
Waktu begitu cepat berlalu. hari yang dinanti Santi pun tiba. Devan yang diantar Bu win ke kota, pada hari Sabtu sepulang sekolah pun, tidak tahu kalo tujuannya kekota kali ini untuk bertemu dengan keluarga kandungnya.
Minggu pagi Santi bergegas ke rumah Hanum , dia ingin segera menyelesaikan masalah tentang anak kandung almarhum suaminya Rendra.
"selamat pagi nyonya Santi," sapa bik Surti sambil membuka pintu.
"pagi bik, Hanum ada dirumahkan?" tanya Santi.
"ada nyonya, mari masuk. semua sedang berkumpul di taman belakang." jawab bik Surti.
"baiklah, aku bolehkan langsung ke belakang.?" tanya Santi lagi.
"iya boleh nyonya, silahkan." jawab bik Surti.
Santi pun langsung menemui Hanum dan keluarganya ditaman belakang.
Santi melihat begitu harmonisnya keluarga Hanum saat berkumpul ada terbersit rasa istri dalam hati Santi.
"andai aku juga bisa memiliki keturunan seperti kalian, mungkin aku juga bisa merasakan damainya berkumpul dengan keluarga."batin Santi.
Hanum melihat Santi menuju ke arahnya pun berteriak memanggil Santi.
"hai Santi, kau sudah datang, kemarilah." panggil Santi.
"hai num, senang rasanya melihat kalian berkumpul dan tertawa bersama seperti ini. kapan kira-kira aku juga bisa merasakan hal yang sama." ucap santi.
"ayo sini kita nikmati kumpul bersama dengan kami nak Santi." panggil Bu win.
"iya Tante terima kasih, saya bener-bener iri melihat keharmonisan kalian." Santi menghampiri Bu win dan memberi salam.
"sebentar lagi kamu juga bisa menikmati Santi, makanya segerakan meresmikan hubunganmu dengan mas Robi." sahut Hanum.
Santi hanya tersenyum mendengar ucapan Hanum.
"Lang apa bisa aku membawa Devan sekarang.?" tanya Santi.
"dibawah kemana nak Sant,?" tanya Bu win.
"ma, sebenarnya aku dan mas Galang meminta mama datang kesini dengan Devan adalah untuk mempertemukan Devan dengan keluarga kandungnya." jelas Hanum.
__ADS_1
"apa maksudnya.?" tanya Bu win lagi.
"ma, Devan sebenarnya bukanlah anak kandung dari mas Galang, dia anak mbak Yanti dan almarhum Narendra suami Santi." jelas Hanum lagi.
"apa,? terus kalian akan menyerahkan Devan ke keluarganya sekarang.?" Bu win masih terus bertanya.
"ma, kita tahu keluarga kandung Devan lebih berhak atas Devan ma, ya meski secara hukum Devan resmi anak saya, tapi kita bisa bersikap tidak adil kepada Devan jika kita terus menyembunyikan hal ini kepadanya." jelas Galang.
"tapi, mama terlanjur menyayanginya nak, apa kalian tega memisahkan mama dengan dia." Bu win berbicara sambil matanya berkaca-kaca.
"maafkan Galang ya ma, tapi Galang janji akan sering mempertemukan mama dengan Devan." bujuk Galang.
"mama memang tidak punya hak atas Devan nak, jadi terserah padamu saja, asal jangan biarkan Devan tertekan dan mengalami nasib yang sama dengan Adit dan Bagas." ucap Bu win sudah tidak dapat menahan air matanya.
Bu win berlari kearah Devan yang sedang asik memberi makan ikan dengan Devi adiknya.
Bu win tiba-tiba memeluk Devan dengan erat seakan tak rela jika Devan harus dibawah pergi darinya.
"nenek kenapa menangis," tanya Devan pada Bu win.
"Devan dimana pun Devan akan tinggal ingatlah nenek tetap menyayangi Devan dan Devi. kalian adalah cucu nenek nak." ucap Bu win sambil memegangi pipi Devan dengan kedua tangannya
Bu win tidak kuasa menjawab, Bu win pun berlari ke dalam rumah dan masuk kedalam kamarnya. dia begitu sedih karena dia mengingat bagaimana dia dulu dipisahkan dengan Adit dan Bagas.
"Devan kemarilah nak," panggil Galang.
"apa pa, Devan ingin menyusul nenek, nenek tadi menangis pa," jawab Devan.
"kemarilah dulu nak, papa akan kasih tau kenapa nenek tadi menangis." jelas Galang.
Devan pun mendekat ke arah Galang, dan duduk tepat disamping Galang.
"Devan papa ingin memberi tahu sesuatu kepadamu nak, papa harap Devan harus bisa bersikap dewasa ya nak," ucap Galang.
"memang apa yang akan papa beri tahu pada Devan.?" tanya Devan sambil berdiri dari duduknya.
"bang Devan duduk dan dengarkanlah papa ya nak," bujuk Hanum.
"iya ma, Devan cuma ingin segera tahu apa yang akan papa beritahu ma," jawab Devan.
__ADS_1
"Devan, papa sangat sayang sama Devan, begitu juga mama Hanum. tapi asal Devan tau, ada orang yang lebih menyayangi Devan lebih dari mama dan papa," Galang mencoba berbicara pelan-pelan.
"siapa pa,?" tanya Devan.
"kakek dan nenek kandung Devan. Devan bukanlah anak kandung papa sayang, sebelum mama Yanti dulu menikah dengan papa, mama Yanti menikah dengan almarhum papa Rendra. dulu karena Devan masih sangat kecil diperut mama mangkanya Devan belum tau kejadian itu. dan maaf ya papa lupa tidak menceritakan pada Devan." galang sedikit berbohong agar Devan tidak merasa hina karena dia ada disebabkan karena hubungan terlarang.
"jadi papa akan meminta Devan tinggal sama orang yang belum Devan kenal pa,? Devan tidak mau pa," Devan tertunduk lesu.
"tapi nak, mereka juga berharap mendapat kasih sayang dari cucu kandungnya. mereka nanti bisa mengira papa ini tak adil karena terlalu menguasai Devan. Devan tetap anak papa, bahkan Devan boleh sering menemui papa dan mama, devi, nenek juga adik Tara." bujuk Galang.
"dimana nenek dan kakek Devan sekarang pa,?" tanya Devan lagi.
" Tante Santi yang akan mengantar bang Devan kesana." sahut Hanum yang juga tidak bisa menahan air matanya melihat Devan yang tertunduk sedih.
"baiklah ma, Devan akan ikut Tante Santi, tapi izinkan Devan menemui nenek dulu ya ma," pinta Devan.
"iya nak, pergilah hibur nenekmu ya," ucap Hanum.
Devan pun berlari menuju kamar Bu win dengan sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir di pipinya.
"nenek, buka pintunya nek." teriak Devan saat tidak bisa membuka pintu kamar Bu win.
"nek jangan kunci pintunya nek," Devan terus berteriak sambil mengedor pintu kamar Bu win.
Bu win pun akhirnya membukakan pintu untuk Devan dan langsung memeluk Devan saat Devan sudah berada didepannya.
"nek, nenek jangan menangis ya, Devan sayang sama nenek," ucap Devan terbatah-batah karena Devan juga menahan tangisnya.
"Devan jangan tinggalkan nenek nak, nenek sayang sama Devan," Bu win memohon.
"ma, mama harus mengizinkan Devan pergi menemui keluarganya ma, kita tidak bisa menahannya terus. mama yang sabar ya." bujuk Hanum yang menghampiri mereka berdua.
"baiklah nak, tapi kalian semua harus berjanji akan selalu memastikan keadaan Devan baik-baik saja, aku tidak mau menyerahkan Devan pada orang yang hanya ingin memanfaatnya saja." Bu win pun akhirnya pasrah.
"mereka keluarga kandungnya ma, aku yakin kakek dan neneknya pun pasti lebih menyayangi Devan dari pada kita ma," jelas Galang.
"nek, jangan menangis lagi ya nek, aku titip Devi ke nenek ya? pa, ma kalian adalah mama dan papa terbaik buat Devan. aku menyayangi kalian. Tara cepatlah besar dik, kamu harus menjaga mama dan papa saat mama dan papa sudah tua nanti. bang Devan pergi dulu ya. Tante Santi ayo kita cepat pergi. aku gak mau lagi lebih lama melihat orang-orang yang aku sayangi menangis." ucap Devan.
Devan pun berlari keluar rumah tanpa memberi salam kepada siapapun. karena Devan tidak ingin air matanya dilihat keluarga yang selama ini merawatnya dan menyayanginya.
__ADS_1
bersambung