmu yang berkoar-koar..!ha..ha..!" seru Ekin yang kenyataannya memang benar.
"Huuuhhhh....!!"
Kirana mendengus kesal.
"Sudahlah, makan saja., Lagian kelinci itu lucu kalau masih hidup. Kalau sudah mati dan matang begini, apa boleh buat santap saja..! di sini perut lebih penting dari pada rasa kasihanmu pada kelinci ini waktu hidup!" kata Ekin yang menyodorkan daging kelinci yang sudah matang.
__ADS_1
Namun Kirana tetap tidak mau, Ekin pun mendekat dan menyuapinya.
"Cobalah satu suap saja!" seru Ekin yang sedikit memaksa.
"Nggak mau!" kata Kirana sambil menutup mulutnya.
"Ya sudahlah kalau nggak mau, kalau lapar nanti jangan hubungi aku ya!" ucap Ekin yang kemudian makan daging kelinci bakar itu dengan lahapnya.
"Krucuk...krucuk...krucuuukk....!!"
Perut Kirana yang terus minta di isi, akhirnya bisa membuat pendirian Kirana goyah.
"Ekin...! dari pada aku nanti sakit maag, kan di sini nggak ada apotik. Jadi nggak apa-apa ya aku minta sedikit?" pinta Kirana sambil menangkupkan tangannya.
"Ha...ha..ha....!" Ekin nggak bisa menahan tawanya mendengar perkataan Kirana.
"Oh jadi takut sakit maag ya! ha..ha..ha..!!" ucap Ekin yang masih dengan tawanya yang begitu senangnya seolah belum pernah tertawa sering itu selama di dunia siluman.
"Ekiiiiiin....!" panggil Kirana gemas.
"Iya.. maaf, ini buat kamu. makan yang banyak, karena besok pagi belum tentu dapat buruan serupa" kata Ekin yang menyerahkan sebagian dari daging kelinci bakar itu.
"Buruan serupa? maksudmu apa?" tanya Kirana yang penasaran.
"Ya bisa saja kan itu daging buaya apa ular!" kata Ekin yang terus makan.
"Huekk..! kau berhasil merusak selera makanku Ekin!" kata Kirana yang makan dengan tidak selahap tadi.
"Sudah, besok aku carikan buah-buahan buat kamu!" ucap Ekin yang sudah menghabiskan makannya.
"Janji ya" kata Kirana yang senang, dan kini selera makannya kembali. Dia makan dengan lahapnya.
Ekin pun tersenyum melihat Kirana yang makan dengan lahapnya itu.
"Gadis ini selain lucu, dia juga cantik!" kata Ekin dalam hati dan sesekali memandang Kirana.
Kirana telah selesai makan, dia pun hendak mencuci tangannya.
"Ekin..! apa kamu tidak pernah cuci tangan, setelah makan?" tanya Kirana yang kemudian melangkahkan kakinya menuju sungai kecil di mana Ekin mencuci kelinci tadi.
"Hei kau kira aku laki-laki jorok gitu? aku kan nungguin kamu! he..he..!" jawab Ekin yang menggoda Kirana.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift maupun votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...BERSAMBUNG...