
-Chiang Yi terus melangkahkan kakinya dan dari kejauhan dia melihat seorang perempuan bercadar putih yang sedang melawan puluhan orang dengan sebuah pedang yang berwarna hijau.
"Xin Xin!" desis Chiang Yi yang kemudian melesat dan mendekat pada arena perkelahian itu.
Chiang Yi kemudian mengeluarkan jurus bola-bola cahayanya untuk menghajar orang-orang uang berpakaian serba hitam itu.
"Booummm...! boouumm...!"
"Aaarghh..!"
"Booummm...! boouumm...!"
"Aaarghh..!"
"Booummm...! boouumm...!"
"Aaarghh..!"
Berulang kali Chiang Yi melempar bola-bola cahaya itu dan akhirnya hanya beberapa orang yang tersisa, dan itupun bisa dibereskan oleh Xin Xin.
"Host...Host...!"
"Kakak Yi, syukurlah kakak sudah berada disini. Aku hampir saja kewalahan!" ucap Xin Xin dengan nafas terengah-engah.
"Iya, sebaiknya kita segera pergi dari sini!" seru Chiang Yi dan Xin Xin mengangguk dan mengikuti langkah Chiang Yi yang sudah meninggalkan tempat itu.
Tak terasa sang Surya sudah muncul dari peraduannya.
Setelah cukup lama, mereka tiba di sebuah bukit dimana ada air terjunnya disana.
"Kak Yi apa yang ada di buntalan kain kamu itu?" tanya Xin Xin Yaang penasaran.
"Oiya, akan aku tunjukkan padamu. Sebaiknya kita istirahat disana!" jawab Chiang Yi seraya menunjukkan jari telunjuknya ke arah sebuah batu besar di tepi danau air terjun yang ada dihadapannya itu.
"Baik kak!" balas Xin Xin yang melangkahkan kaki menuju ke arah yang di tunjukkan Chiang Yi.
Keduanya duduk disamping batu besar itu, dan Chiang Yi membuka buntalan kain sprei yang dia bawa dari penginapan tadi.
"Apa ini kak?" tanya Xin Xin yang penasaran.
"Lihatlah!" seru Chiang Yi yang menunjukkan bola impian pada Xin Xin.
"Bola impian!" seru Xin Xin yang sangatlah senang sekali.
"Tidak hanya itu saja, aku juga mengambil banyak keping uang emas di sini. Kita bisa manfaatkan untuk membantu rakyat kecil!" seru Chiang Yi.
"Kamu benar kak! sebaiknya kita simpan di cincin bermata biru ini!" usul Xin Xin dan Chiang Yi menyetujuinya.
__ADS_1
Xin Xin kemudian memasukkan batu impian dan uang emas ke dalam cincin bermata biru itu.
Chiang Yi kemudian berenang di danau itu seraya menangkap ikan, sementara Xin Xin membasuh mukanya agar lebih segar dan mencuci bagian-bagian bajunya yang terkena darah saat bertarung tadi.
"Xin'er, sarapan kita hari ini!" seru Chiang Yi yang melemparkan dua ekor ikan gabus yang besarnya lumayan ke tepi danau di dekat Xin Xin duduk.
"Wah, iya. Aku juga sudah mulai lapar nih kak!" seru Xin Xin yang kemudian membersihkan ikan-ikan itu.
Sementara Chiang Yi keluar dari danau di tepi lain dan mengganti pakaian basahnya menjadi pakaian kering.
Chiang Yi mencari kayu kering di sekitar tempat itu untuk membuat perapian.
Beberapa saat kemudian Chiang Yi sudah mendapatkan kayu-kayu kering dan Xin Xin telah selesai membersihkan ikan-ikan tersebut.
"Aku akan membuat perapiannya!" ucap Chiang Yi dan Xin Xin membuat tusukan untuk ikan-ikan itu agar mudan membakarnya.
Setelah perapian itu siap, keduanya mulai membakar kedua ikan tersebut.
"Kak Yi, kita bantu rakyat kecil sembari mencari keluargaku mulai dari sekarang ya!" ucap Xin Xin saat mereka makan ikan yang di bakar itu.
"Iya, kita juga harus punya tempat untuk istirahat dan berteduh!" ucap Chiang Yi yang mengingatkan.
"Bagaimana kalau disana kak!' seru Xin Xin seraya menunjuk ke arah samping danau air terjun itu.
"Boleh juga, disini jauh dari para penduduk, lagi pula dekat sumber air dan juga hutan." seru Chiang Yi yang memperhatikan kondisi di sekitarnya.
Keduanya tinggal di gubuk itu dengan sekali-kali turun gunung untuk membasmi para perampok dan penindas rakyat kecil.
Keduanya memakai cadar putih hingga bergelar Sepasang Pendekar Bercadar.
Keduanya jadi buronan istana namun menjadi pahlawan untuk kaum menengah kebawah.
Hingga suatu hari ada seseorang gadis yang mengejar mereka.
🗓️Flashback off.
"Jadi gadis yang mengejar aku itu tak lain adalah kamu Li'er!" ucap Xin Xin seraya menatap Qiao Li putrinya.
Mereka berempat melanjutkan perjalanan mereka. Hingga mereka tiba ditepi Padang pasir.
"Ibu, di tengah Padang pasir dulu ada penginapan dimana Li'er awal mula jatuh dari pusaran angin. Dan Li'er bekerja disana" ucap Qiao Li seraya menunjuk ke arah tengah gurun itu.
Tiba-tiba datang seorang kakek-kakek yang menghampiri mereka.
"Kalian apa mau melewati gurun pasir itu?" tanya si kakek itu saat berada tepat dihadapan Qiao Li, Xin Xin, Chiang Yi dan juga Ayumi.
"Iya kek!" jawab Qiao Li seraya menatap wajah si kakek dengan penasaran.
__ADS_1
"Saya sarankan pada kalian untuk mengurungkan niat kalian. Lebih baik kalian tunda sampai besok pagi!' seru si kakek itu yang menatap ke empat orang dihadapannya itu satu persatu.
"Memangnya kena apa kek?" tanya Xin Xin yang penasaran.
"Malam ini biasanya akan ada badai, seandainya ditengah gurun itu masih ada penginapan mawar Gurun, kalian bisa saja menginap disana! Tapi sekarang ini penginapan itu telah terbakar ludes, jadi takutnya kalian dalam kesulitan saat berada di tengah gurun itu nanti!" jelas si kakek.
"Oh kalau begitu adanya, baiklah kita cari penginapan terdekat terlebih dahulu. Sekalian kita beristirahat melemaskan otot-otot kita yang sudah kaku ini!" seru Chiang Yi.
"Iya, apa kakek tahu tempat penginapan yang terdekat di sini?" tanya Ayumi yang sedari tadi diam saja.
"Di sana ada perkampungan dan ada satu penginapan yang cuku luas." ucap si kakek yang kemudian meninggalkan empat orang dengan wajah letihnya.
Qiao Li Xin xi, Xiang Yu dan Ayumi melanjutkan perjalanan mereka.
Tak berapa lama mereka telah sampai di perkampungan yang di tunjukkan si kakek tadi.
"Tanpa aku sadari, aku mengawal tiga bidadari!" celoteh Chiang Yi saat merek melangkahkan kaki menjelajahi perkampungan itu.
"Paman Yi bisa saja!" seru Qiao Li seraya tersenyum.
"Iya kan, kalian adalah bidadari-bidadari cantik!" ucap Chiang Yi seraya mengulas senyumnya.
"Aku merasa malah kita yang mengawal dewa ya?" ucap Ayumi yang sedari tadi diam.
"Nah benar itu! tiga bidadari yang mengawal dewa! he..he..!" ucap Xin Xin yang terkekeh dan diikuti Qiao Li yang mengerti maksud ibunya itu.
Kemudian mereka bergegas mencari penginapan yang ternyata terdapat di tengah desa itu.
"Ayo kita masuk!" ajak Chiang Yi saat sudah berada di depan penginapan itu.
"Iya!":jawab Qiao Li, Xin Xin dan Ayumi bersamaan. Dan mereka pun masuk ke dalam penginapan itu.
Chiang Yi melangkahkan kaki menghampiri meja resepsionis.
Sedangkan Qiao Li dan yang lainnya menunggu dibelakang Chiang Yi.
...~¥~...
...Mohon dukungan para Readers untuk memberi like/komentar/favorite/rate 5/gift dan votenya untuk novel PENDEKAR PEDANG AZUYA....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...BERSAMBUNG...
__ADS_1